Kamis, 17 Juli 2014

CERITA ROMANCE : TRACK A DREAM


TRACK A DREAM
Fikirannya tidak fokus sejak kemarin.Hari ini dia sudah kebanyakan melamun sambil berjalan.
BRUKK..
Entah sudah bertubruk berapa kali saat dia melamun.Dengan cepat dia meminta maaf pada salah satu senpainya yang dia tubruk baru saja.Setelah senpainya berlalu dia kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang klubnya.
Kali ini dia mempercepat langkahnya.Dia sangat khawatir.Khawatir jika gosip itu benar adanya.Sempat dia menepis gosip itu dari ucapan temannya tapi lama-lama gosip itu menyebar di lingkungan sekolah.Dia benar-benar tidak percaya dengan gosip itu.Atau bisa dibilang dia tidak ingin percaya gosip itu.
Pintu ruang klub sudah terlihat.Belum sempat dia masuk kedalam suara temannya yang memandu adik-adik kelasnya di klubku terdengar.Dia rapikan bajunya sebelum masuk.Sebelum benar-benar masuk dia berharap jika apa yang tidak dia inginkan terjadi di ruangan itu nantinya.
“Konnichiwa,minna”Ucapnya seraya masuk.
Dengan tanggap kedua matanya menangkap sosok yang selama ini memenuhi pikirannya.
Laki-laki berkaca mata itu berbincang denagn sosok disampingnya.Dia hanya berbicara dengan teman laki-lakinya.Helaan nafas membuatnya menepis segala dugaan buruk yang dipikirnya tadi.
Dia hampiri bangku kosong disamping temannya yang sibuk menulis sesuatu.Tidak ada yang aneh selama dia masuk berarti gossip itu salah adanya.Tapi jantungnya berdegup cepat tak kala dia duduk di bangkunya.Gadis sebangkunya langsung saja membicarakan hal yang sudah di tepisnya.
“Ada gossip baru hari ini.Kau sudah dengar?”Ucapnya sedikit berbisik.
Sengaja dia menggeleng.
“Toma berpacaran dengan Haruka,bisiknya.Jantungnya berdebar cepat.Rasa sakit dan nyeri mulai menyelubungi dadanya.”Semua juga baru tau hari ini.Mereka sudah berpacaran 3 hari lalu.”Lanjut gadis itu.
Mati-matian dia tidak membuat ekspresi sedih.Ekspresi itulah yang ingin dia keluarkan.Tapi dia hanya memaksa senyumnya keluar agar gadis dihadapannya beranggapan dia senang mendengar kabar itu.
Tepat setelah gadis itu melanjutkan menulisnya dia menatap sendu laki-laki berkaca mata itu.Laki-laki yang sudah memiliki hatinya.Laki-laki itulah alasan dia ada di klub itu.Agar dekat dengan laki-laki itu.Semua pengorbanan agar bisa bersama laki-laki itu selalu dia lakukan tiap ada kesempatan.
Tapi semua pengorbanannya sia-sia karna tanpa dia sadari laki-laki itu menyukai gadis lain.Dan gadis itu sedang bercanda ria dengan salah satu adik kelasnya.Tanpa sadar dia menatap gadis itu dengan tatapan membunuh.Mui,gadis yang duduk disampingnya menatapnya bingung.Tatapannya penuh dengan kebencian.Baru kali ini dia mengeluarkan tatapan seperti itu.
Mui mengikuti arah tatapannya.Dia sungguh tidak mengerti dengan teman dekatnya itu.Kini dia menatap gadis itu dengan tenang.Seakan tidak ada emosi yang terlihat di matanya.Dia menghiraukan ucapan Mui yang mengajaknya bicara.Sengaja,karena dia tau maksud Mui yang mengalihkan tatapannya.
Sekarang dia benci gadis yang sudah menjadi milik laki-laki yang dicintainya.Awalnya dia anggap gadis itu sebagai temannya.Tapi kali ini dan mulai sekarang gadis itu adalah musuhnya.Bagaimanapun caranya dia harus menghancurkan gadis utu.
Sebuah ide mengalir dikepalanya.Membuatnya pergi tanpa pamit dari ruang klub membuat semua orang didalam ruang heran dengan tingkahnya.Dia tidak perduli.Dia harus cepat pulang kerumah dan meminta bantuannya.

Rambutnya yang basah dia usap dengan handuk kecil.Wajah yang selalu memakai kacamata itu nampak alami tampan.Ditambah dengan kacamata yang baru saja dipakainya untuk melihat pesan masuk pada ponselnya.Senyumnya mengembang sebelum membalas pesan itu lalu meletakkan ponselnya di meja kecil dekat ranjang.Dia sampirkan handuk kecil yang dia gunakan mengeringkan rambut pada sandaran kursi.Laki-laki remaja itu merayap keatas ranjang,bersiap pergi kealam khayalannya.Dia matikan lampu tidur lalu menyamankan kepalanya.Kelopaknya tertutup membuktikan bahwa dia siap kealam mimpi.
Keduanya saling bergandengan tangan.Bunga-bunga berwarna-warni di taman menambah kesan romantic di keduanya.Suasana musim semi yang sangat sejuk dan nyaman mereka manfaatkan berjalan berkeliling taman bunga.
Laki-laki berkaca mata itu mengeratkan genggamannya pada gadis yang dicintainya saat angin berdesir cukup keras.Seakan dia takut jika gadis itu akan pergi diterpa angina.Sedangkan gadis di sampingnya hanya tersenyum senang menerima genggaman hangat dari laki-laki tampan itu.Mulut mereka terkunci tapi genggaman mereka berkata apa yang mereka rasakan.Sungguh cinta yang sangat indah.Tanpa mengeluarkan kata-kata rayuan hanya dengan perilaku yang diberikan pada pasangan mengungkapkan isi hati kita.
Angin berdesir keras.Kali ini lebih keras dari sebelumnya hingga membuat kelopak bunga beterbangan mengikuti arah angin.Terpaksa mereka melindungi mata mereka dari debu yang ikut beterbangan bersama angin.Mata mereka terbuka saat angin tidak lagi bertiup.Betapa terkejutnya mereka, bukan taman bunga yang mereka lihat.Melainkan puluhan pohon yang menjulang tinggi dengan bau lembab.Persis seperti di tengah hutan.
Sebuah suara membuat mereka menoleh.Menatap sosok yang berdiri di depan pohon tak jauh dari mereka.Wajahnya yang tertutupi topeng membuat mereka tidak mengetahui rupa sosok itu.Sosok itu menatap tajam mereka.Lebih tepatnya gadis yang berada di belakang laki-laki itu.Sosok itu mengeluarkan belati dibalik jubahnya.Detik berikutnya dengan cepat dia mengarah pada sepasang kekasih itu.Dengan berani laki-laki itu melindungi gadisnya.
Tanpa diduga sosok itu sudah berada didepannya.Tanpa persiapan apapun dia hanya menghindari belati yang mengarah padanya.Sosok itu menendangnya sangat keras sehingga dia terjungkal ke belakang membentur pohon dengan keras.Kini sangat sulit dengan keadaannya bisa menjangkau gadisnya.Waktu berputar dengan cepat.Dia menatap sosok itu mengangkat belatinya akan menebas gadisnya.Dan detik berikutnya dia melihat belati itu berayun dengan sangat cepat.
“Haruka….!!!!”
Peluh membasahi pelipisnya.Bahkan piyamanya sedikit basah karena keringat.Mimpi buruk yang dia alami baru saja mempermudah pengeluaran keringatnya tanpa berolahraga.Pundaknya terasa nyeri saat digerakkan.Seperti membentur dengan keras.Dia kembali mengingat mimpi buruknya.Dia mimpi membentur pohon.Dan itu terasa dia alam nyata.Lalu dia teringat gadis yang bersamanya.
Diraihnya ponsel di meja kecil dekat ranjang.Waktu menunjukkan 2 dini hari pada layar ponselnya.Masih terlalu malam untuk menelfon gadisnya.Rasa khawatir menyelubungi hatinya.Rasa nyeri yang dia rasakan sebuah pertanda buruk akan mimpi itu.Dan hal yang terakhir dilihatnya terjadi sesuatu yang buruk pada gadisnya.Orang pasti akan tertawa padanya yang percaya mimpi itu nyata.Tapi dia memang merasa mimpi itu nyata.
Desiran angin dan bau lembab hutan benar-benar terasa.Tidak ingin memikirkan hal yang buruk dia kembali melanjutkan tidurnya.Dia berharap jika mimpi buruknya tidak benar-benar terjadi.

Kelopaknya terbuka pelan.Menatap langit-langit yang penuh bintang. Tentunya hanya hiasan berbentuk bintang yang sengaja ditempelnya.
“Sudah selesai?”
Dia menoleh.Sosok laki-laki tampan dengan jubah hitam menatapnya dengan tersenyum.Bukan.Dia menyeringai padanya.Dengan kedua tangan terlipat didepan dada membuatnya seperti orang yang berkuasa di alam semesta.Dia bangkit merubah posisinya menjadi duduk.Pandangannya mengarah pada kedua tangannya yang gemetar.
“Kau takut?”
Kepalanya terangkat menatap laki-laki tampan yang ada di hadapannya.
“Tidak.Aku hanya merasa….”Ucapnya menggantung.”Tadi terasa nyata.Sangat nyata”Laki-laki itu menyeringai mendengar penuturan gadis itu yang terlihat polos.Dia usapkan tangan dinginnya ke pipi gadis itu.Gadis itu kembali menatapnya.
“Bagaimana perasaanmu?’
Ditatapnya mata merah laki-laki itu.Tidak ada rasa takut saat menatap mata itu.Dia tau laki-laki itu tidak suka manusia menatap matanya secara langsung.Kecuali untuknya.Senang? Bahkan dia tidak tau bagaimana ekspresi yang harus dia tunjukkan setelah mengalami mimpi itu.Ya.Dialah sosok bertopeng yang ada didalam mimpi sepasang kekasih itu.Dengan bantuan Raja kegelapan tak lain laki-laki tampan didepannya dia ingin mengacaukan hidup sepasang kekasih itu.Tapi dia tidak menyangka jika mimpi itu begitu nyata.Bahkan sangat nyata untuk dirasakan.
Dia mengalihkan tatapannya.”Entahlah,aku tidak tau”
"Kau ingin mencobanya lagi?" Seakan ada harapan muncul dia kembali menatap mata merah itu.
”Benarkah?”
Kali ini bukan seringai yang dia tunjukkan.Melainkan senyum lembut yang sangat menawan.”Lain kali.Kau harus istirahat setelah perjalanan jauh mimpimu.”
Dia dorong pelan gadis itu sampai kembali terlentang diatas ranjang.
“Tidurlah.”Ucapnya seraya menyelimuti gadis itu.”Aku akan menjagamu”
Dia tatap lagi mata merah itu.Seakan mencari kebenaran kata katanya.Tersirat melindungi pancaran mata merah itu.Membuatnya tenang menutup kelopak matanya.Setelah kelopak mata gadis itu tertutup tatapannya menjadi sendu pada gadis itu.Dia harus menjaga perasannya jika dia mencintai gadis itu tulus.Gadis itu datang padanya meminta bantuan untuk mengacaukan mimpi laki-laki yang dicintainya.Dengan senang hati dia mengabulkan permintaan gadis itu.Bagaimanapun juga dia mempunyai perasaan.Sosok raja kegelapan yang ditakuti banyak orang telah mencintai gadis manusia biasa di bumi.

Wajahnya menunduk kebawah.Dia berjalan sendiri hari ini.Kekasih yang biasa berjalan bersamanya tidak Nampak disampingnya.Dia memikirkan sesuatu.Mimpi yang dialaminya semalam membuatnya shock.Bahkan setelah sadar dari mimpi itu dia tidak berani kembali terlelap.Dia sangat takut jika mimpi buruk itu kembali menyerangnya.Alhasil terdapat kantong hitam dimatanya.Dia takut jika mimpi itu benar-benar nyata.Dia sudah membayangkan apa yang akan terjadi padanya di mimpi itu.Dan membayangkannya membuat bulu kuduknya berdiri.
Tanpa sadar lagkah kakinya sampai disekolahnya.Kepalanya mendongak saat terdengar namanya dipanggil.Seorang laki-laki tampan yang menyandang sebagai kekasihnya itu berlari kecil dengan raut khawatir kearahnya.
“Tadi pagi aku kerumahmu,tapi ibumu bilang kau sudah berangkat”Ucapnya setelah tiba dihadapannya.
“Hounto?"Bahkan dia tidak sadar akan hal itu.Setiap hari semenjak mereka berpacaran mereka memang selalu berangkat dan pulang bersama.Dan gara-gara mimpi buruknya semalam dia lupa dengan kebiasannya itu.
"Daijobu?” Laki-laki itu Nampak khawatir menatap raut wajah gadis itu.Wajahnya sedikit pucat dengan kantong mata yang cukup menebal.”Kau sakit?”
Mendengar ucapan itu dengan cepat dia menggeleng kepala.Tidak ingin membuatnya khawatir.“Aku hanya kurang tidur”
Sebenarnya dia tidak percaya dengan gadis itu.Dia yakin jika ada sesuatu yang disembunyikannya.Tapi gadis itu sudah menolak tawarannya,mau tidak mau dia hanya mengangguk.Karena memang pada dasarnya gadis itu sangat keras kepala.
“Sebentar lagi bel berbunyi,sebaiknya kita segera masuk ke kelas”Gadis itu mengangguk lalu berjalan disamping laki-laki itu.Tidak ada percakapan apapun diantara mereka.Semua bergelut dengan pemikiran masing-masing.Obrolan yang selalu ada saat mereka bersama seakan hilang diterpa angin.Hingga mereka berpisah karena berbeda kelas.Keduanya masih bergelut dengan pikiran mereka.Dan tanpa mereka sadari seorang gadis memperhatikan gerak-gerik mereka sejak pasangan itu bertemu.Dia tersenyum kecil sebelum menuju kelasnya.
Dia merasa ada yang berbeda hari ini.Mui,dia menatap gadis yang menatap bukunya.Pandangannya kosong.Tidak focus dengan buku didepannya.Temannya itu bersikap aneh sejak masuk kekelas.Tidak ada sapaan dan senyum manis dari gadis itu.Sampai bel berbunyi dan guru keluar pun dia masih menatap bukunya dengan pandangan kosong.Khawatir dengan keadaannya dia menghampiri gadis itu.Lonjakan kecil dikeluarkannya tak kala pundak yang terlihat rapuh itu disentuhnya.
“Daijobu?”
Mui adalah orang kedua yang bertanya hal yang sama padanya.Dia memaksa senyumnya keluar dengan sebuah anggukan kecil.”Hari ini kau terlihat pucat.Apa kalian bertengkar?”
Dia mengerti apa maksud 'kalian'.Dirinya dan Toma.Memang tidak ada masalah diantara mereka.Tapi ada hal yang menyangkut mereka dan membuatnya ingat akan hal itu.Mimpinya semalam membuatnya terus memikirkannya.Seakan ada sesuatu yang memperingatkannya lewat mimpi itu.Kembali,bulu romanya berdiri mengingat akhir dari mimpinya.Jantungnya berdebar kencang.Dirabanya lehernya.Membayangkan jika belati itu mengoyak kulit putih lehernya.
Melihat tingkah Haruka yang aneh membuatnya sangat khawatir.
“Haruka?" Dipanggilnya nama gadis itu menciptakan rasa terkejut pada gadis itu.Mui tertegun saat Haruka tiba-tiba menatapnya.Tatapan gadis itu tersirat akan ketakutan dan kekhawatiran.Tersirat betapa tidak berdayanya dia dari caranya menatap.
“Mui…aku..aku takut”Suaranya bergetar.Dia sangat takut.
“Kau kenapa?" Kali ini mui mengambil kursi kosong lalu duduk di dekat Haruka sambil memegangi tangan gadis itu yang berkeringat dan terasa dingin.
“Kita ada waktu untuk bercerita.Sekarang katakan ada apa?”.
Suasana kelas tidak begitu sepi.Beberapa siswa bercengkerama di sudut ruangan.Haruka menundukkan kepalanya.”Semalam aku mimpi buruk.”
Dia menunggu ucapan selanjutnya dengan sabar.”Aku berjalan bersama dengan Toma ditaman.Rasanya sangat nyaman dan indah.Lalu tiba-tiba angin berhembus keras.Hembusan angin itu sangat terasa.Dan ketika aku membuka mata kami berada di hutan"
"Aku merasa mimpi itu nyata.Bau lembab hutan sangat terasa.Tiba-tiba sosok bertopeng menyerang kami.Toma berusaha melindungiku tapi dia ditendang hingga menubruk pohon.Sosok itu mengeluarkan belati dan diarahkannya kepadaku”
“Mui aku sangat takut.Mimpi itu benar benar nyata.Bahkan aku tidak menyangka jika itu adalah mimpi”
“Toma tidak apa-apa kan?Berarti itu hanya mimpi”
 “Tapi aku merasa itu sangat nyata”
Percuma.Temannya tidak akan percaya dengan ceritanya.Memang terdengar gila tapi itulah yang dia rasakan.Mimpi itu benar nyata.Mimpi buruk berarti sesuatu yang buruk akan terjadi.Dan bisa saja kejadian buruk itu terjadi padanya atau Toma.Toma.Apa dia juga bermimpi sepertinya?Dia harus menanyakan pada Tma.Hanya Toma yang mungkin bisa dia percayai.
Tangannya sibuk menulis mengerjakan tugas.Lampu kamarnya padam hanya lampu meja yang menerangi pekerjannya.Sosok berjubah disampingnya terus menemaninya.Duduk disalah satu kursi dengan meletakkan kaki kirinya di kaki kanan.Matanya tak lepas menatap gadis yang sibuk mengerjakan tugas di depannya.
Dia sangat suka melihat gadis itu melakukan sesuatu.Seakan segala tingkah laku gadis itu adalah kejadian berharga yang tidak boleh dilewatkan.
“Kau tidak bosan?”
Sebelah alisnya terangkat.Tidak menyangka jika gadis itu juga memperhatikannya.Kali ini gadis itu menoleh.
“Sejak aku datang kau terus memperhatikanku.Apa kau tidak ada pekerjaan di kerajaanmu?”
Gadis itu tau dia mempunyai kerajaan.Dia tau semua tentang dirinya kecuali perasaannya terhadap gadis itu.Dia berdiri berjalan mendekati gadis itu.
Gadis itu sempat terhenyak,saat dia berlutut didepannya. "Kau mengusirku,Hime?"
Seringai terpampang diwajahnya saat gadis itu salah tingkah dengan panggilannya.Gadis itu kembali mengerjakan tugasnya menyembunyikan semburat diwajahnya.
“Terserah.”
Dia tau bahwa gadis itu sedang mengalihkan pandangan darinya.Dia berdiri lalu berjalan menuju jendela yang terbuka.Dia berbalik sebelum keluar dari jendela menatap gadis yang kini tengah menatapnya.
“Oyasumi”.Senyum yang tulus mengawali kepergiannya.Tatapan gadis itu tidak bisa diartikan.Tatapannya masih terpaku pada jendelanya yang terbuka.Entah kenapa ada rasa tidak rela jika laki-laki itu pergi.Walaupun terlihat dingin dia selalu memperlakukannya dengan baik.Tidak pernah laki-laki itu menyakitinya.
3 tahun dia mengenal Raja kegelapan itu.Dia tidak mengerti kenapa laki-laki tampan itu tetap bersamanya dan tidak membunuhnya.
Laki-laki itu mengaku jika bertemu dengan manusia dia akan mengambil nyawa manusia itu.Tapi dia masih hidup dengan sehat bahkan mereka terlihat sangat akrab.
Dia kembali mengerjakan tugasnya setelah menghela nafas.

Tap Tap Tap
Sepatunya terbentur lantai marmer menimbulkan suara langkah seorang diri.Jubah kebesarannya sedikit berkibar diterpa angin.Langkahnya memelan saat dilihatnya pintu keemasan yang besar.
Kriieeett…
Suara deritan pintu terdengar saat dia membuka pintu itu.Ruangan luas itu berisikan ranjang berukuran king size,lemari besar,rak buku dan beberapa pajangan.Dia memasuki kamarnya melepas jubah yang terlihat berat ,melemparnya asal keatas ranjang.Dia hampiri balkonnya yang terbuka.Cahaya bulan bersinar terang menerpa pipinya.Bisa dirasakannya kekuatan kegelapannya mengalir dalam tubuhnya.
Tenggorokannya sangat kering.Dia baru ingat belum memakan apapun sejak 3 hari dirumah gadis yang dikenalnya 3 tahun lalu.Badannya berbalik menatap pigura yang besar terpajang dikamarnya.Nampak sosok dirinya dengan seorang perempuan yang tersenyum bahagia disampingnya.Terlihat kebahagiaan dalam foto itu.Dirinya yang tersenyum kecil memeluk pinggang perempuan itu yang tidak lain adalah istrinya yang telah meninggalkannya.
Tapi dia bersyukur bertemu reinkarnasi istrinya dialam manusia.Ya.Gadis yang ditemuinya 3 tahun lalu adalah reinkarnasi istrinya.Kini dia merasa damai dengan adanya gadis itu.Seakan sebagian hidupnya yang hilang datang lagi.Tapi dia harus menahan hasratnya akan gadis itu.Lantaran gadis itu adalah manusia dan tidak memiliki perasaan apapun padanya.
Misa.Nama gadis itu sama dengan nama istrinya.Semua perilaku dan sifatnya pun sama.Dia yakin jika gadis itu benar-benar reinkarnasi istrinya.
Rasa hausnya terasa lagi.Dia kembali menghadap suasana dunia kegelapan.Tidak ada cahaya matahari yang datang kedunia itu.Tidak akan pernah.Dia melompat dari balkonnya saat menangkap mangsa yang diincarnya.

Kedua jemarinya bertautan dengan gelisah.Ditatapnya jam tangan yang belum ada 10 menit dia lihat tadi.20 menit sudah berlalu dari perjanjian.Batang hidung laki-laki berkaca mata itu belum nampak.Kembali dia memainkan jemarinya sembari menunggu.Belum sempat dia melihat  jam tangannya , sebuah tepukan pelan dia rasakan hampir membuatnya terlonjak.Dia mendapati laki-laki berkaca mata yang dia tunggu tersenyum tanpa salah.Dia berdiri sebelum berdecak kesal.
“Maaf,aku ada urusan tadi”Gadis itu masih merengut.”Akan kutraktir makan siang”
Berhasil.Gadis itu tersenyum kecil lalu mengambil langkah disampingnya.Menjalankan rencana jalan-jalan mereka hari ini.Hari minggu adalah hari yang pas untuk melepas penat.Banyak orang yang memanfaatkan hari libur ini untuk meluangkan waktu bersama keluarga,sahabat atau kekasih.Seperti yang dilakukan sepasang kekasih itu.
Kencan? Bisa dibilang itu adalah kencan pertama mereka.Mereka terlalu sibuk dengan tugas sekolah membuat mereka jarang meluangkan waktu berdua.Mereka hanya berencana untuk keliling kota.Tapi mengingat hari sudah cukup siang mereka mampir ke salah satu kedai.Selama mereka bersama sejak ditaman tidak ada yang menyadari jika sepasang mata tajam selalu mengawasi mereka dari kejauhan.

Entah sudah keberapa kalinya dia menguap.Sejak berangkat dari rumahnya uapan yang terus muncul dari mulutnya sudah berhenti.Baginya hari minggu adalah hari bersantai.Tapi ibunya dengan paksa menyuruh membeli makanan.Dia membeli sekaleng kopi mengingat seorang perempuan tidak pantas terus menguap.Dia ingat bagaimana ibunya selalu mengingatkan kalimat itu.Biasanya disertai jitakan pada kepalanya.
CKLEK
Diteguknya sampai habis lalu melempar kaleng itu pada tempat sampah.Dirogohnya saku jaket.Mengeluarkan selembar kertas yang bertuliskan bahan bahan yang harus dia beli.Dia menghela nafas.Melihat daftar itu cukup panjang dia akan melakukan hari yang melelahkan.Hari bersantainya akan terlewatkan kali ini.Untung kopi yang dibelinya membuatnya sedikit semangat.Walaupun masih ada rasa malas merayap tubuhnya.
“Yosh.Kalau tidak cepat akan lama”Semangatnya pada diri sendiri.Belum sempat dia meninggalkan mesin minuman matanya menangkap 2 sosok yang sangat dikenalnya.Jantungnya kembali berdegup cepat.Dia menggigit bibir bawahnya menahan rasa kesal.Tanpa sadar kakinya megikuti sepasang kekasih itu dari kejauhan.Mereka terlihat berbincang dengan tertawa bersama sesekali.
Hatinya panas melihat betapa romantisnya mereka.Kesal? Tentu.Dia sangat kesal dengan keduanya.Laki-laki dan perempuan itu.Dia sangat kesal dengan keduanya.Dia merasa telah ditikam dari belakang oleh keduanya.Pengorbanan yang dilakukannya untuk laki-laki itu tidak membuahkan hasil selain pertemanan biasa yang tidak bisa membuatnya memiliki laki-laki itu.
Dan dengan prempuan? Bahkan dia sudah menganggapnya sahabat.Apapun yang dibutuhkan perempuan itu selalu dia penuhi selama dia mampu.Dan sekarang dia sudah muak dengan keduanya yang kini nampak duduk berdua pada sebuah meja makan di sebuah kedai.
Tidak mungkin dia tiba-tiba datang lalu menceramahi keduanya.Mereka akan curiga dengan perasaannya.Sosok laki-laki berjubah yang selama ini bersamanya terlintas pada benaknya.Dia ingin bertemu dengan laki-laki itu.Melakukan sesuatu yang dia lakukan terhadap sepasang kekasih itu.
Dia pergi dari tempatnya menatap sepasang kekasih itu.Membeli bahan makanan dengan cepat sebelum pulang kerumah.
”Tadaima”Teriaknya setelah pintu rumah terbuka.Dengan sedikit berlari dia menuju dapur menaruh barang belanjaanya. “Aku ingin istirahat,jangan ganggu aku”Ucapnya pada ibunya yang memasak.
“Ara, kau tidak makan dulu?”
“Iranai”
Ditatapnya punggung putri semata wayangnya hingga menghilang.Tidak seperti biasanya putrinya itu tidak makan.Biasanya dia akan makan terlebih dulu sebelum pergi ke kamarnya.
Dengan cepat kakinya menginjak anak tangga hingga mencapai puncak.Tanpa mengurangi kecepatan langkahnya dia menuju kamarnya.Menguncinya setelah dia masuk.Bersamaan dengan terbaliknya tubuhnya sosok yang dia butuhkan muncul dengan jubahnya.
“Membutuhkan bantuanku?”
“Kau tau?”
“Aku selalu tau apa yang kau butuhkan,Hime”Seraya melangkah kearah gadis itu.Gadis itu tidak bergeming saat tangan dingin itu memainkan pucuk rambut panjangnya.
"Aku menagih janjimu waktu itu”Sebelah alisnya terangkat.Tidak tau apa yang dimaksud gadis itu.” Aku ingin masuk ke mimpi mereka.Kali ini aku ingin memberi kenangan yang tidak terlupakan.”
Tangannya berhenti memainkan rambutnya.Seringai yang membuatnya semakin tampan nampak.Dia tidak menyangka jika gadis itu bersungguh-sungguh.Bahkan untuk menghancurkan orang yang dicintainya.
“Apapun untukmu,Hime”

Kelopaknya terbuka perlahan.Suasana hutan menyapanya.Dia merubah posisinya menjadi duduk.Bisa dirasakannya tanah lembab yang kini didudukinya.Dia kembali masuk ke mimpi itu.Mimpi yang akan menjadi kenyataan.Bisa dirasakannya keberadaan manusia selain dirinya.Dia segera berdiri dan menghampiri manusia itu.Langkahnya terhenti pada dahan pohon pinus.Sepasang kekasih yang sangat dikenalinya berada di bawahnya dengan raut kebingungan.
Dia melepas topengnya.Kali ini dia akan menunjukkan wujud aslinya.Saat sepasang kekasih itu sadar akan keberadaannya dia turun dari dahan pohon yang cukup tinggi itu.Mereka terkejut melihat orang yang mereka kenal adalah sosok bertopeng yang mengacaukan hidup mereka.
"Misa?" Gumam Toma,laki-laki itu menatap tidak percaya kearahnya.Disusul 1 tatapan yang sama dari Haruka,gadis disamping Toma.
"Jadi selama ini sosok bertopeng itu adalah kau?". Dia hanya menatap Toma dengan pandangan yang sulit diartikan.Kali ini bukan belati yag digunakannya.Sebuah katana pemberian laki-laki dingin itu dia gunakan.Keduanya tertegun saat dia mengeluarkan katana.
Toma menatap tidak percaya padanya saat diarahkannya katananya ke mereka.
”Misa!!” Teriak Haruka dibalik punggung Toma.”Kenapa....kenapa kau melakukan ini?”
Sejenak Misa terdiam.”Kalian tau,ini semua salah kalian”
Mereka masih tidak mengerti dengan ucapan teman seklubnya itu.Memangnya apa salah mereka? “Kalau saja..kalau saja kalian tidak bersama mungkin aku tidak akan seperti ini pada kalian” Tersirat kesedihan dan kemarahan dari ucapannya.
Tidak pernah dia merasa terpuruk seperti ini.Hidupnya selalu terisi dengan keceriaan dengan teman-temannya.Tapi kali ini dia merasa jatuh kedalam jurang tanpa sadar.Dengan mengumpulkan segala keyakinannya dia menyerang Toma.Toma mendorong Haruka membuat mereka terpisah dan meninggalkan Misa menyerang Toma.
”Toma!!". Haruka sangat khawatir dengan kekasihnya itu.Melawan musuh tanpa senjata membuatnya kalah telak.Misa terus menyerang Toma yang selalu menghindar.Menghindar tidak selamanya selamat.Beberapa tebasannya mengenai kulit putih Toma menimbulkan tebasan dengan darah yang mengalir.
Dia melirik Haruka yang bebas tanpa penjagaan.Toma menyadari Haruka akan diserang.Dengan cepat dia berlari kearah Haruka.Bersamaan Misa yang menghunuskan katana kearah Haruka.
JLEB
Matanya melebar melihat gadis yang dicintainya tertusuk katana Misa.Darah mengalir deras dari perutnya yang tertanam pedang.
“Mi…sa…." Tepat setelah ditariknya katananya tubuh Haruka terhuyung jatuh ketanah.Perutnya masih mengalir darah segar dari perutnya.Bau anyir tercium dari hidungnya.
“Ini....mimpi” Gumamnya masih menatap tubuh tidak berdaya gadis itu.
“ii’e". Ditatapnya Misa.”Mimpi ini akan jadi kenyataan”
“Tidak mungkin!!!!” Berbagai emosi terpasang diwajahnya.Tubuhnya jatuh berlutut.Dia tidak percaya mimpinya.Bahkan dia tidak ingin mimpi ini jadi kenyataan.Kepalanya tertunduk ke bawah.Pandangannya kosong.
“Bencilah padaku,Toma”
Dia bisa mendengar suara Misa dibelakangnya.Dia tau jika gadis itu mengangkat pedangnya.Bersiap membunuhnya.Toma memejamkan matanya.Dia siap untuk mati.Dia akan bertemu dengan kekasihnya.Dia tidak akan pernah meninggalkan kekasihnya sendirian.Dan saat pedang itu terayun dengan cepat bisa dirasakannya darah keluar dari tubuhnya.

Kota digegerkan dengan ditemukannya mayat laki-laki dan perempuan yang tewas bersimbah darah di ranjang mereka.Diduga mereka mempunyai hubungan khusus.Tidak ada jejak dari pelaku pembunuhan.Dugaan sementara mereka dibunuh saat mereka terlelap.
Misa menatap dirinya didepan cermin.Dress putih selutut tanpa lengan.Rambut panjangnya tergerai bebas.Wajahnya putih alami tanpa polesan kosmetik.
"Kau yakin?” Dia berbalik saat sebuah suara itu berada tepat dibelakangnya.Laki-laki itu.Dia datang seperti biasa dengan jubah kebesarannya dilengkapi atribut layaknya seorang raja.Gadis itu tersenyum. Tulus. Tidak ada paksaan dari senyum itu.”Aku sudah memikirkannya dengan matang.Jadi jangan biarkan membusuk”
Dia mendengus mendengar penuturan gadis itu yang menurutnya konyol.Ditatapnya gadis itu.Nampak cantik seperti istrinya.Sebentar lagi gadis itu bukanlah seorang manusia.Dia akan menjadi sebangsa dengannya dan menjadi miliknya.Itulah resiko jika menggunakan mimpi untuk membunuh seseorang.Gadis itu telah mengambil resiko itu.Memberikan hidupnya padanya.
Sebenarnya bisa saja dia membiarkan gadis itu menjadi manusia. Tapi itu sama saja dia tidak menghargai keputusan yang sulit diambil.Lagipula itu juga kesempatan bagus untuk memiliki gadis itu seutuhnya.Menjadikannya Ratu di kerajaan kegelapan,mendampinginya.
Tangannya terulur meraih pinggang ramping gadis itu.Mendekatkan tubuh gadis itu padanya.Dia bisa merasakan tubuh hangat dan detak jantung yang cepat.Semburat merah menghiasi wajah gadis itu tak kala dia mendengar degup jantungnya sendiri.Wajahnya mendekati wajah gadis itu.Kemudian bibirnya menempel bibir ranum gadis itu.
Bisa dirasakannya bibir dingin itu menyentuh bibirnya.Ini memang pertama baginya tapi entah kenapa dia bisa terbiasa dengan ciuman itu.Seakan mengikuti suasana matanya tertutup.Tak lama dia tidak merasakan bibir dingin yang masih menempel di bibirnya.Tidak dingin dan panas.Hawanya sama.Bahkan lengan kekar yang sebelumnya dingin tidak terasa dingin lagi.
Tanpa sadar dia membuka matanya lalu menjauhkan wajahnya.Dia terkejut saat melihat sekelilingnya.Dia tidak berada dikamarnya.Langit gelap gulita dengan bulan yang menjadi sumber cahaya.Rumah-rumah kecil yang dilihatnya terlihat remang-remang.Lolongan serigala pun didengarnya.Dia baru sadar jika dia berada di balkon.Lengan kokoh laki-laki itu masih setia di pinggangnya.Bahkan semakin lama semakin erat.
“Koko…”
“Di kerajaanku.Dan sekarang kita berada di balkon kamar kita”
Kedua alisnya bertautan. ”Kamar kita..?’
Laki-laki itu menyeringai.Tanpa diduga dia menggendong gadis itu dan membawanya masuk kedalam kamar.Melakukan hal yang menimbulkan suara desahan dan erangan sepanjang malam.

REFERENSI
          Sejak aku dilahirkan aku sudah terjerumus kedalam kegelapan yang dingin.Tidak ada yang menyelamatkanku dari sumur yang dalam itu.Hingga kau datang dari kegelapan membawa cahaya dan tangga agar aku bisa menggapaimu.Tanpa ku sesali aku terlahir menjadi milikmu.Hidup didalam kegelapan duniamu yang merupakan cahaya dan kebahagaiaan bagiku.Karena aku mencintaimu.

-MISA-

          Aku berfikir jika aku tidak akan bisa melihat kehidupan lagi.Tapi aku bertemu denganmu lagi dari cahaya yang sulit kugapai.Kulakukan apapun yang membuatmu bahagia.Aku takut terlalu menyentuhmu.Aku takut kau akan terjerumus kedalam duniaku.Aku tidak ingin membawamu ke kegelapan yang lebih dalam lagi.Karena aku mencintaimu.

-TATSUYA-