PROLOG
Suasana
malam hari terlihat sunyi di kota Tokyo. semua orang memilih tertidur lelap di
bawah selimut mereka dari pada melihat bulan yang bersinar terang malam itu.
Memang bulan malam itu terlihat bersinar sangat indah. Bahkan seorang gadis
tidak bisa melewatkan pemandangan fatamorgana tersebut.
Kamarnya
yang berada di lanatai dua sangat pas untuk melihat dewi malam tersebut. Hampir
setiap malam dia habiskan memandang sinar bulan di temani sepinya malam.
Jendelanya yang terbuka membuat angin malam yang dingin masuk ke kamarnya. Tapi
rasa dingin yang menusuk tidak menyurutkan nya.
Rambut
biru lautnya yang tergerai panjang bergerak tertiup angin lembut. Paras
cantiknya bercahaya terkena cahaya bulan. Bagaikan dewi fortuna dia duduk di
dekat jendelanya yang terbuka. Seakan menunggu seseorang yang akan menjemputnya
di dalam menara.
Lama
dia berada di sana. Belum ada rasa kantuk dan lelah yang menggapai tubuhnya.
Entah kapan dia akan mulai lelah. Pasti seperti hari-hari sebelumnya dia baru
tidur sekitar jam tiga pagi.
Dia
benar-benar tidak bisa melewatkan bulan yang bersinar terang di langit malam.
Seakan menonton drama yang sangat disukainya dia sangat menikmati pemandangan
malam tersebut. Bahkan saat hujan dia rela menunggu hujan reda dan bisa melihat
cahaya malam itu.
Seakan
teringat sesuatu dia langsung menutup jendela dan turun menuju ranjangnya
beranjak tidur. Dia baru ingat mempunyai sebuah janji pagi-pagi. setelah
menarik selimut sampai menutupi separo tubuhnya mata itu mulai terpejam. Cukup
sulit dia untuk tidur mengingat bulan masih bersinar terang menampakkan
keindahannya. Tapi pada akhirnya dengan sedikit paksaan dia pergi menuju alam
khayalan.
***
Tubuhnya
melayang di atas atap rumah penduduk kota Tokyo. Tubuhnya begitu lelah setelah
pelariannya yang sangat panjang dan penuh perjuangan. Selain itu dia juga harus
kembali ke Ente Isla untuk menyampaikan kembalinya dirinya kepada Maou-sama.
Tapi dia benar-benar lelah dan sihirnya sudah menipis. Bahkan untuk mengepakkan
sayapnya saja sudah membutuhkan banyak tenaga.
Tubuhnya
sedikit merendah dan berhenti di salah satu atap rumah penduduk. Nafasnya
sedikit memburu. Dia benar-benar sudah mencapai batasnya. Tapi jika dia
berhenti para pendeta Vatikan akan memburunya. Bahkan mungkin saja mereka
sedang mencarinya.
Saat
ini yang dia butuhkan adalah tempat persembunyian sementara dia mengumpulkan
sihirnya kembali. Dia tau diamana dia sekarang. Dunia manusia yang sangat
mustahil adanya sihir. Dan juga seorang iblis sepertinya tidak boleh
menampakkan diri di depan masnusia.
Di
saat-saat genting hidung tajamnya mencium sesuatu yang membuatnya merasakan
haus yang sangat tak terkira. Dia bisa mengikuti aroma tersebut. Cukup dekat
dari tempatnya berdiri. Tak lama muncul seorang laki-laki dari tikungan. Dari
gaya berjalannya dia bisa menebak jika manusia itu sedang mabuk.
Mata
yang sebelumnya hitam menjadi merah. Dengan cepat dia turun dari atap rumah
tersebut. Dia menghampiri laki-laki itu yang berjalan terseok-seok. Saat tiba
di hadapannya tak butuh waktu lama dia menerkam laki-laki itu. Menancapkan
taringnya yang tajam menghisap darah yang di miliki laki-laki itu.
Yang
bisa laki-laki itu lakukan hanya mencoba memberontak yang membuat tekuknya
terasa semakin sakit. Dan setelah dia berhenti memberontak tubuhnya merosot ke bawah.
Lelehan darah merembes dari tekuknya. Sedangkan si pelaku hanya mengusap jejak
darah di sudut bibirnya sambil menatap laki-laki itu dengan tatapan jijik.
Sekarang
dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Walaupun dia tidak mendapatkan sihir yang
cukup setidaknya dia bisa terbang dan mencari tempat persembunyian. Di
pandangnya langit malam dengan bulan yang bersinar terang menyinari bumi. Bulan
malam itu sangat indah menurutnya. Walaupun terlihat mistis di situlah yang
menarik.
Tolng kmen dan sarn.
see next time . . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar