"hei,
aku lapar"
Ku
hiraukan ucapannya dengan terus mengerjakan tugasku. Tugas ini harus di
kumpulkan besok dan aku tidak ingin mendapat nilai jelek. Tinggal sedikit lagi
tugasku selesai tapi sebuah kepala muncul dari atas seperti melayang di udara.
Jika aku tidak terbiasa mungkin aku sudah teriak dan melemparnya dengan buku
tebalku.
"hei,
kau dengar tidak aku lapar"
Mungkin
aku memang harus bersabar menghadapi makhluk bukan manusia ini. Merepotkan.
Sekarang dia menunda pekerjaan tugas sekolahku.
Ku
singkirkan kepalanya dengan pensilku. "ambil saja sendiri, kau tau
dapurkan tapi jangan mengambil banyak-banyak. Kebetulan Kaasan dan Tousan belum
pulang jadi kau bisa pergi sendiri"
"aku
ingin kau yang mengambilnya. Aku sedang malas berjalan"
SRET
Ku
tahan amarahku karena goresan pensilku. Ku ambil penghapus yang tidak jauh dari
buku ku. "kau punya sayapkan, kau bisa terbang tanpa harus berjalan"
Tidak
ada suara lagi darinya. Sekarang aku bisa tenang mengerjakan tugasku. Tinggal
satu nomor semua ini akan berakhir. Mungkin ini memang aneh bisa terjadi
padaku. Seorang iblis bisa ada di rumahku dan terdampar dalam hidupku yang
sebelumnya baik-baik saja sebelum dia datang.
SRET
Sekarang
aku bisa tenang tugasku selesai. Aku ingin tau apa yang dia lakukan. Saat
berbalik yang kudapati darinya adalah tidur di ranjangku dengan sebelah tangan
menopang kepalanya. Dia menatapku dengan serius.
"kau
sudah selesaikan, bawakan aku makanan yang enak"
Dasar
iblis merepotkan. Mana ada iblis yang menumpang di rumah manusia dan sekarang
dia memerintah untuk membawakan makanan setelah dia merengek ingin tinggal di
rumahku untuk sementara.
Kepalaku
kembali berputar mengingat bagaimana dia memintaku untuk mengijinkannya tinggal
di rumah kemarin malam.
Flasback
Tubuhku kaku dengan
pemandangan yang kulihat sekarang. Seorang laki-laki dengan pakian yang aneh
sedang memegang tikus kecil yang meronta ingin di lepaskan. Bahkan yang
membuatku tidak bisa berkutik adalah sebuah sayah hitam melekat di punggungnya.
Apa dia seorang cosplayer yang tersesat di rumahku dan akan memakan tikus itu?
"bisa ku makan
ini?"
APA?!?! Jadi dia
benar-benar cosplayer yang akan memakan tikus itu. Sangat bersyukur jika dia
benar-benar akan memakan tikus itu tapi yang benar saja. Dia manusia kan? Tapi
sebelum itu kenapa dia bisa sampai ke rumahku. Aku juga manusia, melihatnya
memegang tikus yang masih meronta membuatku iba.
"siapa kau? Kenapa
bisa ada di rumahku?"
"sebelum aku
menjawab bisa aku memakan ini? aku sudah sangat lapar"
Dia benar-benar akan
memakan tikus itu. Sekarang aku kasihan dengan tikus itu. Walaupun membuat
masalah mana mungkin tikus itu ku biarkan mati di makan manusia aneh.
"tunggu
dulu", dia menunda acara memakan tikusnya itu. "jika kau memang lapar
aku bisa memberimu makanan tapi aku ingin tau siapa kau dan kenapa bisa ada di
rumahku. Bagaimana kau masuk ke sini"
"benar kau akan
memberiku makanan?", matanya sedikit menyipit membuatku takut jika dia
akan macam-macam.
Aku mengangguk kecil,
"jika kau menjawab pertanyaanku. Tapi sebelum itu buang dulu tikus itu di
luar, pastikan tidak kembali ke sini"
Dia menuruti
perkataanku. Dia berdiri membuat sayapnya sedikit terbentang dan aku tidak bisa
percaya ini. bahkan sayap itu terasa hidup di tubuhnya. Apa dia benar-benar
seorang cosplayer? Aku jadi sedikit takut dengannya.
Ku lihat dia melempar
tikus itu jauh-jauh tapi sangat jauh. Sekarang aku benar-benar takut dengannya.
Dengan suara hujan dan petir membuat suasana menjadi mencekam dan aku benci
ini. Aku mulai merinding sekarang. Penggorengan yang kubawa kudekap di depan
dada.
Dia berdiri di depannku
membuatku sedikit mendongak menatapnya. Bahkan dengan sayapnya yang seidkit
membentang membuatnya seperti seorang iblis atau vampir yang siap memangsa
diriku.
"kau ingin tau
siapa aku"
Dengan sedikit gemetar
aku mengangguk pelan.
Kulihat dia menghela
nafas. Aku tidak tau kenapa. "aku adalah lucifer dari dunia iblis dan aku
bisa masuk ke dalam sini karena menggunakan sihirku untuk membukanya. Aku butuh
tempat untuk berlindung dari para pendeta Vatikan yang mungkin sekarang berada
di luar untuk mencariku"
Aku diam mematung dia
berbicara seperti itu. Apa? Lucifer? Dari dunia iblis? Yang benar saja tubuhnya
persisi seperti manusia meskipun dengan sayap anehnya. Tapi bagaimana mungkin
ada iblis yang masuk ke rumah ku. Dan lagi dia bilang apa, sihir? kalau dia
mengatakan dia mengunakan sulap aku baru percaya tapi dia bilang dia
menggunakan sihir untuk masuk ke rumahku.
Dan sekarang dia
memohon untuk bisa tinggal di sini. Betapa menyedihkannya dia jika dia
benar-benar Lucifer dari dunia iblis yang terkenal jahat dan suka membunuh
orang terutama manusia memohon padaku, seorang gadis manusia yang tidak tau
apa-apa untuk bisa tinggal di rumahku.
Jika orang tua ku tau
apa mungkin aku akan di masukkan di rumah sakit gila karena percaya dia adalah
Lucifer. Tapi yang membuatku benar-benar gila adalah taring yang runcing dengan
telinga panjang membuatku percaya 100% jika dia adalah iblis dan ini membuatku
ingin muntah.
Yang menjadi tanda
besar di kepalaku adalah, kenapa dia memilih rumahku?
Tapi
pada akhirnya aku mempercayai semua ceritanya dengan begitu mudahnya dan itu
yang membuatku heran kenapa aku percaya padanya. Sekarang dia benar-benar
tinggal di rumahku tapi dia tidak berada di garasi. Jika berda di garasi orang
tua ku akan tau dan masalah besar akan menantiku. Untuk sementara ini dia
tinggal di kamarku dengan syarat tidak mengacaukan kamarku saat aku tidak di
rumah.
"hei,
jangan melamun"
Segera
aku tersadar dan kembali ke alam nyata. Benar-benar nyata. Dengan kenyataan
bertemu Lucifer dan terperangkap dengannya sebelum dia kembalu ke dunianya.
Menyebalkan. Merepotkan. Dan menakutkan.
Aku
tidak tahan dia terus mengomel seperti anjing yang terus menggonggong ingin di
beri makan karena tidak di beri makan majikannya selama satu bulan. Aku keluar
dari kamar dengan dia mengikutiku dari belakang. Kurasakan di berjalan berarti
dia tidak terbang. Tentu saja, aku yang membuat peraturan itu. Aku takut jika
dia mengepakkan sayapnya semua barang-barang di ruamh akan berantakan dan aku tidak
ingin membereskannya jika itu terjadi.
Hari
ini Kaasan dan Tousan pergi ke rumah Ojiisan yang sedang sakit jadi mereka akan
pulang besok. Dan karena aku tidak terlalu suka memasak aku tidak membuat
apa-apa pagi ini. Bahkan aku hanya menyiapkan sebagian makanan yang di buat
Kaasan tadi pagi padanya.
Sebuah
masakan tradisional terpikir di otakku. Ramen. Memang tidak begitu sulit untuk
membuatnya. Selagi aku menyiapkannya dia duduk di meja makan sambil melihatku
memasak. Seperti anak kecil yang menanti Ibunya selesai memasak makanannya.
Jujur
saja aku tidak suka dia bersikap seperti itu. Bukannya malu tapi merasa risih
saja. Seperti tidak ada pemandangan lain saja.
"hei,
ada orang yang akan datang". Ucapnya di sela-sela ku memasak.
Aku
berbalik melihatnya. Dia melirik keluar. Aku percaya padanya maka dari itu aku
berjalan ke pintu danmelihat siapa yang datang. Ku lihat dari lubang kecil yang
hanya bisa di lihat dari dalam saja. Sontak aku terkejut siapa yang datang.
Setelah itu kutukan pintu mulai terdengar.
