With You (part 1)
Saat sang surya terbit menyebarkan kehangatan diseluruh muka bumi dengan sinar keemasannya, semua makhluk Tuhan bergerak melakukan aktifitas keseharian mereka. Para induk burung berkeliaran mencari makan untuk anak-anaknya. Kupu-kupu berkeliaran mencari bunga yang akan dihisap madunya. Puluhan lebah sibuk membuat sarang untuk madu-madu merka.
Tak lepas dari itu makluk paling sempurna di muka bumi turut berinteraksi dengan keadaan sekitarnya. Bahkan beberapa kendaraan ikut beraktifitas di pagi itu.
Namun disuatu rumah diadakan suatu hal yang jarang di lakukan di rumah tersebut atau bisa di bilang ini pertama kalinya. beberapa kursi di tata di teras rumah. Kursi panjang yang terdapat di ruang tamu di ganti dengan meja besar yang sudah tertata makanan ringan serta minuman diatasnya. Bahkan beberapa guci besar yang sebelumnya ada telah diganti dengan tanaman hias yang memauat ruangan terasa lebih luas dan sejuk
Tampak wanita tengah mengarahkan orang-orang yang membantunya. Sesekali ikut membantu jika orang-orang itu sedang kesulitan. Tak lama setelah dia selesai meletakkan pot bunga diatas meja kecil, seorang wanita dengan terburu-buru menghampirinya.
Dengan sedikit berbisik di segera keluar sebelum berkata sesuatu pada wanita itu. Berapa mobil yang masuk ke halaman rumahnya disambutnya dengan senyum hangat. Di usianya yang beranjak empat puluh tiga tidak melunturkan kecantikan seorang wanita.
Setelah rombongan tersebut tiba seorang wanita seumuran dengannya keluar dari salah satu mobil-mobil itu. Di susul suami dan anak laki-laki pertamanwa mereka berjalan menuju wanita itu besama tamu yang lain. Tak lama seorang pria dan perempuan keluar ikut menyambut mereka. Mereka terlihat bahagia karena sebentar lagi mereka akan menjadi satu keluarga dengan menyatunya anak-anak mereka.
Lain halnya dari suasana bahagia ini, seorang pemuda yang turut dalam rombongan tamu tersebut merasa tidak nyaman lantaran dia harus meninggalkan latihan paginya. Di saat pertandingannya semakin dekat dia harus melepaskan jadwal latihan nya hari ini. Dan juga dia tidak terlalu suka dengan keramaian.
Acara utama sudah selesai sepuluh menit yang lalu, keluarganya sedang bercengkrama dengan keluarga besan dan tamu-tamu lainnya. Dia tidak tau harus berbuat apa dalam acara tersebut. Dia tidak ahli dalam berinteraksi dengan orang lain yang belum di kenalnya
Dia melihat sekeliling rumah itu. Pandangannya berhenti pada taman kecil di samping ruang dimana acara diadakan. Begitu indah dan terlihat sejuk. Pikirnya pergi kesana tidak apa, lagi pula pintu kaca untuk menuju taman tersebut terbuka lebar seakan membiarkan siapa saja bisa ke sana
Dengan alasan ketoilet dia meninggalkan keluarganya yang sibuk membicarakan acara pernikahan. Benas saja dugaan nya. Udara sejuk menerpanya saat tiba di pintu. Aroma citrus dan pohon pinus tercium hanya dengan berada di muka taman.
Dia baru sadar jika taman itu lumayan luar ketika berjalan ke dalam. Tempat yang sangat pas untuk bersantai. Terbukti dari adanya ayunan untuk dua orang dan satu kursi malas di dekat pohon pinus. Beberapa taman hias djn bunga juga terawat.
Matanya sedikit menyipit saat menemukan seekor kelinci di tengah-tengah taman. Dia ragu dengan pengelihatannya lantaran kacamatanya tertinggal di dalam mobil. Hewan dengan bulu setengah hitam dan putih tersebut menghampirinya. Seekor anak kelinci yang mungkin peliharaan pemilik rumah itu.
Dia sedikit membungkuk menjulurkan tangannya berniat menyapa kelinci lucu tersebut. Tapi perlakuaannya membuat kelinci seukuran telapak tangan orang dewasa itu terkejut dan berlari menjauh.
Diikutinya arah lari kelinci tersebut. Dan berujung pada seseorang yang berjongkok membelakanginya. Rambut panjangnya membuktikan bahwa dia seorang gadis. Dahinya berkerut saat menyadari gadis itu tidak menggunakan alas kaki. Dia mengira gadis itu salah satu tamu tapi melihat kelinci yang di ikutinya menghampiri gadis itu dugaannya salah
Gadis itu berbalik lali menyadari kedatangannya. Pandangan mereka beremu. Sejemnk dia terpana dengan mata gadis itu. Berwarna biru cerah yang jarang sekali ditemukan dalam jutaan orang Asia. Bahkan paras gadir itu tidak seperti paras orang Indonesia pada umumnya.
Lain halnya dengan yang dipikirkan gadis itu. Yang ada dipikiran gadis itu belum pernah dia bertemu dengan laki-laki yang tingi hampir menyamai Ayahnya. Sampai-sampai dia harus mengangkat tinggi wajahnya untuk bisa melihat wajah laki-laki giu.
Wajah yang oval dengan rahang yang kokoh. Pundaknya terlihat bidang dengan tubuh proposional walau terlapisi jas hitam yang melekat pada tubuhnya.
'Tamu kah?'. Batinnya.
Sebuah pangilan menyadarkan mereka dan membuat keduanya salah tingkah saat seorang perempuan cantik dengan gaun indahnya menghampiri mereka.
"Kamu Tio,kan?". Pemuda itu mengangguk. "Sudah bertemu Rika?"
Dia terdiam, tidak mengerti ucapan calom kakak iparnya itu. Perempuan itu tersenyum membuat jesung pipitnya semakin terlihat.
"Adik aku Rika", ucapnya menatap gadis yang baru di temuinya.
Sekarang dia tau siapa gadis bermata biru itu sebenarnya. Tak heran jika gadis itu ada ditaman dan sangat akrab dengan kelinci tadi.
Gadis itu berdiri, "kita juga baru bertemu"
Suara gadis itu membuat suatu getaran aneh di dadanya. Entah mengapa dia merasa suara gadis itu adalah suara terindah yang pernah di dengarnya.
"Ayo masuk, kakak kenalkan sama keluarga baru kita"
"Kakak duluan, aku masukin adik-adik aku dulu"
Setelah mengangguk perempuan itu kembali masuk menikmati acara. Ditatapnya gadis itu menggendong tiga ekor anak kelinci dan membawanya ke kandang yang di batasi pagar dari besi. Dia mengira jika adik-adik yang di maksud gadis itu adalah kelinci-kenlinci yang mungkin miliknya.
Gadis itu berbalik setelah menutup pagar. Pandangan mereka kembali bertemu. Dari perbedaan tinggi mereka dia bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas. Tapi tidak beselang lama gadis itu tiba-tiba tersenyum. Atau lebih tepatnya tertawa kecil.
Dan lagi-lagi desiran aneh didada terasa saat mendengar tawalirih gadis itu. Tapi dengan segera dia tepis dan berganti menatap heran gadis itu.
"Kenapa?". Ucapan pertama dari laki-laki itu untuknya
Tawanya berhenti tapi senyum manisnya tetap melekat di bibirnya. Kemudian dia mengeleng pelan. "Lucu saja melihatmu membawa minuman tapi kau abaikan sejak tadi". Dia heran dengan laki-laki tampan itu. Dilihatnya dari tadi memegang minuman dan belum berkurang seincipun.
Laki-laki itu memicingkan matanya dengan dahi berkerut. Seakan tersinggung dengan perkataannya.
"Apa masalah?", ucapnya
Tidak mau berdebat dia memengangkat bahunya dan berjalan mengambil heelsnya yang berada didekat kursi malas Ayahnya. Setelah memakai benda putih ber-hak tinggi lima centi itu dia kembali masuk tanpa mengajak laki-laki itu.
Laki-laki itu tidak habis pikir bagaimana mungkhn gadis itu meninggalkannya di taman itu tanpa mengajaknya masuk bersama. Dan untuk pertama kalinya dia diabaikan oleh perempuan. Dan gadis itulah pelakunya
Gimana? Geje ato gimana kah? Tolng komennya. Dan insyallah akhr" ini mungkin akan sering ngepost cerita"ku yang nganggur. Untuk temen"ku yang udah pernah baca crita ini makash komen kalian waktu itu. Arigatou ne for Chimochi . . . . .
See next time . . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar