Jumat, 27 Juni 2014

Cerpen

Hai ini cerita pertamaku yang aku post. Aku nggak berharap lebih, tapi semoga pembaca suka atau mau kasih kritik ke aku. Trima kasih, douzo



Ini mungkin memang hanya bayanganku saja. Jujur aku tidak percaya dengan yang kulihatsaat ini. Dengan percaya diri yang tinggi dia berani menyatakan cintanya yang entah benar atau tidak. Aku hanya tidak yakin jika dia benar-benar mencintaiku. Bahkan setelah apa yang dia lakukan padaku sebelumnya membuatku yakin jika dia hanya bercanda

Aku mengingat saat aku dan dia pertama kali bertemu sangat tidak pantas di gabungkan dengan kondisi saat ini.

Saat itu tanpa sengaja aku menjatuhkan barangnya yang berupa buku paket tebalnya. Aku mengakui jika dia memang hebat dan pintar di fakultasnya. Tidak hanya pintar dia juga lumayan tampan dan saat itu aku sempat terpanah dengannya tapi tidak jadi. Kenapa? Karena dia benar-benar menjengkelkan

Saat itu aku sudah meminta maaf karena memang aku yang salah kareng telah menabraknxa tapi apa yang dia katakan waktu itu

"Jika kau tidak punya mata tidak usah sekolah disini"

Dan setelah itu aku benar-benar benci dengannya. Dan aku sudah memutuskan untuk tidak akan bertemu lagi dengannya. Tapi Kami-sama dengan kejamnya mempertemukan kami.

Dan kali ini juga tanpa sengaja lagi-lagi aku menabraknya. Tapi kali ini yang dia ucapkan berbeda dari saat kami pertama bertemu.

"Kau lagi. Kau mengincarku? Kenapa selalu kau yang menabrakku?"

Waktu itu aku ingin membantahnya tapi teman-temanku menahanku karena takut aku akan mendapat masalah dengannya. Kata mereka dia adalah orang yang terpandang dan tidak ada yang berani mencari masalah dengannya.

Aku tidak perduli dia orang penting atau bukan kita sama-sama manusia. Dan sebagai makluk hidup yang sempurna sepertinya dia tidak punya rasa sopan santun dalam berbicara dan tidak memiliki hati yang lembut sama sekali.

Dan lagi-lagi Kami-sama kembali mempertemukanku dengannya dan harus terperangkap dengannya. Kami terjebak dalam hujan deras di halte bis yang hanya menyisakan kami berdua seorang. Tapi yang lain darinya waktu itu bukan kata-kata pedas yang selalu tertuju padaku. Dan aku sempat tidak percaya jika dia adalah dia yang selama ini kukenal dikampus.

"Apa kau kedinginan?"

Aku menang kedinginan karena aku memakai dress selutut dan lupa membawa jaketku. Aku hanya mengangguk menjawabnya

Dan tanpa kusangka dia melepas jaketnya lalu dipakaikan ketubuhku yang menggigil. Sedangkan dirinya rela hanya memakai kaus lengan pendek. Dan aku tau jika dia juga kedinginan.

Di saat itu lah dia mencerikan jika dia sebenarnya tidak punya maksud unuk memusuhiku. Dia hanya ingin mengenalku dengan cara yang tidak wajar. Selalu mengejekku seperti yang  dia lakukan selama ini.

Kami mulai bertukar cerita. Tentang keluarga kami dan tentang diri kami sendiri. Aku tidak tau kenapa aku menceritakan tentang diriku kepadanya dengan sangat mudahnya. Tapi aku merasa percaya padanya.

Setelah itu hal ini terjadi. Aku benar-benar tidak tau apa yang dia pikirkan saat ini. Bahkan teman-temanku hanya bisa terdiam melihat kami berdua.

"Apa yang kau lakukan? Semua orang melihat kita"

"Bukankah sudah jelas, aku mencintaimu dan aku ingin kau menjadi kekasihku"

Mungkin dia terkena demam dan menjadi seperti ini. "Kau kurang sehat, sebaiknya kau ke ruang kesehatan"
,
"Tidak. Aku baik-baik saja. Sungguh aku mencintaimu sejak kita berbagi cerita kemarin"

Aku befikir keras agar terlepas dari ini. "Jika aku menjawab tidak"

"Aku akan menunggumu sampai kau menjawab iya. Dawm aku akan membuatmu mencintaiku". Dia menjawab dengan sangat yakin dan itu menbuatku ragu.

Aku menghela nafas pelan menenangkan diriku. "Mungkin sebaiknya kau menunggu"

Dia tersenyum puas lalu berdirh saat sebelumnya berlutut di depanku. "Sudah kuduga, jawabanmu seperti yang kupikirkan"

Jadi dia hanya bercanda.

"Akt juga merasa belum yakin dengan perasaan ku. Jadi, gomen ne"

Aku hanya terdiam dia meminta maaf padaku. Aku benar-benar tidak tau apa yang dia pikirkan.





Maaf. Gomen. Gomen. Mungkin geje tapi itulah kemampuanku. Tolong komennya. Saya butuh saran dari minna.