Selasa, 01 Juli 2014

LUCKY LUCIFER (PART 1)



Natsuki POV
Setelah mengambil roti isiku dengan cepat aku keluar dari rumah. Entah kenapa hari ini aku kesiangan dan sudah terlambat untuk menemui'nya' mungkin aku akan mendapat ocehannya setelah tiba nanti.
Ku tatap layar ponselku. Aku sudah terlambat sepuluh menit dari perjanjian. Aku berlari dengan cepat sebelum dia benar-benar mengomel. semua toko dan jalan masih terlihat cukup sepi, kecuali orang-orang lansia yang sekedar jalan-jalan atau ibu rumah tangga yang baru pulang dari pasar.
Ku tatap layar ponselku lagi. Sekarang dua puluh menit sudah aku terlambat. Kupercepat lariku saat mentap tikungan di depan. Setelah itu aku sudah sampai dan harus bersiap-siap dengan omelannya.
BRUK
Baru saja aku berbelok dan aku menabrak punggung seseorang sampai aku hampir terjungkal ke belakang. Orang itu berbalik membuatku sedikit terkejut aku menabrak seorang polisi.
Sebelum polisi itu marah aku segera membungkukkan badan meminta maaf.
"tak apa lain kali jangan berlari di tikungan itu berbahaya"
"hai, akan ku ingat pesan ojiisan"
Tak lama ku rasakan ponselku bergetar di saku jaketku. Satu pesan masuk darinya. Setelah membaca isinya aku menoleh ke seberang jalan. Dia ada di sana dengan wajah cukup cemberut. Sepertinya dia kesal.
"maaf, aku terlambat", ucapku setelah tiba di depannya.
Wajahnya masih cemberut. Apa dia masih marah?
"kau masih marah? Ayolah aku kan sudah minta maaf, lain kali aku janji tidak akan terlambat"
"menyebalkan"
Eh?
"orang-orang itu mengambil tempat perjanjian kita"
Ku ikuti arah tatapannya. Benar, aku lupa dengan polisi tadi. Memang ada apa di ujung jalan? Beberapa polisi dan orang mengelilingi seseuatu di seberang jalan.
"memang ada apa di sana? Aku tadi tidak menyadarinya"
"pembunuhan seorang laki-laki, saat tiba sudah ada polisi disana dan juga", laki-laki di sampingku menatapku tajam, "apa yang membuatmu telat sampai aku bosan melihat pemandangan itu"
Sepertinya aku tidak bisa lolos lagi. Ku pikir kejadian tersebut bisa mengalihkan perhatiannya dari keterlambatanku tapi rasanya orang jenius sepertinya suah untuk di bodohi. Aku hanya bisa tersenyum miris mendengar ocehannya yang sepertinya akan lama.
Baru saja semua buku ku masuk ke dalam tas ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Gekko. Ku hembuskan nafas kasar, selalu seperti ini. tiba-tiba ingin bertemu tiba-tiba hilang sendiri dan membatalkan janji. Padahal dia yang selalu membuat janji dulu untuk pulang bersama tapi sekarang dia pulang sendiri dengan entah urusan apa yang dia kerjakan.
Ku tatap langit yang terlihat mendung. Hanya perasaanku saja atau memang tiba-tiba saja langit menjadi gelap. Cepat-cepat aku meninggalkan sekolah sebelum turun hujan. Tepat saat tiba di kompleks perumahan hujan mulai turun dan sedikit demi sedikit membasahi seragamku. Ku percepat lariku menuju rumah.
Aku rasa percuma kalau tidak berteduh tadi, sampai di rumah seragamku tetap basah. Ku buka pintu rumah. Sepertinya orang tuaku belum pulang, terlihat dari lampu yang belum di nyalakan membuat suasana rumah sedikit mencekam.
Dengan cepat ku nyalakan lampu depan karena takut. Jujur saja walaupun aku suka melihat bulan sampai tengah malam aku tetap seorang perempuan yang punya rasa takut dan salah satunya adalah kegelapan. Segera aku naik ke kamarku mengganti baju seragamku yang basah aku tidak ingin besok tidak masuk sekolah karena sakit.
Setelah berganti pakaian yang kering aku kembali turun menuju dapur. Rasanya perutku ingin di isi sesuatu yang mengenyangkan. Ku buka isis kulkas dan pandanganku tertuju pada sekotak susu yang belum di buka. Benar, tadi pagi aku hanya memakan roti isi buatan Kaasan sebelum dia berangkat kerja.
Tanpa mengambil gelas langsung saja ku minum susu kotak itu dari tempatnya. Rasa hausku tidak bisa di kompromi lagi.
GRUSAK
Suara aneh itu membuatku berhenti meminum susu. Ku lihat sekitar ku tidak ada apa-apa. Apa mungkin tikus? Baru saja kemarin Kaasan memanggil pembasmi hama ke rumah, apa tikus itu kembali lagi ke sini?
BRUK
Lagi-lagi terdengar suara. Tapi kali ini seperti suara barang yang jatuh dan itu terdengar dari arah gudang. Apa benar tikus kemarin datang kemari untuk balas dendam?
Tunggu. Sejak kapan lampu gudang menyala? jika Kaasan dan Tousan masuk gudang mereka selalu mematikan lampu sebelum keluar sedangkan aku sendiri jarang masuk ke gudang. Ku letakkan kotak susu yang tinggal setengah di meja lalu mengambil penggorengan untuk jaga-jaga jika benar itu adalah tikus. Atau jangan-jangan ada pencuri?!
Dengan sedikit keraguan ku hampiri pintu gudang yang tersambung ke dapur. Jantung ku terasa ingin lepas saat memegang ganggang pintu dan apa yang terjadi selanjutnya pintu itu terkunci. Benar-benar menyebalkan, pasti Tousan menguncinya lagi. Sebenarnya ingin saja ku abaikan suara misterius itu tapi aku benar-benar takut jikaitu pencuri atau tikus.
Jalan lain adalah aku harus keluar rumah dan lewat samping. Untung saja hujan tidak terlalu deras sehingga aku bisa masuk gudang tanpa harus basah-basah lagi. Dari luar cahaya lampu masih menyala. Aku berfikir sebentar sebelum masuk.
Jika tikus, memang tikus bisa menyalakan lampu yang ada di dinding dan lebih tinggi dari tubuhnya? Tapi jika pencuru itu kemungkinan. Tunggu jika memang pencuri apa yang harus ku lakukan. Kalau mereka ada banyak dan membawa senjata aku harus bagaimana? Aku hanya membawa penggorengan saja.
BRUK BRAK
Sekarang suara itu semakin berisik. Meskipun tercampur suara hujan aku masih bisa mendengarnya. Baiklah Natsuki kau harus bisa menhadapi ini, berdoalah jika bukan pencuri dan hanya tikus yang kebetulan bisa atraksi sehingga lampu menyala.
Ku geser pintu gudang selebar badanku lalu masuk tanpa memasukinya lagi. Aku baru sadar kalau gudang rumahku cukup besar. Banyak kardus-kardus besar tersusun tinggi hingga hampir ke langit-langit. Bahkan kardus untuk buku-buku masa kecilku juga ku temui.
Satsuki, kau kesini untuk menangkap pencuri atau tikus yang masuk rumahmu.
KRESEK
Sekarang aku tau dimana asal suara berisik itu.  Di balik kadus-kardus besar di depan itu. Dengan pelan-pelan tanpa menimbulkan suara ku dekati tumpukan kardus itu. Ku angkat penggorengan siap-siap untuk menyerang. Dan saat aku berbalik melihat di balik tumpukan kardus itu aku hanya bisa diam mematung. Aku benar-benar tidak percaya dengan yang ku lihat. Bahkan penggorengan yang siap ku layangkan hanya bisa menganggur di atas kepalaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar