Jumat, 03 Oktober 2014

KUROKO NO BASUKE FANCFIC



Battle Swort
By Muzushi Hana
Rated : Fiction M – Indonesia – AU crime fantasi
Kuroko no Basuke
Status : On going

BATTLE WORT CHAP 2

Nanase terbangun lagi malam  ini. Seperti biasa, dengan keringat yang membasahi tubuhnya dan nafas yang terengah-engah. Mimpi buruk itu selalu hadir tiap dia tertidur dan malam ini mempi itu menghampirinya lagi.
Dia beranjak dari ranjangnya menuju meja yang tak jauh dari ranjang. Menuangkan air ke dalam gelas lalu meminumnya hingga tandas. Kepalanya tertunduk membuat rambut panjangnya yang terurai menutupi sebagian wajahnya.
Tubuh Nanase masih bergetar mengingat mimpi itu. Mimpi yang begitu menakutkan. Kuroko, teman masa kecilnya berteriak memanggil namanya. Tubuhnya di selimuti kegelapan dan dia hanya bisa diam menatap laki-laki itu semakin lama semakin di telan kegelapan.
Nanase sangat ingat kejadian itu. Nanase kecil yang tidak tau apa-apa dan sangat polos mendapat pengalaman buruk yang membuatnya berubah menjadi seperti sekarang.
Nanase yang dulu adalah gadis kecil yang ceria dan penakut. Dia begitu baik kepada siapapun. Pertemuannya dengan Kuroko membuat mereka bersahabat erat. Meski Kuroko beberapa tahun lebih tua darinya, Kuroko begitu berarti baginya. Seperti seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.
Dia memang sudah mempunyai seorang kakak kandung tapi kakaknya selalu bersikap tidak peduli kepadanya dan selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Membuat Nanase kesepian dan sendiri. Tapi kehadiran Kuroko mengubah segalanya. Sampai mimpi buruk itu terjadi.
Nanase menatap pedangnya yang berada di samping ranjang. Dia bahkan tidak ingat kapan dia menjadi kesatria. Nanase tidak terikat dengan serikat manapun. Dia selalu bekerja sendiri untuk mencapai tujuannya. Tujuan balas dendamnya.
Tinggal tiga orang lagi yang menjadi targetnya. Dan dia selalu meyakinkan diri bisa mengalahkan mereka. Tentu saja Nanase selalu takut saat akan bertarung. Bahkan debaran jantungnya begitu cepat saat tujuannya tercapai.
Nanase menghela nafas. Bahkan saat ini jantungnya berdebar cepat. Besok dia akan kembali melancarkan aksinya. Kise Ryouta, gumannya dalam hati.
Beberapa hari ini dia dan Kise menjalani hubungan yang cukup dekat. Tentu saja itulah rencana awalnya. Mendekati kesatria tampan itu lalu akan menusuknya dari belakang.
Nanase kembali meyakinkan diri. Besok, batinnya
***
Dalam ruangan yang temaram  itu terlihat seseorang memainkan shoginya, sendirian seperti biasa. Tanpa lawan main yang ikut bermain dengannya.
Seseorang datang menghampirinya. “Midorima dan Murasakibara telah tewas”, ucap orang itu.
Dia masih diam memainkan shoginya tapi tentu saja mendengar ucapan orang itu.
Dia sudah tau. Kedua orang yang dulu adalah rekannya tewas secara misterius dan orang-orang sedang membicarakan gosip itu. Namun tanpa tersebarnya gossip itu dia sudah tau hal itu akan akan terjadi. Bahkan dia bisa menebak siapa pelakunya.
“Biarkan, waktunya akan tiba untuk bisa kemari”, gumannya namun terdengar oleh orang itu.
Dia memang tidak terlalu suka mencampuri urusan orang lain. Dia biasanya hanya memperhatikan perkembangannya dari jauh.
Orang itu mengerutkan keningnya, “sepertinya anda sudah tau pelakunya, Akashi-sama”. Tuan muda di depannya itu selalu bersikap misterius. Tanpa melakukan apapun dia sudah mengetahui semuanya. Kabar tentangnya yang memiliki ‘Emperor Eye, nyata adanya.
Laki-laki yang di sebut Akashi itu tersenyum kecil, masih sibuk dengan shoginya. “Tak lama lagi dia akan datang kemari menemuiku,  hanya menunggu waktu saja”
Selalu seperti itu. Bersikap misterius dan yakin akan perkataannya. Akashi Seijuuro, tuan muda yang terkenal akan kekuatan dan kemisteriusannya. Anak tertua dari keluarga Akashi yang melegenda dan orang terkuat dari serikat terkuat pula, Rakuzan.
Laki-laki yang begitu menakutkan dan mengintimidasi. Semua orang tunduk di hadapannya. Dialah kesatria terkuat pada masa ini. Terkuat dari yang terkuat Generation of Miracle.
***
Nanase mengawasi serikat itu. Cahaya obor di aula masih menyala hingga menembus keluar. Masih ada seseorang di sana. Nanase menajamkan matanya. Hanya ada satu orang disana, masih berlatih. Semua orang di serikat itu telah kembali ke kamar mereka masing-masing. Sebuah kesempatan yang besar untuk Nanase bisa masuk kesana.
Tapi dia menunda. Dia ingin sedikit lebih lama menatap laki-laki itu berlatih. Entah kenapa tiba-tiba hatinya luluh menatapnya. Beberapa hari bersama laki-laki itu membuat hatinya bergetar aneh yang belum pernah di rasakannya. Bisa di bilang ini pertama kalinya.
Ada tekanan yang mengurungkan niatnya. Tapi dia tidak bisa. Demi dendamnya, demi sahabatnya, dia akan tetap menjalankan misinya. Lagi, Nanase meyakinkan dirinya. Dia sudah sampai sejauh ini dan dia tidak boleh kembali.
Langkah panjang diambilnya menuju aula latihan itu. Sampai di pintu aula laki-laki itu masih berlatih belum menyadari kehadirannya atau dia memang pura-pura tidak menyadarinya. Di amati laki-laki itu. Tubuhnya yang telanjang dada  menampakkan otot-otot perutnya yang di basahi oleh keringat. Rambutnya sedikit basah oleh peluh.
Nanase mengakuinya. Laki-laki itu begitu tampan bahkan dengan penampilannya saat ini menambah kesan lebih. Namun Nanase mengesampingkan sikap terpesonanya dan memusatkan tujuannya.

Dia menghela nafas, mencoba tenang. “Kise Ryouta”. Panggilnya tenang namun begitu menggema di aula itu.
Laki-laki menghentikan kegiatannya. Dia tersenyum miris, sedikit menunduk. “Aku tidak menyangka kau akan mengincarku juga”, dia menoleh menatap Nanase, “Nanase-chan”
Nanase menatap laki-laki itu. Entah kenapa hatinya perih menyadari laki-laki itu akan mati di tangannya. Laki-laki itubegitu baik padanya, sangat lembut padanya. Bahkan dia sadar tatapan laki-laki itu penuh cinta padanya. Nanase kembali bimbang. Dia tidak tega melakukan itu.
“Kenapa kau melakukan ini?”, tatapannya begitu lembut. Nanase tidak tahan melihatnya.
Dia mengalihkan pandangannya. “Kau sudah tau dari awal aku mengincarmu, jadi seharusnya kau tau alasannya”
Dengan cepat Nanase menarik pedangnya. Berlari dengan cepat ke arah Kise. Laki-laki itu itu menangkis serangannya ikut menyerang Nanase.
Mereka sangat imbang. Serangan Nanase seakan percuma kepada Kise. Laki-laki itu bisa mengkopi serangannya dengan sempurna. Julukan ‘Copy Cat’ memang pantas untuk Kise, sampai-sampai Nanase mengerahkan seluruh kemampuannya.
Nanase menggeram kesal dalam hati. Apapun serangannya pada Kise laki-laki itu menyerangnya dengan serangan yang sama padanya. Tidak ada kemajuan dari mereka. Berlatih seharian ternyata tidak menguras tenaga laki-laki itu. Kise masih bertenaga sedangkan Nanase sudah hampir mencapai batasnya.
TRING . . .
SREEET . . .
SREEET . . .
Nafas mereka terengah. Sama-sama menghirup udara sebanyak-banyaknya. Pertarungan itu percuma, belum ada yang terluka maupun luka goresan di tubuh mereka. Mereka sama-sama imbang. Nanase merasa ragu untuk melanjutkan tapi dia sudah jauh dan Kise sudah mengetahui rencananya, tidak mungkin dia akan mundur sekarang.
Kise menegakkan tubuhnya, kulitnya bercahaya terkena sinar obor. Menatap gadis yang telah merebut hatinya. Dia sudah tau dari awal siapa Nanase dan Kise berani emngambil resiko itu.
***
Kasamatsu Yukio, baru saja keluar dari kamar mandi dan mengerutkan keningnya ketika kamarnya masih terlihat kosong, sama seperti saat dia memasuki kamar itu.
Teman sekamarnya masih belum kembali. Dia memang ingin melanjutkan latihannya tapi dia tidak menyangka akan selama ini.
Dia melempar asal handuknya ke atas ranjang lalu menatap kea rah aula dari jendela kamarnya. Cahaya dari aula masih menembus keluar.
Tidak biasanya dia berlatih selarut ini dan dia merasa khawatir. Dia mengambil jaket lalu keluar dari kamar, menyusul ke aula.
***
Nanase mendesah kesal. Kise Ryouta sangat sulit untuk di kalahkan. Laki-laki itu benar-benar meniru serangannya dan dia tidak bisa melukai laki-laki itu.
Nanase berfikir keras. Ada satu cara yang tidak akan bisa di tiru oleh laki-laki itu tapi akan beresiko padanya. Nanase belum pernah mencobanya dan dia tidak tau apa resikonya.
Kise kembali menyerangnya. Nanase menahannya. Di tatapnya Kise. Laki-laki itu menatapnya dalam. Sangat dalam hingga menembus hatinya. Nanase tidak ingin terjebak dengan pesonanya lagi. Dia sudah bertekad dan dia tidak akan menghianati tekadnya.
Nanase menekan Kise lebih kuat membuat mereka terpental. Di pejamkan matanya. Dan ketika terbuka mata ungu violetnya berubah menjadi merah. Kise yang melihatnya sangat terkejut. Belum pernah dia menemukan kejadian seperti itu. Dia hanya diam terpaku menanti apa yang akan terjadi
Manik merah Nanase berkilat tajam. Aura mengerikan melingkupi tubuhnya. Nanase tidak pernah mengira pelepasan kekai akan sangat kuat. Dia merasa tenaganya bertambah.
Bahkan dari tempatnya berdiri Kise bisa merasakan aura mengerikan dari Nanase. Gadis itu benar-benar serius ingin membunuhnya.
“Aku sudah bosan dengan keadaan ini, dengan ini semua akan berakhir”, ucap Nanase dingin dan sangat mengintimidasi.
Detik berikutnya Nanase berada di depannya. Kise yang tidak mengira diam di tempat.
JLEB
Pedang Nanase menembus perut Kise. Nanase dan Kise sama-sama tidak menyadarinya. Terlebih Kise, laki-laki itu melebarkan matanya, pedangnya terjatuh begitu saja.
Nanase menarik pedangnya, sontak Kise mundur satu langkah memegang lukanya yang mengeluarkan darah sangat deras. Matanya meredup membuktikan dirinya mulai melemah. Kise menatap tidak percaya Nanase. Sedangkan Nanase terkejut dengan apa yang di lakukannya. “Nanase . . . chan”
BRUGH
Tubuh Kise tergeletak tak berdaya. Diam dan tidak bernafas. Tubuh itu tanpa nyawa. Manik merah Nanase berubah menjadi violet yang kerkaca-kaca. Entah kenapa hatinay sakit melihat sosok itu. Ada rasa perih yang mendalam di hatinya. Hingga lelehan air matanya menaglir tanpa sadar. Nanase menangis dalam diam. Masih menatap tubuh Kise yang di selimuti darahnya sendiri.
***
Suasana begitu sepi saat dia di dekat pintu aula. Lampu obor masih menyala namun suasana begitu dingin. Sampai Kasamatsu memasuki aula tidak ada tanda-tanda orang yang masih barlatih. Tapi matanya menangkap sesuatu ditengah-tengah aula. Matanya menyipit, melihatnya dengan jelas. Detik berikutnya suaranya tercekat dengan mata yang melebar terkejut.
***
Momoi berkeliling hutan mencari buah yang matang langsung dari pohonnya. Entah kenapa dia ingin melakukannya meski dia bisa membelinya di pasar dengan mudah.
Matanya bercahaya menangkap buah apel yang sudah matang di pohon. Sedikit berlari dia ke pohon itu. Tapi tiba-tiba dia terjatuh tersandung yang membuatnya mengomel karena bajunya kotor.
Dia berbalik melihat apa yang membuatnya terjatuh. Hampir saja dia berteriak saat sepasang kakilah yang membuatnya terjatuh. Namun setelah menelusuri kaki itu dia menemukan seorang gadis tergeletak tampak pucat.
Niatnya ke hutan mengambil buah di urungkannya, dia membawa gadis itu yang terasa panas ke rumahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar