YOUR NAME?
PART 2
BY MIZUSHI HANA
Seperti biasa setelah
jadwal kuliahku selesai aku mampir ke perpustakaan. Dan pastinya melewati
gedung olahraga. Memangnya mau lewat mana lagi kalau harus berkeliling memutar
menghabiskan waktu lima belas menit. Seperti dugaanku dia ada di sana lagi. Di
gedung olahraga, bermain basket, sendirian. Awalnya aku berniat tidak perduli
tapi ada sebuah dorongan yang membuatku ingin melihat permainannya.
Kali ini dia menggiring
bola lalu memasukkannya, bolak balik mengitari lapangan. Yah, dia sangat kuat
kalau begitu. Bisa terus bolak balik lapangan tanpa berhenti. Aku saja satu
lapangan sudah lelah.
Ku lihat dirinya yang
memusatkan diri dari garis three point.
Dan lagi, bola itu masuk seperti dulu.
“Sedang apa kau di
sini?”. Kali ini dia bertanya sambil menatapku. Nafasnya memburu dengan
keringat yang mengalir dari dahi sampai leher. Kulitnya yang kecoklatan
memperlihatkan lengan berototnya yang berkilauan karena keringat.
Aku mendengus. “Memang
tidak boleh. Kau sendiri kenapa selalu kesini, padahal gedung fakultasmu jauh
dari sini”
Bukannya menjawab dia
malah mengacuhkanku mengambil bolanya. Dasar licik. Suka mengalihkan
pembicaraan dengan mengabaikan lawan bicara. Well, itu memang sudah sepantasnya, jadi tidak salah aku
menyebutnya menyebalkan.
Dia mulai bermain lagi.
So, aku tidak ada kepelruan lagi di
sini. Aku berbalik pergi. Baru saja aku keluar dari gedung olahraga seseorang
berjalan di sampingku. Aku menolah dan langsung saja berjingkat menjauh karena
terkejut.
Bagaimana tidak. Dia
ada di sampingku!!!! Aku yakin tadi dia masih bermain dan sekarang dia di
sampingku dengan wajah tanpa dosanya. Dia hantu atau apa tiba-tiba ada di
sampingku.
“Kenapa kau di sini?”.
Sepertinya ucapannya menjadi bumerang untukku.
“Memang tidak boleh”
Yah, aku harus sabar
menghadapi laki-laki stay cool yang
sangat menyebalkan ini. Mungkin perempuan-perempuan yang mengejarnya sudah buta
mau mengejar laki-laki menyebalkan seperti dia. Berarti April buta?
Malas berdebat ku
hiraukan dirinya. Tujuanku masih sama, menuju perpustakaan. Laki-laki
menyebalkan itu tentu masih berjalan di sampingku. Aku melirik, lalu tersenyum
miris. Apa aku hidup di lingkungan orang-orang tinggi. Sungguh aku seperti
orang kerdil berjalan di sampingnya. Hanya sebahunya tapi dia terlihat seperti Titan. Besar dan tinggi.
Pintu perpustakaan
sudah terlihat di depan. “Kau ingin ke perpustakaan?”
Dahiku berkerut. Dua
bodoh atau apa. Salah sendiri mengikutiku. Hey, aku tidak sombong. Kenyataannya
dia mengikutiku. “Apa salahnya? Tujuanku memang kesana”
“Dasar kutu buku”,
gerutunya tapi bisa ku dengar. “Kau pulang sendiri?”
Dia bukan hanya
menyebalkan tapi juga aneh. Untuk apa dia bertanya seperti itu. Dan ini yang
kedua kalinya dia bertanya dengan hal yang sama. “Tidak, ada yang menjemputku”
Terlihat. Walau hanya
sedetik dia menunjukkan wajah kekecewaan. Kenapa memang?
wajahnya kembali dingin. “Baiklah”. Dia berbalik berlalu pergi.
wajahnya kembali dingin. “Baiklah”. Dia berbalik berlalu pergi.
Ha? Hanya begitu? Dia
mengikutiku lalu pergi begitu saja. Memag sangat aneh. Dia seperti tidak
mempunyai tujuan hidup. Mengikutiku tapi setelah tau aku ke perpustakaan dia
bertanya dengan siapa aku pulang. Setelah tau ada yang menjemputku dia pergi.
Dasar aneh dan menyebalkan. Apa dia tidak tau sudah membuang waktuku.
***
Menyebalkan. Di hari
libur seharusnya aku bersantai tapi ada telefon yang mengangguku dan menyuruhku
datang sambil membawa dokumen yang di maksudnya.
Disinilah aku berada.
Di dalam lift, di gedung kantor kakak iparku yang menyebalkan. Dasar kakak ipar
merepotkan. Orang yang mengganggu hari liburku yang paling berharga adalah Mas
Dika. Kalau tidak ada telfon darinya tadi pasti sekarang aku masih menonton
film di temani pop corn. Awas saja,
aku akan minta traktir makan siang dan makan malam nanti.
Pintu lift terbuka.
Dengan dua map tebal di pelukanku aku keluar dari kotak besi itu.
DOR . . .
Langkah ku berhenti.
Apa aku salah dengar? Itu tadi suara tembakan.
DOR . . . DOR . . . DOR
. . .
Ada lagi. Dari bawah
lantai ini. Jelas itu suara tembakan. Aku berlari menuju kantor Mas Dika.
“Mas Dika”, seruku.
Mas Dika mengahampiriku.
“Kiara, kamu nggak pa-pa??”
Ku anggukkan kepalaku.
Baru kali ini aku mendengar suara tembakan dan baru kali ini aku merasa takut
yang sangat. Aku tidak bisa membayangkan jika nanti aku akan mati dengan
tembakan itu. Tidak boleh.
“Memangnya ada apa?
Suara tembakan itu . . .”. bahkan tubuhku bergetar mengingat tembakan itu.
Suara teriakan dan gaduh bahkan terdengar dari kantor ini. Suara sirine juga
terdengar dari luar.
“Sepertinya ada yang
menjadikan gedung ini sebagai sandra”
Hah? Oke, sekarang aku
bisa merasakan bagaimana menjadi sandra. Dan ini seperti di film-film,
sayangnya ini kenyataan bukan panggung sandiwara.
Hampir saja aku
berteriak jika saja tidak segera ku tutup mulutku. Bagaimana mungkin ada sebuah
pistol di tangan Mas Dika? Aku berjalan mundur melihat pistol itu. Darimana Mas
Dika mendapatkannya?
“Kamu tetap di sini.
Mas lihat keadaan aman atau tidak. Kalau aman kita cari jalan keluarnya
sama-sama”. Belum sempat dia mencapai pintu ku pegang tangannya.
“Nggak, aku ikut Mas
Dika aja”
“Kamu harus tetap di
sini. Kamu tanggung jawab Mas. Kalau ada sesuatu yang terjadi sama kamu Mas
nggak akan maafin diri Mas sendiri”
Oh, Tuhan. Ini
mengharukan sekaligus menegangkan. “Mas Dika”
Dia menunduk mengecup
dahiku sayang. Aku tau meskipun dia bukan kakak kandungku tapi dia menyayangiku
seperti adiknya sendiri. “Kamu hati-hati. Kalau ada apa-apa telfon Mas”
Dia menghilang dari
balik pintu.
Sudah satu jam aku
berada di ruangan ini. Menunggu, entah apa yang akan datang nanti. Aku
mengkhawatirkan Mas Dika. Pikiran-pikiran negatif mulai berdatangan. Mas Dika belum juga
datang. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya.
Ku gelengkan kepalaku.
Tidak. Aku yakin Mas Dika baik-baik saja. Mas Dika pasti mencari jalan keluar
dari gedung ini. Tapi bagimana kalau penjahat yang datang kemari. Aku juga
harus membuat pertahanan.
Pandanganku berkeliling
mencari sesuatu yang bisa ku gunakan untuk berlindung. Mataku menangkap tongkat
golf. Bisa, kah? Tidak ada yang lain. Kalau di rumah aku punya katana hadiah ulang tahunku tahun lalu.
Ini dalam keadaan genting dan aku bukan di rumah.
Tap . . . Tap . . . Tap
. . .
Suara langkah kemari.
Ke ruangan ini!!! Segera ku ambil tongkat golf itu lalu berdiri di samping
pintu. Oh, benarkah aku harus berhadapan dengan penjahat? Dia memakai pistol
sedangkan aku hanya tongkat golf. Perlu tambahan, aku juga perempuan, tidak
bisa berkelahi.
Langkah itu semakin mendekat.
Tanganku yang memegang tongkat golf sudah berkeringat, sedikit goyangan saja akan
jatuh. Oh, Tuhan kenop pintu itu bergerak. Kakiku sudah terasa lemas. Aku harus
bagaimana?
Dunia sudah kiamat saat
perlahan pintu itu terbuka. Seorang laki-laki berpakaian hitam datang dari
pintu itu. Tanganku masih memegang erat tongkat golf siap untuk memukulnya.
Jantungku terasa ingin
lepas saat dia berbalik mengacungkan pistolnya padaku. Pistolnya mengarah
padaku!!!
“Kau”
Aku terkesiap. Dia
bukan penjahat. Dia laki-laki menyebalkan itu. Kenapa dia ada di sini?
Dia menurunkan
pistolnya. “Aku bertemu kakakkmu, dia bilang kau ada di sini jadi aku kemari”
Tubuhku terhempas begitu
saja. Tongkat golf yang ku pegang terlepas. Bahkan aku tidak bisa merasakan udara
saat ini. Mas Dika baik-baik saja. Aku sudah berfikir yang bukan-bukan.
Syukurlah.
“Kita harsu pergi dari
sini, penjahat-penjahat itu berniat memeriksa gedung ini”. Sontak aku
menatapnya.
Ada hal yang ganjil
disini. Kenapa dia ada di sini? Pakaiannya juga, seperti agen-agen khusus di
film. “Kenapa kau ada disini?”
Dia mengalihkan
pandangannya. Selalu seperti itu. Tapi kali ini dia harus menjawabnya. Ku
cengkram tangannya agar tidak lari.
“Kenapa kau bisa ada di
sini? Kau tidak bekerja di sini dan juga aku tidak melihatmu di gedung ini
tadi”. Akan ku kejar jawaban darinya. Aku hanya tidak mau di penuhi rasa
penasaran.
Dia menunduk menatapku
tajam. Tubuhku mengigil. “Bukan urusanmu”
Tubuhku kaku mendengarnya.
Sangat mengintimidasi. Ini lebih menakutkan dari menanti penjahat datang. Aku
tidak menyangka dia mempunyai aura yang sangat menekan seperti ini. Tanganku
yang mencengkramnya melemas begitu saja. Tatapannya masih tajam dan dingin.
Tapi belum sempat
lenganku terlepas giliran dia yang memgang tanganku. Gengamannya lembut namun
begitu melindungi. Tatapannya berubah datar meski ada sedikit kesan dinginnya.
Wajahnya tidak bisa di tebak. Lagi pula aku bukan orang yang bisa membaca wajah
seseorang.
“Ayo pergi dari sini”.
Dia sedikit menarikku. Aku hanya mengikuti langkah panjangnya. Aku masih
terkejut dengan tatapan tajamnya. Aku hanya tidak percaya saja.
Langkah lain terdengar
dari arah berlawanan. Tida orang membawa senjata menatap kami. “Shit”, ucapnya menarikku memasuki
ruangan.
Ruangan karyawan
menjadi tempat persembunyian kami. Tapi tiga orang membawa senjata itu masih
tetap mengejar kami. Aku dan dia bersembunyi di balik meja paling pojok.
Suara tembakan tak
beraturan terdengar keras. Aku membungkuk memegang kepalaku. Dia ikut
membungkuk seperti ku.
“Lebih baik kalian
keluar kelinci kecil kalau tidak ingin mati disini”. Teriak salah satu penjahat
itu.
Yang benar saja.
Penjahat itu gial atau apa. Mana mungkin aku keluar dan menyerahkan diri. Yang
ada aku langsung mati di tempat. Kenapa hari liburku berantakan seprti ini?
Kalau saja aku tidak kesini mungkin aku bisa tenang. Dan juga dasar kakak ipar
merepotkan. Dia sebenarnya kemana?!
“Kau tunggu di sini”.
Aku menoleh. Dia mau meninggalkanku? Dia sama menyebalkannya seperti Mas Dika.
“Lalu kau mau apa?”
Dia pergi. Dia sama sekali
tidak menghiraukanku. Suara tembakan
kembali terdengar. Ya, Tuhan. Ini tinggal menunggu jatuh saja dari
seutas tali. Tentu saja aku takut. Hey, ini menyangkut nyawa.
Tapi aku tidak bisa seperti
ini terus. Aku harus pergi dan kalau bisa mencari bantuan untuk membantunya.
Meski dia sedikit meyakinkan tapi tetap saja kemungkinan kalah ada. Dia
sendirian melawan tiga orang penjahat. Itu namanya curang.
Dengan takut aku
merangkak pelan-pelan layaknya seorang bayi. Dengan waspada tentunya. Suara
tembakan masih terdengar. Aku yakin ruangan karyawan ini pasti sangat
berantakan. Entah rugi berapa, aku tidak perduli. Yang penting harus melarikan
diri dulu.
Akhirnya setelah cukup
lelah berputar sambil merangkak, pintu keluar terlihat menganga lebar. Tentu
saja aku tidak bisa menyembunyikan senyumku dalam keadaan menegangkan ini.
Tanpa sadar aku berdiri
dan berlari menuju pintu itu.
“KIARA!!!!”. Suara yang
sangat ku kenal membuatku menoleh.
Satu penjahat tersisa mengarahkan
pistolnya padaku. Tak lama suara tembakan terdengar disusul suara tembakan
kedua.
Bumi seakan berhenti
berputar. Semua kejadian itu terjadi sangat cepat. Penjahat itu tumbang dengan
luka tembakan di dada kanannya. Tapi lebih dari itu sosok didepanku ikut
tumbang. Dia, laki-laki menyebalkan itu tergeletak dengan mata tertutup.
Seketika dadaku sesak.
Mataku mulai panas. Bahkan aku tidak bisa merasakan suara jantungku sendiri.
Semua seakan mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar