Kamis, 27 November 2014

I Want To Say . . I Love You

 Baru satu tahun ini aku mengenalnya, kebetulan kami satu kelas sejak kelas dua. Menurutku dia orang yang baik, humoris, dan cukup jahil. Duduknya tak jauh denganku. Satu bangku di depanku sebelah kanan. Aku bisa melihat lebih jelas apa yang dia lakukan.
 Mungkin ini hanya kesimpulanku saja. Hubungan kami cukup dekat dalam pertemanan. Aku sering bertanya padanya jika aku bingung dalam pelajaran. Kami juga sering berbagi makanan. Yah, kupikir mungkin inilah yang namanya pertemanan.
 Tapi hatiku berkata lain. Terkadang aku merasa sangat bahagia berada di sampingnya. Bahkan saat kami sholat berjamaah bayanganku seakan dialah yang menjadi imamku. Ini mungkin terlalu berlebihan. Menyukai teman sekelas.
 Aku tidak yakin dengannya. Dia sulit di tebak, lain dengan laki-laki kebanyakan yang mengutarakan perasaan mereka terhadap perempuan. Dia sering menjahiliku, itu sudah sering. Aku sudah terbiasa dijahili dengan teman-temanku yang hanya lelucon saja.
 Tahun ini adalah tahun ketiga aku bersama dengannya. Sebentar lagi kami akan berpisah. Entah nanti dia akan kemana. Tapi aku yakin kita akan berpisah.
 Dia berbeda denganku. Dia lebih pintar dariku, tidak mungkin aku bisa menyusulnya. Lagi pula aku menpunyai jalan pikiranku sendiri.
 Perasaan ini terua bergejolak. Aku ingin mengakuinya. Tapi aku takut jika perasaan ini salah. Semakin lama aku semakin yakin. Ketika dia di olok saat mantannya melewati depan kelas. Aku cemburu.
 Bahkan saat salah satu temanku mengaku mereka berpacaran. Jelas sekali itu hanya bercanda tapi tetap saja aku merasa cemburu.
 Rasanyabsamgat berat berpura-pura mendukung dirinya dengan orang lain. Aku terlalu pesimis untuk tidak mengakuinya.
 Sudah lama aku ingin mengakui perasaan ini padanya. Tapi aku takut hal itu akan mengganggu belajarnya. Jadi aku menahannya. 
 Sampai ujian selesai kami masih berteman dekat. Dugaanku benar. Kami berada dijalan yang berbeda, tentu saja kami akan berpisah.
 Saat acara perpisahan adalah waktu yang ingin kugunakan untuk mengatakannya. Kini kami berjalan menuju tempat parkir. Suasana maaih cukup ramai karena masih ada yang ingin mengenang nasa SMA.
 Motornya sudah semakin dekat dan aku belum mengatakannya. Aku gugup. Aku takut. Bagaimana jika dia mengabaikanku? Menganggapnya hanya lelucon.
 Ku panggil namanya saat hampir mencapai motornya. Dia berbalik dengan wajah bertanya yang seperti biasanya. Selalu ku ingat ekspresi itu di pikiranku.
 Aku masih terdiam. Aku tidak tau bagaimana memulainya. Dia menungguku bicara tapi aku semakin gugup. Pada akhirnya yang keluar dari mulutku, "sampai jumpa"
 Aku berlari meninggalkannya. Aku malu. Aku tidak berbalik untuk melihat ekspresinya. Sudah cukup aku menyimpan perasaan ini. Tapi aku membuat kesalahan besar. Pada ujungnya aku masih belum bisa mengatakannya. 
.
.
.
.
.


Jumat, 03 Oktober 2014

CERITA ROMANCE : YOUR NAME



YOUR NAME?
PART 3
BY MIZUSHI HANA


Aouthor POV
Karla berlari memasuki rumah sakit setelah mobil taksi yang di tumpanginya berhenti. Wajahnya di penuhi raut kekhawatiran. Jantungnya semakin berdegup cepat. Dia menghiraukan larangan untuk tidak berlari di lorong rumah sakit. Yang ada di pikirannya adalah keadaan dua orang yang di cintainya.
Langkahnya semakin cepat saat sosok tercintanya berdiri di depan salah satu kamar rawat bersama dua orang lainnya. “Dika”, panggilnya begitu sampai.
Dika berbalik. Langsung saja sepasang suami-istri itu berpelukan melepas kekhawatiran, namun Karla masih belum tenang. Dia melepas pelukannya. “Dimana Kiara?”
Laki-laki itu tersenyum lembut. “Dia baik-baik saja, ada di dalam”. Sontak tangannya menahan tubuh istrinya katika wanita itu akan memasuki ruangan yang di maksud. “Suasana hatinya sedang buruk, lebih baik kita tunggu saja”
Meski begitu Karla masih belum tenang sebelum malihat keadaan adiknya baik-baik saja secara langsung. Kalau dia baik-baik saja seharusnya tidak berada di dalam dan membuatnya khawatir.
“Memang siapa yang di rawat?”
Sontak Dika menatap temannya yang menundukkan kepala sedih.
Tangisan Kiara masih terus berlanjut sejak tadi. Kepalanya tertunduk penuh penyesalan.tangannya menggenggam lembut tangan pucat laki-laki yang terbaring di ranjang. Mulutnya terus berguman. Dengan kata yang sama dengan rasa penyesalan yang sangat mendalam di hatinya.
Sejak laki-laki itu di bawa di rumah sakit tangisan Kiara tidak bisa berhenti bahkan saat operasi pengambilan peluru yang bersarang di bahu kiri laki-laki itu. Kiara semakin merasa bersalah katika Rangga, kakak laki-laki itu tiba di rumah sakit. Dia tidak berhenti meminta maaf pada teman kakak iparnya itu.
Dan sekrang tangisan Kiara tulus. Dia menyalahkan dirinya yang membuat laki-laki itu terluka. Hatinya perih melihat laki-laki itu mengorbankan diri menyelamatkannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Kiara membenci laki-laki dia menangisi laki-laki yang bukan siapa-siapa baginya.
***
Perlahan tapi pasti kelopak mata itu terbuka lemah. Setelah tiga hari lamanya mata itu mulai terbuka dan menelusuri sekitarnya. Suasana putih yang sangat khas dengan bau obat-obatan yang begitu menyengat. Rei sadar dia berada di rumah sakit mengingat kejadian yang membuatnya harus ke tempat itu.
Dia mencoba bergerak, sedikit sakit memang. Namun tangannya tertahan. Matanya menangkap sosok gadis yang sudah dia selamatkan. Gadis itu tertidur di samping ranjang. Sangat jelas bekas aliran air mata di wajahnya. Di terlihat lelah.
Senyumnya merekah. Gadis itu ada di sampingnya saat dia membuka mata. Di luar dari perkiraannya. Dia mengubah posisinya menjadi duduk dengan menahan rasa sakit di bahu kirinya. Gerakannya pelan agar gadis itu tidak menyadarinya. Tapi sepertinya percuma. Mata gadis itu terbuka dan begitu terkejut melihatnya. Tak lama matanya berkaca-kaca dan menumpahkan airnya.
Gadis itu menunduk. Air matanya membasahi telapak tangannya yang di pegang gadis itu lembut.
“Maaf . . Maaf . . Maafkan aku . . Maaf”. Guman Kiara penuh penyesalan.
Dalam hati Rei tersenyum. Gadis itu menangisinya dan mengkhawatirkannya. Ada rasa hangat menyelubungi hatinya.
Tangan lemahnya menyentuh pipi Kiara yang basah lalu mengangkatnya. Matanya menatap mata Kiara yang berair. Sangat dalam. Wajahnya mendekat, mengecup bibir Kiara lembut yang terasa asin karena air mata. Ciuman itu tidak lama. Rei kembali menatap mata gadis itu yang melebar.
Kemudian dia tersenyum. “Tidak perlu meminta maaf. Aku senang bisa melindungimu. Maafkan aku sudah membatmu khawatir”
Kiara kembali menangis. Dia di maafkan dan Rei menyatakan perasaannya. Dia merasa senang. Sangat senang. Mungkin dia sudah jatuh hati pada Rei tanpa sadar. Dan Rei, laki-laki itu memang sudah jatuh hati pada Kiara saat pertama kali bertemu. Love at first sight memang benar adanya.
Untuk ke sekian kalinya aku menghela nafas. Sungguh, menunggu itu menyebalkan. Rasa bosan sudah menyelingkupiku sejak lima menit lalu. Mataku berkeliling. Tanda-tanda kemunculan ‘si menyebalkan’ itu belum ada. Satu menit lagi dia tidak datang aku akan pergi dari  taman ini.
Kembali aku menghela nafas sabar. Tiba-tiba mataku tertutup tangan seseorang. Parfum aftersave menguar begitu saja. Dengan sedikit tersenyum ku pukul kepalanya yang berada di belakangku.
Tangannya terlepas. Sekarang aku bisa melihatnya yang mengusap kepalanya sambil menatapku tajam. Aku tidak takut seperti pertama melihatnya, malahan aku tersenyum geli.
“Kau harus merubah sikap kasarmu kalau ingin menjadi istriku”. Ucapnya kesal.
Tentu saja aku sudah terbiasa memukulnya, entah kenapa itu menjadi hobiku sekarang setelah Mbak Karla mengandung calon keponakanku dan aku tidak tega mengganggu acara romantis kakak-kakakku itu.
Aku beranjak dari dudukku. “Salah sendiri kau terlambat, aku sudah bosan menunggu terus”
“Cuma lima menit”, bantahnya.
“Lima tahun bagiku’. Sudah menjadi motto hidupku kalau aku tidak suka menunggu meski satu menit. Satu menit saja sudah bosan.
Aku berbalik meninggalkannya. Tak lama dia sudah berada di sampingku. Dengan cepat tangannya menggenggam tanganku. Entah sudah berada kali dia melakukannya. Empat bulan sudah kami saling menjalin hubungan yang tidak jelas setelah acara penyandraan gedung kantor Mas Dika. Entah kami pacaran atau tidak. Tiba-tiba hubungan kami sudah seperti ini. Dan siapa lagi yang membuatnya aneh kalau bukan dia.
Mengingat kejadian waktu itu aku belum mendapat jawaban darinya. Aku lupa ingin menanyakannya lagi. Dasar penyakit pelupa merepotkan. “Kau ini siapa? Maksudku kenapa waktu itu kau ada di kantor Mas Dika, membawa pistol lagi”
Di tersenyum jahil lalu menyentil keras dahiku. Sontak aku memegang dahiku karena perih dan sakit. “Rahasia”
Aish. Dasar menyebalkan. Dia tidak berubah. Ku pukul sekali lagi kepalanya sedikit melompat. Maklum dia tetap tinggi dan aku susah sekali tumbuhnya.
“Kenapa kau memukulku? Tanganmu itu seperti batu”. Ocehnya kesal.
“Kau sendiri menyentilku. Kau pikir tidak sakit”. Ucapku tidak mau kalah.
Kami kembali saling mengejek. Saling menyentil dan memukul. Tapi perasaan kami tidak berubah, tetap berhubung. Dia tetap menyebalkan dan akan seperti itu seterusnya dia yang ku kenal. Karena aku menyukainya.

Flashback
Baru saja Rei tiba di rumah setelah menyelesaikan tugas dari dosen yang sangat menyukai bakatnya merancang bangunan. Dia sampai heran dengan dosen itu tidak ada bosannya memberi tugas untuknya dan rasanya semakin hari tugas itu semakin sulit dan rumit. Membuatnya harus berfikir keras untuk menyelesaikannya.
Rangga dengan terburu-buru menhampirinya, membuatnya mengerutkan kening. “Kantor Dika di jadikan sandra dengan buronan yang sudah lama kalian cari”. Ucapnya khawatir. Tentu saja, Dika adalah sahabat karibnya dan juga termasuk rekan bisnisnya. Laki-laki itu sudah banyak membantunya.
Rei menghela nafas. Tubuhnya cukup lelah hari ini, dia ingin istirahat. Dia berjalan melewati Rangga. “Kau saja yang pergi atau suruh tim yang lain, aku lelah”
Kasus penyandraan memang divisinya dan dia sudah lama di tugaskan untuk menangkap salah satu buronan atas perintah atasannya secara langsung meski itu bukan divisinya. Tapi tim lain masih ada dan timnya bisa bergabung dengan tim Rangga. Dia benar-benar lelah saat ini, dia ingin tidur. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan kakaknya.
“Kiara ada di sana. Dika baru saja menelfonku, dia ada di rungannya”
Kiara. Tentu saja gadis yang sudah merobohkan dinding es nya saat pertama kali bertemu. Sejak saat itu dia tau hatinya sudah di ambil paksa oleh gadis itu. Dan sekarang gadis itu berada dalam bahaya. Sendiri. Bagaimana jika ada penjahat yang menemukannya dan melukainya.
Tanpa berbalik dia berucap. “Aku akan berangkat sepuluh menit lagi. Aku akan menyelamatkan Kiara sendiri”
Rangga menatap kepergian Rei menaiki tangga. Dia tersenyum menatap adiknya yang berubah sikap saat menyangkut adik ipar sahabatnya itu. Akhirnya tembok es itu hancur di tangan Kiara entah sejak kapan. Dia tau Rei tertarik dengan gadis kecil itu mengingat tatapan Rei pada gadis itu saat berkunjung ke rumahnya beberapa waktu lalu. Dan kata-katanya mengatakan jika hanya dia yang boleh menyelamatkan Kiara. Jadi adiknya itu ingin menjadi pahlawan gadis di sukainya.
Dia menghela nafas lega. Mungkin dia dan Dika akan besanan.

CERITA ROMANCE : YOUR NAME



YOUR NAME?
PART 2
BY MIZUSHI HANA

Seperti biasa setelah jadwal kuliahku selesai aku mampir ke perpustakaan. Dan pastinya melewati gedung olahraga. Memangnya mau lewat mana lagi kalau harus berkeliling memutar menghabiskan waktu lima belas menit. Seperti dugaanku dia ada di sana lagi. Di gedung olahraga, bermain basket, sendirian. Awalnya aku berniat tidak perduli tapi ada sebuah dorongan yang membuatku ingin melihat permainannya.
Kali ini dia menggiring bola lalu memasukkannya, bolak balik mengitari lapangan. Yah, dia sangat kuat kalau begitu. Bisa terus bolak balik lapangan tanpa berhenti. Aku saja satu lapangan sudah lelah.
Ku lihat dirinya yang memusatkan diri dari garis three point. Dan lagi, bola itu masuk seperti dulu.
“Sedang apa kau di sini?”. Kali ini dia bertanya sambil menatapku. Nafasnya memburu dengan keringat yang mengalir dari dahi sampai leher. Kulitnya yang kecoklatan memperlihatkan lengan berototnya yang berkilauan karena keringat.
Aku mendengus. “Memang tidak boleh. Kau sendiri kenapa selalu kesini, padahal gedung fakultasmu jauh dari sini”
Bukannya menjawab dia malah mengacuhkanku mengambil bolanya. Dasar licik. Suka mengalihkan pembicaraan dengan mengabaikan lawan bicara. Well, itu memang sudah sepantasnya, jadi tidak salah aku menyebutnya menyebalkan.
Dia mulai bermain lagi. So, aku tidak ada kepelruan lagi di sini. Aku berbalik pergi. Baru saja aku keluar dari gedung olahraga seseorang berjalan di sampingku. Aku menolah dan langsung saja berjingkat menjauh karena terkejut.
Bagaimana tidak. Dia ada di sampingku!!!! Aku yakin tadi dia masih bermain dan sekarang dia di sampingku dengan wajah tanpa dosanya. Dia hantu atau apa tiba-tiba ada di sampingku.
“Kenapa kau di sini?”. Sepertinya ucapannya menjadi bumerang untukku.
“Memang tidak boleh”
Yah, aku harus sabar menghadapi laki-laki stay cool yang sangat menyebalkan ini. Mungkin perempuan-perempuan yang mengejarnya sudah buta mau mengejar laki-laki menyebalkan seperti dia. Berarti April buta?
Malas berdebat ku hiraukan dirinya. Tujuanku masih sama, menuju perpustakaan. Laki-laki menyebalkan itu tentu masih berjalan di sampingku. Aku melirik, lalu tersenyum miris. Apa aku hidup di lingkungan orang-orang tinggi. Sungguh aku seperti orang kerdil berjalan di sampingnya. Hanya sebahunya tapi dia terlihat seperti Titan. Besar dan tinggi.
Pintu perpustakaan sudah terlihat di depan. “Kau ingin ke perpustakaan?”
Dahiku berkerut. Dua bodoh atau apa. Salah sendiri mengikutiku. Hey, aku tidak sombong. Kenyataannya dia mengikutiku. “Apa salahnya? Tujuanku memang kesana”
“Dasar kutu buku”, gerutunya tapi bisa ku dengar. “Kau pulang sendiri?”
Dia bukan hanya menyebalkan tapi juga aneh. Untuk apa dia bertanya seperti itu. Dan ini yang kedua kalinya dia bertanya dengan hal yang sama. “Tidak, ada yang menjemputku”
Terlihat. Walau hanya sedetik dia menunjukkan wajah kekecewaan. Kenapa memang?
wajahnya kembali dingin. “Baiklah”. Dia berbalik berlalu pergi.
Ha? Hanya begitu? Dia mengikutiku lalu pergi begitu saja. Memag sangat aneh. Dia seperti tidak mempunyai tujuan hidup. Mengikutiku tapi setelah tau aku ke perpustakaan dia bertanya dengan siapa aku pulang. Setelah tau ada yang menjemputku dia pergi. Dasar aneh dan menyebalkan. Apa dia tidak tau sudah membuang waktuku.
***
Menyebalkan. Di hari libur seharusnya aku bersantai tapi ada telefon yang mengangguku dan menyuruhku datang sambil membawa dokumen yang di maksudnya.
Disinilah aku berada. Di dalam lift, di gedung kantor kakak iparku yang menyebalkan. Dasar kakak ipar merepotkan. Orang yang mengganggu hari liburku yang paling berharga adalah Mas Dika. Kalau tidak ada telfon darinya tadi pasti sekarang aku masih menonton film di temani pop corn. Awas saja, aku akan minta traktir makan siang dan makan malam nanti.
Pintu lift terbuka. Dengan dua map tebal di pelukanku aku keluar dari kotak besi itu.
DOR . . .
Langkah ku berhenti. Apa aku salah dengar? Itu tadi suara tembakan.
DOR . . . DOR . . . DOR . . .
Ada lagi. Dari bawah lantai ini. Jelas itu suara tembakan. Aku berlari menuju kantor Mas Dika.
“Mas Dika”, seruku.
Mas Dika mengahampiriku. “Kiara, kamu nggak pa-pa??”
Ku anggukkan kepalaku. Baru kali ini aku mendengar suara tembakan dan baru kali ini aku merasa takut yang sangat. Aku tidak bisa membayangkan jika nanti aku akan mati dengan tembakan itu. Tidak boleh.
“Memangnya ada apa? Suara tembakan itu . . .”. bahkan tubuhku bergetar mengingat tembakan itu. Suara teriakan dan gaduh bahkan terdengar dari kantor ini. Suara sirine juga terdengar dari luar.
“Sepertinya ada yang menjadikan gedung ini sebagai sandra”
Hah? Oke, sekarang aku bisa merasakan bagaimana menjadi sandra. Dan ini seperti di film-film, sayangnya ini kenyataan bukan panggung sandiwara.
Hampir saja aku berteriak jika saja tidak segera ku tutup mulutku. Bagaimana mungkin ada sebuah pistol di tangan Mas Dika? Aku berjalan mundur melihat pistol itu. Darimana Mas Dika mendapatkannya?
“Kamu tetap di sini. Mas lihat keadaan aman atau tidak. Kalau aman kita cari jalan keluarnya sama-sama”. Belum sempat dia mencapai pintu ku pegang tangannya.
“Nggak, aku ikut Mas Dika aja”
“Kamu harus tetap di sini. Kamu tanggung jawab Mas. Kalau ada sesuatu yang terjadi sama kamu Mas nggak akan maafin diri Mas sendiri”
Oh, Tuhan. Ini mengharukan sekaligus menegangkan. “Mas Dika”
Dia menunduk mengecup dahiku sayang. Aku tau meskipun dia bukan kakak kandungku tapi dia menyayangiku seperti adiknya sendiri. “Kamu hati-hati. Kalau ada apa-apa telfon Mas”
Dia menghilang dari balik pintu.
Sudah satu jam aku berada di ruangan ini. Menunggu, entah apa yang akan datang nanti. Aku mengkhawatirkan Mas Dika. Pikiran-pikiran  negatif mulai berdatangan. Mas Dika belum juga datang. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya.
Ku gelengkan kepalaku. Tidak. Aku yakin Mas Dika baik-baik saja. Mas Dika pasti mencari jalan keluar dari gedung ini. Tapi bagimana kalau penjahat yang datang kemari. Aku juga harus membuat pertahanan.
Pandanganku berkeliling mencari sesuatu yang bisa ku gunakan untuk berlindung. Mataku menangkap tongkat golf. Bisa, kah? Tidak ada yang lain. Kalau di rumah aku punya katana hadiah ulang tahunku tahun lalu. Ini dalam keadaan genting dan aku bukan di rumah.
Tap . . . Tap . . . Tap . . .
Suara langkah kemari. Ke ruangan ini!!! Segera ku ambil tongkat golf itu lalu berdiri di samping pintu. Oh, benarkah aku harus berhadapan dengan penjahat? Dia memakai pistol sedangkan aku hanya tongkat golf. Perlu tambahan, aku juga perempuan, tidak bisa berkelahi.
Langkah itu semakin mendekat. Tanganku yang memegang tongkat golf sudah berkeringat, sedikit goyangan saja akan jatuh. Oh, Tuhan kenop pintu itu bergerak. Kakiku sudah terasa lemas. Aku harus bagaimana?
Dunia sudah kiamat saat perlahan pintu itu terbuka. Seorang laki-laki berpakaian hitam datang dari pintu itu. Tanganku masih memegang erat tongkat golf siap untuk memukulnya.
Jantungku terasa ingin lepas saat dia berbalik mengacungkan pistolnya padaku. Pistolnya mengarah padaku!!!
“Kau”
Aku terkesiap. Dia bukan penjahat. Dia laki-laki menyebalkan itu. Kenapa dia ada di sini?
Dia menurunkan pistolnya. “Aku bertemu kakakkmu, dia bilang kau ada di sini jadi aku kemari”
Tubuhku terhempas begitu saja. Tongkat golf yang ku pegang terlepas. Bahkan aku tidak bisa merasakan udara saat ini. Mas Dika baik-baik saja. Aku sudah berfikir yang bukan-bukan. Syukurlah.
“Kita harsu pergi dari sini, penjahat-penjahat itu berniat memeriksa gedung ini”. Sontak aku menatapnya.
Ada hal yang ganjil disini. Kenapa dia ada di sini? Pakaiannya juga, seperti agen-agen khusus di film. “Kenapa kau ada disini?”
Dia mengalihkan pandangannya. Selalu seperti itu. Tapi kali ini dia harus menjawabnya. Ku cengkram tangannya agar tidak lari.
“Kenapa kau bisa ada di sini? Kau tidak bekerja di sini dan juga aku tidak melihatmu di gedung ini tadi”. Akan ku kejar jawaban darinya. Aku hanya tidak mau di penuhi rasa penasaran.
Dia menunduk menatapku tajam. Tubuhku mengigil. “Bukan urusanmu”
Tubuhku kaku mendengarnya. Sangat mengintimidasi. Ini lebih menakutkan dari menanti penjahat datang. Aku tidak menyangka dia mempunyai aura yang sangat menekan seperti ini. Tanganku yang mencengkramnya melemas begitu saja. Tatapannya masih tajam dan dingin.
Tapi belum sempat lenganku terlepas giliran dia yang memgang tanganku. Gengamannya lembut namun begitu melindungi. Tatapannya berubah datar meski ada sedikit kesan dinginnya. Wajahnya tidak bisa di tebak. Lagi pula aku bukan orang yang bisa membaca wajah seseorang.
“Ayo pergi dari sini”. Dia sedikit menarikku. Aku hanya mengikuti langkah panjangnya. Aku masih terkejut dengan tatapan tajamnya. Aku hanya tidak percaya saja.
Langkah lain terdengar dari arah berlawanan. Tida orang membawa senjata menatap kami. “Shit”, ucapnya menarikku memasuki ruangan.
Ruangan karyawan menjadi tempat persembunyian kami. Tapi tiga orang membawa senjata itu masih tetap mengejar kami. Aku dan dia bersembunyi di balik meja paling pojok.
Suara tembakan tak beraturan terdengar keras. Aku membungkuk memegang kepalaku. Dia ikut membungkuk seperti ku.
“Lebih baik kalian keluar kelinci kecil kalau tidak ingin mati disini”. Teriak salah satu penjahat itu.
Yang benar saja. Penjahat itu gial atau apa. Mana mungkin aku keluar dan menyerahkan diri. Yang ada aku langsung mati di tempat. Kenapa hari liburku berantakan seprti ini? Kalau saja aku tidak kesini mungkin aku bisa tenang. Dan juga dasar kakak ipar merepotkan. Dia sebenarnya kemana?!
“Kau tunggu di sini”. Aku menoleh. Dia mau meninggalkanku? Dia sama menyebalkannya seperti Mas Dika.
“Lalu kau mau apa?”
Dia pergi. Dia sama sekali tidak menghiraukanku. Suara tembakan  kembali terdengar. Ya, Tuhan. Ini tinggal menunggu jatuh saja dari seutas tali. Tentu saja aku takut. Hey, ini menyangkut nyawa.
Tapi aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus pergi dan kalau bisa mencari bantuan untuk membantunya. Meski dia sedikit meyakinkan tapi tetap saja kemungkinan kalah ada. Dia sendirian melawan tiga orang penjahat. Itu namanya curang.
Dengan takut aku merangkak pelan-pelan layaknya seorang bayi. Dengan waspada tentunya. Suara tembakan masih terdengar. Aku yakin ruangan karyawan ini pasti sangat berantakan. Entah rugi berapa, aku tidak perduli. Yang penting harus melarikan diri dulu.
Akhirnya setelah cukup lelah berputar sambil merangkak, pintu keluar terlihat menganga lebar. Tentu saja aku tidak bisa menyembunyikan senyumku dalam keadaan menegangkan ini.
Tanpa sadar aku berdiri dan berlari menuju pintu itu.
“KIARA!!!!”. Suara yang sangat ku kenal membuatku menoleh.
Satu penjahat tersisa mengarahkan pistolnya padaku. Tak lama suara tembakan terdengar disusul suara tembakan kedua.
Bumi seakan berhenti berputar. Semua kejadian itu terjadi sangat cepat. Penjahat itu tumbang dengan luka tembakan di dada kanannya. Tapi lebih dari itu sosok didepanku ikut tumbang. Dia, laki-laki menyebalkan itu tergeletak dengan mata tertutup.
Seketika dadaku sesak. Mataku mulai panas. Bahkan aku tidak bisa merasakan suara jantungku sendiri. Semua seakan mati.

CERITA ROMANCE : YOUR NAME



YOUR NAME?
PART 1
BY MIZUSHI HANA


Walaupun masih pagi banyak orang yang sudah berkeliaran di jalan. Ku lihat orang-orang yang berlalu lalang dari kaca mobil kakakku. Sejak berangkat kuhiraukan sepasang suami-istri muda itu yang berbicara denganku entah tentang apa. Di bilang muda karena mereka menikah lima bulan lalu. Akhirnya kakakku berlabuh juga setelah umurnya beranjak dua puluh lima dengan pria yang dia cintai tentunya.
Kami menuju kampus baruku yang dulunya kakakku lulus di sana. Awalnya aku tidak menyangka akan masuk ke kampus yang sama dengan kakakku. Untung kakakku sudah lulus jadi tidak ada kejadian dimana kakak dan adik berada di kampus yang sama.
Dan kenapa kami bukan aku. Sebenarnya aku sudah meminta untuk pergi sendiri tapi mereka tetap saja ingin mengantarku. Berhubung orang tuaku pergi keluar kota aku menjadi tanggung jawab mereka.
Gedung besar dengan gerbang yang besar pula sudah terlihat. Setelah sampai dan berhenti di dekat gerbang tanpa komando aku turun dari mobil. Banyak mahasiswa yang memasuki kampus itu. Pastinya kampus ini begitu terkenal di kota ini melihat banyak mahasiswa yang masuk.
Kakakku ikut keluar dari mobil. “Ayo”. Ajaknya membuat dahiku berkerut.
“Kemana?”
Dia memutar matanya bosan. “Ngantar kamu”
Langsung saja ku cengkram tangannya agar tidak bergerak. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri”. Hello, umurku delapan belas tahun dan aku tidak butuh seorang nany. “Dah . .”
Dengan cepat aku berlari menghiraukan panggilannya. Alih-alih jika dia menyusul. Ku pegang erat ranselku berlari menuju gedung fakultasku. Selama ospek seminggu aku sudah menghafal letak gedung fakultasku, jadi aku tidak akan tersesat di jalan seperti dulu-dulu.
Langkahku pelan memasuki lorong yang cukup ramai. Ada yang sedang bercanda, menggosip, bahkan terburu-buru memasuki kelas. Jadwalku hari ini sudah ku hafalkan dan ruangan dimana aku mengambil kelas.
Kelasku tidak begitu ramai dan tidak terlalu sepi mungkin karena jam kuliah belum dimulai masih ada yang di luar. Seperti saat SMA menunggu guru datang ke kelas dengan duduk-duduk di depan kelas.
Pendanganku mengarah pada seseorang yang melambai padaku. Aku tersenyum lalu menghampirinya. Duduk di sampingnya yang belum terisi. “Pagi”, sapaku.
“Pagi”, balas April. Teman pertamaku begitu tau kami mengambil beberapa kelas yang sama.
Setelah itu waktu berjalan cepat dan dosen pengajar masuk ke dalam kelas memberi materi.
April mehampiriku ketika buku terakhir ku masukkan ke dalam tas. “Mau ke kantin?”
Sejenak aku menimbang. Aku jadi teringat kantin SMA yang selalu ramai saat istirahat dan ini memang waktunya untuk istirahat. Belum pernah berkunjung ke kantin kampus ini. Jadi apa salahnya melihat sebentar.
“Oke”
Kami hanya bisa mematung. Kantin cukup penuh dan hampir semua bangku sudah terisi. Sepertinya sama saja. Ku tatap April yang sama terpakunya. “Jadi?”
Dia menoleh lalu tersenyum miris.
Sudah ku duga. “Kita cari tempat duduk saja. Aku membawa roti isi dan air”
Dia tersenyum. “Sepertinya menyenangkan”
April memang gadis yang mudah untuk di ajak kompromi. Terkadang aku iri dengannya. Kenapa? Dia cantik, baik, lembut, dan sangat friendly. Dari ceritanya dia hanya tinggal dengan Ibunya yang berwirausaha membuka toko roti dan toko bunga. Ayahnya sudah meninggal saat dia masih kecil jadi sudah lama Ibunya menjadi single parent. Tapi ada satu hal sifat terburuknya. Dia tidak suka apapun yang menjadi miliknya di rebut, terlebih makanan. Dia akan marah dan merebut makanan itu lagi.
Masih ingat saat seorang senior mengerjainya dengan mengambil roti buatan Ibunya dan dia menjadi marah lalu merebut kembali rotinya. Untung saja senior itu baik dan mengembalikan rotinya. Bahkan bukannya marah karena April memarahi senior itu, senior itu malah tertawa keras.
Kami duduk di bangku bawah pohon. Roti isi buatan kakaku akhirnya tandas di tangan April. Sepertinya gadis lucu ini seorang maniak roti. Suara berisik mengganggu telingaku dan aku menoleh.
Tiga orang laki-laki berjalan melewati lorong. Dari jarakku, aku bisa melihat wajah orang-orang itu meski dari dari samping. Tapi yang lebih menarik adalah semua perempuan melihat mereka bagaikan melihat artis korea.
Tatapan memuja, terpesona, malu, tertera di wajah mereka sambil menatap tiga laki-laki itu. Baru kali ini aku melihat tiga laki-laki itu. Sepertinya senior mengingat aku tidak melihat mereka saat ospek.
Aku berpaling, melihat April yang juga menatap tiga laki-laki itu dengan terpesona. Sampai mereka menghilang di balik tembok wajah April masih berseri-seri. Aku menyeringai.
“Hei’, ku senggol bahunya pelan membuatnya sadar. “Kau menyukai mereka, ya?”. Godaku.
Pipinya seakin memerah.
Aku tertawa geli. “Jadi siapa mereka sampai-sampai mengalihkan duniamu?”
April menoleh cepat. Rona merah di wajahnya hilang. Dia menatapku terkejut. “Kau tidak tau mereka?”
Tentu saja aku tidak tau, aku mahasiswa baru. Dan perlu di catat, aku sering lupa dengan seseorang yang baru ku kenal. Ku gelengkan kepalakku jujur.
“Sungguh?”. Tanya April sungguh-sungguh.
Dahiku berkerut. “Memang mereka siapa?”. Jangan salahkan aku yang susah mengingat seseorang. Itu dari lahir. Mungkin saja aku sempat mengenal mereka dan sekarang lupa.
April terlihat aneh. Dia menghela nafas. “Mereka adalah idol kampus ini. Calon Arsitek, Dokter, dan Pengacara jenius. Salah satu dari mereka anggota club basket terkenal di kota ini”. April mengucapkannya penuh tekad dan mata yang berbinar-binar, membuatku takut.
Ceritanya masih belum selesai. “Mereka berasal dari keluarga kaya. Mereka semua tampan, banyak perempuan yang mengagumi mereka. Mereka juga jenius. Semester lima tahun ini”
“Dan kau salah satu fansnya”, selaku cepat.
Wajahnya cemberut lalu kembali melanjutkan ceritanya tentang tiga laki-laki idol itu yang menjadi angin lalu di telingaku. What ever. Aku tidak perduli dengan mereka. Bagiku tidak penting memikirkan laki-laki yang tidak pernah memikirkan kita.
Langkahku cukup cepat setelah mata kuliah terakhir ku selesai. Satu ruangan yang memenuhi otakku. Perpustakaan. Sejak ospek aku harus menahan diri untuk tidak memegang salah satu buku di perpustakaan karena saat itu kami hanya berkunjung sebentar.
Sejak melihat bagian dalam perpustakaan aku tidak bisa tidur untuk menunggu saat dimana aku bisa mampir ke sana. Sangat mengagumkan. Tempatnya luas dan klasik. Banyak buku yang ada di sana, bahkan buku-buku lama di sana masih terawat. Dan aku sangat suka buku sejarah yang sudah lama.
Satu lagi yang membuatku terkesan. Di sana tersedia tempat duduk di tiap-tiap titik. Kalau kita duduk di lorong pun tidak ada yang melarang, tempatnya juga dingin. Asalkan tidak mengotori tidak akan di usir.
Begitulah kata seniorku saat ospek.
Menuju perpustakaan berarti melewati gedung olahraga. Pintunya memang terbuka tapi ada suara aneh dari dalam sana. Langkahku memelan, penasaran dengan suara itu. Dan setelah sampai di depan pintu suara itu menjadi jelas. Suara bola yang membentur lantai.
Jelas. Telingaku tidak mungkin salah. Suasana terlihat sepi membuatku merinding. Jam masih pukul setengah dua. Mana ada hantu siang-siang seperti ini.
Rasa penasaranku memuncak. Ku beranikan diriku memasuki gedung meski ada sedikit rasa takut.
Perkiraanku benar. Seseorang memainkan bola basket di sana. Sendirian. Dia berlari lalu melempar bolanya dari garis luar. Three point dan hasilnya masuk.
“Tidak perlu bersembunyi”. Ucapnya tanpa berbalik.
Tubuhku tersentak mendengarnya. Yah, memang jika di lihat dari arah pandangnya aku terlihat bersembunyi. Tapi aku tidak bersembunyi, lagi pula untuk apa?
Dia berbalik lalu menatapku. “Aku rasa ini tempat umum, tidak perlu melihatku dari jauh”
Hah. Sombong. Aku hanya lewat dan melihat saja. Tunggu. Dia kalau tidak salah, salah satu dari tiga laki-laki di lorong tadi. YA!! Dia salah satu dari mereka. Kenapa dia bisa ada di sini? Gedung fakultasnya kan jauh dari sini. Tapi, hey, aku bisa mengingatnya, daya ingatku meningkat.
“Kurasa jam kuliah sudah selesai sejak tadi”. Ucapku mencoba berkomunikasi.
Dia berjalan kearah bolanya yang ada di samping ring. “Dan kurasa tempat ini bisa di gunakan kapan saja”. Ucapnya tanpa menatap, lagi.
Jadi dapat di simpulkan jika laki-laki itu sangat menyebalkan dan dingin. Oh, oke, what ever. Lagi pula aku tidak mengenal salah satu idol itu.
“Oke, terserah kau saja”. Langkahku berbalik beranjak meninggalkannya.
“Kau pulang sendirian?”. Bisa ku dengan suaranya lantang. Tidak ada suara pantulan bola.
Dahiku berkerut. “Apa pedulimu?”. Tapi pada akhirnya, “ada yang menjemputku”. Aku menjawabnya.
Aneh. Jawaban itu meluncur begitu saja tanpa ku pikirkan dulu.
Setelahnya suara pantulan bola terdengar mengawali langkahku keluar dari gedung olahraga.
“Maaf telat”
Ku lepas earphone yang ku pakai setelah melihatnya datang. Mas Dika, suami kakakku datang dengan kebiasaannya. Selalu terlambat. Salah sendiri siapa yang berlagak ingin mengantarku tadi. Tapi pada akhirnya akulah yang di rugikan karena boros waktu hanya untuk menunggunya datang.
Aku duduk di bangku depan lalu dia menjalankan mobilnya. “Kamu mau ikut ke rumah teman Mas atau pulang?”
“Mbak Karla?”
Dia masih fokus menyetir. “Katanya lembur, nanti malam pulang”
Selalu seperti itu. Kalau tidak sibuk ya kencan sama Mas Dika. Sejak menikah dia jarang denganku, tapi tak apalah memang sudah resiko jika sudah menikah. Lagi pula terkadang Mas Dika yang menemaniku kalau Mbak Karla sibuk.
“Ikut aja, lagian di rumah sepi”. Aku tinggal bersama mereka sejak awal ospek. Selain menghemat uang kos aku sudah menjadi pengganggu paten mereka. Jangan salah paham, maksudnya aku suka mengganggu suasana romantis mereka. Entah kenapa tapi rasanya menyenangkan.
Namun ada kalanya juga aku membiarkan mereka dengan berada di kamar atau keluar rumah. Dan juga tidak perlu memasak sendiri. Terlebih kemampuan memasakku hanya membuat nasi goreng.
Aku menungu Mas Dika di mobil sambil membaca buku yang ku pinjam dari perpustakaan. Sudah hampir setengah jam mp3 di ponselku berbunyi. Belum ada batang hidung Mas Dika keluar dari rumah itu.
Jika di lihat-lihat rumah itu terlihat besar dan minimalis. Bagian depan di cat putih dan abu-abu. Tamannya cukup luas di penuhi tanaman hias di tengah-tengahnya. Pintu rumah  itu berwarna hitam, tadi Mas Dika masuk lewat pintu itu. Perutku suah lapar dan harus menunggu berapa lama lagi.
Dengan kesal aku keluar dari mobil berjalan menghampiri pintu rumah itu. Ku pencet bel di samping pintu. Tak lama pintu terbuka. Seorang laki-laki tinggi muncul membuka pintu. Dia terlihat terkejut melihatku. Kenapa?
“Kau yang tadi”, ucapnya setelah menghilangkan ekspresi terkejutnya.
Dia bila ‘yang tadi’ berarti kami pernah bertemu. Rasanya aku pernah melihatnya. Ah!! Aku ingat sekarang. Dia laki-laki menyebalkan di gedung olahraga tadi. Kenapa daya ingatku menurun?
Jadi ini rumahnya. Tapi cepat sekali dia pulangnya. Kalau tidak salah tadi dia masih bermain saat aku meninggalkannya. Atau karena aku terlalu lama menunggu Mas Dika tadi?
“Kiara”. Mendengar namaku di panggil kepalaku menoleh, langsung saja rasa kesal menyerbuku. “Kenapa kamu di sini?”. Mas Dika datang bersama laki-laki tinggi lainnya. Oke, rasanya aku menjadi orang kerdil di antara orang-orang tinggi ini.
Dasar. Katanya hanya sebentar. Tidak tau apa aku sudah lapar. “Ayo pulang”. Ucapku tanpa menjawab pertanyaannya. Mana mungkin aku bilang kalau aku masuk karena lapar dan meminta Mas Dika cepat pulang. Harga diri, guys.
“Iya-iya”. Mas Dika berpamitan dengan temannya.
Oh, jangan lupa laki-laki menyebalkan dan dingin tadi. Sejak tadi dia menatapku seperti sedang menganalisis. Akupun membalas tatapannya tapi dengan tambahan rasa tidak suka. Hello, dia punya kesan menyebalkan saat pertama kali bertemu.
Perkiraanku benar. Dia tinggal di rumah ini dan adik dari teman Mas Dika. Sampai sekarang aku belum tau namanya. Tapi walaupun tau aku tidak perduli. Namanya mungkin akan lupa setelah aku tau. Hah. Sifat pelupa menyebalkan.