Apa
yang harus ku lakukan? Kenapa dia kemari? Tunggu sebelum itu aku harus
menyembunyikan iblis itu.
"Natsuki,
kau di dalam?"
Sekarang
dia mulai berteriak. Itu tandanya dia sudah tidak sabar. Dasar tidak sabaran.
Aku berlari ke dapur mencari iblis itu. Dia masih duduk di meja makan dengan
tenang.
"kau
harus sembunyi ada orang yang datang"
CKLEK
"Natsuki,
aku masuk"
Kami-sama.
Aku tidka tau harus bagaimana. Ku seret dia dan ku masukkan kamar mandi yang
ada di dapur.
"tetap
di sini dan jangan keluar, jika tidak kau tidak akan mendapat jatah makan"
"hei,
tung-"
Ku
tutup pintu kamar mandi.
"apa
yang kau lakukan?"
Jantungku
terasa mau copot sekarang. Dia sudah berada di dapur dan melihatku yang berada
di depan pintu. Dengan jantung yang masih berdebar-debar ku jawab dia.
"tidak
ada. Kenapa kau kemari?"
Dia
terdiam sejenak menatapku curiga. Keringat dingin mengalir di selruh tubuhku.
Kami-sama jangan sampai dia curiga. Ini bisa gawat.
"kebetulan
aku lewat jadi aku mampir. Tidak biasanya kau memasak sendiri". Tatapannya
menuju panci yang kugunakan untuk membuat ramen.
Aku
hanya tersenyum kecil.
"ya
sudah, aku pulang dulu". Dia berbalik keluar dari dapur.
Apa?
Begitu saja? Setelah dia membuatku hampir mati karena serangan jantung. Tapi
tak apa syukur dia cepat pulang dengan begitu aku bisa tenang lagi. Ku antar
dia samapi ke pintu depan. Tapi sebelum keluar dia berhenti sejenak.
"kau
baik-baik saja?"
Walaupun
sedikit curiga dengan pertanyaannya kau mengangguk yakin.
"jika
ada apa-apa hubungi aku", ucapannya sebleum keluar dari rumah.
Aku
sempat tertegun dengan kata-katanya. Memang dia sering berkata seperti itu tapi
kali berbeda seakan ada maksud lain dari kalimat itu. Ku tatap pintu rumahku
mengingat kepergiannya. Apa aku harus memberitaunya tentang hal ini? tapi aku
tidak ingin merepotkannya. Aku sudah terlalu sering membuatnya kesusahan sejak
TK. Dia selalu menjagaku di saat aku di ganggu oleh anak-anak lain yang cemburu
karena dia dekat denganku. Tapi kali ini aku tidak ingin menyusahkannya lagi
terlabih ini masalah besar.
Aku
berbalik kembali ke dapur. Dia masih di dalam kamar mandi. Ku lanjutkan memasak
ramen untuknya.
"keluarlah,
sekarang sudah aman"
Tidak
ada tanda-tanda kemunculannya. Ku biarkan saja dia di dalam. Hitung-hitung
balas dendam karena membuatku kesusahan. Setelah masakan matang ku bawa ramen
itu ke meja makan. Dia masih berada di dalam kamar mandi.
Baru
saja aku ingin menghampirinya pintu kamar mandi terbuka. Dan menampakkan
tubuhnya yang terbalut handuk dari pinggang seperti habis mandi. Dan juga kemana
sayap besarnya itu? Sekarang dia terlihat seperti manusia sungguhan.
Wajahku
terasa panah melihat tubuh bagian atasnya. Benar-benar pemandangan yang
menakjubkan. Jujur belum pernah aku melihat tubuh seindah itu. Dengan otot-otot
yang terbentuk sempurna dan juga wajahnya yang baru ku sadari terlihat tampan
membuatku terpesona.
"hei,
kau kenapa?"
Panggilannya
membuatku tersadar dan segera berbalik menyembunyikan wajahku yang masih terasa
panas. Memalukan. Kenapa aku seperti ini. Jelas-jelas dia iblis tapi barusan
dia terlihat bagaikan malaikat. Kenapa dengan otakku berfikir seperti itu? Aku
otakku terserang virus?
"hei"
Dia
kembali memanggilku. Aku sudah tidak tahan, aku harus segera pergi.
"apa
yang kau lakukan?". Tanyaku tanpa berbalik.
"sudah
lama aku belum mandi"
"cepat
pakai pakaianmu dan makan". Setelah itu aku berlari keluar dapur menuju
kamarku. Aku harus menjernihkan pikiranku sekarang juga. Jika tidak virus itu
akan terus menyebar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar