Kuroko no Basuke FF
OKAERI
Oneshoot
By Mizushi Hana
Akashi Hana POV
Aku merasa ada yang berneda dari Onii-sama. Entah kenap dia sangat berbeda dari yang sulu ku kenal. Dia sangat baik dan perhatian, tidak angkuh seperti saat ini. Aku menataonya yang sedang bermain shogi sendirian. Setiap hari dia menyempatkan diri bermain shogi sendiri di tengah kesibukannya. Entah apa yang sia mainkan dengan shogi itu. Seakan ada rencana tersembunyi yang dia mainkan dalam permainan itu.
"Apa yang kau inginkan, Nanase?". Ucapnya membuatku sedikit terkejut karena aku hanya bersembunyi di balik pintu, tidak berani mendekatinya.
Dengan sedikit takut aku masuk ke dalam. Mendekatinya yang berada di samping pintu menuju taman. Aku tidak berani terlalu dekat dengannya. Entah kenapa ada aura menakutkan yang mengelilingi tubuhnya.
"Nani o?", tanyanya sekali lagi.
Untuk pertama kalinya setelah dia berubah ku beranika diriku menatap matanya. Sangat tajam dan mengintimidasi. Jika aku bukan adiknya mungkin aku sudah berlari menjauhinya.
"Ada yang ingin ku tanyakan pada Nii-sama". Dia melanjutkan shoginya seakan memberiku waktu untuk berbicara. "Apa Nii-sama akan mengikuti turnamen winter cup?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Sejenak aku terdiam. Benar juga. Sudah pasti Nii-sama ikut. Aku hanya ingin sedikit berbicara dengannya.
"Aku hanya ingin bertanya"
Dia kembali menatapku dengan pandangan intens. Jujur saja aku lebih suka tatapan intensnya dari pada tatapan yang tajam dan mengintimidasi itu. Sangat membuatku merinding.
"Apa yang kau pikirkan tidak sejalan dengan yang kau ucapkan. Katakan saja apa yang kau inginkan"
Benar. Aku hanya mengulur-ngulur waktu. Aku hanya tidak tau bagaimana memulainya jadi aku bertanya tentang pertandingannya.
"Aku merasa ada yang berbeda dari Nii-sama. Aku merasa Nii-sama berbeda dari yang ku kenal"
Kami terdiam saling menatap mata lawan bicara. Aku tidak tau apa yang dia temukan setelah melihat mataku. Sedangkan diriku. Aku bukanlah orang yang bisa membaca mata orang lain dengan mudah. Bisa dikatakan aku tidak peka atau rasa pekaku terlambat untuk mengetahuinya. Bahkan mengetahui pada sirinya aku baru mengetahuinya sekarang.
Akhir dari saling pandang kami membuahkan hasil. Tapi tidak memuaskan bagiku. Nii-sama tersenyum misterius. "Memang seperti apa aku yang kau kenal?"
Aku tidak mengerti dari maksud pembicaraannya. Tapi tidak ada salahnya aku mengikuti alur ini.
"Entahlah, aku merasa kau berbeda. Ada yang berbeda darimu"
"Itu mungkin hanya perasaanmu saja. Aku sama seperti dulu tidak ada yang berubah. Aku tetap Akashi Seijuuro"
Ini benar-benar aneh. Ada yang berbeda darinya. Entah apa tapi aku yakin dia berbeda. Aku juga mendengar hal itu dari pelayan yang sehabis melayaninya. Atau mungkin yang dia bicarakan benar. Ini hanya perasaanku saja.
"Jika tidak ada yang kau inginkan kau bisa kembali". Dia kembali sibuk dengan shoginya.
Waktuku habis. Tidak ada yang kudapatkan dari pembicaraan ini. Aku heran sebenarnya apa yang membuat jantungku berdetak cepat.
Ku tatap jalanan yang di penuhi orang pejalan kaki termasuk diriku. Rasanya kakiku yang menuntunku untuk sampai kemari. Hari ini adalah pembukaan dari turnamen Winter Cup dan aku masih tidak tau apa yang membuatku melihat pertandingan basket itu.
Mungkin aku sudah gila karena terua memikirkab sikap Nii-sama yang aneh sehingga sekarang aku membayangkan Nii-sama berjalan keluar sendiri. Tapi itu memang Nii-sama. Ku kejapkan mataku agar bayangan itu segera hilang. Tapi bayangan itu asli. Apa yang di lakukannya saat akan di mulai upacara pembukaan. Ku ikuti cukup jauh agar dia tidak menyadarinya.
Aku cukup terkejut saat menyadari mantan rekan setimnya berada di sana. Memang aku tidak mendengar apa yang mereka biacarakan. Di antara mantan reka setimnya seorang lagi yang berseragam sama dengan Kuroko-san tidak ku kenal. Tiba-tiba seorang lagi datang. Satu tim dengan Kuroko-san melihat seragam mereka sama.
Entah apa yang dia katakan membuat Nii-sama bergerak meminjam gunting yang di bawa Midorima-san. Aku yakin itu gunting.
Hampir saja aku berteriak melihat apa yang terjadi di sana. Nii-sama mungkin sudah gila. Sia mengarahkan gunting itu pada teman Kuroko-san berambut merah. Jika dia tidak menghindar sudah pasti Nii-sama akan masuk kantor polisi.
Nii-sama benar-benar gila. Sekarang dia memangkas rambutnya sendiri. Jenapa sia tidak pergi ke salon saja. Kenapa malah memangkas rambutnya sensiri di depan teman-temannya.
Segera aku berbalik saat Nii-sama mulai kembali memasuki gedung. Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka? Apa yang dia bicarakan mereka tadi? Kenapa Nii-sama melakukan itu? Apa yang di pikirkan Nii-sama?
Pertanyaan itu terus menghantuiku. Aku tidak bisa tenang dan terus memikirkannya. Bahkan setelah melihat pertandingan Nii-sama dengan Midorima-san tadi membuatku yakin ada yang berbeda dari Nii-sama.
Dia terlihat angkuh saat pertandingan. Seakan dialah yang menang tapi itu memang kenyataan. Pada akhirnya Midorima-san kalah telak dengan Nii-sama. Dan itu membuatku penasaran dengan apa yang terjadi.
Rasanya aku ingin susu coklat. Aku bangkit dari tidurku lalu menuju dapur. Coklat hanyat memang pas diminum saat malam hari yang dingin ini. Meminum coklat aku jadi teringat Nii-sama yang lebih memilih susu putih. Padahal susu putih dan coklat sama saja hanya warna dan rasanya yang berbeda. Perbedaan ini sama dengan Nii-sama yang dulu dan sekarang.
Tunggu. Rasa yang berbeda tapi tetap susu. Sedangkan Nii-sama sifatnya yang berbeda tapi dengan orang yang berbeda. Apa mungkin Nii-sama punya kepribadian ganda? Jika memang benar Nii-sama yang saat ini bukanlah Nii-sama yang sebenarnya.
Jika Nii-sama yang sebanarnya ada kenapa dia tidak menyingkirkan nya? Kenapa dia membiarkannya menguasai dirinya dan membuat semua orang membencinya. Mengapa dia berambisi untuk terus menang dan juga Kuroko-san yakin biaa mengalahkan Nii-sama. Aku memang tidak terlalu yakin tapi tekat Kuroko-san untuk menang sangatlah besar dan bisa saja dia mengalahkan Nii-sama. Dan jika itu terjadi...
Tidak mungkin. Apa dia ingin melenyapkan dirinya yang lain dengan mengalahkannya dalam pertandingan ini? Nii-sama dari dulu tidak pernah kalah dari siapapun. Tou-sama selalu menuntut kami untuk menjadi nomor satu dalam segala bidang. Mungkin dengan mengikuti pertandingan ini Nii-sama berharap ada yang bisa mengalahkannya dan menghilangkannya.
Benar. Mungkin ini yang dia lakukan selama ini. Membiarkan dirinya yang lain berbuat seenaknya dan yakin ada seseorang yang mengalahkannya. Dan akhirnya dia bisa kembali ke dirinya sendiri.
Pemikiran bodohku semalam membuatku melakukan hal bodoh hari ini. Di hari di haro final akan di mulai aku berjalan menuju tempat musuh Nii-sama berada. Dan disinilah aku berada. Sebuah pintu dengan tulisan 'Seirin' di depanku siap menanti.
Ku ketuk pintu itu membuat seseorang datang lalu membuka sedikit pintu itu. Seorang laki-laki yang ku ingat saat itu bertemu dengan para Kiseki no Sedai, teman setim Kuroko-san.
"Bisa aku bertemu Kuroko-san?"
"Ah, iya tunggu sebentar". Tak lama Kuroko-san datang dengan sedikit terkejut. Aku tersenyum padanya.
"Apa yang di lakukan pensukung musuh di sini?". Ucap Kagami-san yang langaung di hadiahi pukulan dari perempuan satu-satunya si ruangan yang ku ketahui pelatih tim Seirin. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
"Apa tidak apa kau datang kemari?". Meski belum pernah bertemu aku tau namanya. Kiyoshi Teppei yang terkenal dengan julukan 'hati baja' nya.
Aku tersenyum kecil. "Aku tidak akan masuk penjara hanya karena hal ini. Lebih dari itu ada yang ingin ku katakan"
Aku berdiri dari dudukku. Lalu ber-ojigi di depan mereka. "Onegai, kalahkan Nii-sama". Entah kenapa aku merasa jahat dengan Nii-sama dan juga mereka.
"Apa yang kau lakukan?!?!"
"Aku tau mungkin ini aneh. Tapi aku mohon kalahkan Nii-sama. Meakipun berat ku mohon kalahkan dia. Kembalikan dia seperti dulu". Mataku mulai terasa panas. Pandanganku jugasedikit memburam. Entah kenapa ini terasa menyedihkan. Bagi Nii-sama dan semuanya.
Kurasakan sebuah tangan mengentuh pundakku. Aku mendongak lalu mendapati Kuroko-san tersenyum padaku. "Sudah pasti. Kami akan menang"
Kutatap satu per satu anggota tim Seirin. Mereka tersenyum seakan memberi keyakinan pafaku jika mereka pasti menang. Ku seka air mataku. Rada lega mulai menyapakum aku yakin mereka pasti bosa mengalahkan Nii-sama.
"Maaf, apa maksudmu dengan kembalikan dia? Memang apa yang terjadi padanya?"
Memang ini adalah rahasia tapi mereka berhak taubapa yang sebenarnya terjadi. Aku percaya pada mereka, "sono ....."
Pertandingan ini benar-benar hebat. Meskipun di menangkan tim Seirin aku mendapatkan apa yang ku inginkan. Dengan cepat aku berlari menuju lapangan mencari keberadaan Nii-sama di tengah-tengah keramaian kebahagiaan ini.
Ku lihat Nii-sama bertemu dengan Kiseki no Sedai. Mereka semua berkumpul. Nii-sama berjabat tangan dengan Kuroko-san dan Kagami -san
"Nii-sama!!!". Panggilku membuatnya menoleh dengan para Kiseki no Sedai. Dia tersenyum padaku. Senyum yang sudah lama ku impikan. Aku berlari ke arahnya. Ku peluk erat tubuhnya yang juga membalas pelukanku. Aku bahagia. Sangat bahagia.
"Tadaima, imouto". Bisiknya pelan.
Untuk kesekian kalinya aku merindukan kalimat itu dan sekarang aku mendapatkannya kembali. Nii-sama yang ku kenal. Nii-sama yang ku sayangi. Nii-sama yang kurindukan.
Okaeri, Nii-sama
Akhirnya bisa nge post knb lagi. Aku merada ada selalu kurang dari smua crita ku. Jadi tolong review dan komennya. Trima kasih lagi yang udah baca crita ku dan maaf yang udh nunggu lama critaku, hehehe (PD)
See next time........
Rabu, 20 Agustus 2014
FANFIC KUROKO NO BASUKE : BATTLE SWORT
Battle Swort : chap 1
Au-crime-fantasi
Tetesan darah membuat tanah yang di pijakinya ternoda warna merah pekat. Lengan kanannya masih mengeluarkan liquit pekat berbau amis dengan deras. Sakit memang, tapi dia tidak bisa mengobati lukanya saat ini jika seorang musuh telah mengacungkan pedangnya padanya.
Mungkin hari itu bukanlah hari keberuntungannya. Seharusnya dia sudah pulang dan tertidur nyenyak di ranjangnya. Tapi gadia bersurai violet itu tiba-tiba menghadang dan hampir saja membunuhnya jika dia tidak sempat menghindar saat di tikungan.
Di sekitarnya sudah sangat sepi. Lagi pula siapa yang akan keluar dari rumah saat tengah malam. Daerah itu juga cukup jauh dari keramaian, percuma saja jika berharap ada orang yang akan menolongnya.
Rasa sakit pada lengannya sangat terasa. Luka itu bukan hanya sekedar goresan. Seranganbya cukup dalam. Ditatapnya gadis di depannya yang berani mengusiknya. Meaki dirinya tipe orang yang tidak terlalu perduli tapi jika ada orang yang mengusiknya dia juga tidak akan membiarkannya. Tapi yang di lawannya saat ini adalah seorang gadis yang tidak pernah di temuinya di kota.
Matanya memicing lebih menyelidiki gadia itu. Dibenarkannya letak frame kaca matanya. "Dare ka?"
Tidak ada tanggapan.
Gadia itu menatapnya dengan intens. Pedang di tangannya telah ternodai. Darahnya.
Lagi dia bertanya pada gadis itu. "Kenapa kau menyerangku?"
"Kimi, Midorima Shintaro ka?". Tanya gadis itu menghiraukan pertanyaannya.
Mendengar namanya di sebut twntu saja membuatnya heran. Dia tidak pernah merasa bertemu dengan gadis itu tapi gadis itu mengenalnya. Nada bicaranya beguti datar dan terkesan dingin. Seakan menyimpan dendam tersembunyi terhadapnya.
Gadis itu tersenyum kecil membuatnya semakin mengerutkan keningnya. "Mitsuketa".
Memang kenapa kalau sudah ketemu?, pikirnya.
Gadis itu bersiap menyerang dengan pedangnya. Dia memang tidak mengerti kenapa gadis itu menyerangnya. Baru kali ini dia bertemu gadis itu. Tapi dengan keadaan yang sangat genting dia tidak bisa memikirkannya. Gadisitu telah menunjukkan taringnya jadi apa salahnya juga dia bersiap menembak seekor singa.
Gadis itu berlari dengan cepat ke arahnya. Dia tidak sempat menarik pedangnya keluar tapi menghindar bisa menjadi pilihan menyelamatkan nyawanya. Berkali-kali gadis itu menyerang, berkali-kali juga dia menghindar dan tidak sempat memegang pedangnya.
Singg...
Helai kain pakaiannya terjatuh di tanah. Hampir saja gadis itu membunuhnya, lagi. Kembali gadis itu menyerangnya tapi kali ini dia sempat menarik pedangnya dan menahan pedang gadis itu.
Sekarang di bisa melihat wajah gadis itu. Wajah yang begitu asing. Sudah jelas gadis itu bukan penduduk sekitar. Tanaga gadis itu begitu kuat, dia sudah cukup kewalahan saat menghindar tadi. Butuh tenaga ekstra untuk menghindar serangan cepat gadis itu. Jujur saja baru kali ini dia bertemu dengan kecepatan tinggi.
Di dorongnya kuat gadia itu membuat mereka terpental cukup jauh.
SREEEETSS..
Gadis itu sangat misterius. Penampilannya sangat biasa untuk bisa di sebut sebagai kesatria. Yang mencolok adalah pedangnya. Pedang yang sangat langka dengan warna putih yang menyeluruhi pedang itu. Pedang dengan warna putih yang sangat mendominasi.
"Apa tujuanmu?"
Bukannya menjawab serangan yang di terimanya. Serangan mereka sangat sengit dan terlihat imbang. Tapi dia yakin gadis itu belum mengeluarkan semua kekuatannya. Dan yang lebih buruk tubuhnya sudah lelah untuk melawan. Sedangkan gadis itu terus memberika perlawanan bertibu-tubi. Luka yang semakin parah juga semakin memperburuk kondisinya.
TRING...
Kepalanya terasa berat. Pandangannya sedikit memburam. Gadis itu menyerangnya lagi. Tubuhnya sudah mulai melemah. Lagi-lagi dia menghindari serangan gadis itu. Gadis itu tidak menyerangnya. Malahan diam menatapnya dari jauh. Seakan memberi waktu padanya untuk istirahat.
Sekarang dirinya merasa pusing sangat hebat. Tangannya yang terluka ikut memegang kepalanya yang sakit. Awalnya dia baik-baik saja tapi tiba-tiba dia merasa kesakitan. Ditatapnya gadis itu meski pandangannya memburam. Gadis itu tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai padanya.
Sekarang dia tau. Pedang gadis itu terdapat racun. Bahkan pedang itu sudah menggores kulitnya beberapa kali. Tidak. Gadis itu memang sengaja tidak menyerangnya. Dia berniat memberikan racunnya padanya secara tidak sengaja.
Gadis itu mengangkat pedangnya hingga di depan wajahnya. Mulutnya bergerak, seperti berbisik. Dan dengan cepat gadis itu melewatinya. Tidak terdengar suara langkah. Tidak terlihat dirinya berlari. Gadis itu sangat cepat.
"Ahk"
Dia tidak menyangka gadis itu menyerangnya. Tidak ada yang bisa melewati dirinya dengan kecepatan apapun. Tapi gadis itu mampu melewati matanya. Sepertinya dia harus mengutuk ramalan bintangnya yang mengatakan dirinya akan sehat.
JRASH...
Darah mengalir deras dari dadanya. Tubuhnya limbung tanpa da seseorang yang akn menolongnya.
BRUK
Gadis itu menoleh. Menatap mayat laki-laki bersurai hijau itu yang mati di tangannya. Laki-laki itu tidak kuat seperti yang di dengarnya. Bahkan dia hanya mengeluarkan seperempat kemampuannya.
Darah pekat itu mulai mengeluarkan bau amis. Dia berbalik tanpa menyarungkan pedangnya. Pedangnya sangat kotor, dia harus membersihkannya sebelum menyimpannya di balik jubahnya. Meski dia sadar berapa kali pun dia memebersihkannya, pedang itu tidak akan pernah bisa bersih. Entah sudah berapa banyak darah yang pernah menempel pada pedang putihnya.
Dosanya tidak akan pernah hilang pada pedang itu sebelum tujuannya tercapai. Dia mendesah berat. "Selanjutnya di pemalas".
Dia meninggalkan mayat itu. Tersinari cahaya bulan yang berusaha membangunkannya bersama desiran angin. Tapai sampai kapan pun laki-laki itu tidak akan membuka matanya lagi seperti saat dia terbangun di pagi hari.
Rasa dahaganya hilang setelah air yang dibawanya membasahi tenggorokannya.vair di botol itu masih tersisa setengah setelah dia selasai meminum. Hari itu matahri terasa lebih menyengat dari sebelumnya. Memang akhir-akhir ini hari terasa lebih panas menjelang akhir musim gugur.
Di tatapnya laki-laki yang tidur di bawah pohon dengan tenang. Laki-laki bersurai biru gelap itu terlihat damai saat tidur. Tapi begitu bangun dia akan sangat menyebalkan. Di dalam pertarungan dia pantas untuk di sandingkan dengan monster. Begitu kejam dan tidak berperasaan.
Sebagai rekan Imayoshi tentu saja sudah memaklumi kebiasaan buruk laki-laki itu. Meski dia lebih tua darinya tapi dia tidak ingin mencari masalah. Bisa-bisa dia kalah lebih dulu sebelum laki-laki itu mengeluarkan semua kekuatannya.
Dia memilih kembali berlatih bersama teman-teman serikatnya. Sebuah perbincangan mengganggu pendengarannya. Memang ada aturan, saat berlatih di larang mengobrol karena akan membuang waktu. Di hampiri juniornya yang mengelakukanbperbincangan tersebut. Belum sempat menegur dia memilih mendengarkan saat sebuah nama yang sangat di kenalnya terdengar.
"Kau dengar, Murasakibara Atsushi mati semalam di rumahnya"
"Aku dengar rumahnya juga berantakan. Bukankah dia tinggal dengan Himuro Tatsuya?"
"Katanya saat itu Tatsuyasedang melakukan misi"
"Bukankah dia salah satu dari Kiseki no Sedai?"
"Ya. Beberapa hari lalu Midorima Shintaro juga di temukan mati di pinggiran hutan. Dia juga salah satu dari 'mereka'."
Tentu saja dia mengenal siapa yang di maksud daro 'mereka'. Kiseki no Sedai. Hanya orang-orang yang berkemampuan tinggi yang bisa di sebut seperti itu. Dan selama ini sudah ada lima orang termasuk laki-laki yang tertidur di bawah pohon tadi. Bisa di bilang dia orang kedua terkuat.
Dua orang sudah mato terbunuh. Midorima Shintaro dan Murasakibara Atsushi. Mereka adalah orang yang termasuk dalam Kiseki no Sedai. Yang membuatnya heran siapa yang berhasil mebunuh mereka.
Di lirik juniornya yang masih tertidur pulas di bawah pohon. Tidak mungkin dia yang melakukannya. Juniornya itu bukan tipe orang yang mengalahkan orang yang lebih lemah darinya dengan cara yang keji. Jika dia ingin membunuh mereka dia bisa melakukannya sejak dulu.
Jadi siapa?, batinnya bertanya-tanya.
Bahkan berita itu cepat menyebar sampai ke kota. Banyak serikat yang mencari pelakunya secara terang-terangan karena mereka juga ingin tau seperti apa pelakunya yang bosa membunuh orang jenius seperti Kiseki no Sedai.
Sepanjang perjalanan hanya berita itu yang menjadi perbincangan prang sampai-smpai dia bosan dengan berita itu. Berita itu benar-benar sangat hangat untuk di bicarakan. Tapi dia lebih memilih diam. Dia tidak ingin repot-repot mencaro tau karena cepat atau lambat ketiak pelaku itu tertangkap dia akan mengetahuinya.
Diminumnya coklat hangat pesanannya tadi. Semua orang sedang membicarakannya. Pelaku pembunuhan terhadap dua orang Kiseki no Sedai yang sangat terkenal. Tentu saja tidak ada yang tau dialah pelakunya selain bumi dan langit yang telah menjadi saksi kejahatannya.
Tidak ada yang terlalu memperhatikannya di restoran terbuka itu semua orang sibuj dengan gosip mereka membuatnya mudah bergerak dengan mudah. Memang terkadang ada beberapa yang memperhatikannya karena penampilannya.
Sebuah dress abu-abu tanpa lengan selutut. Pedangnya terletak di meja membuktikan bahwa dia seorang kesatria. Yang membua orang menperhatikannya adalah gadis cantik yang terlihat baik-baik nembawa sebuah pedang.
Suara ramai-ramai mengganggu ketentramannya. Sia menoleh dan mendapati sebuah kelompok kecil dengan serikat yang sama di antara orang-orang itu. darikelima laki-laki tampan itu hanya satu yang menarik perhatiannya.
Laki-laki itu tersenyum pada setiap wanita menyebarkan pesonanya. Meski tanpa tersenyum pada wanita-wanita itu ketampanannya sudah menarik perhatian para wanita. Di bajunya tersemat nama sebuah serikat 'KAIJO' yang di tulis dengan huruf kanji.
Lali-laki itu menatapnya saat akan melewati mejanya. Dia tersenyum mania tapi salah seorang dari serikatnya menendangnya hingga hampir terjungkal. Lalu mereka kembali berjalan melewatinta tanpa menyadari sia menyeringai menemukan terget selanjutnya.
Yah... akhirnya bisa post ff juga walaupun dengan perjuangan karena cari gratisan internet sama temn". Ini ff knb pertma q. Sebenarnya da lagi tapi semntara aku nge post yang ini dulu. Semoga para readers puas sama hasil imajinasiku yang nggak karuan
See next time ....
Au-crime-fantasi
Tetesan darah membuat tanah yang di pijakinya ternoda warna merah pekat. Lengan kanannya masih mengeluarkan liquit pekat berbau amis dengan deras. Sakit memang, tapi dia tidak bisa mengobati lukanya saat ini jika seorang musuh telah mengacungkan pedangnya padanya.
Mungkin hari itu bukanlah hari keberuntungannya. Seharusnya dia sudah pulang dan tertidur nyenyak di ranjangnya. Tapi gadia bersurai violet itu tiba-tiba menghadang dan hampir saja membunuhnya jika dia tidak sempat menghindar saat di tikungan.
Di sekitarnya sudah sangat sepi. Lagi pula siapa yang akan keluar dari rumah saat tengah malam. Daerah itu juga cukup jauh dari keramaian, percuma saja jika berharap ada orang yang akan menolongnya.
Rasa sakit pada lengannya sangat terasa. Luka itu bukan hanya sekedar goresan. Seranganbya cukup dalam. Ditatapnya gadis di depannya yang berani mengusiknya. Meaki dirinya tipe orang yang tidak terlalu perduli tapi jika ada orang yang mengusiknya dia juga tidak akan membiarkannya. Tapi yang di lawannya saat ini adalah seorang gadis yang tidak pernah di temuinya di kota.
Matanya memicing lebih menyelidiki gadia itu. Dibenarkannya letak frame kaca matanya. "Dare ka?"
Tidak ada tanggapan.
Gadia itu menatapnya dengan intens. Pedang di tangannya telah ternodai. Darahnya.
Lagi dia bertanya pada gadis itu. "Kenapa kau menyerangku?"
"Kimi, Midorima Shintaro ka?". Tanya gadis itu menghiraukan pertanyaannya.
Mendengar namanya di sebut twntu saja membuatnya heran. Dia tidak pernah merasa bertemu dengan gadis itu tapi gadis itu mengenalnya. Nada bicaranya beguti datar dan terkesan dingin. Seakan menyimpan dendam tersembunyi terhadapnya.
Gadis itu tersenyum kecil membuatnya semakin mengerutkan keningnya. "Mitsuketa".
Memang kenapa kalau sudah ketemu?, pikirnya.
Gadis itu bersiap menyerang dengan pedangnya. Dia memang tidak mengerti kenapa gadis itu menyerangnya. Baru kali ini dia bertemu gadis itu. Tapi dengan keadaan yang sangat genting dia tidak bisa memikirkannya. Gadisitu telah menunjukkan taringnya jadi apa salahnya juga dia bersiap menembak seekor singa.
Gadis itu berlari dengan cepat ke arahnya. Dia tidak sempat menarik pedangnya keluar tapi menghindar bisa menjadi pilihan menyelamatkan nyawanya. Berkali-kali gadis itu menyerang, berkali-kali juga dia menghindar dan tidak sempat memegang pedangnya.
Singg...
Helai kain pakaiannya terjatuh di tanah. Hampir saja gadis itu membunuhnya, lagi. Kembali gadis itu menyerangnya tapi kali ini dia sempat menarik pedangnya dan menahan pedang gadis itu.
Sekarang di bisa melihat wajah gadis itu. Wajah yang begitu asing. Sudah jelas gadis itu bukan penduduk sekitar. Tanaga gadis itu begitu kuat, dia sudah cukup kewalahan saat menghindar tadi. Butuh tenaga ekstra untuk menghindar serangan cepat gadis itu. Jujur saja baru kali ini dia bertemu dengan kecepatan tinggi.
Di dorongnya kuat gadia itu membuat mereka terpental cukup jauh.
SREEEETSS..
Gadis itu sangat misterius. Penampilannya sangat biasa untuk bisa di sebut sebagai kesatria. Yang mencolok adalah pedangnya. Pedang yang sangat langka dengan warna putih yang menyeluruhi pedang itu. Pedang dengan warna putih yang sangat mendominasi.
"Apa tujuanmu?"
Bukannya menjawab serangan yang di terimanya. Serangan mereka sangat sengit dan terlihat imbang. Tapi dia yakin gadis itu belum mengeluarkan semua kekuatannya. Dan yang lebih buruk tubuhnya sudah lelah untuk melawan. Sedangkan gadis itu terus memberika perlawanan bertibu-tubi. Luka yang semakin parah juga semakin memperburuk kondisinya.
TRING...
Kepalanya terasa berat. Pandangannya sedikit memburam. Gadis itu menyerangnya lagi. Tubuhnya sudah mulai melemah. Lagi-lagi dia menghindari serangan gadis itu. Gadis itu tidak menyerangnya. Malahan diam menatapnya dari jauh. Seakan memberi waktu padanya untuk istirahat.
Sekarang dirinya merasa pusing sangat hebat. Tangannya yang terluka ikut memegang kepalanya yang sakit. Awalnya dia baik-baik saja tapi tiba-tiba dia merasa kesakitan. Ditatapnya gadis itu meski pandangannya memburam. Gadis itu tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai padanya.
Sekarang dia tau. Pedang gadis itu terdapat racun. Bahkan pedang itu sudah menggores kulitnya beberapa kali. Tidak. Gadis itu memang sengaja tidak menyerangnya. Dia berniat memberikan racunnya padanya secara tidak sengaja.
Gadis itu mengangkat pedangnya hingga di depan wajahnya. Mulutnya bergerak, seperti berbisik. Dan dengan cepat gadis itu melewatinya. Tidak terdengar suara langkah. Tidak terlihat dirinya berlari. Gadis itu sangat cepat.
"Ahk"
Dia tidak menyangka gadis itu menyerangnya. Tidak ada yang bisa melewati dirinya dengan kecepatan apapun. Tapi gadis itu mampu melewati matanya. Sepertinya dia harus mengutuk ramalan bintangnya yang mengatakan dirinya akan sehat.
JRASH...
Darah mengalir deras dari dadanya. Tubuhnya limbung tanpa da seseorang yang akn menolongnya.
BRUK
Gadis itu menoleh. Menatap mayat laki-laki bersurai hijau itu yang mati di tangannya. Laki-laki itu tidak kuat seperti yang di dengarnya. Bahkan dia hanya mengeluarkan seperempat kemampuannya.
Darah pekat itu mulai mengeluarkan bau amis. Dia berbalik tanpa menyarungkan pedangnya. Pedangnya sangat kotor, dia harus membersihkannya sebelum menyimpannya di balik jubahnya. Meski dia sadar berapa kali pun dia memebersihkannya, pedang itu tidak akan pernah bisa bersih. Entah sudah berapa banyak darah yang pernah menempel pada pedang putihnya.
Dosanya tidak akan pernah hilang pada pedang itu sebelum tujuannya tercapai. Dia mendesah berat. "Selanjutnya di pemalas".
Dia meninggalkan mayat itu. Tersinari cahaya bulan yang berusaha membangunkannya bersama desiran angin. Tapai sampai kapan pun laki-laki itu tidak akan membuka matanya lagi seperti saat dia terbangun di pagi hari.
***
Rasa dahaganya hilang setelah air yang dibawanya membasahi tenggorokannya.vair di botol itu masih tersisa setengah setelah dia selasai meminum. Hari itu matahri terasa lebih menyengat dari sebelumnya. Memang akhir-akhir ini hari terasa lebih panas menjelang akhir musim gugur.
Di tatapnya laki-laki yang tidur di bawah pohon dengan tenang. Laki-laki bersurai biru gelap itu terlihat damai saat tidur. Tapi begitu bangun dia akan sangat menyebalkan. Di dalam pertarungan dia pantas untuk di sandingkan dengan monster. Begitu kejam dan tidak berperasaan.
Sebagai rekan Imayoshi tentu saja sudah memaklumi kebiasaan buruk laki-laki itu. Meski dia lebih tua darinya tapi dia tidak ingin mencari masalah. Bisa-bisa dia kalah lebih dulu sebelum laki-laki itu mengeluarkan semua kekuatannya.
Dia memilih kembali berlatih bersama teman-teman serikatnya. Sebuah perbincangan mengganggu pendengarannya. Memang ada aturan, saat berlatih di larang mengobrol karena akan membuang waktu. Di hampiri juniornya yang mengelakukanbperbincangan tersebut. Belum sempat menegur dia memilih mendengarkan saat sebuah nama yang sangat di kenalnya terdengar.
"Kau dengar, Murasakibara Atsushi mati semalam di rumahnya"
"Aku dengar rumahnya juga berantakan. Bukankah dia tinggal dengan Himuro Tatsuya?"
"Katanya saat itu Tatsuyasedang melakukan misi"
"Bukankah dia salah satu dari Kiseki no Sedai?"
"Ya. Beberapa hari lalu Midorima Shintaro juga di temukan mati di pinggiran hutan. Dia juga salah satu dari 'mereka'."
Tentu saja dia mengenal siapa yang di maksud daro 'mereka'. Kiseki no Sedai. Hanya orang-orang yang berkemampuan tinggi yang bisa di sebut seperti itu. Dan selama ini sudah ada lima orang termasuk laki-laki yang tertidur di bawah pohon tadi. Bisa di bilang dia orang kedua terkuat.
Dua orang sudah mato terbunuh. Midorima Shintaro dan Murasakibara Atsushi. Mereka adalah orang yang termasuk dalam Kiseki no Sedai. Yang membuatnya heran siapa yang berhasil mebunuh mereka.
Di lirik juniornya yang masih tertidur pulas di bawah pohon. Tidak mungkin dia yang melakukannya. Juniornya itu bukan tipe orang yang mengalahkan orang yang lebih lemah darinya dengan cara yang keji. Jika dia ingin membunuh mereka dia bisa melakukannya sejak dulu.
Jadi siapa?, batinnya bertanya-tanya.
Bahkan berita itu cepat menyebar sampai ke kota. Banyak serikat yang mencari pelakunya secara terang-terangan karena mereka juga ingin tau seperti apa pelakunya yang bosa membunuh orang jenius seperti Kiseki no Sedai.
Sepanjang perjalanan hanya berita itu yang menjadi perbincangan prang sampai-smpai dia bosan dengan berita itu. Berita itu benar-benar sangat hangat untuk di bicarakan. Tapi dia lebih memilih diam. Dia tidak ingin repot-repot mencaro tau karena cepat atau lambat ketiak pelaku itu tertangkap dia akan mengetahuinya.
***
Diminumnya coklat hangat pesanannya tadi. Semua orang sedang membicarakannya. Pelaku pembunuhan terhadap dua orang Kiseki no Sedai yang sangat terkenal. Tentu saja tidak ada yang tau dialah pelakunya selain bumi dan langit yang telah menjadi saksi kejahatannya.
Tidak ada yang terlalu memperhatikannya di restoran terbuka itu semua orang sibuj dengan gosip mereka membuatnya mudah bergerak dengan mudah. Memang terkadang ada beberapa yang memperhatikannya karena penampilannya.
Sebuah dress abu-abu tanpa lengan selutut. Pedangnya terletak di meja membuktikan bahwa dia seorang kesatria. Yang membua orang menperhatikannya adalah gadis cantik yang terlihat baik-baik nembawa sebuah pedang.
Suara ramai-ramai mengganggu ketentramannya. Sia menoleh dan mendapati sebuah kelompok kecil dengan serikat yang sama di antara orang-orang itu. darikelima laki-laki tampan itu hanya satu yang menarik perhatiannya.
Laki-laki itu tersenyum pada setiap wanita menyebarkan pesonanya. Meski tanpa tersenyum pada wanita-wanita itu ketampanannya sudah menarik perhatian para wanita. Di bajunya tersemat nama sebuah serikat 'KAIJO' yang di tulis dengan huruf kanji.
Lali-laki itu menatapnya saat akan melewati mejanya. Dia tersenyum mania tapi salah seorang dari serikatnya menendangnya hingga hampir terjungkal. Lalu mereka kembali berjalan melewatinta tanpa menyadari sia menyeringai menemukan terget selanjutnya.
Yah... akhirnya bisa post ff juga walaupun dengan perjuangan karena cari gratisan internet sama temn". Ini ff knb pertma q. Sebenarnya da lagi tapi semntara aku nge post yang ini dulu. Semoga para readers puas sama hasil imajinasiku yang nggak karuan
See next time ....
Senin, 18 Agustus 2014
CERITA ROMANCE
Little Friend chap 1 : Pertemuan
Awalnya Ana tidak menyangka jika hal itu terjadi dalam hidupnya. Bahkan sejak pindah rumah dia tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi. Dan yang bisa dia lakukan hanyalah menurut dengan ucapan teman-teman lamanya.
Ibunya juga tidak keberatan akan mendapat kejutan tak terkira dari teman-temannya. Tapi apa boleh buat. Rasa rindu yang memuncak lantaran sepuluh tahun dia tidak bertemu teman-teman lamanya yang berada jauh di kota yang terkenal akan legenda sura dan baya itu.
Tanpa pikir panjang Ana setuju dengan ajakan temannya yang mengabarinya lewat telfon untuk mengadakan reuni. Esoknya mereka berangkat yang kebetulan saat itu liburan semester satu. Jadi tidak ada halangan bagi mereka untuk bepergian untuk beberapa hari.
Dan disinilah dia sekarang. Sebuah danau buatan di kawasan perumahan elit Surabaya untuk melakukab piknik bersama teman-teman masa kanak-kanaknya yang terasa asing baginya. Wajar saja, bertambahnya usia membuatnya mudah lupa. Atau bisa dikatakan dia memang mudah lupa walaupun hal tersebut dia tau beberapa menit sebelumnya.
Dia berjalan sendiri sementara teman-temannya saling bernostalgia karena sama-sama lama tak bertemu. Hari ini dia merasa seperti bukan dirinya yang ceria dan sangat mudah bergaul. Dia merasa tidak enak dengan teman-teman lamanya itu dengan satu alasan. Perbedaan anak kota dan anak desa.
Sejak pindah dia memang tinggal di desa yang cukup jauh dari perkotaan tapi itu membuatnya nyaman dan senang. Bahkan dia melupakan jati dirinya yang dulu adalah anak metropolitan. Tapi itu tak membuat dirinya merasa malu berada disana. Malahan dia bangga menjadi anak desa. Entah mengapa dia senang dengan julukan gadis desa yang di berikan teman-teman sekelasnya karena dia mengunci rambut panjangnya menjadi dua layaknya gadis desa yang ada di layar lebar.
Namun disisi lain sebuah pasang mata menatapnya dengan pandangan rindu yang tidak bisa di tahan. Nasir, jujur saja dia cukup terkejut dengan perubahan temannya sekaligus mantan tetangganya yang menjadi gadis cantik dan sopan. Entah dia tidak bisa mengungkapkannya. Yang jelas teman kecilnya itu telah berubah dari gadis kecil yang over menjadi gadis desa yang lugu tapi terlihat ceria. Bahkan sekilas gadis itu sangat berbeda dengan kepribadiannya waktu kecil.
Dia menatap teman kecilnya itu dalam diam. Meski teman-temannya ramai untuk saling mengobrol Nasir sibuk mengawasi gadia desa itu. Entah apa yang di lihatnya di depan sana . Biar saja dia mendekati teman kecilnya itu dan mengajaknya berbicara panjang lebar karena rasa rindu yang membuncah. Tapi kediaman gadis itu sejak tiba di kawasan danau membuatnya mengurungkan niatnya itu.
Rasa rindunya tidak hisa di tahan lagi. Dari dulu dia memang sudah menyukai gadis itu. Meski masih kecil dia bisa merasakannya sampai sekarang. Rasa suka yang melebihi dari sekedar seorang teman atau tetangga. Ingin dia berjalan berdua memecahkan keheningan gadia itu jika dia tidak berhenti dan membuatnya ikut berhenti dengan kerutan di keningnya. Ada apa?, batinnya
Awalnya Ana tidak menyangka jika hal itu terjadi dalam hidupnya. Bahkan sejak pindah rumah dia tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi. Dan yang bisa dia lakukan hanyalah menurut dengan ucapan teman-teman lamanya.
Ibunya juga tidak keberatan akan mendapat kejutan tak terkira dari teman-temannya. Tapi apa boleh buat. Rasa rindu yang memuncak lantaran sepuluh tahun dia tidak bertemu teman-teman lamanya yang berada jauh di kota yang terkenal akan legenda sura dan baya itu.
Tanpa pikir panjang Ana setuju dengan ajakan temannya yang mengabarinya lewat telfon untuk mengadakan reuni. Esoknya mereka berangkat yang kebetulan saat itu liburan semester satu. Jadi tidak ada halangan bagi mereka untuk bepergian untuk beberapa hari.
Dan disinilah dia sekarang. Sebuah danau buatan di kawasan perumahan elit Surabaya untuk melakukab piknik bersama teman-teman masa kanak-kanaknya yang terasa asing baginya. Wajar saja, bertambahnya usia membuatnya mudah lupa. Atau bisa dikatakan dia memang mudah lupa walaupun hal tersebut dia tau beberapa menit sebelumnya.
Dia berjalan sendiri sementara teman-temannya saling bernostalgia karena sama-sama lama tak bertemu. Hari ini dia merasa seperti bukan dirinya yang ceria dan sangat mudah bergaul. Dia merasa tidak enak dengan teman-teman lamanya itu dengan satu alasan. Perbedaan anak kota dan anak desa.
Sejak pindah dia memang tinggal di desa yang cukup jauh dari perkotaan tapi itu membuatnya nyaman dan senang. Bahkan dia melupakan jati dirinya yang dulu adalah anak metropolitan. Tapi itu tak membuat dirinya merasa malu berada disana. Malahan dia bangga menjadi anak desa. Entah mengapa dia senang dengan julukan gadis desa yang di berikan teman-teman sekelasnya karena dia mengunci rambut panjangnya menjadi dua layaknya gadis desa yang ada di layar lebar.
Namun disisi lain sebuah pasang mata menatapnya dengan pandangan rindu yang tidak bisa di tahan. Nasir, jujur saja dia cukup terkejut dengan perubahan temannya sekaligus mantan tetangganya yang menjadi gadis cantik dan sopan. Entah dia tidak bisa mengungkapkannya. Yang jelas teman kecilnya itu telah berubah dari gadis kecil yang over menjadi gadis desa yang lugu tapi terlihat ceria. Bahkan sekilas gadis itu sangat berbeda dengan kepribadiannya waktu kecil.
Dia menatap teman kecilnya itu dalam diam. Meski teman-temannya ramai untuk saling mengobrol Nasir sibuk mengawasi gadia desa itu. Entah apa yang di lihatnya di depan sana . Biar saja dia mendekati teman kecilnya itu dan mengajaknya berbicara panjang lebar karena rasa rindu yang membuncah. Tapi kediaman gadis itu sejak tiba di kawasan danau membuatnya mengurungkan niatnya itu.
Rasa rindunya tidak hisa di tahan lagi. Dari dulu dia memang sudah menyukai gadis itu. Meski masih kecil dia bisa merasakannya sampai sekarang. Rasa suka yang melebihi dari sekedar seorang teman atau tetangga. Ingin dia berjalan berdua memecahkan keheningan gadia itu jika dia tidak berhenti dan membuatnya ikut berhenti dengan kerutan di keningnya. Ada apa?, batinnya
***
Sudah lama dia tidak pernah ke danau elit itu. Udara yang terasa sejuk dan segar tetap sama meskipun lebih banyak bunga-bunga dan pohon-pohon yang tertanam. Dia sangat menikmati hal itu. Udara sejuk dengan pemandangan yang indah dengan air mancur replika icon negara Singapura membuatnya nyamab dan menutup matanya tanpa sadar.
Entah pendengarannya yang tajam atau karena dia terlalu tenggelam dengn kenyamanan itu. Sebuah alunan musik gitar yang sangat di kenalnya terdengar samar-samar. Tapi alunan musik itu terdengar jelas seakan ada orang yang memainkannya untuk menarik perhatiannya. Terlebih alunan giatr itu sangat tidak wajar bagi kebanyakan orang. Hanya orang yang benar-benar seperti dirinya -yang fanatik akan anime- yang tau alunan gitar itu.
Dia bisa mendengar dengan jelas alunan itu. Seakan alunan musik itu ada untuk menariknya ke asal suara. Dia berbalik mendapati teman-teman laki-lakinya yang menatap heran dirinya. Alunan musik itu bukan berasal dari mereka. Jauh dari mereka alunan musik itu masih terdengar. Dengan sedikit terburu-buru dia mengikuti alunan musik itu sebelum habis.
***
Entah apa yang di pikirkan gadis itu berbalik dengan pandangan yang tidak fokus. Kerutan di dahinya semakin menjadi melihat teman kecilnya itu berjalan ke arah mereka. Bukan, lebih tepatnya ingin melewati mereka.
Odi, teman masa kecil gadis itu yang dulunya sangat dekat menyenggol sikutnya saat gadis itu berjalan menuju mereka.
"Dia kenapa?"
Dia tidak bisa menjawab. Rasa penasaran juga merasuki dirinya. Tanpa sadar tangannya meraih lengan gadis itu ketika melewatinya.
Perhatian gadia itu teralihkan. Hanya sebentar setelah itu dengan sedikitpaksa dia melepas tangannya yang mencengkram lengan gadiss itu lalu kembali pergi entah kemana.
Sungguh, jauh di dalam hatinya dia merasa sakit yang tak tertahan kala gadis itu melepaskan tangannya. Seakan dia dicampakkan setelah bertahun-tahun bersama. Tapi sayangnya mereka hanya empat tahun dan itupun tidak bisa dikatakan dekat. Dan pastinya gadis itu tidak memperdulikannya seperti saat ini.
Entah roh apa yang merasuki dirinya untuk mengikuti gadis itu pergi kemana. Dia sangat penasaran apa yang membuat teman kecilnya itu berjalan tak tentu arah seperti sedang mencari yang tak bisa di lihatnya.
Bahkan setelah gadis itu berhenti, lagi, dia masih tidak tau apa yang membuat gadis itu pergi cukup jauh dari tempat piknik. Tapi pandangan gadia itu mengarah ke satu tempat. Dia mengikuti arah pandang itu.
Seorang laki-laki yang duduk di bangku tak jauh dari pohon pinggir danau sedang memainkan gitarnya. Apa permainan gitar itu yang membuatnya kesini?, pikirnya penasaran.
Tapi ada yang aneh dari reaksi yang si tunjukkan gadis itu. Terkejut sekaligus terpesona. Menyadari pandangan mengagumi gadis itu untuk laki-laki asing entah mengapa membuatnya cemburu.
***
Jujur saja dia tidak tau apa yang membuatnya sampai ke tempat itu dan bertemu laki-laki yang sangat tidak asing baginya. Entah itu rencana Tuhan atau memang takdir yang mempertemukan mereka secara tidak sengaja di tempat itu. Terlebih kejadian itu hampir sama saat dia bertemu laki-laki itu untuk pertama kalinya.
"Ana"
Panggilan itu membuatnya tersadar dan sontak dia berbalik. Salah satu teman kecilnya menatapnya heran. Mungkin bertanya-tanya apa yang dilakukannya di tempat itu. Kembali dia menatap laki-laki itu saat menyadari alunan gitarnya tidak lagi terdengar. Sepertinya kehadirannya membuat laki-laki itu sadar dan melihat apa yang terjadi.
"Em..Nasir tunggu sebentar"
Dia tidak tau apa yang harus di lakukannya tapi dia ingin menyapa laki-laki itu. Ana meninggalkan Nasir lalu berjalan dengan jantung berpacu ke laki-laki yang menatapnya dengan intens. Sungguh dia rindu tatapan yang membuat dadanya berdebar kencang itu.
Dengan canggung dia tersenyum saat dirasanya cukup dekat laki-laki itu. "Hai, masih ingat denganku?"
Rada kecewa menyelubunginya saat laki-laki itu diam tidak merespon. Seakan memberi jawaban jika dia tidak mengenal gadis di depannya. Tapi dia tidak menyerah. "Kita bertemu saat festifal jepang di UNAIR, kau ingat?"
Sejenak tampak raut terkejut dari wajah laki-laki itu lalu kembali ketatapan intensnya. "Maaf, aku sedikit lupa karena itu sudah lama"
Perasaan lega tak terkira menghinggapinya. Laki-laki itu mengingatnya meskipun dialah yang mengingatkan pada laki-laki itu.
Suasana hening itu benar-benar tak nyaman. Dan juga laki-laki itu hanya menatapnya intens dengan senyum yang cukup ketara di bibirnya membuatnya terus-terusan menunduk dan mengalihkan perhatiannya lantaran malu.
Tapi itu tak terjadi lama saat laki-laki itu membuka suara. "Jadi, kau kemari karena mendengar permainan gitarku, lagi?". Dia menekan kata 'lagi' membuat seakan kejadian seperti itu pernah terjadi dulu.
Gadia itu hanya tersenyum dan mengangguk membuat laki-laki itu berucap yang membuat Ana terdiam tak percaya.
"Sepertinya kita memang berjodoh"
Entah apa yang dia pikirkan hingga berucap seperti itu. Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa dia memikirkan efeknya pada gadis itu. Dan benar saja reaksi gadis itu sama seperti dulu.
Nasir menatap kesal laki-laki asing itu yang membuat Ana melupakan dan mengabaikannya. Jujur saja dia tidak suka kehadiran laki-laki yang tidak dikenalnya itu tapi sangat di kenal oleh Ana.
Dengan kesal dia hampiri mereka lalu menepuk pundak gadis itu hingga sedikit terlonjak. Entah apa yang dikatakan laki-laki itu sampai membuatnya diam mematung.
"Nasir", gadis itu menatapnya.
"Dia siapa?", tanyanya dengan sedikit tidak suka pada laki-laki itu.
Sekarang dia benar-benar bodoh telah melupakan temannya itu. Bisa-bisanya dia lupa padahal dia sudah membuatnya menunggu lama. Cepat-cepat dia menjawab sebelum membuat temannya itu bertambah kesal. Dari raut wajahnya sudah terlihat jika dia sedang tidak mood.
"Dia Rizal, temanku. Bisa dibilang kenalan tapi sudah jadi teman". Takut-takut dia menataptemannya itu memandang Rizal dengan pandangan menyelidik. Entah apa yang difikirkannya yang pasti dari pandangannya dia sedang menilai laki-laki itu.
Rizalpun menatap Nasir dengan sama-sama menilai. Tatapan mereka lama-lama berubah tajam. Dan Ana menyadarinya. Dia takut jika terjadi kesalah pahaman. Cepat-cepat dia mengalihkan perhatian mereka sebelum terjadi sesuatu.
"Nasir kamu duluan saja, nanti aku menyusul"
Seakan tidak rela di usir secara halus dia membantah, "tapi kamu tidak tau jalan, kalau tetsesat bagaimana?"
"Tenang saja, dari sini kelihatan kok"
Sebelum kembali membantah Rizal menyela cepat. "Biar nanti kuantar. Lagi pula aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Ini tempat umum dan dia terlalu berharga"
Matanya menatap tajam Rizal saat Ana mengangguk setuju secara tidak sadar dengan ucapan laki-laki itu. Dia merasa aneh dengan kata 'berharga' dari Rizal. Seakan ada makaud lain dari kata-katanya.
Dia menatap Ana yang menatapnya dengan tatapan memohon. Dia sudah merasa Ana tidak betah berada lama-lama dengan teman-teman yang lain dan itu membuatnya tidak tega. Meskipun demikian dia juga tidak rela Ana berada di dekat laki-laki itu meskipun sudah saling kenal.
Pada akhirnya dia mengalah, toh hanya sehari mereka bersama. Nanti malam dia bisa mengunjungi Ana tanpa halangan. Dia pergi sebelum berpesan untuk memghubunginya jika terjadi sesuatu pada Ana dan di jawab anggukan kecil.
***
Lagi-lagi rasa canggung menyelubungi mereka saat Nasir pergi atau lebih tepatnya hanya Ana yang mersa canggung. Dia berbalik lalu tersenyum kaku pada laki-laki itu. Ini suatu keberuntungan untuknya bisa bertemu laki-laki itu setelah sekian kalinya mereka tidak pernah bertemu lagi. Bahkan dia terus mencari informasi untuk bisa mendapatkan cara untuk menghubunginya. Tapi dia sadar, mereka hanya saling kenal dan tidak lebih. Hanya berawal dari suatu acara lalu terpisah. Tapi kali ini mereka bertemu lagi dengan cara yang hampir sama.
"Tadi pacar kamu?". Sengaja Rizal betanya seperti itu. Rasanya sedikit kesal melihat laki-laki yang bersama Ana itu tidak ingin melepaskannya.
"Bukan, cuma teman lama". Jawab Ana cepat. Dia tidak ingin mwmbuat Rizal berfikir jika dia sudah tidak sendiri. Ana juga tidak tau apakah laki-laki itu sudah memiliki pasangan saat ini. "Kami mengadakan reuni di dekat sini", lanjut Ana. Laki-laki itu mengangguk mengerti. "Kamu sendiri?"
Rizal tersenyum. "Liburan di rumah saudara"
"Oh". Jawab Ana singkat lalu berjalan ke laki-laki itu, duduk di sampingnya. Entah angin apa yang menyuruhnya untuk duduk di samping Rizal.
"Oh ya, pertemuan kita waktu itu sangat singkat. Ngomong-ngomong kamu sekolah di mana?"
Rasa canggung dan kaku di antara mereka mulai menghilang.
"Semarang". Jawabannya membuat dahi Ana berkerut. Dia tersenyun, "asalku memang Gresik tapi aku sekolah di Semarang"
"Emang di SMA mana?"
Kali ini dahi Rizal yang tertekuk. "Memang aku terlihat semuda itu?"
Ana tidak bisa menyembungikan rasa terkejutnya. Mungkin apa yang dia pikir berasama temannya itu salah memgora laki-laki itu seumur dengan mereka. Rizal terkekeh pelan melihat ekspresi Ana yang menurutnya lugu.
"Dua tahun lebih tua dari kamu"
Jadi dia kakak kelasku?, batin Ana. Sekarang dia merasa tidak enak hati dengan laki-laki itu. Wajah laki-laki itu telah menipunya dan temannya.
"Maaf, kak. Aku tidak bermaksud, aku tidak tau". Ana merutuki kebodohannya yang terlalu cepatmemgambil kesimpulan tanpa memgetahui yang sebenarnya.
Rizal tertawa pelan. Gadis di depannya benar-benar polos dan lucu. "Santai saja. Lagipula aku juga tidak keberatan, kita juga sama-sama tidak tau"
Meski berkata seperti itu wajah gadia itu masih meliputi ras bersalah. Risal menghela nafas, "aku tidak marah, sungguh"
Melihat senyum laki-laki itu membuatnya yakin akan ucapnnya. Pancaran mata di balik kata matanya terlihat meyakinkan. Akhirnya dia ikut tersenyum meakipun sedikit canggung mengingat laki-laki itu lebih tua darinya.
"Kamu sekarang kelas tiga,kan? Kedepannya bagaimana". Tanyanya sambil meletakkan gitarnya ke dalam tas gitar.
Ana tampak berfikir, " entah aku bingung. Mungkin aku akan ke Semarang"
"Kalau begitu berjuang". Ana menoleh, "mungkin kita akan bertemu lagi"
Ana baru sadar jika laki-laki itu kuliah di Semarang dan juga duatahun lebih tua darinya.yang dia lupakan dimana laki-lakiitu bersekolah. Dan sekarang sebuah kejutan baginya laki-laki itu kuliah di tempat yang ingin dia tuju. Meaki tidak tau di Univeraitas mana ada kemungkinan mereka akan berada dalam satu kota.
"Kamu ambil kejurusan apa?". Dia tetap menghormati laki-laki itu meali memanggilnya secara biasa. Toh, dia tidak marah dan bersikap santai.
Rizal tersenyum sejenak. "Dokter bedah"
Baru kali ini Ana bertemu dengan orang yang mengambil study dokter, terlebih ahli bedah. Dia sangat mengagumi orang yang belajar ilmi kedokteran, seperti Rizal. Pasti dia pintar, pikir Ana.
"Sebenarnya ingin masuk seni tapi aku hanya anak yang menurut pada orang tua", lanjutnya.
Entah mengapa dia merasa sedih mendengarnya. Seperti dirinya yang selalu menurut dengan ucapan orang tua. Dia tidak bisa membantah karena ingin membanggakan orang tuanya. Lagi pula sebagai anak dia merasa sudah terlalu merepotkan orang tuanya.
"Sepertinya kita sama". Ucapan itu membuat Ana sadar lalu memoleh, "terlihat dari wajah kamu"
Ana merengut, "apa aku memang mudah di tebak? Teman-temanku juga bilang seperti itu. Kalau ada les menyembunyikan perasaan aku ingin ikut les itu"
Sontak mereka tertawa dengan candaan Ana. Mereka terlihat terbuja dan tidak seperti baru kenal. Memang tidak baru kenal tapi mereka baru saling mengenal.
***
Nasir merasa gusar melihat Ana tertawa bersama laki-laki itu. Dia merasa kesal, khawatir dan cemburu. Cemburu? Ya, dia cemburu laki-laki itu bisa membuat Ana teryawa. Saat bersamanya gadis itu tidak pernah memperlihatkan tawa lucunya itu. Hanya tersenyum dan tidak banyak ekspresi yang dia perlihatkan.
Dia sudah bilang Ibu Ana tapi beliau bersikap santai asal anaknya baik-baik saja. Tapi dia tidak bisa baik-baik saja melihat mereka bersama. Sungguh dia tidak suka kebersamaan mereka.
Terlihat jelas bagaimana senyum lepas Ana dari tempatnya berdiri meskipun jauh. Hatinya trtada panas. Ingin dia menghampiri mereka dan menjauhkan Ana dari laki-laki itu. Tapi dia tau Ana akan menolak, gadis itu sangat keras kepala di balik sikap pendiamnya.
Dia harua mencari cara untuk menisahkan mereka secara halus. Dia tidak ingin Ana akan membencinya dan sepertinya Dewi Fortuna berpihak padanya.
Dina datang menghampirinya, "Ana mana? Tapi kayaknya sama kamu"
"Dia sedang jalan-jalan sebentar lagi kesini". Kilahnya.
Dina hanya mengangguk lalu kembali berbaur dengan teman-temannya. Setelah itu segera sia menghubungi Ana. Tak lama panggilannya terjawab.
***
Dahinya berkerut mendapat nomor asin. Dengan hati-hati di jawabnya panggilan itu lalu tidak bersuara seperti kebiasaannya jika mendapat nomor asing.
'Ana'. Dia kenal suara ini.
"Nasir? Ada apa?"
Mendengar nama laki-laki lain percikan api cemburu mengenai hatinya.
"Iya, aku sebentar lagi kesana . . . . Tidak usah,aku bisa sendiri aku tau tau jalan . . . . . Iya, jangan khawatir. Sampai nanti"
Selesai memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket, kedua insan itu berpandangan. Seakan mengerti akan berpisah, lagi.
"Jadi mereka menyuruhmu kembali?". Kalimat Rizal mengungkapkan kalau Ana terpaksa kembali tanpa ada niat dari sirinya sendiri.
Ana mengangguk pasrah. Benar, dia tidak ingin berpisah dengan laki-laki itu. Tapi mau bagaiman lagi, keadaan mereka tidak mendukung.
"Mau ku antar?". Seakan ada semangat sebelum perpisahan mereka. Mata gadis itu terlihat bersinar. "Aku tadi kesini naik sepeda". Tunjuknya pada sebuah sepeda di bawah pohon tak jauh dari mereka.
Ingin antara tidak ingin terpatri di wajah Ana dan itu membuat Rizal mengerti, "aku tidak keberatan", lanjutnya.
"Aku tidak ingin merepotkan"
"Tak apa. Aku senang biaa mengantarmu dengan selamat lagi pula aku sudah janji dengan temanmu tadi". Rizal berjalan sambil menyampirkan tas gitarnya, mengambil sepeda lalu menaikinya. Dia memandang Ana, "ayo"
Ana mengalah. Dalam hati dia juga ingin tapi malu dan tidk ingin merepotkan. Sejenak dia menatap boncengan itu ragu tapi dia tetap menaikinya.
"Nanti jatuh kalau tidak pegangan", goda Rizal.
Semburat merah memghiasi pipi gadis itu, "tidak, cukup begini saja"
"Oke, jangan salahkan"
Rizal mulai mengayuh pedalnya dengan kencang membuat Ana terasentak berteriak dan reflek memeluk pinggang laki-laki itu. Sedangkan Rizal memang sengaja melakukannya dan tersenyum puas mendapat hasil yang di inginkannya.
Namum lama-lama sepeda itu berjalan pelan membuat mereka kembali mengobrol.
"Berapa lama kami di sini?"
Ana masih memeluk pinggang Rizal tidak terlalu kencang, " mungkin lusa pagi pulang. Kamu sendiri?"
"Masih ada satu minggu tapi aku ingin pulang lusa"
"Kenapa?"
"Karena lusa kamu meninggalkan Surabaya, lusa depan aku meninggalkan kota ini juga. Percuma kalau aku masih ada di sini tapi kau sudah pergi"
Untung saja laki-laki itu sibuk membonceng sehingga tidak bisa melihat rona merah di wajah Ana. Tapi tanpa menolehpun dia tau gadis itu merespon rayuannya. Dia bukan tipe laki-laki yang mengumbar rayuan tapi gadis itu sangat peka dengan rayuan sederhananya.
"Apa emailmu?"
"Eh?"
"Sebentar lagi berpisah jadi aku butuh email mu".
Ana menengok. Benar, tempat pikniknya sudah terlihat. Bahkan dia bisa melihat ibunya sibuk membuat es.
"Hanabikara"
"Apa?"
"Tidak ada pengulangan. Kamukan calon dokter sudah pasti jenius, jadi seorang jenius seharusnya punya pendengaran yang hebat dan daya ingat yang kuat". Jelas Ana panjang lebar. Tentu saja itu hanya alasan untuk menggoda Rizal.
"Ayolah, aku belum siap mendengarkan"
"Calon dokter itu harus siap apapun keadaannya"
"Ayolah, ulangi sekali lagi"
Gadis itu tertawa kecil, menikmati godaannya pada laki-laki itu.
Seperti seorang pangeran yang menanti kedatangan putrinya, Nasir menunggu sepeda yang di naiki kedua insan itu dengan geram. Dia sudah menahan api cemburu yang sudah menyulut sejak melihat mereka berboncengan. Terlebih gadis itu menikmatinya. Tapi lain dari itu dia semakin cemburu saat tangan Ana memeluk pinggang laki-laki itu. Dia tau itu hanya sebuah bentuk untuk menjaga keselamatan meski begitu hal itu tidak bisa menghilangkan rasa cemburunya.
Kakinya berhenti mengayuh lalu mengerem agar sepeda berhenti. Ana melepas pegangannya lalu turun, menatap laki-laki itu seakan tidak rela mereka harus bepisah.
"Em....trima kasih tumpangannya"
"Sama-sama"
"Aku kesana, bye". Dengan kaku Ana berjalan menghampiri Nasir yang menunggunya. Tigalangkah Ana berjalan dia berbalik karena panggilan Rizal.
"Hanabikara, kau jenius kan?"
Ana tersenyum mendengarnya, "ya, kamu jenius"
"Mata ashita"
Ana terpaku mendengarnya. Dia tidak menyangka kalimat itu terucap dari mulut laki-laki itu lagi. Seakan de javu. Tapi dia segera sadar saat Rizal sudah memutar sepedanya.
"Mata ashita, nee", teriak Ana.
Tanpa Ana tau Rizal tersenyum senang mendengar balasan itu. Bahkan dulu saat mengucapkannya pada gadis itu tidak ada respon sama sekali. Tapi sekarang dia samgat puas dengan balasan itu. Sambil mengayuh sepedanya dia berguman email Ana, seperti mengahafalkannya.
Ana berbalik dengan senyum mengembang. Menghampiri Nasir dan membalas senyumnya. Rasanya hari itu dia sangat senang dan menanti-nanti ada email masuk di ponselnya.
Saking bahaginya dia tidak menyadari tatapan tak suka dengan senyuman itu. Bukannya tidak suka melihat keceriaan Ana dari sebelumnya tapi dia tidak suka senyum yang satu itu. Karena orang yang membuat Ana tersenyum seperti itu bukanlah dirinya. Dia benci pada orang yang sudah membuat Ana berbunga-bunga saat ini.
Gomenasai. Baru kali ini publis soalnya meain ketik ku lagi rusak jadi susah buat publisnya. Di tambah pulang sekolahyang mulai sore, jadi jarang" publis crita yang lain. Udah ada banyaj ff dan crita lainnya yang udah siap di ketik tapi cuma mr.keyboart nya belum ada. Jadi. Gomenasai. Gomenasai.
Crita ku yang lain pasti buruk seribu persen. Sory soalnya belum sempat do review. Tu juga di ketikin sma tmen, hehehe. So skali lagi. Gomenasai. Q harap yang baca crita q gk bsen"nya buat review. Aku tau ini masih abal" jdi. Mohon bantuannya
Oh ya catatan. Ini semua nama pemern aku ambil aslu dari nama temen" masa kecilku jadi yang ngrasa inget aku ya. Semua setting jelas ada asli di surabya ingin info lebh lanjut tanya akang google aja yah.
Oke. See you next time.......
Langganan:
Postingan (Atom)