LIKE YOU
Hari ini.Hari dimana
semuanya akan berubah.Semakin bertambah usia akan terus berubah . Kini aku
bukanlah anak kecil yang berada di SMA . Kini aku akan menuju kedewasaan yang
sebenarnya.Jauh dari rumah dan melakukan hal yang ku inginkan.
UNESA ,tempat dimana
aku akan menimba ilmu setelah lulus SMA.Aku tidak sendiri.Putri,sahabatku sejak
kelas 1 SMA masuk ke dalam universitas itu. Kami berencana untuk berbagi kamar
di kos putri dekat kampus.Dia tidak sejalan denganku.Dia mengambil kedokteran.Sedangkan
aku desain grafis yang sudah kuimpikan sejak masuk SMA.
Hari ini.Kami datang
ke kos bersama sama.Mengepak barang dan membeli bahan makanan untuk kami.Untuk
menuju ke pasar ,jika kami kesana kami harus melewati kampus dulu.Dari luar
tampak beberapa mahasiswa berdatangan.Mungkin mereka yang akan menjadi kakak
kelasku nantinya.
Aku melihat sebuah
mobil sport masuk melewati gerbang.Bukan mobilnya yang membuatku heran.Saat
mobil itu datang beberapa mahasiswi menghampiri mobil itu.Walaupun tidak
dekat,paling tidak mereka bisa melihat orang yang membuka pintu sopir mobil
itu. Belum sempat aku melihat,motor yang kami gunakan sudah melewati batas
kampus.
Pandanganku kembal
kedepan.Sepertinya putri tidak melihat apa yang barusan kulihat.Setidaknya dia
akan kuceritakan nantinya.Ya.Diantara kami tidak pernah ada yang
disembunyikan.Jika hal itu tidak masuk terlalu dalam ke privasi kami.
Tepat pukul 04.00 mataku terbuka setelah mendengar alarm
ponselku.Kulihat putri menggeliat resah mendengar alarm yang ku pasang.Aku
beranjak setelah mematikan alarm.Langkah lemasku karena masih cukup mengantuk
menuju kamar mandi yang tidak jauh dari kamar kost.
Sepertinya aku harus
memasang alarm lebih pagi lagi melihat beberapa anak kos sudah mengantri di
depan kamar mandi. Kulihat tetangga kamar kosku yang mengantri nomor dua dari
depan,Dia membawa handuk serta peralatan mandi yang berada di dalam gayung.
“ANIS”Kupanggil
namanya yang baru kuketahui kemaren.Dia menoleh lalu melambai lemas sepertinya
dia masih mengantuk.
“kamu nggak mandi?’
Kugelengkan kepalaku sebagai jawaban pertanyaannya.”Nanti
aja,jadwalku agak siangan kok.Aku mau wudhu aja” Dia mengangguk dua kali .
Kalau mau wudhu disamping ada pancuran yang biasa dibuat nyuci.
“oh.Makasih” Kakiku kembali melangkah ke tempat yang dikatakan
Anis. Setelah menemukannya dan mengambil air wudhu aku segera kembali ke kamar.
Kamar mandi tadi ada tiga dan berada di dalam.Aku baru ingat jika yang masuk ke
kos ini rata-rata mahasiswa baru sepertiku.Hanya beberapa senior yang ada
disini.
Kugoyangkan bahu
putri pukul 5 pagi.Dia sedang haid,jadi rasa malas selalu menyergapnya seperti
sekarang.Dia hanya menggeliat pelan dan merapatkan selimutnya.Kalau seperti ini
taktik itu harus digunakan.Kudekati telinganya yang tidak tertutup. Aku
berbisik disana.”irvan punya pacar sekarang” Dan dalam sekejap matanya terbuka
lalu bangkit dari tidurnya.Dia menatapku serius.Matanya berkaca-kaca.
“Yang bener?” Aku terkekeh melihatnya.Kurasa taktik itu berhasil.
Kuraih selimut kami.”mana aku tahu.ketemu aja nggak pernah apa lagi
tau pacarnya.,”ucapku sambil melipat selimut itu.Wajahnya kembali murung dan
siap tidur lagi.Belum sempat tubuhnya terbentur kasur , kutarik tangannya
sampai kembali duduk.
“Cepet bangun dan mandi”
“Memangnya sekarang jam berapa?”Matanya kembali menutup.
“Setengah 6,malahan sekarang 05.45” Ucapku sambil melihat jam meja
di atas meja kecil dekat lemari.”Anak kos pada antri loh.Kalau kamu nggak cepet
airnya nanti habis”
Matanya kembali terbuka.”O iya,aku lupa kalau aku sekarang ngekos”Dibukanya
lemari kecilnya mengeluarkan handuk.Diambilnya gayungnya yang sudah kusiapkan
beserta alat-alatnya.Tidak sampai 5 menit dia sudah keluar dari kamar.
“Dasar.Memang dia piker ini dirumah”Mengingat rumah ini sudah
seminggu aku ada disini.Seminggu lagi aku akan kembali kerumah.Memang sudah
kujadwalkan dua minggu sekali kusempatkan pulang.Jika tidak begitu Ibuku akan
mengomel panjang.
Pukul 07.00 kami
berangkat bersama menggunakan motor putri.Setiap hari kami bergantian
menggunakan nya.Hitung-hitung saling hemat bahan bakar.Setelah sampai 10 menit
perjalanan kami berpisah menuju gedung fakultas kami masing-masing.Putri
berjalan dengan teman fakultasnya saat mereka berpapasan. Dia sudah mempunyai
teman.Memang mudah dia dekat dengan seseorang.Mungkin kelasku ini sama dengan
kelasku saat kelas 2 dan 3 SMA.
Atau mungkin juga
aku sulit menerima teman.Aku yang sekarang cukup suka menyendiri sambil
mendengarkan music lewat earphone.Entahlah aku tidaktau,Semua orang bisa
berubah kapan saja kan ?
BRUKK!!
Sketch book dan pensil warna yang kubawa jatuh dengan tubuhku yang
kesakitan di daerah pantat.Tanpa membuang waktu kuambil pensil warnaku yang
berserakan di lantai.Sebuah tangan menyerahkan Sketch book dan tiga buah pensil
warna kepadaku.
Kepalaku sempat
panic melihat pemilik tangan putih itu.Seosok laki-laki yang baru kulihat
dengan wajah yang datar memberikan book skets dan pensil warnaku.Segera kuambil
barang-barangku lalu berdiri.Belum sempat mulutku mengeluarkan kata “Terima
Kasih” dia pergi begitu saja.
Dia tidak mengenakan
almamater sepertiku yang menunjukkan jika dia mahasiswa disini.Hanya
kemejas,dasi dan celana panjang dia orang kantoran yang dia miliki.Apa mungkin
dia adalah dosen disini?Kalau dia dosen kenapa aku tidak melihatnya saat
upacara penerimaan mahasiswa baru?
Tubuhku berbalik saat sebuah tepukan pelan dipundakku.Laki-laki
yang selama 5 hari masuk Universitas ini menjadi teman sekelasku menampilkan
senyum kecilnya.
“Sedang apa?” Mulutku terbuka ingin mengatakan yang sebenarnya tapi
kalimat yang keluar.”Nggak ada apa-apa”
“Ayo masuk”Aku mengangguk lalu berjalan disampingnya menuju
kelasku.Lorong ini belum cukup ramai sehingga besar tidak ada yang tau kejadian
tadi.Mungkin bukan hanya di SMA saja pengajar meninggalkan tugas.
Dosen yang sudah
kukenal 3 hari lalu memberi tugas pada kami karena ada urusan pribadi yang
mendesak.Dan sekarang aku bersama 3 orang teman sekelasku berkeliling
kampus.Tugas kami cukup sederhana.Menggambar desain gedung yang berada di
sekitar kampus.
Aku tidak tau kemana
aku peri.Hanya mengkuti arahan ketiga temanku saja.Lagipula belum ada inspirasi
yang masuk ke dalam otakku.”Bagaimana kalau ini?” Kepalaku terangkat saat suara
Lina terdengar di sela-sela lamunanku.Sangat terkejut melihat arah tunjuk
Lina.Gedung olahraga kampus. Aku tau gedung itu.Belum pernah,tidak.Tidak akan
pernah aku masuk kesana.Cukup melihatnya saja sudah membuatku sakit.
Debaran ini.Selalu
seperti ini jika menyangkut hal itu.Bukan debaran yang menyukai
tapi…entahlah.Rasa debaran ini selalu berganti.Senang,benci,keceewa,sedih
selalu berubah-ubah.Kini aku tidak tau debaran apa ini.
Tidak.Aku tidak ingin masuk kesana dan mengulang masa lalu itu.
“Anu,aku diluar saja.kalian saja yang masuk”
Semua menatapku heran.Rio menghampiriku.”Kenapa?Kamu sakit?
“Nggak,aku sudah dapat ide.Aku suka angin disini.’Bohong.belum ada
sepintas ide yang masuk ke otakku.
“Yasudah.Kalau ada apa-apa sms saja”
Mereka pergi setelah aku mengangguk.Syukur mereka tidak bertanya
yang macam-macam.Sekarang bagaimana aku menutuplubangku tadi.Aku sudah
berbohong mendapat ide tentang desain gedung.Susah jika harus mendadak
begini.Inspirasi tidak bisa dipaksa datang.Kalau dirumah aku bisa minta tolong
bapak,tapi aku dikampus,harus berpikir sendiri.
Ayolah.Inspirasi
datanglah.Kupaksa otakku berfikir.Rasanya sakit juga berfikir keras seperti
ini.Kuhelakan nafas berat seraya membuka mata.Kini terpampang jelas gedung
olahraga yang dimasuki teman-temanku.Dulu aku selalu mengkhayal jika mauk
Universitas pasti punya lapangan yang lebih baik dari di SMA.Tapi itulah
keburukan dimulai.
Kurasakan bangku
yang kududuki bergetar.Aku menoleh,menatap laki-laki yang belum ada 24 jam yang
lalu kutemui.Sedikit terkejut aku bisa bertemu lagi dengannya.Tapi kali ini
penampilannya berbeda.Jaket berwarna abu-abu gelap dan celana ¾.
Kali ini aku
benar-benar terkejut melihat benda bulat yang dipegangnya.Jika terus begini aku
bisa gila.Debaran ini lagi.Kini rasa sedih dan kecewa yang sangat mendalam
kurasakan.Mataku mulai memanas tapi aku harus tegar.
“Kenapa kamu disini?”Suaraku yang pertama kali terdengar setelah
lama tidak ada yang membuka pembicaraan.Dia tidak bergeming tapi matanya
menutup menengadahkan kepalanya.Seperti menikmati suasana ini. Suasana? Aku
hamper lupa kalau kami duduk berdua dibawah pohon.Jika dibayangkan seperti
sepasang kekasih.Tunggu.Apa yang ku pikirkan?
“Anginnya”Kali ini dia berucap.”Sangat damai”Suaranya begitu halus
dan lembut.Dia benar-benar menikmati ini terbukti dari nada bicaranya yang
tidak ada beban sama sekali di pundaknya.Kini dia melirikku dari sudut
matanya.Cukup mengintimidasi.”Kau anak baru?’
Aku mengangguk. Tubuhnya menghadapku kemudian
tersenyum.”Perkenalkam aku Ardi dari fakultas bisnis.Kulihat tangannya yang
terulur kepadaku.
Mungkin dia orang
baik tapi hatiku berkata jangan terlalu dekat dengannya.Hanya berkenalan saja
kan ?Tidak apa-apa kan?
“Tika,dari fakultas design,semester 1”Ucapku seraya menjabat
tangannya.
Dia tersenyum
lagi.Menurutku terlihat manis dan…tampan.”Jadi kau juniorku”Ucapnya setelah
melepas tanganku.Belum sempat aku bertanya semester berapa dia,mulutnya kembali
mengeluarkan suara.Aku masuk semester 3 ,bisa dibilang satu tahun diatasmu.
Sudah kuduga kalau
dia bukan mahasiswa baru atau seorang dosen.Tidak salah kalau penampilannya
tadi seperti itu.”Kak Andi bisnis management?”
Dia terkejut,”Darimana kau tau?”
“Tadi kita sempat ketemu di gedung design.”
“Oh,ya?Sepertinya aku lupa”
Tidak mungkin dia lupa.Kecuali dia pura-pura tidak tau.Jelas-jelas
dia tadi menatapku dan menyerahkan sketch book dan pensil warna
kepadaku.Kecuali kalau dia memang tidak ingin membahas hal itu.
“Design grafis?”Dia menatap gambaran bergarisku yang acak-acakan.
‘Ini belum selesai”
“Aku pikir kamu masuk design baju atau sejenisnya.”
Memang banyak yang berfikir aku akan masuk ke jurusan itu.Tapi
bagiku aku tidak pandai mendesain sesuatu yang berbaur dengan wanita.Bagaimana
cara berdandan layaknya wanita saja aku tidak tau.
”ARDI !!”
Kami menoleh saat
sebuah teriakan mengarah ke kami.Seorang laki-laki bertubuh tinggi melambai.Mengarahkan
kami untuk kesana.Bukan kami,hanya Ardi.Karena nama laki-laki itulah yang
dipanggil.Dia berdiri dengan bola basket di tangannya.
“Jaa,mata ashita ne”Dia melambai ke arahku lalu pergi menuju gedung
olahraga.Tadi dia berbicara bahasa jepang.Bukan tidak mungkn aku tidak tau
artinya.Dia sangat yakin dengan kalimat itu.”Dah,sampai bertemu besok” Dia
sangat yakin kita akan bertemu lagi besok.
Ada sesuatu yang
mengganjal dari tadi.Sejak pertama bertemu sifatnya terlihat dingin tapi kini
dia bersikap layaknya seorang teman yang lama tidak bertemu.Terlebih dia
seorang pemain basket.Hanya itu masalahnya.Jika dia bukan seorang pemain
mungkin aku bisa menerima bertemu lagi dengannya besok.
Hanya alasan itu
yang membuatku tidak ingin bertemu dengannya.Dia seorang pemain basket.Aku
tidak ingin berhubungan dengan basket.Karena itulah yang membuat debaran
jantungku semakin menjadi.Seperti saat ini.
Hari ini kujalani
seperti biasanya.Bnagun pukul 04.00 lalu sholat subuh,membangunkan
putri,berangkat bersama putri,berpisah dengan putri,bertemu teman
sekampusku,lalu dosen masuk ke kelas.Berbeda dari yang kemarin,kali ini dosen
hanya memberi materi.
Kulihat jam
tanganku.Pukul 10.25,10 menit lagi aku akan keluar dari kelas ini bersama
lainnya.Tanganku menggambar hal yang sudah biasa bagiku.Hari ini terlalu malas
mencatat apa yang dibicarakan dosen cerewet didepan.Tempat dudukku nomor 2 dari
belakang sebelah kiri dekat jendela.Dari lantai 2 ini bisa kulihat gedng
olahraga dengan jelas.Memang tidak jauh
dengan fakultas design.Gedung itu berada di pertengahan gedung design dan
olahraga.
Ingatanku kembali
pada kejadian kemarn siang.Sekitar pukul seginian lah aku bertemu
dengannya.Ardi dari fakultas bisnis management.Saat kutanya pada teman-temanku
mereka tidak tau siapa dia.Kesalahanku adalah aku tidak tau nama
lengkapnya.Wajar jika teman-temanku tidak tau.Banyak nama Ardi disini dan juga
tidak mungkin mereka mengenal salah satu Ardi yang kumaksud.
Tanpa terasa waktu
terus berjalan.Rio berjalan bersamaku menuju kantin bersama yang lainnya.Masih
ada 2 jam sebelum kelas selanjutnya dimulai.Aku dan rio mencari tempat duduk
sedangkan yang lainnya mencari makanan. Kami menemukan tempat yang pas.Sebuah
meja melingkar dengan kursi 6 buah memutari kursi itu berada didekat pohon yang
cukup besar. Kantin ini lebih ramai dari biasanya.Kebanyakan adalah perempuan
yang sedang bergosip.Bukannya aku tidak suka bergosip tapi aku lebih suka
mendengarkan music atau membaca novel.Seseorang memperhatikanku.Rio,dia
menatapku dengan senyum aneh diwajahnya.
“Kenapa?” Bukannya menjawab dia malah melebarkan lekungan bibirnya.
“Ada yang aneh?’
“Nggak kok.Aku lihat semakin hari kamu semakin manis.”Gombalnya
mulai lagi dia.
Mataku berputar mendengar rayuannya.Di kelasku dia memang suka
menggoda teman-teman perempuanku.Termasuk aku yang setiap hari mendapatkan
gombalannya.
“Ada apa?:Aku tau semua orang suka merayu jika ingin
sesuatu.Termasuk Rio.
“Hehe,aku nyontek design kamu yang kemaren yah?”
“Nggak mau,itu namanya kamu mengambil imajinasi seseorang”Benar.Susah
payah aku membuat design yang menurutku sempurna kemaren.
“Kalau gitu nyontek dikit aja”
“Nggak mau”Kupalingkan wajahku kea rah lain.
Dia.Laki-laki bernama Ardi yang kutau,dia berjalan ke arah kantin
bersama beberapa temannya.Kali ini dia berpakaian rapih.Mungkin dia baru saja
selesai dari kelasnya.Tidak heran kalau mahasiswa bisnis management terlihat
istimewa.Lihat saja,mereka lewat kantin banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka.Kudengar orang-orang yang masuk
bisnis management sudah dipastikan pekerjaan mereka setelah lulus
nanti.Kebanyakan mereka anak-anak orang kaya.Jadi tidak heran kalau sudah pasti
masa depan ada di depan mata setelah lulus.
Pandangannya kemari.Cepat-cepat aku menoleh kea rah lain.Aku tidak
ingin berurusan dengannya.Bukan.Untuk saat ini aku tidak ingin berhubungan
dengan seseorang pemain.Terlalu sakit mengingat semua.Masa lalu memang
menyakitkan.Terlebih jika itu kembali terulang.Sore ini aku harus menunggu
Putri selesai dengan mata kuliahnya.Menjadi dokter memangberat.Untung saja aku
tidak jadi masuk.Kalau jadi waktuku akan banyak yang tersita.Jam tanganku
menunjukkan hamper jam 4.Putri belum datang juga,padahal dia memberi pesan akan
selesai jam 3 lebih.Aku juga belum melihat mahasiswa kedokteran lewat.Apa mungkin
belum selesai?
Kurasakan bangku yang kududuki bergetar.Kutolehkan kepalaku ada
yang membuat itu bergetar.Dia lagi.Dengan penampilan yang sama.Bukankah tempat
ini cukup jauh dengan gedung olahraga.Kenapa dia ada disini?Terlebih,kenapa dia
harus duduk disini?Lagi lagi dia melakukan hal yang sama.Menikmati suasana
disini.
Aku ingin mengabaikannya tapi kurasa cukup sulit.Ada sesuatu yang
membuatku untuk terus memperhatikannya.Sesuatu yang sama dengan dulu.Dia mirip
seseorang.Tunggu.Aku tidak bisa terus begini.Bisa bisa aku akan tertarik
dengannya.Tertarik dengannya?
Aku tidak tahan lagi.Bisa bisa aku gila terus begini.Aku berdiri
dari dudukku.Belum sempat melangkah kurasakan tanganku tertahan.Aku berbalik
menatapnya yang memegang tanganku.
“Tolong.Temani aku disini”
Tidak bisa.Aku bukan siapa siapamu.Kutepis tangannya lalu
melanjutkan langkahku yang tersedat.Langkahku menuju gedung fakultas
kedokteran.Aku akan menunggu putri disana.Suara ini.Suara ini tidak asing
bagiku.Suara benturan bola dengan tanah.Berada tepat dibelakangku.Badanku
berbalik cepat.Dia lagi.Dia mengikutiku sambil mendribble bolanya.Sebenarnya
apa yang dia inginkan?
Dribblenya berhenti.Bolanya berada di tangannya.Dia berhenti
dihadapanku.Tatapannya lurus.Lalu tersenyum?
“Kenapa kak Andi disini?Dia seniorku.Walaupun kesal,kita harus
professional.
‘Ternyata kau masih ingat namaku”Aku mengernyit.”Aku mengikutimu”
“Buat apa?” Bahunya terangkat.”Aku cuman ingin mengikutimu saja”
Menyebalkan sebenarnya maunya apa? Memang kemaren dia bilang akan bertemu
denganku.Tapi aku tidak menyangka akan bertemu dengan cara yang sama dan
sedikit menyebalkan.Samar samar aku mendengar teriakan namaku.Putri berdiri ke
arahku.Almamaternya dia bawa di lengannya.Oh Good.
“Apa aku mengganggu?”Ucapnya setelah berada di sampingku
Tidak.Kau sangat menolongku.”Ayo pulang”Ku rangkul lengannya lalu
berjalan cepat melewati laki-laki itu.Tiga langkah aku melewatinya dia
memanggilku.”Tika-chan” dengan tidak wajar.Kami berbalik.”Mata ashita,nee”
Kalimat itu lagi.Terserah aku tidak perduli.Kutarik pelan putri
agar cepat cepat pergi.Aku kesal dengannya yang bertingkah aneh padaku.Padahal
kami baru saja bertemu.Hanya sama sama tau nama dan dari fakultas masing
masing.Tapi sikapnya seperti dia mengenalku sudah lama.
“Tadi siapa?”
“Orang gila”Jawabku dengan kesal.Putri masuk kekamar tepat setelah
tugasku selesai.Dia mengusap rambutnya dengan handuk lalu berjalan ke
arahku.”Ternyata ada tugas hitung hitungan juga yah?”Dia melihat tugasku yang
penuh rumus dan angka.
“Mau gimana lagi,emang sudah wajarkan”
Tangannya meraih kertasku yang penuh coretan.”Tapi aku nggak
nyangka kalau fisika akan nempel terus sama kamu”
Aku tersenyum kecil .Mungkin ini karena dulu aku sangat membenci
fisika dan sekarang aku mendapat imbasnya dengan pelajaran 4 tahun mendatang.
Suara pesan berbunyi.Mungkin ponsel putri.Karna memang ponselnya
tidak pernah berhenti mengeluarkan suara pesan masuk.”Telpon kamu tik”
Tumben aku dapat pesan .Jarang jam segini dapat pesan dari teman
sekampusku.Setelah membukanya kedua alisku terangkat.Nomor tidak diketahui
siapa pemiliknya.Tidak asa nama seseorang dari pesan ini isi pesannya juga
aneh.
“Put,emang besok ada acara apa di kampus?
Dia berbalik saat sebelumnya menghadap cermin.”Kamu nggak tau?
Kugelengkan kepalaku.”Besok ada pertandingan di gedung
olahraga,Kampus kita melawan klub Kediri”
“pertandingan ?”
“Basket”
Debaran ini.Terasa lagi debaran ini.Kali ini aku tidak nyaman
dengan debaran ini.
“Besok liat yuk”Kutatap putri yang terlihat semangat.”Maaf nggak
seharusnya aku bilang gitu’Dia menundukkan kepalanya.
Bukan salahnya dia ingin melihat dan mengajakku.Aku mendekat ke
arahnya.Kupeluk dia,”Nggak papa besok kita lihat.
“Tapi nanti kamu…”
“Aku nggak papa.Lagian aku diundang datang.”Ya.Pesan itu berisi
meminta kehadiranku besok siang di gedung olahraga.Siapa pengirimnya itu masih
tanda Tanya.Darimana dia tau nomorku dan juga bagaimana dia tahu aku kuliah
dimana.Yang pasti dia orang yang kukenal dan mengerti masa laluku.Kulihat lagi
pesan itu.
TOLONG BESOK SIANG
DATANG DI GEDUNG OLAHRAGA KAMPUSKU.BESOK ADA PERMAINAN KESUKAANKU.AKU TUNGGU.
Sesuai rencana setelah tidak ada jam kuliah lagi ,aku dan putri
menuju gedung olahraga kampus kami.Cukup banyak mahasiswa yang
datang.Kebanyakan yang datang adalah mahasiswi.Mungkin mereka ingin melihat
para pemainnya saja.Tapi mahasiswa yang datang juga ada.Bahkan ada beberapa
dosen yang ikut lihat.”Tika,itu bukannya anak yang kemaren?”
Kutatap arah tunjuk putri.Benar.Dia lagi.Tapi dia terlihat santai
saja sambil melihat teman-temannya kepanasan.
Tapi kali ini ekspresinya berbeda.Wajahnya cukup serius.Tidak ada
ekspresi menjengkelkan seperti kemarin.Ekspresinya sama saat pertama bertemu
denganku di lorong.Cukup tajam dan mengintimidasi.
“Tika itu…”
Kali ini putri menunjuk ke tempat lawan.Kelopak mataku melebar.Dia
ada disini.Aku tidak menyangka kalau dia ada disini.Terlebih dia adalah musuh
kampusku.Bukan hanya dia.Dua orang yang sangat kukenal juga ada disana.
Mereka adalah mantan rekan setimku dulu.Aku tidak menyangka kalau
mereka akan tetap bersama.Mereka tetap satu tim.Dia menatap penonton lalu
berhenti.Tepat ke arahku.Aku menahan nafas.Dia tersenyum?Kepadaku?
Tepat setelah pertandingan selesai yang dimenangkan kampusku Putri
kembali dengan cepat ke gedungnya.Dia ada jam kuliah yang sebentar lagi
dimulai.Aku menatap kepergiannya yang berlari.Sejak pertandingan selesai dia
mengomel karna ada jam kuliah.Padahal sejak babak dua aku sudah memberi
tahunya.Tapi siapa yang mengabaikanku dan bersorak senang saat tim kampus kami
memasukkan bola?
Kalau dipikir piker omelan panjang yang akan membuatnya telat.Masih
ada satu jam lagi sebelum jam kuliahku dimulai.Mungkin aku ke kelas duluan
saja.Aku malas untuk melakukan sesuatu disini.Kekantin pun mungkin akan
ramai.Dan aku cukup membenci itu.
Suara benturan bola dengan tanah lagi.Dan lagi,dia yang
melakukannya.
“Aku pikir kau tidak datang”Jadi dia yang mengirim pesan itu.Aku
pikir…
“TIKAAAA…!!
Mereka bertiga.Kualihkan tatapanku saat dia menatapku.Belum siap
aku bertemu pandang dengannya secara langsung.
“Ternyata kamu kuliah disini?”Ari mengangkat tangannya.Tak lama
kami berdua tos.
“Masih update ‘kuroko’?”Kutatap eko yang selalu membahas anime yang
dia sebutkan saat bersamaku di tim.”Pasti lah,nggak akan pernah aku
lewatkan”Kurasakan sebuah usapan lembut dikepalaku.Lgi-lagi dia
melakukannya.Rizal.Hanya laki laki itu yang melakukan hal itu padaku.Dan itu
membuatku senang.Tapi kali ini rasa sakitlah yang kurasakan.Kenapa dia selalu
seperti ini padaku?
“Kamu nggak ikut basket lagi?”
Ingin.Sangat ingin aku menjawabnya jika aku ingin ikut lagi.Tapi
asal kau tau saja,kaulah yang membuatku tidak ingin melakukan permainan yang
sangat kusukai sejak SMP itu.
“Aku nggak ikut”
“Kenapa?”
“Karena dia yang akan menjadi manager kami”
Sontak kami semua menoleh ke orang yang mengucapkannya.Andi.Dengan
percaya diri dia mengatakan itu tanpa meminta persetujuan dariku.Sekarang apa
yang dia lakukan? Menjadikanku sebagai manager timnya?Yang benar saja mengenal
pemain dari timnya saja tidak ada yang kutahu.Dia menoleh kearahku lalu
tersenyum.Menyebalkan.
“Ka…Tika..Tika..”Aku tersadar dari lamunanku saat Rio menyentuh
pundakku.Aku juga baru sadar kalau aku berada di perpustakaan.Rio memandangku
bertanya.
“Aku nggak papa”Kembali kulanjutkan menulisku yang tersendat.
“Dari tadi pagi kamu kebanyakan melamun”
“Aku Cuma sedikit capek aja,kurang focus”Jawabku tanpa mengalihkan
pandanganku pada buku tebal yang kucatat isinya di buku tulis.Mungkin Rio
benar.Dari kemaren aku terus berfikir yang aneh-aneh.Ini semua gara gara senior
aneh itu.Sekarang aku menyesal sudah kenal dengannya.Dia selalu memberi kejutan
yang tidak terbayangkan padaku.Kemaren,kalau saja aku tidak melihat
pertandingan itu mungkin keadaannya tidak akan serumit ini.Aku bingung harus
bagaimana.Mengingat kata-katanya kemaren sudah membuatku pusing.
“Tika”Aku kembali menoleh kearah Rio.”Kamu melamun lagi”
Sepertinya aku butuh penyegar pikiran.Kututup buku tebal yang
kuambil,sepertinya aku harus meminjamnya jika ingin menyelesaikan
tugas.Kumasukkan buku serta alat tulisku kedalam tas.”Aku pergi dulu”Ucapku
pada Rio yang bingung dengan tingkahku.
Setelah meminjam buku setebal 3 cmpada petugas perpustakaan langkah
kakiku menuju kantin.Sedikit cepat.Aku sudah tidak tahan dengan pikiran
ini.Masalah ini benar benar memuakkan.Setelah tiba segera kubeli minuman dingin
yang kuambil asal meneguknya hingga setengah.Sekarang cukup tenang pikiranku.
Kepalaku sedikit berdenyut.Kulihat minuman yang kubeli.Hah?!Wajar
kalau kepalaku sedikit pusing.Aku meminum minuman soda sampai setengahnya dengan
sekali tegak.Mulutku mendesah pelan memikirkan lagi masalah ini.Sial.Kenapa aku
yang pusing?
“Tidak baik siang-siang minum soda”Kutolehkan kepalaku,Oh
Good.”Apalagi saat sedang stress”Ucapnya lagi.Ardi.Dia
menyindirku.Menyebalkan,kenapa selalu dia yang ada disampingku.Dan pula dia
membawa orang-orang yag tidak kukenal duduk di bangku mejaku.Dengan sangat
kesal kuambil tasku yang berada di meja.
“Oh,nanti kau harus datang.Latihan dimulai pukul 4,kau harus..”
“CUKUP!!”Sentakanku membuat penghuni di mejaku memandang kearahku
“Aku nggak pernah bilang mau jadi manager.Dan itu tidak akan pernah walaupun
aku dipaksa.Dan juga aku minta tolong Kak ardi jangan ngikutin atau hubungin
aku lagi.Aku nggak mau berhubungan dengan kak Ardi,menjadi teman sekalipun.Permisi”
Bisa kulihat wajahnya yang sangat terkejut dengan kalimatku yang
terakhir.Aku tidak perduli.Aku tidak mau berhubungan dengan siapapun jika ada
sangkut pautnya dengan’itu’.Melarikan diri dari kenyataan? Benar.Aku terlalu
pengecut untuk menyadari kenyataan ini.Cukup aku saja yang merasa sakit.Aku
tidak mau..menambah beban masalahku pada orang lain.
Aku dan putri berencana membeli makan malam di luar.Sesekali
merasakan masakan yang ada di sekitar.Ponselku bordering tepat setelah aku
memakai helm.Berdecak kesal dengan melepas helm kuangkat panggilan itu tanpa
melihat siapa yang menelpon.
“Kenapa kau tidak datang?”Aku tau suara ini dengan cepat kusentuh
layar ponselku memutuskan panggilannya.
“Siapa?”
‘Orang gila”Jawabku setelah naik motor dibonceng putri.Ponselku
bergetar tidak bersuara,memang kusengaja.Biar saja aku bosan mendapat pesan
yang sama sejak bertemu dengannya di kantin.
Tapi syukur pikiranku tidak terlalu terbebani sekarang.Setelah
semua kekesalanku meluap dengan sedikit omelan tadi aku sedikit tenang.Tidak
kupikirkan masalah menjadi manager itu.Mungkin masalah itu akan ada di tempat
sampah besok.Tidak.Bahkan sudah didaur ulang.Aku tertawa sendiri membayangkan
masalah yang tidak berbentuk didaur ulang.Memangnya kardus bisa didaur ulang?
“Kita makan disini yah?katanya enak”
Kutatap angkringan yang sedikit ramai dengan anak muda seperti
kami.Boleh juga.”Oke terserah”
Setelah memarkirkan motor kami masuk ke kawasan angkringan terbuka
itu.Mencari meja yang kosong dengan tempat yang pas.Satu tempat yang menurutku
pas.Di pembatas bamboo menghadap air mancur dari bamboo dengan tempat duduk
seperti gubuk yang luas dengan meja yang diberi jarak.
“Disitu”Tunjukku pada putri yang berada didepan.
Tepat setelah pantatku menempel pada ayaman bamboo itu seorang pelayan
datang dengan buku catatannya.Pesan apa,mbak?Ucapnya ramah.
“Kamu apa?”
Kulihat daftar menu sekilas.”Nasi pecel sama es jeruk”
“Aku sama mbak”
“Tunggu ya”
Kukeluarkan ponselku yang masih saja bergetar.Kali ini mataku
terbelalak lebar melihat siapa yang menelfon.Dengan cepat kusentuh layar ponsel
untuk menerima panggilan.
“Ya assalamualaikum”Putri menatapku heran.
“Kok baru diangkat dari mana?
“Tadi dijalan buk.ini lagi makan sama putri”
Putri mengangguk mengerti lalu mengeluarkan ponselnya.Selanjutnya
percakapan ini dilanjutkan sampai pelayan datang membawa makanan
kami.Kumasukkan ponselku setelah menjawab salam ibuk dari seberang.
“Aku pikir orang gila”Ucap putri seraya memasukkan suapan
pertamanya.
“Aku pikir juga gitu”Kuletakkan ponselku didekat ponsel putri.”Lusa
kita jadi pulang bareng kan?”
“Jadi dong”Diah katanya juga pulang trus mau mampir kerumah.
“Oh,aku pikir mau jalan jalan sama bagus”Kulirik putri yang sedikit
tersentak.”Apaan sih?” Aku terkekeh melihatnya salah tingkah memukul bahuku pelan.
Kami menoleh saat mendengar suara yang cukup ramai pada rombongan
laki laki yang datang tak lama setelah makanan kami habis.Aku mengamati
rombongan itu.Dan lagi dia ada diantara rombongan itu.Tapi kini lain.Wajahnya
terlihat dingin bahkan dia mengabaikan candaan teman-temannya.
Kupalingkan wajahku saat dia sadar keberadaanku dan putri.Dengan
tidak perdulinya aku tidak menatap kepergiannya.Saat rombongannya mengambil
tempat disamping mejaku,ingin sekali aku pergi dari tempat iniTapi memang
nasibku harus tetap disini saat putri bersenang ria dengan ponselnya.Karena
tempat ini diberi fasilitas wifi gratis jika makan disini.Dan itulah incaran
putri.Suka yang gratis-gratis.
Rasanya tidak nyaman aku berada disini.Putri mengabaikanku dengan
ponselnya.Semakin malam suasana angkringan semakin ramai pengunjung.Rasa dingin
juga mulai menyebar.
“Put,aku kekamar mandi dulu,habis itu kita pulang”Putri mengangguk
tanpa mengalihkan pandangannya.Yah biar saja,wajar dia seperti itu setelah 4
hari sibuk dengan kuliahnya.Setelah bertanya tempat toilet pada salah satu
pelayan dengan segera aku menuju ke tempat tujuan.Tidak sampai 5 menit aku
keluar dari bilik.Aku terlonjak saat seseorang menghadangku saat keluar dari
kamar mandi.Dia lagi.Padahal aku berharap tidak bertemu dengannya,setidaknya 24
jam saja.
“Aku ingin bicara denganmu”Ucapnya dengan tatapan tajam.Baiklah aku
menyerah.Lagipula aku ingin semua cepat berakhir dan aku tidak punya urusan
lagi dengannya.Setelah menghela nafas kutatap dirinya,”Besok di tempat waktu
pertama bertemu”
Dia menerima ucapanku dengan sedikit menyingkir.Kakiku melangkah
melewatinya.Rasanya sangat berat ketika berada tepat disampingnya.Kuakui
tatapannya tadi sedikit membuatku merinding.Baru kali ini aku merasa takut
dengannya.Mungkin besok akan baik-baik saja.Semoga.
Sore ini aku menepati janjiku bertemu dengannya.Beberapa mahasiswa
keluar dari gedung fakultas mereka pergi pulang atau jalan-jalan bersama
teman.Dari kejauhan bisa kulihat bangku yang ada di depan gedung olahraga
kosong.Sepertinya aku harus menunggu.Untung saja Putri akan pulang cukup malam
karena tugasnya menumpuk.Jadi aku tidak khawatir kalau pembicaraan ini akan
lama.Belum sempat kududuki bangku itu ponselku berbunyi nyaring.Segera kuterima
panggilan yang masuk itu.
“masuklah ke gedung olahraga”katanya singkat dan jelas.
Aku mendesah.Kenapa jadi aku sekarang yang mengikuti
perintahnya.Sudah betul kemaren aku yang memegang kendali tapi sekarang aku
yang harus mematuhinya.Tapi aneh.Aku berjalan menuju pintu masuk
gedung.Kata-katanya seakan mencibirku untuk menuruti perintahnya.Padahal bisa
saja aku pergi tanpa bertemu dengannya.Bukannya itu malah kesempatan bagus.
Tapi nasi sudah menjadi bubur.Tubuhku sudah masuk kedalam gedung
ini.Samar-samar kudengar suara yang sangat tidak asing bagiku.Jujur aku rindu
bunyi itu.Cahaya terang menerobos pada ujung lorong.Mataku sedikit menyipit
saat berada diujung lorong.
Suasana ini.Keadaan ini.Aku rindu.Sangat rindu dengan yang ku
lihat.Banyak orang yang berada di lapangan persegi itu.Beberapa mahasiswa yang
pernah kulihat juga ada dalamnya.Mereka bermain didalam lapangan itu.Sepuluh
orang dengan satu bola basket didalamnya.
Sedikit terkejut aku melihatnya diantara 10 orang itu.Dia Nampak
serius dengan bola yang dia pantulkan kebawah.Dia berucap sambil mengacungkan
ketiaknya.Mungkin memberi instruksi pada teman setimnya.Dia tampak sama dengan
kemaren malam.Tatapan mengintimidasinya membuat bulu kudukku berdiri melihatnya
jauh dari sini.
Dia tampak begitu hebat saat melakukan lay-up dan bola itu masuk.Sangat
mirip dengan seseorang.Dia juga memakai wristband berwarna hitam di tangan
kanannya.Mirip seseorang.Kenapa dimataku dia mirip orang itu.Bukan.Kenapa
stylenya orang itu?
Penglihatanku sedikit buram.Dan selanjutnya cairan bening dan
hangat mengalir di pipiku.Masih terus mengalir cairan itu tetap aku
menatapnya.Dia benar-benar membuat pikiranku kacau.
Ardi.Sebenarnya apa yang dia lakukan padaku?Apa yang dia lakukan
sampai-sampai debaran menyakitkan itu datang lagi?Rasanya sangat sakit.Padahal
sudah kutekan dadaku tapi rasa sakit itu tetap ada disini.Kenapa?Kenapa rasa
sakit ini terjadi lagi?Dan kenapa menyangkut masa laluku?
Sudah satu jam sejak aku meninggalkan gedung olahraga dengan
bercucuran itu.Bodoh?Ya.Aku terlihat sangat bodoh berlaku seperti itu.Begitu
dramatis.Tapi itulah yang kulakukan.Air mataku sudah berhenti mengalir 10 menit
lalu.Aku adalah perempuan yang kuat.Jadi tidak boleh terus terjerumus dalam
kesedihan.Walaupun begitu jantungku tidak bisa berhenti berdetak dengan cepat.
“Kenapa kau disini?” Sebuah suara menginterupsiku untuk menoleh.
Dia sudah berganti pakaian dengan trining dan jaket
abu-abunya.Tatapannya yang cukup mengintimidasi membuatku takut menatapnya.Aku
memilih diam menundukkan kepalaku menatap jemariku yang bergerak gelisah.
“Kenapa kau keluar sambil menangis”
Sontak kepalaku terangkat.Dia tau aku sudah masuk dan kembali
keluar?! Aku yakin dia tadi tidak menyapaku apalagi menatapku.Tidak ada orang
yang berada disekitarku tadi.
Aku mencoba bersikap biasa.”Bukankah aku sudah bilang kita bicara
ditempat pertama kita bertemu.”Aku berdiri menatapnya”,”Ayo kita selesaikan.Aku
tidak mau menjadi manager timmu.Sampai kapanpun aku tidak akan mau.Jika kau
Tanya kenapa?,itu masalah privasi.Terima kasih sudah menawarku.Dan
maaf,permisi”
Kurasa sudah cukup aku mengatakan sebuah penolakan.Aku berbalik
beranjak pergi.Sebelum satu langkah ke depan kuambil,ucapnya membuatku membeku
seketika.
“Apa karena kau benci basket?”
Dadaku sakit.
“Apa karena kau tidak mau bermain basket lagi kau tidak ingin
berurusan dengan basket?”
Tolong hentikan.Aku tidak bisa mengucapkannya.Mulutku terkunci
rapat.Dadaku semakin sakit.
“Apa karena ‘dia’juga kau tidak mau bermain basket lagi?”
Lagi lagi air mataku mengalir bersamaan rasa sakit itu terus
menghunjamku.Aku tidak tau darimana dia tau semua itu dan kenapa dia melakukan
itu padaku.Bayangannya bermain seperti ‘dia’ membuatku semakin sakit.Ingatanku
kembali berputar saat-saat kami bercanda dan berjuang bersama agar tim kami
menang saat latihan.Dan itu membuat hatiku sangat sakit.
“Dan kau salah kalau berfikir disinilah tempat pertama kita
bertemu.Kita sudah bertemu sebelumnya.Cukup lama bahkan kau tidak
mengingatnya.”Dia berhenti sejenak.
“Kau memperkenalkan dirimu dengan jelas darimana dan siapa namamu.3
tahun lalu,pada saat festival jepang kau maju kedepan memperkenalkan dirimu.”
Aku ingat.Aku ingat waktu itu.Aku dan clubku melakukan perjalanan
ke festival jepang yang ada di UNAIR.Aku juga masih ingat saat salah seorang
senior menyuruhku memperkenalkan diri di kelas vocabid.
‘Masih kuingat dengan jelas kau berbisik tentang jaket yang
kupakai”
Sontak kata katanya membuatku menoleh.Mataku melebar saat
melihatnya.Ingatanku kembali pada laki-laki yang sempat mencari perhatianku
saat di festival itu.Laki-laki berkaca mata dengan jaket Rakuzan – nama tim di
anime kesukaanku.Sekarang berdiri dihadapanku.Dengan kacamata yang sudah
terpasang entah sejak kapan.
Air mataku kembali mengalir.Aku tidak percaya akan bertemu
dengannya.Ardiansyah,Ardi .
“Tidak mungkin”Gumamku pelan menutup mulutku.
Dia melangkah mendekat.”Jadi jangan membuatku menyesal karna sudah
membuat anime itu menjadi nyata.Jadi aku mohon jangan membenci basket.Kita bisa
menjadi tim terkuat seperti Rakuzan.
Dia membawaku kedalam dekapannya.”Juga,lupakan dia.Gantikan
sosoknya denganku”
“Aku”
“Ini bukan penawaran.Ini perintah yang harus kau turuti”
Egois?Kurasa dia sangat egois membuatku merasakan sakit ini lebih
dalam.Tapi disamping itu ada kehangatan yang melindungiku dari rasa sakit yang
berusaha masuk.Aku tidak bisa berucap.Aku tidak bisa bergerak.Munafik jika aku
tidak suka pelukan darinya.Bukan karna dia laki-laki.Tapi dekapannya seakan
melindungiku dan menenangkan rasa sakitku sedikit demi sedikit.
“Menangislah jika kau ingin menangis”
Dan sesuai perintahnya.Aku menangis,dalam dekapannya.Tangannya
dengan lembut mengusap kepalaku membuat aku semakin ingin melepaskan rasa
sakitku kedalam tangisku.Aku terus menangis dan menangis.Meluapkan rasa
sakitku.
Alarmku berbunyi sangat keras tepat pukul 4.Kulihat putri tidak
bergerak dari tidurnya.Padahal alarm masih berbunyi.Setelah mematikannya
kulihat putri yang menghadap berlawanan arah.Sebuah earphone menempel di
telinganya.Jelas saja dia tidak bangun.Kubiarkan dia tetap menikmati
tidurnya.Segera aku mengambil air wudhu disamping kamar mandi yang suda ada
yang mengantri.Tepat setelah selesai shalat subuh,ponselku berdering cukup
keras.Kuamati layar ponselku yang menunjukkan sebuah nama panggilan.
“Ahou Ardi”Tumben sekali dia menelpon pagi-pagi.Tanpa menunggu lama
kuterima panggilan itu.
“Moshi-moshi”Ucapku sambil meletakkan ponselku diantara telingaku
dan bahuku.
“Sudah bangun?”
Acara melipat mukenaku berhenti.Apa-apaan dia dengan pertanyaan
itu.”Ne,kenapa?”
“Aku menunggumu diluar kosmu,ada yang ingin kubicarakan”
“Pagi-pagi begini,aku melihat jam mejaku.Masih ada waktuku untuk
membangunkan putri.”Oke tunggu”
”Jangan dimatikan”
Sergahnya cepat.Dia bertingkah aneh dengan tidak menutup telepon
padahal tidak ada 24 jam lagi kami bertemu.”Kenapa?”
Kuambil jaketku yang tersampir di sandaran kursi.
“Aku ingin mendengar suaramu sampai kita bertemu”
BLUSH
Bisa kurasakan wajahku sedikit panas.Dia menggodaku? Tidak,dia
bukan tipe penggodawanita.Kalaupun jujur kurasa itu terlalu jujur.Setidaknya
berikan alasan yang tidak masuk akal.
“Menyanyilah”Ucapnya lagi setelah aku keluar dari kamar.
Sekarang dia meminta permintaan yang aneh.”Aku tidak bisa menyanyi”
“Kalau begitu berceritalah”
“Aku tidak mempunyai bakat seorang pendongeng”
“Ceritakan apa yang sudah kau lakukan hari ini/Apa ada yang
menarik?
Aku tersenyum simpul.Mungkin dia tidak sadar kalau perbuatannya itu
sangat romantic.Dasar tidak peka.
“Baiklah”Kuturuni tangga sambil bercerita”Pagi ini aku bangun jam
4.Kupikit putri akan bangun dengan alarm yang kupasang tapi ternyata dia
memakai earphone sambil tidur.Tapi aku ingat kalau kemarin sebelum tidur dia
menyuruhku untuk membangunkannya jam 6.Jadi kubiarkan saja.Kuambil kunci pintu
depan yang tergantung di tembok sisi pintu.”Aku wudhu di dekat kamar mandi yang
cukup penuh antrian .Setiap akan wudhu aku selalu berfikir apa selalu seperti
ini yang namanya kos ?”
Aku berjalan menuju gerbang.Samar-samar bisa kulihat seseorang
berada di depan gerbang yang tertutupi aluminium.”Tepat setelah aku selesai
sholat ada telepon yang jarang menghampiri ponselku”Ternyata si penelfon itu
memintaku bertemu.Kuturuti permintaannya yang aneh-aneh sampai”
Kubuka pintu gerbang kecil.Menampakkan Ardi berdiri di samping
gerbang menempelkan ponselnya ke telinga kanan.”Aku bertemu dengannya disini”
Dia menoleh lalu tersenyum tipis sebentar.Dimatikannya panggilannya
bersamaan terlepasnya ponselku pada telingaku.”So,ada apa?”
Bukannya menjawab dia malah melihat jam tangannya.”Masih ada satu
jam untuk membangunkan putri.Kedua alisku terangkat.”Bisa kita manfaatkan
dengan jalan-jalan”
Boleh juga.Sudah lama aku tidak jalan-jalan pagi.Kedua bahuku
terangkat.”Terserah,lagian aku sudah pamit sama Bu kos tadi”
Dia memiringkan kepalanya sedikit membuatku berjalan kearahnya.Kami
berjalan berdampingan tanpa bertautan tangan seperti layaknya seorang kekasih.
Benar,kami adalah sepasang kekasih sejak kejadian 2 bulan lalu yang
sangat meninggalkan kenangan manis dan pahit.Setelah tangisanku berhenti dia
langsung saja mengklaimku menjadi miliknya tanpa ada persetujuanku atau
menyatakan perasaan sambil berlutut menyerahkan setangkai mawar seperti di sinetron
kebanyakan.Tidak ada rasa keberatan dalam hatiku.Aku tidak mengatakan aku
menolak,aku menerimanya.
Dan juga tanpa kusadari aku menjadi manager timnya.Untung saja
semua anggotanya bisa menerimaku membuatku tidak terlalu canggung menjadi
anggota wanita satu-satunya.Tanpa terasa waktu terus berjalan.Hubungan kami
tidak ada halangan apapun.Kami bertingkah seperti biasa.Tidak ada unsur pulang
bersama,pergi kekantin bersama,atau saling menjemput ke gedung
fakultas.Pikirannya sama denganku.Terlalu merepotkan.
Lima menit kami berjalan tidak ada yang memulai pembicaraan.Arah
perjalanan kami semakin menuju arah kampus.Tempat kosku memang tidak jauh dari
kampus.
“Bulan depan ada pertandingan antara semua club basket universitas
se-Jawa.Aku sudah mendaftarkan club kita kemaren.Sekitar 50 tim yang ikut dalam
event itu.Termasuk tim teman-temanmu”
Sudah kuduga pasti dia membicarakan ini”Aku sudah tau”Dia
menatapku,”Kak Dimas yang kasih tau”
Dia kembali menatap depan,aku pun juga.”Aku juga punya daftar semua
tim yang ikut,mungkin jadwal dan bagannya akan keluar lusa depan”
Sebagai manager aku harus memberikan yang terbaik untuk timku.Aku
tidak ingin mengecewakan mereka yang sudah mempercayaiku.Aku sudah memeriksa
semua tim.Dan benar saja semua mantan rekan timku ikut berpartisipasi dalam
event ini.Event ini akan menjadikan mereka menjadi no 1 di provinsi dan itu
bisa menjadi langkah untuk menjadi no 1 di Indonesia.
Kalau dipikir-pikir timku hampir mirip dengan tim Rakuzan yang ada
di anime.Semua terlihat cukup mirip.Perbedaannya adalah dalam anime yang
kusukai merupakan tingkat SMA sedangkan ini tingkat Universitas.
Dan ada hal lain yang berbeda.Orang disampingku ini hampir mirip
dengan tokoh antagonisnya.Sifat mereka hampir sama dan juga penampilan
mereka.Tidak mungkinkan dia akan memakai softlens merah dan kuning serta mencat
rambutnya seperti Alkashi Seijuro.
Membayangkannya membuatku menahan tawa.
“Kau kenapa?’Aku tersentak.Dia menatapku heran.
Kugelengkan kepalaku pelan.”Kau pulang saja,aku kembali sendiri
dari sini.”Tunggu,aku lupa bagaimana dia sampai ke kosku sedangkan tidak ada kendaraan
apapun disekitarnya”.”Kau naik apa?”
“Sebenarnya kebetulan aku lari pagi lalu sengaja lewat kosmu”
Aku baru sadar dia memakai sepatu.Dan lagi tanpa dia sadari dia
berkata romantic lagi.
‘Pagi ini kau terlihat aneh”Ucapnya melihat aku terkekeh.
‘Kau hanya tidak peka dengan kata-katamu.”Kedua alisnya
bertautan.”Sudah cepat selesaikan lari pagimu.Aku punya jadwal latihan yang
bagus bulan ini.
“Akan kutunggu”Dia berbalik melanjutkan lari paginya.Kutatap
punggung tegapnya.Tanpa semua orang sadari punggung kokoh itu menyimpan
kesedihan didalamnya.Katanya hanya aku yang mengerti bagaimana sifat
aslinya.Bukan karna dia memberitahuku.Tapi aku tau semua itu dari sikapnya.Dia
sama sepertiku hanya saja dia lebih kesakitan dibandingku.
Aku harus segera kembali lalu membangunkan putri.Pikiranku sudah
dipenuhi dengan latihan yang harus mereka lakukan.Tentu saja dengan persetujuan
pelatih.Tapi aku yakin pelatih akan setuju.Mulai saat ini perang sebenarnya
akan dimulai.Pertarungan yang tidak pernah kubayangkan aka nada didepan
mata.Tidak ada tim lama yang saling mendukung.Semua sudah memiliki tim mereka
masing masing.Dan aku juga memiliki timku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar