Selasa, 01 Juli 2014

LUCKY LUCIFER (PART 2)



"hei, aku lapar"
Ku hiraukan ucapannya dengan terus mengerjakan tugasku. Tugas ini harus di kumpulkan besok dan aku tidak ingin mendapat nilai jelek. Tinggal sedikit lagi tugasku selesai tapi sebuah kepala muncul dari atas seperti melayang di udara. Jika aku tidak terbiasa mungkin aku sudah teriak dan melemparnya dengan buku tebalku.
"hei, kau dengar tidak aku lapar"
Mungkin aku memang harus bersabar menghadapi makhluk bukan manusia ini. Merepotkan. Sekarang dia menunda pekerjaan tugas sekolahku.
Ku singkirkan kepalanya dengan pensilku. "ambil saja sendiri, kau tau dapurkan tapi jangan mengambil banyak-banyak. Kebetulan Kaasan dan Tousan belum pulang jadi kau bisa pergi sendiri"
"aku ingin kau yang mengambilnya. Aku sedang malas berjalan"
SRET
Ku tahan amarahku karena goresan pensilku. Ku ambil penghapus yang tidak jauh dari buku ku. "kau punya sayapkan, kau bisa terbang tanpa harus berjalan"
Tidak ada suara lagi darinya. Sekarang aku bisa tenang mengerjakan tugasku. Tinggal satu nomor semua ini akan berakhir. Mungkin ini memang aneh bisa terjadi padaku. Seorang iblis bisa ada di rumahku dan terdampar dalam hidupku yang sebelumnya baik-baik saja sebelum dia datang.
SRET
Sekarang aku bisa tenang tugasku selesai. Aku ingin tau apa yang dia lakukan. Saat berbalik yang kudapati darinya adalah tidur di ranjangku dengan sebelah tangan menopang kepalanya. Dia menatapku dengan serius.
"kau sudah selesaikan, bawakan aku makanan yang enak"
Dasar iblis merepotkan. Mana ada iblis yang menumpang di rumah manusia dan sekarang dia memerintah untuk membawakan makanan setelah dia merengek ingin tinggal di rumahku untuk sementara.
Kepalaku kembali berputar mengingat bagaimana dia memintaku untuk mengijinkannya tinggal di rumah kemarin malam.
Flasback
Tubuhku kaku dengan pemandangan yang kulihat sekarang. Seorang laki-laki dengan pakian yang aneh sedang memegang tikus kecil yang meronta ingin di lepaskan. Bahkan yang membuatku tidak bisa berkutik adalah sebuah sayah hitam melekat di punggungnya. Apa dia seorang cosplayer yang tersesat di rumahku dan akan memakan tikus itu?
"bisa ku makan ini?"
APA?!?! Jadi dia benar-benar cosplayer yang akan memakan tikus itu. Sangat bersyukur jika dia benar-benar akan memakan tikus itu tapi yang benar saja. Dia manusia kan? Tapi sebelum itu kenapa dia bisa sampai ke rumahku. Aku juga manusia, melihatnya memegang tikus yang masih meronta membuatku iba.
"siapa kau? Kenapa bisa ada di rumahku?"
"sebelum aku menjawab bisa aku memakan ini? aku sudah sangat lapar"
Dia benar-benar akan memakan tikus itu. Sekarang aku kasihan dengan tikus itu. Walaupun membuat masalah mana mungkin tikus itu ku biarkan mati di makan manusia aneh.
"tunggu dulu", dia menunda acara memakan tikusnya itu. "jika kau memang lapar aku bisa memberimu makanan tapi aku ingin tau siapa kau dan kenapa bisa ada di rumahku. Bagaimana kau masuk ke sini"
"benar kau akan memberiku makanan?", matanya sedikit menyipit membuatku takut jika dia akan macam-macam.
Aku mengangguk kecil, "jika kau menjawab pertanyaanku. Tapi sebelum itu buang dulu tikus itu di luar, pastikan tidak kembali ke sini"
Dia menuruti perkataanku. Dia berdiri membuat sayapnya sedikit terbentang dan aku tidak bisa percaya ini. bahkan sayap itu terasa hidup di tubuhnya. Apa dia benar-benar seorang cosplayer? Aku jadi sedikit takut dengannya.
Ku lihat dia melempar tikus itu jauh-jauh tapi sangat jauh. Sekarang aku benar-benar takut dengannya. Dengan suara hujan dan petir membuat suasana menjadi mencekam dan aku benci ini. Aku mulai merinding sekarang. Penggorengan yang kubawa kudekap di depan dada.
Dia berdiri di depannku membuatku sedikit mendongak menatapnya. Bahkan dengan sayapnya yang seidkit membentang membuatnya seperti seorang iblis atau vampir yang siap memangsa diriku.
"kau ingin tau siapa aku"
Dengan sedikit gemetar aku mengangguk pelan.
Kulihat dia menghela nafas. Aku tidak tau kenapa. "aku adalah lucifer dari dunia iblis dan aku bisa masuk ke dalam sini karena menggunakan sihirku untuk membukanya. Aku butuh tempat untuk berlindung dari para pendeta Vatikan yang mungkin sekarang berada di luar untuk mencariku"
Aku diam mematung dia berbicara seperti itu. Apa? Lucifer? Dari dunia iblis? Yang benar saja tubuhnya persisi seperti manusia meskipun dengan sayap anehnya. Tapi bagaimana mungkin ada iblis yang masuk ke rumah ku. Dan lagi dia bilang apa, sihir? kalau dia mengatakan dia mengunakan sulap aku baru percaya tapi dia bilang dia menggunakan sihir untuk masuk ke rumahku.
Dan sekarang dia memohon untuk bisa tinggal di sini. Betapa menyedihkannya dia jika dia benar-benar Lucifer dari dunia iblis yang terkenal jahat dan suka membunuh orang terutama manusia memohon padaku, seorang gadis manusia yang tidak tau apa-apa untuk bisa tinggal di rumahku.
Jika orang tua ku tau apa mungkin aku akan di masukkan di rumah sakit gila karena percaya dia adalah Lucifer. Tapi yang membuatku benar-benar gila adalah taring yang runcing dengan telinga panjang membuatku percaya 100% jika dia adalah iblis dan ini membuatku ingin muntah.
Yang menjadi tanda besar di kepalaku adalah, kenapa dia memilih rumahku?
Tapi pada akhirnya aku mempercayai semua ceritanya dengan begitu mudahnya dan itu yang membuatku heran kenapa aku percaya padanya. Sekarang dia benar-benar tinggal di rumahku tapi dia tidak berada di garasi. Jika berda di garasi orang tua ku akan tau dan masalah besar akan menantiku. Untuk sementara ini dia tinggal di kamarku dengan syarat tidak mengacaukan kamarku saat aku tidak di rumah.
"hei, jangan melamun"
Segera aku tersadar dan kembali ke alam nyata. Benar-benar nyata. Dengan kenyataan bertemu Lucifer dan terperangkap dengannya sebelum dia kembalu ke dunianya. Menyebalkan. Merepotkan.  Dan menakutkan.
Aku tidak tahan dia terus mengomel seperti anjing yang terus menggonggong ingin di beri makan karena tidak di beri makan majikannya selama satu bulan. Aku keluar dari kamar dengan dia mengikutiku dari belakang. Kurasakan di berjalan berarti dia tidak terbang. Tentu saja, aku yang membuat peraturan itu. Aku takut jika dia mengepakkan sayapnya semua barang-barang di ruamh akan berantakan dan aku tidak ingin membereskannya jika itu terjadi.
Hari ini Kaasan dan Tousan pergi ke rumah Ojiisan yang sedang sakit jadi mereka akan pulang besok. Dan karena aku tidak terlalu suka memasak aku tidak membuat apa-apa pagi ini. Bahkan aku hanya menyiapkan sebagian makanan yang di buat Kaasan tadi pagi padanya.
Sebuah masakan tradisional terpikir di otakku. Ramen. Memang tidak begitu sulit untuk membuatnya. Selagi aku menyiapkannya dia duduk di meja makan sambil melihatku memasak. Seperti anak kecil yang menanti Ibunya selesai memasak makanannya.
Jujur saja aku tidak suka dia bersikap seperti itu. Bukannya malu tapi merasa risih saja. Seperti tidak ada pemandangan lain saja.
"hei, ada orang yang akan datang". Ucapnya di sela-sela ku memasak.
Aku berbalik melihatnya. Dia melirik keluar. Aku percaya padanya maka dari itu aku berjalan ke pintu danmelihat siapa yang datang. Ku lihat dari lubang kecil yang hanya bisa di lihat dari dalam saja. Sontak aku terkejut siapa yang datang. Setelah itu kutukan pintu mulai terdengar.
Apa yang harus ku lakukan? Kenapa dia kemari? Tunggu sebelum itu aku harus menyembunyikan iblis itu.
"Natsuki, kau di dalam?"
Sekarang dia mulai berteriak. Itu tandanya dia sudah tidak sabar. Dasar tidak sabaran. Aku berlari ke dapur mencari iblis itu. Dia masih duduk di meja makan dengan tenang.
"kau harus sembunyi ada orang yang datang"
CKLEK
"Natsuki, aku masuk"
Kami-sama. Aku tidka tau harus bagaimana. Ku seret dia dan ku masukkan kamar mandi yang ada di dapur.
"tetap di sini dan jangan keluar, jika tidak kau tidak akan mendapat jatah makan"
"hei, tung-"
Ku tutup pintu kamar mandi.
"apa yang kau lakukan?"
Jantungku terasa mau copot sekarang. Dia sudah berada di dapur dan melihatku yang berada di depan pintu. Dengan jantung yang masih berdebar-debar ku jawab dia.
"tidak ada. Kenapa kau kemari?"
Dia terdiam sejenak menatapku curiga. Keringat dingin mengalir di selruh tubuhku. Kami-sama jangan sampai dia curiga. Ini bisa gawat.
"kebetulan aku lewat jadi aku mampir. Tidak biasanya kau memasak sendiri". Tatapannya menuju panci yang kugunakan untuk membuat ramen.
Aku hanya tersenyum kecil.
"ya sudah, aku pulang dulu". Dia berbalik keluar dari dapur.
Apa? Begitu saja? Setelah dia membuatku hampir mati karena serangan jantung. Tapi tak apa syukur dia cepat pulang dengan begitu aku bisa tenang lagi. Ku antar dia samapi ke pintu depan. Tapi sebelum keluar dia berhenti sejenak.
"kau baik-baik saja?"
Walaupun sedikit curiga dengan pertanyaannya kau mengangguk yakin.
"jika ada apa-apa hubungi aku", ucapannya sebleum keluar dari rumah.
Aku sempat tertegun dengan kata-katanya. Memang dia sering berkata seperti itu tapi kali berbeda seakan ada maksud lain dari kalimat itu. Ku tatap pintu rumahku mengingat kepergiannya. Apa aku harus memberitaunya tentang hal ini? tapi aku tidak ingin merepotkannya. Aku sudah terlalu sering membuatnya kesusahan sejak TK. Dia selalu menjagaku di saat aku di ganggu oleh anak-anak lain yang cemburu karena dia dekat denganku. Tapi kali ini aku tidak ingin menyusahkannya lagi terlabih ini masalah besar.
Aku berbalik kembali ke dapur. Dia masih di dalam kamar mandi. Ku lanjutkan memasak ramen untuknya.
"keluarlah, sekarang sudah aman"
Tidak ada tanda-tanda kemunculannya. Ku biarkan saja dia di dalam. Hitung-hitung balas dendam karena membuatku kesusahan. Setelah masakan matang ku bawa ramen itu ke meja makan. Dia masih berada di dalam kamar mandi.
Baru saja aku ingin menghampirinya pintu kamar mandi terbuka. Dan menampakkan tubuhnya yang terbalut handuk dari pinggang seperti habis mandi. Dan juga kemana sayap besarnya itu? Sekarang dia terlihat seperti manusia sungguhan.
Wajahku terasa panah melihat tubuh bagian atasnya. Benar-benar pemandangan yang menakjubkan. Jujur belum pernah aku melihat tubuh seindah itu. Dengan otot-otot yang terbentuk sempurna dan juga wajahnya yang baru ku sadari terlihat tampan membuatku terpesona.
"hei, kau kenapa?"
Panggilannya membuatku tersadar dan segera berbalik menyembunyikan wajahku yang masih terasa panas. Memalukan. Kenapa aku seperti ini. Jelas-jelas dia iblis tapi barusan dia terlihat bagaikan malaikat. Kenapa dengan otakku berfikir seperti itu? Aku otakku terserang virus?
"hei"
Dia kembali memanggilku. Aku sudah tidak tahan, aku harus segera pergi.
"apa yang kau lakukan?". Tanyaku tanpa berbalik.
"sudah lama aku belum mandi"
"cepat pakai pakaianmu dan makan". Setelah itu aku berlari keluar dapur menuju kamarku. Aku harus menjernihkan pikiranku sekarang juga. Jika tidak virus itu akan terus menyebar.
Tidak bisa di percaya dia bisa berbuat seperti itu. Dan juga dadaku berdebar kencang. Tidak seperti tadi saat aku ketakutan. Debaran ini begitu hangat dan aneh. Sekarang apa yang terjadi pada diriku? Perasaan apa ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar