Natsuki
POV
Setelah
mengambil roti isiku dengan cepat aku keluar dari rumah. Entah kenapa hari ini
aku kesiangan dan sudah terlambat untuk menemui'nya' mungkin aku akan mendapat
ocehannya setelah tiba nanti.
Ku
tatap layar ponselku. Aku sudah terlambat sepuluh menit dari perjanjian. Aku
berlari dengan cepat sebelum dia benar-benar mengomel. semua toko dan jalan
masih terlihat cukup sepi, kecuali orang-orang lansia yang sekedar jalan-jalan
atau ibu rumah tangga yang baru pulang dari pasar.
Ku
tatap layar ponselku lagi. Sekarang dua puluh menit sudah aku terlambat.
Kupercepat lariku saat mentap tikungan di depan. Setelah itu aku sudah sampai
dan harus bersiap-siap dengan omelannya.
BRUK
Baru
saja aku berbelok dan aku menabrak punggung seseorang sampai aku hampir
terjungkal ke belakang. Orang itu berbalik membuatku sedikit terkejut aku
menabrak seorang polisi.
Sebelum
polisi itu marah aku segera membungkukkan badan meminta maaf.
"tak
apa lain kali jangan berlari di tikungan itu berbahaya"
"hai,
akan ku ingat pesan ojiisan"
Tak
lama ku rasakan ponselku bergetar di saku jaketku. Satu pesan masuk darinya.
Setelah membaca isinya aku menoleh ke seberang jalan. Dia ada di sana dengan
wajah cukup cemberut. Sepertinya dia kesal.
"maaf,
aku terlambat", ucapku setelah tiba di depannya.
Wajahnya
masih cemberut. Apa dia masih marah?
"kau
masih marah? Ayolah aku kan sudah minta maaf, lain kali aku janji tidak akan
terlambat"
"menyebalkan"
Eh?
"orang-orang
itu mengambil tempat perjanjian kita"
Ku
ikuti arah tatapannya. Benar, aku lupa dengan polisi tadi. Memang ada apa di
ujung jalan? Beberapa polisi dan orang mengelilingi seseuatu di seberang jalan.
"memang
ada apa di sana? Aku tadi tidak menyadarinya"
"pembunuhan
seorang laki-laki, saat tiba sudah ada polisi disana dan juga", laki-laki
di sampingku menatapku tajam, "apa yang membuatmu telat sampai aku bosan
melihat pemandangan itu"
Sepertinya
aku tidak bisa lolos lagi. Ku pikir kejadian tersebut bisa mengalihkan
perhatiannya dari keterlambatanku tapi rasanya orang jenius sepertinya suah
untuk di bodohi. Aku hanya bisa tersenyum miris mendengar ocehannya yang
sepertinya akan lama.
Baru
saja semua buku ku masuk ke dalam tas ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk
dari Gekko. Ku hembuskan nafas kasar, selalu seperti ini. tiba-tiba ingin
bertemu tiba-tiba hilang sendiri dan membatalkan janji. Padahal dia yang selalu
membuat janji dulu untuk pulang bersama tapi sekarang dia pulang sendiri dengan
entah urusan apa yang dia kerjakan.
Ku
tatap langit yang terlihat mendung. Hanya perasaanku saja atau memang tiba-tiba
saja langit menjadi gelap. Cepat-cepat aku meninggalkan sekolah sebelum turun
hujan. Tepat saat tiba di kompleks perumahan hujan mulai turun dan sedikit demi
sedikit membasahi seragamku. Ku percepat lariku menuju rumah.
Aku
rasa percuma kalau tidak berteduh tadi, sampai di rumah seragamku tetap basah.
Ku buka pintu rumah. Sepertinya orang tuaku belum pulang, terlihat dari lampu
yang belum di nyalakan membuat suasana rumah sedikit mencekam.
Dengan
cepat ku nyalakan lampu depan karena takut. Jujur saja walaupun aku suka
melihat bulan sampai tengah malam aku tetap seorang perempuan yang punya rasa
takut dan salah satunya adalah kegelapan. Segera aku naik ke kamarku mengganti
baju seragamku yang basah aku tidak ingin besok tidak masuk sekolah karena
sakit.
Setelah
berganti pakaian yang kering aku kembali turun menuju dapur. Rasanya perutku
ingin di isi sesuatu yang mengenyangkan. Ku buka isis kulkas dan pandanganku
tertuju pada sekotak susu yang belum di buka. Benar, tadi pagi aku hanya
memakan roti isi buatan Kaasan sebelum dia berangkat kerja.
Tanpa
mengambil gelas langsung saja ku minum susu kotak itu dari tempatnya. Rasa
hausku tidak bisa di kompromi lagi.
GRUSAK
Suara
aneh itu membuatku berhenti meminum susu. Ku lihat sekitar ku tidak ada
apa-apa. Apa mungkin tikus? Baru saja kemarin Kaasan memanggil pembasmi hama ke
rumah, apa tikus itu kembali lagi ke sini?
BRUK
Lagi-lagi
terdengar suara. Tapi kali ini seperti suara barang yang jatuh dan itu
terdengar dari arah gudang. Apa benar tikus kemarin datang kemari untuk balas
dendam?
Tunggu.
Sejak kapan lampu gudang menyala? jika Kaasan dan Tousan masuk gudang mereka
selalu mematikan lampu sebelum keluar sedangkan aku sendiri jarang masuk ke
gudang. Ku letakkan kotak susu yang tinggal setengah di meja lalu mengambil
penggorengan untuk jaga-jaga jika benar itu adalah tikus. Atau jangan-jangan
ada pencuri?!
Dengan
sedikit keraguan ku hampiri pintu gudang yang tersambung ke dapur. Jantung ku
terasa ingin lepas saat memegang ganggang pintu dan apa yang terjadi
selanjutnya pintu itu terkunci. Benar-benar menyebalkan, pasti Tousan
menguncinya lagi. Sebenarnya ingin saja ku abaikan suara misterius itu tapi aku
benar-benar takut jikaitu pencuri atau tikus.
Jalan
lain adalah aku harus keluar rumah dan lewat samping. Untung saja hujan tidak
terlalu deras sehingga aku bisa masuk gudang tanpa harus basah-basah lagi. Dari
luar cahaya lampu masih menyala. Aku berfikir sebentar sebelum masuk.
Jika
tikus, memang tikus bisa menyalakan lampu yang ada di dinding dan lebih tinggi
dari tubuhnya? Tapi jika pencuru itu kemungkinan. Tunggu jika memang pencuri
apa yang harus ku lakukan. Kalau mereka ada banyak dan membawa senjata aku
harus bagaimana? Aku hanya membawa penggorengan saja.
BRUK
BRAK
Sekarang
suara itu semakin berisik. Meskipun tercampur suara hujan aku masih bisa
mendengarnya. Baiklah Natsuki kau harus bisa menhadapi ini, berdoalah jika
bukan pencuri dan hanya tikus yang kebetulan bisa atraksi sehingga lampu
menyala.
Ku
geser pintu gudang selebar badanku lalu masuk tanpa memasukinya lagi. Aku baru
sadar kalau gudang rumahku cukup besar. Banyak kardus-kardus besar tersusun
tinggi hingga hampir ke langit-langit. Bahkan kardus untuk buku-buku masa
kecilku juga ku temui.
Satsuki,
kau kesini untuk menangkap pencuri atau tikus yang masuk rumahmu.
KRESEK
Sekarang
aku tau dimana asal suara berisik itu.
Di balik kadus-kardus besar di depan itu. Dengan pelan-pelan tanpa
menimbulkan suara ku dekati tumpukan kardus itu. Ku angkat penggorengan
siap-siap untuk menyerang. Dan saat aku berbalik melihat di balik tumpukan
kardus itu aku hanya bisa diam mematung. Aku benar-benar tidak percaya dengan
yang ku lihat. Bahkan penggorengan yang siap ku layangkan
hanya bisa menganggur di atas kepalaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar