Selasa, 01 Juli 2014

mendokusai bodyguart chap 1



Tak banyak orang yang menangisi saat itu. Bahkan hanya orang-orang penting saja yang hadir dalam pemakaman. Anak laki-laki itu berdiri terdiam di depan nisan Ibunya. Tangannya menggenggam tangan lain yang lebih kecil darinya. Gadis kecil itu tidak menangis sama sekali. Dia mengerti nisan siapa yang ada di depannya tapi dia tidak menangis.
Setelah para peziarah pergi salah seorang pengawal yang di utus oleh Ayah mereka datang.
"Tuan Akashi, menyuruh Tuan Muda dan Nona segera pulang"
Mereka tidak beranjak masih menatap nisan tersebut. Menatap wajah sang Ibu yang masih tersenyum. Gadis kecil itu menatap Kakaknya. Kepalanya mendongak menatap wajah Kakaknya.
"Nii-chan, kaeru. Otou-sama pasti khawatir"
Anak laki-laki itu hanya memandang gadis kecil itu dengan seksama. Dia sangat menyayangi adiknya seperti dia menyayangi Ibunya. Mereka berdua adalah dukungannya dalam mengerjakan apapun. Mereka selalu menyemangatinya di saat dia hampir jatuh. Tapi hanya adiknya yang ada di sampingnya. Itu pun jika Ayahnya tidak mengirimnya ke Paris seperti yang dia dengar dari rencana Ayahnya.
"nee, Nii-chan. Kaasan pasti bahagia di atas sana, jadi kita tidak boleh sedih agar Kaasan tidak sedih di sana. Nee"
Dia bersyukur adiknya masih memberi semangat padanya. Walaupun dia masih kecil tapi dia pintar mengerti perasaan orang lain sama seperti Ibunya.
Dia tersenyum lalu berjalan bersama menjauhi nisan tersebut.

Lima tahun kemudian . . . .
Angin awal musim dingin menerpa wajahku ketika keluar dari pesawat jet yang membawaku pulang.  Sejenak aku menghirup udara segar ini. Benar-benar menyenangkan kembali ke kampung halaman.
"Nanase-sama, mobil jemputan sudah datang"
Suara pengawal laki-laki yang selalu ikut kemanapun aku pergi. Aku menghela nafas pelan. Baru saja aku sampai dan ingin santai sedikit tapi di ganggu. Tidak bisakah tinggalkan aku sendiri sehari saja.
Pengawal itu terus menyuruhku untuk cepat keluar dari bandara. Beberapa pengawal yang di perintah Ayah juga ikut menjemputku. Semua orang memandang ke arahku karena keramaian ini. Ku ambil topi lebarku yang berada di troli lalu ku pakai agar tidak terlihat oleh orang banyak.
Setelah masuk ke dalam mobil ku keluarkan ponselku lalu menekan tombol 2 yang langsung terhubung pada sebuah nomor. Siapa lagi kalau bukan nomor Nii-chan. Aku ingin dia tau aku pulang hari ini.
 Sudah lama sejak tiga tahun lalu aku belum bertemu dengannya. Aku ingin tau seperti apa dia sekarang. Bukankah dia sekarang anak SMA? Pasti dia sangat tampan.
Lama aku menunggu tidak ada jawaban. Mungkin dia sedang sibuk. Aku akan mengirimkannya pesan agar dia bisa membacanya nanti. Setelah selesai ku masukkan ponselku ke dalam tas lalu memandang jalanan yang ramai.
Aku benar-benar rindu dengan negara ini. Berkumpul dengan Ayah dan Nii-chan saat natal tiba, makan bersama, bercanda bersama. Tapi mungkin tahun ini akan sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ayah akan sibuk dengan urusan pekerjaannya dan tidak pulang.
Entah kenapa sejak Ibu meninggal hubungan keluarga kami tidak seperti dulu lagi. Meskipun Ayah tetap memberi tugas terus menerus pada Nii-chan setidaknya aku bisa bersama dengannya. Tapi setelah aku kembali ke Paris Nii-chan jarang menghubungiku, bahkan tidak pernah. Aku sempat khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Tapi kata pengawalku yang selalu ikut kemanapun aku pergi Nii-chan sedang sibuk dengan urusan sekolah.
"hahh...", entahlah. Semoga dia baik-baik saja.
Satu setengah jam aku berada di dalam mobil yang melaju ke rumahku akhirnya sampai juga. Segera aku keluar begitu mobil berhenti di depan pintu. Beberapa pelayan menyambutku. Rasanya ada yang aneh dengan sambutan ini.
Aku berhenti sejenak menatap salah satu pelayan yang tidak ku kenal bahkan tidak pernah ku tau. "apa Ayah di rumah?"
"Tuan belum pulang kemungkinan akan pulang lusa depan, beliau berpesan agar anda segera istirahat", ucap pelayan itu singkat.
Mendengar hal itu aku benar-benar kecewa. "bagaimana dengan Nii-chan?"
"Tuan Muda juga belum pulang dari sekolahnya, mungkin Tuan Muda akan pulang terlambat hari ini"
Tidak pulang?
"kenapa?"
"Tuan Muda mengikuti turnamen basket sehingga telat pulang"
Mungkin ini salah satu penyebab kenapa Nii-chan jarang sekali pulang. Tunggu, jika Nii-chan hari ini ada pertandingan aku harus melihat dan mendukungnya. Jam tanganku menunjukkan pukul 1 siang hari. Berarti aku masih punya waktu untuk bersiap-siap.
"Nona?"
Ku tatap pengawal setiaku. "aku ingin melihat pertandingan Ni-chan hari ini. Kalian tidak perlu mengantarku aku akan pergi sendiri"
Tanpa mendengar bantahan mereka aku segera menuju kamar dan bersiap. Ini akan menjadi kejutan untuk Nii-chan.
***
Ku raih jaket tebalku lalu meraih tas kecil yang sudah ku siapkan di atas ranjang. Hampir saja aku berteriak melihat pengawalku berdiri di depan pintu. Sejak kapan dia ada di sana?
"saya akan ikut bersama anda, Nona"
Ku pegangi dahiku. Aku lupa jika dia orang yang keras kepala. Mungkin lebih baik aku mendapat pengawal yang lebih lembut saja. Dia benar-benar merepotkan. Jika aku menolaknya dia akan tetap ikut bersamaku. Jujur saja sangat sulit melarikan diri darinya. Aku heran sebenarnya dia pengawal atau mata-mata, kemanapun aku berada dia selalu ada di sana.
"baiklah, tapi ganti dulu style mu. Aku tidak ingin di kira dengan orang kau adalah pembunuh bayaran yang mengikutiku. Setidaknya pakailah pakaian yang lebih casual"
Dia tidak berkutik sama sekali. Benar-benar merepotkan.
"aku akan menunggumu. Ku beri waktu sepuluh menit kau harus sudah ada disini dan dimulai dari sekarang"
Tak kusangka dia benar pencaya dengan ucapnku. Dengan cepat dia berlari ke belakang. Mungkin berganti pakaian seperti apa yang ku sarankan. Ini adalah kesempatanku untuk kabur.
Buru-buru aku keluar dari rumah dan berlari ke gerbang. Para penjaga terlihat bingung melihatku.
"cepat buka!!", ucapku sedikit teriak agar dia tidak mendengarnya.
Penjaga yang mendengarnya segera membuka gerbang. "arigatou!!", teriakku setelah melewati mereka.
Aku terus berlari menjauh dari rumah. Aku harus segera menjauh dari dia jika tidak dia akan mengejarku dan mengikutiku lagi. Memangnya siapa yang mau di ikuti pengawal -laki-laki- meskipun dia masih muda.
Lima belas menit berlari tanpa sadar aku telah sampai di pinggiran jalan raya. Kali ini aku berjalan sambil mengatur nafasku. Sebuah box minuman berada di pinggir jalan menarik perhatianku. Untung saja aku mempunyai uang koin.
Ku masukkan beberapa koin lalu memencet salah satu tombol yang ada. Minuman kaleng isotonik keluar. Dengan cepat aku mengambilnya dan langsung meminumnya. Aku benar-benar merasa dehidrasi di awal musim dingin ini. Dan sepertinya aku harus seringberolahraga.
Baru saja aku berbalik berniat mencari halte bus seorang laki-laki berlari dengan cepat ke arahku. Tepat berada di hadapanku dia berhenti dengan nafas yang berat. Dengan seksama ku pandangi laki-laki ini. Seperti pernah melihatnya tapi lupa dimana. Baru saja aku tiba di Jepang dan sudah di kenal orang.
Dia menatapku setelah nafasnya kembali normal. "Nona bukankah anda bilang anda akan menunggu saya"
Suara ini. "SORA ?!?!"
Kenapa dia sampai di sini? Padahal aku sudah berlari menjauhinya dan dia bisa mengejarku. Bahkan bisa menemukanku di tempat ramai ini. Dan lagi aku sampai tidak mengenalnya karena aku tidak pernah melihatnya memakai pakaian selain pakaian kerjanya.
"kalau kau kemari untuk membawaku pulang aku menolak, jika kau mau ikut tak masalah asal jangan banyak bicara dan protes"
Melihatnya berjuang mencariku kasian juga. Berkali-kali aku seperti ini dan dia selalu menemukanku membuatku kesal tapi juga kasian karena dia mempunyai tanggung jawab untuk menjagaku. Aku kembali membeli minuman mengingat uang koin ku masih ada.
"ini", kulemparkan minuman kaleng yang baru kubeli padanya dan dia bisa menangkapnya dengan pas.
Aku berbalik mencari dimana halte berada. Setelah bertanya pada seorang pejalan kaki akhirnya aku bisa menemukan dimana halte terdekat. Ku lihat dia sudah menghabiskan minumannya dan sedang membuang kaleng itu.
Lagi-lagi aku punya pikiran jelek. Selagi dia membuang dan tidak memperhatikanku aku segera berlari jika tidak ada sebuah suara yang menghentikanku.
"sebaiknya Nona tidak melarikan diri lagi selagi saya membuang sampah"
Menyebalkan, bagaimana dia tau niatku ingin melarikan diri lagi. Aku yakin dia tidak memperhatikanku tadi malahan aku sama sekali tidak terlihat dari arah matanya. Setelah beberapa detik menunggunya membuang sampah aku berbalik dan berjalan dengan kesal menuju halte.
Aku bisa tau dia berjalan di belakangku dan sedang mengawasiku. Benar-benar memalukan. Beberapa orang melihat ke arah belakangku. Aku merasa merinding sendiri dengan tatapan mereka seperti ada hantu yang mengikutiku dari belakang dan hanya aku yang tidak bisa melihat hantu itu.
Kuhentakkan kakiku ketanah lalu berhenti. Dengan cepat aku berbalik menatapnya dengan kesal. Bagaimana tidak kesal jika kau akan di ikuti terus selama 24 jam dan itupun jika kau melarikan diri dia selalu menemukanmu dengan cepat.
"Nona?", dia menatapku dengan pandangan bertanya.
"dengar, aku tidak ingin orang-orang melihatmu karena kau selalu mengawasiku dari belakang karena kau pengawalku. Kau tau, kau seperti hantu yang terus mengikutiku kemanapun aku pergi dan itu menyebalkan. Lebih baik kau berjalan di sampingku kalau tidak mau pulang saja sana"
Ku hembuskan nafas dengan berat. Menyebalkan, kenapa orang seperti dia menjadi pengawalku?
Ku lanjutkan jalanku tidak menoleh ke belakang. Aku tidak perduli jika dia masih berada di belakangku untuk mengawasiku. Aku sudah lelah melarikan diri terus dan tidak membuahkan hasil. Di tambah dia hebat bela diri. Pernah aku memukulnya dengan shinai dan dia dengan mudah menangkisnya dengan sebelah tangan. Bahkan saat aku akan menendang betisnya karena kesal dia malah menghindar dengan cepat dan membuatku terjatuh di depan banyak orang.
Mengingat hal itu membuatku semakin kesal karena malu. Kenapa aku harus mengingatnya lagi. Kejadian itu benar-benar memalukan. Tidak perlu di ingat.
Persimpangan terlihat dari depan. Tinggal belok kiri dan berjalan beberapa meter akan terlihat halte. Sebelum itu aku harus menyebrang. Bersama beberapa orang aku berhenti menunggu giliran menyebrang.
Hampir saja kau membuat keributan karena melihatnya berada di sampingku menunggu lampu hijau. Ku pikir dia pulang atau kemana. Tak kusangka dia benar-benar berjalan di sampingku.
"apa yang kau lakukan di sini?"
Dia menoleh, "Nona bilang jika aku tidak ingin pulang dan tetap mengikuti Nona saya harus berjalan di samping Nona"
Benar juga. "i..iya, tapi setidaknya kau bilang sejak tadi, aku jadi kaget"
"Nona"
"apa lagi?"
"lampunya sudah hijau", di tunjuknya lampu penyebrang berwarna hijau.
Dengan cepat aku segera menyebrang karena tinggal kami berdua yang belum menyebrang. Aku membiarkannya berjalan di sampingku sampai tiba di halte. Setelah melihat alur perjalanan bis yang akan ku tumpangi aku menunggu bis yang datang seperti orang-orang yang ada di halte.
Hanya ada beberapa orang saja yang berada di halte. Dua orang pemuda menatapku dengan aneh. Seperti orang yang sedang mengincar mangsa. Jangan-jangan pencuri. Ku pegang tas kecilku dengan erat. Walaupun isinya hanya beberapa lembar uang yang tidak banyak dan nota serta pensil aku tidak mau kehilangan benda ini. Meski sederhana mereka berharga.
Tak lama sebuah bis muncul. Setelah berhenti beberapa orang turun dan giliran ku untuk masuk. Setelah membayar kucari tempat duduk yang pas. Berada di dekat jendela yang tidak terlalu di belakang. Ku lihat dia berada di sisi lain tempat ku duduk. Bis ini tidak terlalu penuh jadi banyak tempat yang kosong di belakang.
Dia menatap ke depan tidak mengawasiku sama sekali. Kalau di lihat-lihat dia lumayan juga untuk laki-laki muda dan sepertinya dia seumuran dengan Nii-chan. Atau mungkin sedikit lebih tua dengan Nii-chan.
Aku belum mengenalnya lebih jauh. Dia hanya menjadi pengawalku sejak tiga bulan lalu karena pengawalku yang sebelumnya wanita dan sedang hamil jadi dia menggantikannya. Yang ku tau dia sudah di latih untuk menjadi seorang pengawal dan dia lulus tes dengan nilai terbaik. Jadi jika menjadi pengawal harus tes dulu? Seperti sekolah saja.
Memang tidak ada ruginya mendapat pengawal sepertinya tapi rasa setianya melebihi apapun. Yang ku katakan dia bisa menemukanmu dengan cepat itu memang benar. aku heran apa dia punya mata byakugan seperti yang ada di manga lalu bisa menemukanku dengan cepat. Dia juga mempunyai reflek yang kuat dan juga sikap yang tegas. Belum lagi dia pintar, terkadang dia mengajariku tapi tidak mau ku suruh mengerjakan PR ku.
"hei,"
Dia tidak menoleh. Benar-benar. Salah satu kelemahannya adalah terkadang bersikap seperti orang bodoh. Entah dia sengaja atau tidak.
"Sora",
Akhirnya dia menoleh. "apa asalmu dari Paris? Kata Risty kau dari Jepang, apa kau tidak ingin pulang ke rumahmu?"
Bukannya menjawab dia malah kembali menatap ke arah depan. Tidak sopan. Kalau bukan karena Risty -pengawalku yang lama- menawarinya padaku mungkin sudah ku ganti dia sejak kemarin-kemarin.
Ku putuskan kembali menatap jalan. Hari ini benar-benar menyebalkan. Lebih menyebalkan dari yang kemarin dan kemarin dan kemarin dan kemarinnya lagi.
Tapi pada akhirnya dia bicara juga.
"tugas saya menjaga Nona, jadi saya tidak punya niat untuk kembali ke rumah"
Meskipun pelan aku masih bisa mendengarnya dengar jelas. Tapi aku pura-pura tidak mendengarnya. Biar dia pikir jika aku sedang marah dengannya.
"tapi jika suatu saat nanti keluarga saya ingin saya kembali mungkin saya akan kembali dan berhenti untuk menjadi pengawal Nona"
Jika keluarga yang menginginkan? Apa dia punya masalah dengan keluarganya sehingga harus bekerja keras seperti ini? Mungkin aku memang keterlaluan selalu membuatnya susah. Dan juga dia berjuang untuk bisa lulus menjadi seorang pengawal yang baik.
Baru saja aku ingin mengucapkan kata maaf bis pun sampai pada tujuan. Aku segera berdiri dan bersiap keluar. Seseorang yang duduk di depan berdiri di saat aku berjalan untuk keluar. Sontak dia menbrakku dan hampir saja terjatuh jika tidak ada seseorang yang memegangku.
Kepalaku terangkat untuk melihat siapa yang menopangku. Dia. Menangkap tubuhku yang mapir terjatuh tapi tangannya yang lain memegang ke arah lain. Tangan orang yang menabrakku memegang tas kecilku sedangkan tangan Sora memegangnya.
"kalau ingin mendapatkan uang jangan seperti ini", ucapnya pada pemuda yang tadi ku lihat di halte. Dengan sedikit takut dia dan temannya segera keluar dari bis dan berlari menjauh. Benar-benar heroik, ternyata dia benar-benar punya hati seorang pengawal.
Kurasakan perutku terasa aneh. Saat ku lihat sebuah tangan melingkari perutku dengan erat dan itu adalah tangan Sora. Dan sekarang setelah masalah selesai dia masih memeganggnya. Bahkan Nii-chan tidak pernah melakukan ini padaku. Dan sekarang seorang pengawal yang menjengkelkan melakukannya padaku.
"kyyaaaaaa........"
***
"Nona"
...
"Nona"
...
"Nona"
"jangan mengikutiku. Lebih kau pulang sana. Aku tidak butuh pengawalanmu yang tidak senonoh. Dasar hentai. Akan ku bilang pada Ayah apa yang sudah kau lakukan padaku"
"tapi saya sudah menyelamatkan Nona"
"iya, tapi dengan pelecehan"
"itu namanya menolong seorang gadis"
Aku benar-benar frustasi mengahadapinya. Ku tarik ucapanku untuk berterima kasih dengannya. Mungkin keluarganya benar mengusirnya dari rumah. Perilakunya saja seperti itu apa lagi yang sudah membuatnya terusir dari rumah. Apa mungkin dia sudah melakukan 'itu' pada seorang gadis dan ketahuan lalu diusir dari rumah. Aku tidak bisa membayangkannya. Aku sudah tidak kuat lagi.
"Nona"
Ku abaikan panggilannya tetap berjalan menuju Gymnasium tempat Nii-chan bertanding. Ku harap belum dimulai. Langkahku berganti berlari saat mendengar suara sorakan penonton. Sepertinya aku benar-benar terlambat.
Benar sekali pertandingan sudah di mulai dan semua bangku sudah penuh terpaksa aku menontonnya dari atas. Jika saja dia tidak ikut mungkin aku sudah mendapat tempat paling depan. Menyebalkan, ini semua gara-gara pengawal menyebalkan dan hentai itu.
"Nona, sudah di mulai?"
"ini semua gara-gara kau, jika kau tidak membuat masalah tadi kita pasti mendapat tempat di depan sana"
"sepertinya Tuan Muda menang"
Apa?! Cepat-cepat ku lihat papan skor. Benar, baru babak pertama sudah sangat jauh perbandingannya. Memang sekuat itukah sekolah Nii-chan? Tapi ada yang aneh. Aku tidak bisa menemukan Nii-chan di lapangan. Padahal pertandingan masih berjalan. Atau jangan-jangan dia cidera lalu tidak bisa bermain.
"Tuan Muda tidak bermain lagi"
"apa?!"
"di bench"
Kucari sosok Nii-chan di bench. Atta. Are? Kenapa Nii-chan di bench? Dia terlihat baik-baik saja. Apa dia tidak bermain? Kenapa?Tunggu tadi dia bilang Nii-chan tidak bermain lagi, memang dia pernah melihat Nii-chan bermain.
"hei, kau bilang Nii-chan tidak bermain lagi, maksudmu apa?"
"Tuan Muda punya masalah sendiri dengan temannya. Tuan Muda tidak akan bermain jika lawannya bukan rekan setimnya di SMP dulu"
"kau berbicara seolah kau tau segalanya"
Sejenak dia terlihat mencurigakan. Seperti bingung mencari alasan. "itu karena aku mendengarnya dari pengawal lainnya". Entah perasaanku atau dia memang gugup. Dia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
PRRIIIIIIIIIIIITTTTT
Suara peluit berbunyi kulihat semua pemain keluar dari lapangan dan mulai masuk ke dalam, termasuk Nii-chan. Akan ku beri kejutan untuknya. Aku berbalik berniat menuju ruang ganti Nii-chan. Tapi belum ada satu langkah dia menggangguku lagi.
Sekarang dia berdiri di depanku seperti menghalangiku untuk pergi bertemu Nii-chan. sepertinya inilah batas kesabaranku.
"sekarang apa lagi? Kau menghalangiku untuk bertemu Nii-chan?"
"hai"
Mungkin aku harus menggantinya nanti setelah tiba di rumah. Ku paksakan dia menyingkir dari hadapanku. Dengan usaha keras saling mendorong akhirnya dia mulai lengah dan aku pergi dengan cepat.
Dengan sedikit berlari ku cari dimana tempat Nii-chan berada. Kebetulan ada panitia yang lewat segera aku bertanya. Syukur dia baik dan mau memberi tauku dimana tempat Nii-chan. Jarang-jarang ada panitia yang mau memberi tau ruang ganti para pemain.
Sekarang. Dihadapanku sebuah pintu dengan bertuliskan Rakuzan siap ku ketuk lalu bertemu Nii-chan yang pasti akan terkejut dengan kedatanganku. Tapi kenapa malah diriku yang berdebar? Seharusnya aku senang akhirnya bisa bertemu Nii-chan dan bisa memberinya semangat saat ini. Tapi entah kenapa ada perasaan yang menggangguku.
CKLEK
Dengan cepat aku berbalik dan akan pergi dari tempat itu. Tunggu, kenapa aku harus pergi seharusnya aku bisa bertemu dengan Nii-chan sekarang.
"maaf, bisakah ak-", ucapanku berhenti setelah berbalik dan melihat orang yang ternyata membuka pintu itu. Dadaku berdebar kencang. Rasa senang dan takut bercampur menjadi satu. Aku bahkan lupa bagaimana cara untuk bernafas.
Dia menatap ku intens. Ada yang aneh dari tatapan itu. Aku tidak tau apa tapi ada yang berbeda dengannya. Aku hanya bisa menelan ludah saat dia tersenyum kepadaku. Rasanya senyum itu bukan seperti senyum yang dulu dia berikan padaku.
"lama tidak bertemu, Nanase"
Sekuat tenaga ku kumpulkan suaraku. "ap..apa kabar Nii-chan"
"NONA!!!"
Suara Sora terdengar dari jauh tapi aku tidak bisa berbalik untuk melihatnya. Tubuhku seakan kaku hanya dengan menatap mata Nii-chan. Tidak pernah aku seperti ini terlebih gara-gara Nii-chan. Dulu jika aku bertemu dengannya pasti aku berlari ke arahnya dan memeluknya, dan Nii-chan pasti akan menyambutku dengan senyum yang lembut seperti Ibu. Tapi kali ini aku tidak bisa berbuat apa-apa meskipun dia memberiku senyum yang bagiku berbeda. Ada rasa ketakutan ku pada Nii-chan. Aku merasa dia bukan Nii-chan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar