Tak
banyak orang yang menangisi saat itu. Bahkan hanya orang-orang penting saja
yang hadir dalam pemakaman. Anak laki-laki itu berdiri terdiam di depan nisan
Ibunya. Tangannya menggenggam tangan lain yang lebih kecil darinya. Gadis kecil
itu tidak menangis sama sekali. Dia mengerti nisan siapa yang ada di depannya
tapi dia tidak menangis.
Setelah
para peziarah pergi salah seorang pengawal yang di utus oleh Ayah mereka
datang.
"Tuan
Akashi, menyuruh Tuan Muda dan Nona segera pulang"
Mereka
tidak beranjak masih menatap nisan tersebut. Menatap wajah sang Ibu yang masih
tersenyum. Gadis kecil itu menatap Kakaknya. Kepalanya mendongak menatap wajah
Kakaknya.
"Nii-chan,
kaeru. Otou-sama pasti khawatir"
Anak
laki-laki itu hanya memandang gadis kecil itu dengan seksama. Dia sangat
menyayangi adiknya seperti dia menyayangi Ibunya. Mereka berdua adalah
dukungannya dalam mengerjakan apapun. Mereka selalu menyemangatinya di saat dia
hampir jatuh. Tapi hanya adiknya yang ada di sampingnya. Itu pun jika Ayahnya
tidak mengirimnya ke Paris seperti yang dia dengar dari rencana Ayahnya.
"nee,
Nii-chan. Kaasan pasti bahagia di atas sana, jadi kita tidak boleh sedih agar
Kaasan tidak sedih di sana. Nee"
Dia
bersyukur adiknya masih memberi semangat padanya. Walaupun dia masih kecil tapi
dia pintar mengerti perasaan orang lain sama seperti Ibunya.
Dia
tersenyum lalu berjalan bersama menjauhi nisan tersebut.
Lima tahun
kemudian . . . .
Angin
awal musim dingin menerpa wajahku ketika keluar dari pesawat jet yang membawaku
pulang. Sejenak aku menghirup udara
segar ini. Benar-benar menyenangkan kembali ke kampung halaman.
"Nanase-sama,
mobil jemputan sudah datang"
Suara
pengawal laki-laki yang selalu ikut kemanapun aku pergi. Aku menghela nafas
pelan. Baru saja aku sampai dan ingin santai sedikit tapi di ganggu. Tidak
bisakah tinggalkan aku sendiri sehari saja.
Pengawal
itu terus menyuruhku untuk cepat keluar dari bandara. Beberapa pengawal yang di
perintah Ayah juga ikut menjemputku. Semua orang memandang ke arahku karena
keramaian ini. Ku ambil topi lebarku yang berada di troli lalu ku pakai agar
tidak terlihat oleh orang banyak.
Setelah
masuk ke dalam mobil ku keluarkan ponselku lalu menekan tombol 2 yang langsung
terhubung pada sebuah nomor. Siapa lagi kalau bukan nomor Nii-chan. Aku ingin
dia tau aku pulang hari ini.
Sudah lama sejak tiga tahun lalu aku belum
bertemu dengannya. Aku ingin tau seperti apa dia sekarang. Bukankah dia sekarang
anak SMA? Pasti dia sangat tampan.
Lama
aku menunggu tidak ada jawaban. Mungkin dia sedang sibuk. Aku akan
mengirimkannya pesan agar dia bisa membacanya nanti. Setelah selesai ku
masukkan ponselku ke dalam tas lalu memandang jalanan yang ramai.
Aku
benar-benar rindu dengan negara ini. Berkumpul dengan Ayah dan Nii-chan saat
natal tiba, makan bersama, bercanda bersama. Tapi mungkin tahun ini akan sama
seperti tahun-tahun sebelumnya. Ayah akan sibuk dengan urusan pekerjaannya dan
tidak pulang.
Entah
kenapa sejak Ibu meninggal hubungan keluarga kami tidak seperti dulu lagi.
Meskipun Ayah tetap memberi tugas terus menerus pada Nii-chan setidaknya aku
bisa bersama dengannya. Tapi setelah aku kembali ke Paris Nii-chan jarang
menghubungiku, bahkan tidak pernah. Aku sempat khawatir jika terjadi sesuatu
padanya. Tapi kata pengawalku yang selalu ikut kemanapun aku pergi Nii-chan
sedang sibuk dengan urusan sekolah.
"hahh...",
entahlah. Semoga dia baik-baik saja.
Satu
setengah jam aku berada di dalam mobil yang melaju ke rumahku akhirnya sampai
juga. Segera aku keluar begitu mobil berhenti di depan pintu. Beberapa pelayan
menyambutku. Rasanya ada yang aneh dengan sambutan ini.
Aku
berhenti sejenak menatap salah satu pelayan yang tidak ku kenal bahkan tidak
pernah ku tau. "apa Ayah di rumah?"
"Tuan
belum pulang kemungkinan akan pulang lusa depan, beliau berpesan agar anda
segera istirahat", ucap pelayan itu singkat.
Mendengar
hal itu aku benar-benar kecewa. "bagaimana dengan Nii-chan?"
"Tuan
Muda juga belum pulang dari sekolahnya, mungkin Tuan Muda akan pulang terlambat
hari ini"
Tidak
pulang?
"kenapa?"
"Tuan
Muda mengikuti turnamen basket sehingga telat pulang"
Mungkin
ini salah satu penyebab kenapa Nii-chan jarang sekali pulang. Tunggu, jika Nii-chan
hari ini ada pertandingan aku harus melihat dan mendukungnya. Jam tanganku
menunjukkan pukul 1 siang hari. Berarti aku masih punya waktu untuk
bersiap-siap.
"Nona?"
Ku
tatap pengawal setiaku. "aku ingin melihat pertandingan Ni-chan hari ini.
Kalian tidak perlu mengantarku aku akan pergi sendiri"
Tanpa
mendengar bantahan mereka aku segera menuju kamar dan bersiap. Ini akan menjadi
kejutan untuk Nii-chan.
***
Ku
raih jaket tebalku lalu meraih tas kecil yang sudah ku siapkan di atas ranjang.
Hampir saja aku berteriak melihat pengawalku berdiri di depan pintu. Sejak
kapan dia ada di sana?
"saya
akan ikut bersama anda, Nona"
Ku
pegangi dahiku. Aku lupa jika dia orang yang keras kepala. Mungkin lebih baik
aku mendapat pengawal yang lebih lembut saja. Dia benar-benar merepotkan. Jika
aku menolaknya dia akan tetap ikut bersamaku. Jujur saja sangat sulit melarikan
diri darinya. Aku heran sebenarnya dia pengawal atau mata-mata, kemanapun aku
berada dia selalu ada di sana.
"baiklah,
tapi ganti dulu style mu. Aku tidak ingin di kira dengan orang kau adalah
pembunuh bayaran yang mengikutiku. Setidaknya pakailah pakaian yang lebih
casual"
Dia
tidak berkutik sama sekali. Benar-benar merepotkan.
"aku
akan menunggumu. Ku beri waktu sepuluh menit kau harus sudah ada disini dan
dimulai dari sekarang"
Tak
kusangka dia benar pencaya dengan ucapnku. Dengan cepat dia berlari ke
belakang. Mungkin berganti pakaian seperti apa yang ku sarankan. Ini adalah
kesempatanku untuk kabur.
Buru-buru
aku keluar dari rumah dan berlari ke gerbang. Para penjaga terlihat bingung
melihatku.
"cepat
buka!!", ucapku sedikit teriak agar dia tidak mendengarnya.
Penjaga
yang mendengarnya segera membuka gerbang. "arigatou!!", teriakku
setelah melewati mereka.
Aku
terus berlari menjauh dari rumah. Aku harus segera menjauh dari dia jika tidak
dia akan mengejarku dan mengikutiku lagi. Memangnya siapa yang mau di ikuti
pengawal -laki-laki- meskipun dia masih muda.
Lima
belas menit berlari tanpa sadar aku telah sampai di pinggiran jalan raya. Kali
ini aku berjalan sambil mengatur nafasku. Sebuah box minuman berada di pinggir
jalan menarik perhatianku. Untung saja aku mempunyai uang koin.
Ku
masukkan beberapa koin lalu memencet salah satu tombol yang ada. Minuman kaleng
isotonik keluar. Dengan cepat aku mengambilnya dan langsung meminumnya. Aku benar-benar
merasa dehidrasi di awal musim dingin ini. Dan sepertinya aku harus seringberolahraga.
Baru
saja aku berbalik berniat mencari halte bus seorang laki-laki berlari dengan
cepat ke arahku. Tepat berada di hadapanku dia berhenti dengan nafas yang
berat. Dengan seksama ku pandangi laki-laki ini. Seperti pernah melihatnya tapi
lupa dimana. Baru saja aku tiba di Jepang dan sudah di kenal orang.
Dia
menatapku setelah nafasnya kembali normal. "Nona bukankah anda bilang anda
akan menunggu saya"
Suara
ini. "SORA ?!?!"
Kenapa
dia sampai di sini? Padahal aku sudah berlari menjauhinya dan dia bisa
mengejarku. Bahkan bisa menemukanku di tempat ramai ini. Dan lagi aku sampai
tidak mengenalnya karena aku tidak pernah melihatnya memakai pakaian selain
pakaian kerjanya.
"kalau
kau kemari untuk membawaku pulang aku menolak, jika kau mau ikut tak masalah
asal jangan banyak bicara dan protes"
Melihatnya
berjuang mencariku kasian juga. Berkali-kali aku seperti ini dan dia selalu
menemukanku membuatku kesal tapi juga kasian karena dia mempunyai tanggung
jawab untuk menjagaku. Aku kembali membeli minuman mengingat uang koin ku masih
ada.
"ini",
kulemparkan minuman kaleng yang baru kubeli padanya dan dia bisa menangkapnya
dengan pas.
Aku
berbalik mencari dimana halte berada. Setelah bertanya pada seorang pejalan
kaki akhirnya aku bisa menemukan dimana halte terdekat. Ku lihat dia sudah
menghabiskan minumannya dan sedang membuang kaleng itu.
Lagi-lagi
aku punya pikiran jelek. Selagi dia membuang dan tidak memperhatikanku aku
segera berlari jika tidak ada sebuah suara yang menghentikanku.
"sebaiknya
Nona tidak melarikan diri lagi selagi saya membuang sampah"
Menyebalkan,
bagaimana dia tau niatku ingin melarikan diri lagi. Aku yakin dia tidak
memperhatikanku tadi malahan aku sama sekali tidak terlihat dari arah matanya.
Setelah beberapa detik menunggunya membuang sampah aku berbalik dan berjalan
dengan kesal menuju halte.
Aku
bisa tau dia berjalan di belakangku dan sedang mengawasiku. Benar-benar
memalukan. Beberapa orang melihat ke arah belakangku. Aku merasa merinding
sendiri dengan tatapan mereka seperti ada hantu yang mengikutiku dari belakang
dan hanya aku yang tidak bisa melihat hantu itu.
Kuhentakkan
kakiku ketanah lalu berhenti. Dengan cepat aku berbalik menatapnya dengan
kesal. Bagaimana tidak kesal jika kau akan di ikuti terus selama 24 jam dan
itupun jika kau melarikan diri dia selalu menemukanmu dengan cepat.
"Nona?",
dia menatapku dengan pandangan bertanya.
"dengar,
aku tidak ingin orang-orang melihatmu karena kau selalu mengawasiku dari
belakang karena kau pengawalku. Kau tau, kau seperti hantu yang terus
mengikutiku kemanapun aku pergi dan itu menyebalkan. Lebih baik kau berjalan di
sampingku kalau tidak mau pulang saja sana"
Ku
hembuskan nafas dengan berat. Menyebalkan, kenapa orang seperti dia menjadi
pengawalku?
Ku
lanjutkan jalanku tidak menoleh ke belakang. Aku tidak perduli jika dia masih
berada di belakangku untuk mengawasiku. Aku sudah lelah melarikan diri terus
dan tidak membuahkan hasil. Di tambah dia hebat bela diri. Pernah aku
memukulnya dengan shinai dan dia
dengan mudah menangkisnya dengan sebelah tangan. Bahkan saat aku akan menendang
betisnya karena kesal dia malah menghindar dengan cepat dan membuatku terjatuh
di depan banyak orang.
Mengingat
hal itu membuatku semakin kesal karena malu. Kenapa aku harus mengingatnya
lagi. Kejadian itu benar-benar memalukan. Tidak perlu di ingat.
Persimpangan
terlihat dari depan. Tinggal belok kiri dan berjalan beberapa meter akan
terlihat halte. Sebelum itu aku harus menyebrang. Bersama beberapa orang aku
berhenti menunggu giliran menyebrang.
Hampir
saja kau membuat keributan karena melihatnya berada di sampingku menunggu lampu
hijau. Ku pikir dia pulang atau kemana. Tak kusangka dia benar-benar berjalan
di sampingku.
"apa
yang kau lakukan di sini?"
Dia
menoleh, "Nona bilang jika aku tidak ingin pulang dan tetap mengikuti Nona
saya harus berjalan di samping Nona"
Benar
juga. "i..iya, tapi setidaknya kau bilang sejak tadi, aku jadi kaget"
"Nona"
"apa
lagi?"
"lampunya
sudah hijau", di tunjuknya lampu penyebrang berwarna hijau.
Dengan
cepat aku segera menyebrang karena tinggal kami berdua yang belum menyebrang.
Aku membiarkannya berjalan di sampingku sampai tiba di halte. Setelah melihat
alur perjalanan bis yang akan ku tumpangi aku menunggu bis yang datang seperti
orang-orang yang ada di halte.
Hanya
ada beberapa orang saja yang berada di halte. Dua orang pemuda menatapku dengan
aneh. Seperti orang yang sedang mengincar mangsa. Jangan-jangan pencuri. Ku
pegang tas kecilku dengan erat. Walaupun isinya hanya beberapa lembar uang yang
tidak banyak dan nota serta pensil aku tidak mau kehilangan benda ini. Meski
sederhana mereka berharga.
Tak
lama sebuah bis muncul. Setelah berhenti beberapa orang turun dan giliran ku
untuk masuk. Setelah membayar kucari tempat duduk yang pas. Berada di dekat
jendela yang tidak terlalu di belakang. Ku lihat dia berada di sisi lain tempat
ku duduk. Bis ini tidak terlalu penuh jadi banyak tempat yang kosong di
belakang.
Dia
menatap ke depan tidak mengawasiku sama sekali. Kalau di lihat-lihat dia
lumayan juga untuk laki-laki muda dan sepertinya dia seumuran dengan Nii-chan.
Atau mungkin sedikit lebih tua dengan Nii-chan.
Aku
belum mengenalnya lebih jauh. Dia hanya menjadi pengawalku sejak tiga bulan
lalu karena pengawalku yang sebelumnya wanita dan sedang hamil jadi dia menggantikannya.
Yang ku tau dia sudah di latih untuk menjadi seorang pengawal dan dia lulus tes
dengan nilai terbaik. Jadi jika menjadi pengawal harus tes dulu? Seperti
sekolah saja.
Memang
tidak ada ruginya mendapat pengawal sepertinya tapi rasa setianya melebihi
apapun. Yang ku katakan dia bisa menemukanmu dengan cepat itu memang benar. aku
heran apa dia punya mata byakugan
seperti yang ada di manga lalu bisa menemukanku dengan cepat. Dia juga
mempunyai reflek yang kuat dan juga sikap yang tegas. Belum lagi dia pintar,
terkadang dia mengajariku tapi tidak mau ku suruh mengerjakan PR ku.
"hei,"
Dia
tidak menoleh. Benar-benar. Salah satu kelemahannya adalah terkadang bersikap
seperti orang bodoh. Entah dia sengaja atau tidak.
"Sora",
Akhirnya
dia menoleh. "apa asalmu dari Paris? Kata Risty kau dari Jepang, apa kau
tidak ingin pulang ke rumahmu?"
Bukannya
menjawab dia malah kembali menatap ke arah depan. Tidak sopan. Kalau bukan
karena Risty -pengawalku yang lama- menawarinya padaku mungkin sudah ku ganti
dia sejak kemarin-kemarin.
Ku
putuskan kembali menatap jalan. Hari ini benar-benar menyebalkan. Lebih
menyebalkan dari yang kemarin dan kemarin dan kemarin dan kemarinnya lagi.
Tapi
pada akhirnya dia bicara juga.
"tugas
saya menjaga Nona, jadi saya tidak punya niat untuk kembali ke rumah"
Meskipun
pelan aku masih bisa mendengarnya dengar jelas. Tapi aku pura-pura tidak
mendengarnya. Biar dia pikir jika aku sedang marah dengannya.
"tapi
jika suatu saat nanti keluarga saya ingin saya kembali mungkin saya akan
kembali dan berhenti untuk menjadi pengawal Nona"
Jika
keluarga yang menginginkan? Apa dia punya masalah dengan keluarganya sehingga
harus bekerja keras seperti ini? Mungkin aku memang keterlaluan selalu
membuatnya susah. Dan juga dia berjuang untuk bisa lulus menjadi seorang
pengawal yang baik.
Baru
saja aku ingin mengucapkan kata maaf bis pun sampai pada tujuan. Aku segera berdiri
dan bersiap keluar. Seseorang yang duduk di depan berdiri di saat aku berjalan
untuk keluar. Sontak dia menbrakku dan hampir saja terjatuh jika tidak ada
seseorang yang memegangku.
Kepalaku
terangkat untuk melihat siapa yang menopangku. Dia. Menangkap tubuhku yang
mapir terjatuh tapi tangannya yang lain memegang ke arah lain. Tangan orang
yang menabrakku memegang tas kecilku sedangkan tangan Sora memegangnya.
"kalau
ingin mendapatkan uang jangan seperti ini", ucapnya pada pemuda yang tadi
ku lihat di halte. Dengan sedikit takut dia dan temannya segera keluar dari bis
dan berlari menjauh. Benar-benar heroik, ternyata dia benar-benar punya hati
seorang pengawal.
Kurasakan
perutku terasa aneh. Saat ku lihat sebuah tangan melingkari perutku dengan erat
dan itu adalah tangan Sora. Dan sekarang setelah masalah selesai dia masih
memeganggnya. Bahkan Nii-chan tidak pernah melakukan ini padaku. Dan sekarang
seorang pengawal yang menjengkelkan melakukannya padaku.
"kyyaaaaaa........"
***
"Nona"
...
"Nona"
...
"Nona"
"jangan
mengikutiku. Lebih kau pulang sana. Aku tidak butuh pengawalanmu yang tidak
senonoh. Dasar hentai. Akan ku bilang
pada Ayah apa yang sudah kau lakukan padaku"
"tapi
saya sudah menyelamatkan Nona"
"iya,
tapi dengan pelecehan"
"itu
namanya menolong seorang gadis"
Aku
benar-benar frustasi mengahadapinya. Ku tarik ucapanku untuk berterima kasih
dengannya. Mungkin keluarganya benar mengusirnya dari rumah. Perilakunya saja
seperti itu apa lagi yang sudah membuatnya terusir dari rumah. Apa mungkin dia
sudah melakukan 'itu' pada seorang gadis dan ketahuan lalu diusir dari rumah. Aku
tidak bisa membayangkannya. Aku sudah tidak kuat lagi.
"Nona"
Ku
abaikan panggilannya tetap berjalan menuju Gymnasium tempat Nii-chan
bertanding. Ku harap belum dimulai. Langkahku berganti berlari saat mendengar
suara sorakan penonton. Sepertinya aku benar-benar terlambat.
Benar
sekali pertandingan sudah di mulai dan semua bangku sudah penuh terpaksa aku
menontonnya dari atas. Jika saja dia tidak ikut mungkin aku sudah mendapat
tempat paling depan. Menyebalkan, ini semua gara-gara pengawal menyebalkan dan hentai itu.
"Nona,
sudah di mulai?"
"ini
semua gara-gara kau, jika kau tidak membuat masalah tadi kita pasti mendapat
tempat di depan sana"
"sepertinya
Tuan Muda menang"
Apa?!
Cepat-cepat ku lihat papan skor. Benar, baru babak pertama sudah sangat jauh
perbandingannya. Memang sekuat itukah sekolah Nii-chan? Tapi ada yang aneh. Aku
tidak bisa menemukan Nii-chan di lapangan. Padahal pertandingan masih berjalan.
Atau jangan-jangan dia cidera lalu tidak bisa bermain.
"Tuan
Muda tidak bermain lagi"
"apa?!"
"di
bench"
Kucari
sosok Nii-chan di bench. Atta. Are? Kenapa Nii-chan di bench? Dia terlihat
baik-baik saja. Apa dia tidak bermain? Kenapa?Tunggu tadi dia bilang Nii-chan
tidak bermain lagi, memang dia pernah melihat Nii-chan bermain.
"hei,
kau bilang Nii-chan tidak bermain lagi, maksudmu apa?"
"Tuan
Muda punya masalah sendiri dengan temannya. Tuan Muda tidak akan bermain jika
lawannya bukan rekan setimnya di SMP dulu"
"kau
berbicara seolah kau tau segalanya"
Sejenak
dia terlihat mencurigakan. Seperti bingung mencari alasan. "itu karena aku
mendengarnya dari pengawal lainnya". Entah perasaanku atau dia memang
gugup. Dia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
PRRIIIIIIIIIIIITTTTT
Suara
peluit berbunyi kulihat semua pemain keluar dari lapangan dan mulai masuk ke
dalam, termasuk Nii-chan. Akan ku beri kejutan untuknya. Aku berbalik berniat
menuju ruang ganti Nii-chan. Tapi belum ada satu langkah dia menggangguku lagi.
Sekarang
dia berdiri di depanku seperti menghalangiku untuk pergi bertemu Nii-chan.
sepertinya inilah batas kesabaranku.
"sekarang
apa lagi? Kau menghalangiku untuk bertemu Nii-chan?"
"hai"
Mungkin
aku harus menggantinya nanti setelah tiba di rumah. Ku paksakan dia menyingkir
dari hadapanku. Dengan usaha keras saling mendorong akhirnya dia mulai lengah
dan aku pergi dengan cepat.
Dengan
sedikit berlari ku cari dimana tempat Nii-chan berada. Kebetulan ada panitia
yang lewat segera aku bertanya. Syukur dia baik dan mau memberi tauku dimana
tempat Nii-chan. Jarang-jarang ada panitia yang mau memberi tau ruang ganti
para pemain.
Sekarang.
Dihadapanku sebuah pintu dengan bertuliskan Rakuzan siap ku ketuk lalu bertemu Nii-chan
yang pasti akan terkejut dengan kedatanganku. Tapi kenapa malah diriku yang
berdebar? Seharusnya aku senang akhirnya bisa bertemu Nii-chan dan bisa
memberinya semangat saat ini. Tapi entah kenapa ada perasaan yang menggangguku.
CKLEK
Dengan
cepat aku berbalik dan akan pergi dari tempat itu. Tunggu, kenapa aku harus
pergi seharusnya aku bisa bertemu dengan Nii-chan sekarang.
"maaf,
bisakah ak-", ucapanku berhenti setelah berbalik dan melihat orang yang
ternyata membuka pintu itu. Dadaku berdebar kencang. Rasa senang dan takut
bercampur menjadi satu. Aku bahkan lupa bagaimana cara untuk bernafas.
Dia
menatap ku intens. Ada yang aneh dari tatapan itu. Aku tidak tau apa tapi ada
yang berbeda dengannya. Aku hanya bisa menelan ludah saat dia tersenyum
kepadaku. Rasanya senyum itu bukan seperti senyum yang dulu dia berikan padaku.
"lama
tidak bertemu, Nanase"
Sekuat
tenaga ku kumpulkan suaraku. "ap..apa kabar Nii-chan"
"NONA!!!"
Suara
Sora terdengar dari jauh tapi aku tidak bisa berbalik untuk melihatnya. Tubuhku
seakan kaku hanya dengan menatap mata Nii-chan. Tidak pernah aku seperti ini
terlebih gara-gara Nii-chan. Dulu jika aku bertemu dengannya pasti aku berlari
ke arahnya dan memeluknya, dan Nii-chan pasti akan menyambutku dengan senyum
yang lembut seperti Ibu. Tapi kali ini aku tidak bisa berbuat apa-apa meskipun
dia memberiku senyum yang bagiku berbeda. Ada rasa ketakutan ku pada Nii-chan.
Aku merasa dia bukan Nii-chan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar