Selasa, 01 Juli 2014

LUCKY LUCIFER





PROLOG


Suasana malam hari terlihat sunyi di kota Tokyo. semua orang memilih tertidur lelap di bawah selimut mereka dari pada melihat bulan yang bersinar terang malam itu. Memang bulan malam itu terlihat bersinar sangat indah. Bahkan seorang gadis tidak bisa melewatkan pemandangan fatamorgana tersebut.
Kamarnya yang berada di lanatai dua sangat pas untuk melihat dewi malam tersebut. Hampir setiap malam dia habiskan memandang sinar bulan di temani sepinya malam. Jendelanya yang terbuka membuat angin malam yang dingin masuk ke kamarnya. Tapi rasa dingin yang menusuk tidak menyurutkan nya.
Rambut biru lautnya yang tergerai panjang bergerak tertiup angin lembut. Paras cantiknya bercahaya terkena cahaya bulan. Bagaikan dewi fortuna dia duduk di dekat jendelanya yang terbuka. Seakan menunggu seseorang yang akan menjemputnya di dalam menara.
Lama dia berada di sana. Belum ada rasa kantuk dan lelah yang menggapai tubuhnya. Entah kapan dia akan mulai lelah. Pasti seperti hari-hari sebelumnya dia baru tidur sekitar jam tiga pagi.
Dia benar-benar tidak bisa melewatkan bulan yang bersinar terang di langit malam. Seakan menonton drama yang sangat disukainya dia sangat menikmati pemandangan malam tersebut. Bahkan saat hujan dia rela menunggu hujan reda dan bisa melihat cahaya malam itu.
Seakan teringat sesuatu dia langsung menutup jendela dan turun menuju ranjangnya beranjak tidur. Dia baru ingat mempunyai sebuah janji pagi-pagi. setelah menarik selimut sampai menutupi separo tubuhnya mata itu mulai terpejam. Cukup sulit dia untuk tidur mengingat bulan masih bersinar terang menampakkan keindahannya. Tapi pada akhirnya dengan sedikit paksaan dia pergi menuju alam khayalan.
***
Tubuhnya melayang di atas atap rumah penduduk kota Tokyo. Tubuhnya begitu lelah setelah pelariannya yang sangat panjang dan penuh perjuangan. Selain itu dia juga harus kembali ke Ente Isla untuk menyampaikan kembalinya dirinya kepada Maou-sama. Tapi dia benar-benar lelah dan sihirnya sudah menipis. Bahkan untuk mengepakkan sayapnya saja sudah membutuhkan banyak tenaga.
Tubuhnya sedikit merendah dan berhenti di salah satu atap rumah penduduk. Nafasnya sedikit memburu. Dia benar-benar sudah mencapai batasnya. Tapi jika dia berhenti para pendeta Vatikan akan memburunya. Bahkan mungkin saja mereka sedang mencarinya.
Saat ini yang dia butuhkan adalah tempat persembunyian sementara dia mengumpulkan sihirnya kembali. Dia tau diamana dia sekarang. Dunia manusia yang sangat mustahil adanya sihir. Dan juga seorang iblis sepertinya tidak boleh menampakkan diri di depan masnusia.
Di saat-saat genting hidung tajamnya mencium sesuatu yang membuatnya merasakan haus yang sangat tak terkira. Dia bisa mengikuti aroma tersebut. Cukup dekat dari tempatnya berdiri. Tak lama muncul seorang laki-laki dari tikungan. Dari gaya berjalannya dia bisa menebak jika manusia itu sedang mabuk.
Mata yang sebelumnya hitam menjadi merah. Dengan cepat dia turun dari atap rumah tersebut. Dia menghampiri laki-laki itu yang berjalan terseok-seok. Saat tiba di hadapannya tak butuh waktu lama dia menerkam laki-laki itu. Menancapkan taringnya yang tajam menghisap darah yang di miliki laki-laki itu.
Yang bisa laki-laki itu lakukan hanya mencoba memberontak yang membuat tekuknya terasa semakin sakit. Dan setelah dia berhenti memberontak tubuhnya merosot ke bawah. Lelehan darah merembes dari tekuknya. Sedangkan si pelaku hanya mengusap jejak darah di sudut bibirnya sambil menatap laki-laki itu dengan tatapan jijik.
Sekarang dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Walaupun dia tidak mendapatkan sihir yang cukup setidaknya dia bisa terbang dan mencari tempat persembunyian. Di pandangnya langit malam dengan bulan yang bersinar terang menyinari bumi. Bulan malam itu sangat indah menurutnya. Walaupun terlihat mistis di situlah yang menarik.
Kedua sayap hitam seperti kelelawarnya terbentang lebar siap untuk di kepakkan dan membawanya ke udara.
  





Tolng kmen dan sarn.

see next time . . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar