Baru satu tahun ini aku mengenalnya, kebetulan kami satu kelas sejak kelas dua. Menurutku dia orang yang baik, humoris, dan cukup jahil. Duduknya tak jauh denganku. Satu bangku di depanku sebelah kanan. Aku bisa melihat lebih jelas apa yang dia lakukan.
Mungkin ini hanya kesimpulanku saja. Hubungan kami cukup dekat dalam pertemanan. Aku sering bertanya padanya jika aku bingung dalam pelajaran. Kami juga sering berbagi makanan. Yah, kupikir mungkin inilah yang namanya pertemanan.
Tapi hatiku berkata lain. Terkadang aku merasa sangat bahagia berada di sampingnya. Bahkan saat kami sholat berjamaah bayanganku seakan dialah yang menjadi imamku. Ini mungkin terlalu berlebihan. Menyukai teman sekelas.
Aku tidak yakin dengannya. Dia sulit di tebak, lain dengan laki-laki kebanyakan yang mengutarakan perasaan mereka terhadap perempuan. Dia sering menjahiliku, itu sudah sering. Aku sudah terbiasa dijahili dengan teman-temanku yang hanya lelucon saja.
Tahun ini adalah tahun ketiga aku bersama dengannya. Sebentar lagi kami akan berpisah. Entah nanti dia akan kemana. Tapi aku yakin kita akan berpisah.
Dia berbeda denganku. Dia lebih pintar dariku, tidak mungkin aku bisa menyusulnya. Lagi pula aku menpunyai jalan pikiranku sendiri.
Perasaan ini terua bergejolak. Aku ingin mengakuinya. Tapi aku takut jika perasaan ini salah. Semakin lama aku semakin yakin. Ketika dia di olok saat mantannya melewati depan kelas. Aku cemburu.
Bahkan saat salah satu temanku mengaku mereka berpacaran. Jelas sekali itu hanya bercanda tapi tetap saja aku merasa cemburu.
Rasanyabsamgat berat berpura-pura mendukung dirinya dengan orang lain. Aku terlalu pesimis untuk tidak mengakuinya.
Sudah lama aku ingin mengakui perasaan ini padanya. Tapi aku takut hal itu akan mengganggu belajarnya. Jadi aku menahannya.
Sampai ujian selesai kami masih berteman dekat. Dugaanku benar. Kami berada dijalan yang berbeda, tentu saja kami akan berpisah.
Saat acara perpisahan adalah waktu yang ingin kugunakan untuk mengatakannya. Kini kami berjalan menuju tempat parkir. Suasana maaih cukup ramai karena masih ada yang ingin mengenang nasa SMA.
Motornya sudah semakin dekat dan aku belum mengatakannya. Aku gugup. Aku takut. Bagaimana jika dia mengabaikanku? Menganggapnya hanya lelucon.
Ku panggil namanya saat hampir mencapai motornya. Dia berbalik dengan wajah bertanya yang seperti biasanya. Selalu ku ingat ekspresi itu di pikiranku.
Aku masih terdiam. Aku tidak tau bagaimana memulainya. Dia menungguku bicara tapi aku semakin gugup. Pada akhirnya yang keluar dari mulutku, "sampai jumpa"
Aku berlari meninggalkannya. Aku malu. Aku tidak berbalik untuk melihat ekspresinya. Sudah cukup aku menyimpan perasaan ini. Tapi aku membuat kesalahan besar. Pada ujungnya aku masih belum bisa mengatakannya.
.
.
.
.
.