Battle Swort
By Muzushi Hana
Rated : Fiction M –
Indonesia – AU crime fantasi
Kuroko no Basuke
Status : On going
BATTLE WORT CHAP 2
Nanase terbangun lagi
malam ini. Seperti biasa, dengan
keringat yang membasahi tubuhnya dan nafas yang terengah-engah. Mimpi buruk itu
selalu hadir tiap dia tertidur dan malam ini mempi itu menghampirinya lagi.
Dia beranjak dari
ranjangnya menuju meja yang tak jauh dari ranjang. Menuangkan air ke dalam
gelas lalu meminumnya hingga tandas. Kepalanya tertunduk membuat rambut
panjangnya yang terurai menutupi sebagian wajahnya.
Tubuh Nanase masih
bergetar mengingat mimpi itu. Mimpi yang begitu menakutkan. Kuroko, teman masa
kecilnya berteriak memanggil namanya. Tubuhnya di selimuti kegelapan dan dia
hanya bisa diam menatap laki-laki itu semakin lama semakin di telan kegelapan.
Nanase sangat ingat
kejadian itu. Nanase kecil yang tidak tau apa-apa dan sangat polos mendapat
pengalaman buruk yang membuatnya berubah menjadi seperti sekarang.
Nanase yang dulu adalah
gadis kecil yang ceria dan penakut. Dia begitu baik kepada siapapun.
Pertemuannya dengan Kuroko membuat mereka bersahabat erat. Meski Kuroko
beberapa tahun lebih tua darinya, Kuroko begitu berarti baginya. Seperti
seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.
Dia memang sudah
mempunyai seorang kakak kandung tapi kakaknya selalu bersikap tidak peduli
kepadanya dan selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Membuat Nanase kesepian
dan sendiri. Tapi kehadiran Kuroko mengubah segalanya. Sampai mimpi buruk itu
terjadi.
Nanase menatap
pedangnya yang berada di samping ranjang. Dia bahkan tidak ingat kapan dia
menjadi kesatria. Nanase tidak terikat dengan serikat manapun. Dia selalu
bekerja sendiri untuk mencapai tujuannya. Tujuan balas dendamnya.
Tinggal tiga orang lagi
yang menjadi targetnya. Dan dia selalu meyakinkan diri bisa mengalahkan mereka.
Tentu saja Nanase selalu takut saat akan bertarung. Bahkan debaran jantungnya
begitu cepat saat tujuannya tercapai.
Nanase menghela nafas.
Bahkan saat ini jantungnya berdebar cepat. Besok dia akan kembali melancarkan
aksinya. Kise Ryouta, gumannya dalam hati.
Beberapa hari ini dia
dan Kise menjalani hubungan yang cukup dekat. Tentu saja itulah rencana
awalnya. Mendekati kesatria tampan itu lalu akan menusuknya dari belakang.
Nanase kembali meyakinkan
diri. Besok, batinnya
***
Dalam ruangan yang
temaram itu terlihat seseorang memainkan
shoginya, sendirian seperti biasa.
Tanpa lawan main yang ikut bermain dengannya.
Seseorang datang
menghampirinya. “Midorima dan Murasakibara telah tewas”, ucap orang itu.
Dia masih diam
memainkan shoginya tapi tentu saja
mendengar ucapan orang itu.
Dia sudah tau. Kedua
orang yang dulu adalah rekannya tewas secara misterius dan orang-orang sedang
membicarakan gosip itu. Namun tanpa tersebarnya gossip itu dia sudah tau hal
itu akan akan terjadi. Bahkan dia bisa menebak siapa pelakunya.
“Biarkan, waktunya akan
tiba untuk bisa kemari”, gumannya namun terdengar oleh orang itu.
Dia memang tidak
terlalu suka mencampuri urusan orang lain. Dia biasanya hanya memperhatikan perkembangannya
dari jauh.
Orang itu mengerutkan
keningnya, “sepertinya anda sudah tau pelakunya, Akashi-sama”. Tuan muda di
depannya itu selalu bersikap misterius. Tanpa melakukan apapun dia sudah mengetahui
semuanya. Kabar tentangnya yang memiliki ‘Emperor Eye, nyata adanya.
Laki-laki yang di sebut
Akashi itu tersenyum kecil, masih sibuk dengan shoginya. “Tak lama lagi dia akan datang kemari menemuiku, hanya menunggu waktu saja”
Selalu seperti itu.
Bersikap misterius dan yakin akan perkataannya. Akashi Seijuuro, tuan muda yang
terkenal akan kekuatan dan kemisteriusannya. Anak tertua dari keluarga Akashi
yang melegenda dan orang terkuat dari serikat terkuat pula, Rakuzan.
Laki-laki yang begitu
menakutkan dan mengintimidasi. Semua orang tunduk di hadapannya. Dialah
kesatria terkuat pada masa ini. Terkuat dari yang terkuat Generation of
Miracle.
***
Nanase mengawasi
serikat itu. Cahaya obor di aula masih menyala hingga menembus keluar. Masih
ada seseorang di sana. Nanase menajamkan matanya. Hanya ada satu orang disana,
masih berlatih. Semua orang di serikat itu telah kembali ke kamar mereka
masing-masing. Sebuah kesempatan yang besar untuk Nanase bisa masuk kesana.
Tapi dia menunda. Dia
ingin sedikit lebih lama menatap laki-laki itu berlatih. Entah kenapa tiba-tiba
hatinya luluh menatapnya. Beberapa hari bersama laki-laki itu membuat hatinya
bergetar aneh yang belum pernah di rasakannya. Bisa di bilang ini pertama
kalinya.
Ada tekanan yang
mengurungkan niatnya. Tapi dia tidak bisa. Demi dendamnya, demi sahabatnya, dia
akan tetap menjalankan misinya. Lagi, Nanase meyakinkan dirinya. Dia sudah
sampai sejauh ini dan dia tidak boleh kembali.
Langkah panjang
diambilnya menuju aula latihan itu. Sampai di pintu aula laki-laki itu masih
berlatih belum menyadari kehadirannya atau dia memang pura-pura tidak
menyadarinya. Di amati laki-laki itu. Tubuhnya yang telanjang dada menampakkan otot-otot perutnya yang di basahi
oleh keringat. Rambutnya sedikit basah oleh peluh.
Nanase mengakuinya.
Laki-laki itu begitu tampan bahkan dengan penampilannya saat ini menambah kesan
lebih. Namun Nanase mengesampingkan sikap terpesonanya dan memusatkan
tujuannya.
Dia menghela nafas,
mencoba tenang. “Kise Ryouta”. Panggilnya tenang namun begitu menggema di aula
itu.
Laki-laki menghentikan
kegiatannya. Dia tersenyum miris, sedikit menunduk. “Aku tidak menyangka kau
akan mengincarku juga”, dia menoleh menatap Nanase, “Nanase-chan”
Nanase menatap
laki-laki itu. Entah kenapa hatinya perih menyadari laki-laki itu akan mati di
tangannya. Laki-laki itubegitu baik padanya, sangat lembut padanya. Bahkan dia
sadar tatapan laki-laki itu penuh cinta padanya. Nanase kembali bimbang. Dia
tidak tega melakukan itu.
“Kenapa kau melakukan
ini?”, tatapannya begitu lembut. Nanase tidak tahan melihatnya.
Dia mengalihkan
pandangannya. “Kau sudah tau dari awal aku mengincarmu, jadi seharusnya kau tau
alasannya”
Dengan cepat Nanase
menarik pedangnya. Berlari dengan cepat ke arah Kise. Laki-laki itu itu
menangkis serangannya ikut menyerang Nanase.
Mereka sangat imbang.
Serangan Nanase seakan percuma kepada Kise. Laki-laki itu bisa mengkopi
serangannya dengan sempurna. Julukan ‘Copy Cat’ memang pantas untuk Kise,
sampai-sampai Nanase mengerahkan seluruh kemampuannya.
Nanase menggeram kesal
dalam hati. Apapun serangannya pada Kise laki-laki itu menyerangnya dengan
serangan yang sama padanya. Tidak ada kemajuan dari mereka. Berlatih seharian
ternyata tidak menguras tenaga laki-laki itu. Kise masih bertenaga sedangkan
Nanase sudah hampir mencapai batasnya.
TRING . . .
SREEET . . .
SREEET . . .
Nafas mereka terengah.
Sama-sama menghirup udara sebanyak-banyaknya. Pertarungan itu percuma, belum
ada yang terluka maupun luka goresan di tubuh mereka. Mereka sama-sama imbang.
Nanase merasa ragu untuk melanjutkan tapi dia sudah jauh dan Kise sudah
mengetahui rencananya, tidak mungkin dia akan mundur sekarang.
Kise menegakkan
tubuhnya, kulitnya bercahaya terkena sinar obor. Menatap gadis yang telah
merebut hatinya. Dia sudah tau dari awal siapa Nanase dan Kise berani emngambil
resiko itu.
***
Kasamatsu Yukio, baru
saja keluar dari kamar mandi dan mengerutkan keningnya ketika kamarnya masih
terlihat kosong, sama seperti saat dia memasuki kamar itu.
Teman sekamarnya masih
belum kembali. Dia memang ingin melanjutkan latihannya tapi dia tidak menyangka
akan selama ini.
Dia melempar asal
handuknya ke atas ranjang lalu menatap kea rah aula dari jendela kamarnya.
Cahaya dari aula masih menembus keluar.
Tidak biasanya dia
berlatih selarut ini dan dia merasa khawatir. Dia mengambil jaket lalu keluar
dari kamar, menyusul ke aula.
***
Nanase mendesah kesal.
Kise Ryouta sangat sulit untuk di kalahkan. Laki-laki itu benar-benar meniru
serangannya dan dia tidak bisa melukai laki-laki itu.
Nanase berfikir keras.
Ada satu cara yang tidak akan bisa di tiru oleh laki-laki itu tapi akan
beresiko padanya. Nanase belum pernah mencobanya dan dia tidak tau apa
resikonya.
Kise kembali
menyerangnya. Nanase menahannya. Di tatapnya Kise. Laki-laki itu menatapnya dalam.
Sangat dalam hingga menembus hatinya. Nanase tidak ingin terjebak dengan
pesonanya lagi. Dia sudah bertekad dan dia tidak akan menghianati tekadnya.
Nanase menekan Kise
lebih kuat membuat mereka terpental. Di pejamkan matanya. Dan ketika terbuka
mata ungu violetnya berubah menjadi merah. Kise yang melihatnya sangat
terkejut. Belum pernah dia menemukan kejadian seperti itu. Dia hanya diam
terpaku menanti apa yang akan terjadi
Manik merah Nanase
berkilat tajam. Aura mengerikan melingkupi tubuhnya. Nanase tidak pernah
mengira pelepasan kekai akan sangat
kuat. Dia merasa tenaganya bertambah.
Bahkan dari tempatnya
berdiri Kise bisa merasakan aura mengerikan dari Nanase. Gadis itu benar-benar
serius ingin membunuhnya.
“Aku sudah bosan dengan
keadaan ini, dengan ini semua akan berakhir”, ucap Nanase dingin dan sangat
mengintimidasi.
Detik berikutnya Nanase
berada di depannya. Kise yang tidak mengira diam di tempat.
JLEB
Pedang Nanase menembus
perut Kise. Nanase dan Kise sama-sama tidak menyadarinya. Terlebih Kise,
laki-laki itu melebarkan matanya, pedangnya terjatuh begitu saja.
Nanase menarik
pedangnya, sontak Kise mundur satu langkah memegang lukanya yang mengeluarkan
darah sangat deras. Matanya meredup membuktikan dirinya mulai melemah. Kise
menatap tidak percaya Nanase. Sedangkan Nanase terkejut dengan apa yang di
lakukannya. “Nanase . . . chan”
BRUGH
Tubuh Kise tergeletak
tak berdaya. Diam dan tidak bernafas. Tubuh itu tanpa nyawa. Manik merah Nanase
berubah menjadi violet yang kerkaca-kaca. Entah kenapa hatinay sakit melihat
sosok itu. Ada rasa perih yang mendalam di hatinya. Hingga lelehan air matanya
menaglir tanpa sadar. Nanase menangis dalam diam. Masih menatap tubuh Kise yang
di selimuti darahnya sendiri.
***
Suasana begitu sepi
saat dia di dekat pintu aula. Lampu obor masih menyala namun suasana begitu
dingin. Sampai Kasamatsu memasuki aula tidak ada tanda-tanda orang yang masih
barlatih. Tapi matanya menangkap sesuatu ditengah-tengah aula. Matanya
menyipit, melihatnya dengan jelas. Detik berikutnya suaranya tercekat dengan
mata yang melebar terkejut.
***
Momoi berkeliling hutan
mencari buah yang matang langsung dari pohonnya. Entah kenapa dia ingin
melakukannya meski dia bisa membelinya di pasar dengan mudah.
Matanya bercahaya
menangkap buah apel yang sudah matang di pohon. Sedikit berlari dia ke pohon
itu. Tapi tiba-tiba dia terjatuh tersandung yang membuatnya mengomel karena
bajunya kotor.
Dia berbalik melihat
apa yang membuatnya terjatuh. Hampir saja dia berteriak saat sepasang kakilah
yang membuatnya terjatuh. Namun setelah menelusuri kaki itu dia menemukan
seorang gadis tergeletak tampak pucat.
Niatnya ke hutan
mengambil buah di urungkannya, dia membawa gadis itu yang terasa panas ke
rumahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar