Jumat, 03 Oktober 2014

CERITA ROMANCE : YOUR NAME



YOUR NAME?
PART 2
BY MIZUSHI HANA

Seperti biasa setelah jadwal kuliahku selesai aku mampir ke perpustakaan. Dan pastinya melewati gedung olahraga. Memangnya mau lewat mana lagi kalau harus berkeliling memutar menghabiskan waktu lima belas menit. Seperti dugaanku dia ada di sana lagi. Di gedung olahraga, bermain basket, sendirian. Awalnya aku berniat tidak perduli tapi ada sebuah dorongan yang membuatku ingin melihat permainannya.
Kali ini dia menggiring bola lalu memasukkannya, bolak balik mengitari lapangan. Yah, dia sangat kuat kalau begitu. Bisa terus bolak balik lapangan tanpa berhenti. Aku saja satu lapangan sudah lelah.
Ku lihat dirinya yang memusatkan diri dari garis three point. Dan lagi, bola itu masuk seperti dulu.
“Sedang apa kau di sini?”. Kali ini dia bertanya sambil menatapku. Nafasnya memburu dengan keringat yang mengalir dari dahi sampai leher. Kulitnya yang kecoklatan memperlihatkan lengan berototnya yang berkilauan karena keringat.
Aku mendengus. “Memang tidak boleh. Kau sendiri kenapa selalu kesini, padahal gedung fakultasmu jauh dari sini”
Bukannya menjawab dia malah mengacuhkanku mengambil bolanya. Dasar licik. Suka mengalihkan pembicaraan dengan mengabaikan lawan bicara. Well, itu memang sudah sepantasnya, jadi tidak salah aku menyebutnya menyebalkan.
Dia mulai bermain lagi. So, aku tidak ada kepelruan lagi di sini. Aku berbalik pergi. Baru saja aku keluar dari gedung olahraga seseorang berjalan di sampingku. Aku menolah dan langsung saja berjingkat menjauh karena terkejut.
Bagaimana tidak. Dia ada di sampingku!!!! Aku yakin tadi dia masih bermain dan sekarang dia di sampingku dengan wajah tanpa dosanya. Dia hantu atau apa tiba-tiba ada di sampingku.
“Kenapa kau di sini?”. Sepertinya ucapannya menjadi bumerang untukku.
“Memang tidak boleh”
Yah, aku harus sabar menghadapi laki-laki stay cool yang sangat menyebalkan ini. Mungkin perempuan-perempuan yang mengejarnya sudah buta mau mengejar laki-laki menyebalkan seperti dia. Berarti April buta?
Malas berdebat ku hiraukan dirinya. Tujuanku masih sama, menuju perpustakaan. Laki-laki menyebalkan itu tentu masih berjalan di sampingku. Aku melirik, lalu tersenyum miris. Apa aku hidup di lingkungan orang-orang tinggi. Sungguh aku seperti orang kerdil berjalan di sampingnya. Hanya sebahunya tapi dia terlihat seperti Titan. Besar dan tinggi.
Pintu perpustakaan sudah terlihat di depan. “Kau ingin ke perpustakaan?”
Dahiku berkerut. Dua bodoh atau apa. Salah sendiri mengikutiku. Hey, aku tidak sombong. Kenyataannya dia mengikutiku. “Apa salahnya? Tujuanku memang kesana”
“Dasar kutu buku”, gerutunya tapi bisa ku dengar. “Kau pulang sendiri?”
Dia bukan hanya menyebalkan tapi juga aneh. Untuk apa dia bertanya seperti itu. Dan ini yang kedua kalinya dia bertanya dengan hal yang sama. “Tidak, ada yang menjemputku”
Terlihat. Walau hanya sedetik dia menunjukkan wajah kekecewaan. Kenapa memang?
wajahnya kembali dingin. “Baiklah”. Dia berbalik berlalu pergi.
Ha? Hanya begitu? Dia mengikutiku lalu pergi begitu saja. Memag sangat aneh. Dia seperti tidak mempunyai tujuan hidup. Mengikutiku tapi setelah tau aku ke perpustakaan dia bertanya dengan siapa aku pulang. Setelah tau ada yang menjemputku dia pergi. Dasar aneh dan menyebalkan. Apa dia tidak tau sudah membuang waktuku.
***
Menyebalkan. Di hari libur seharusnya aku bersantai tapi ada telefon yang mengangguku dan menyuruhku datang sambil membawa dokumen yang di maksudnya.
Disinilah aku berada. Di dalam lift, di gedung kantor kakak iparku yang menyebalkan. Dasar kakak ipar merepotkan. Orang yang mengganggu hari liburku yang paling berharga adalah Mas Dika. Kalau tidak ada telfon darinya tadi pasti sekarang aku masih menonton film di temani pop corn. Awas saja, aku akan minta traktir makan siang dan makan malam nanti.
Pintu lift terbuka. Dengan dua map tebal di pelukanku aku keluar dari kotak besi itu.
DOR . . .
Langkah ku berhenti. Apa aku salah dengar? Itu tadi suara tembakan.
DOR . . . DOR . . . DOR . . .
Ada lagi. Dari bawah lantai ini. Jelas itu suara tembakan. Aku berlari menuju kantor Mas Dika.
“Mas Dika”, seruku.
Mas Dika mengahampiriku. “Kiara, kamu nggak pa-pa??”
Ku anggukkan kepalaku. Baru kali ini aku mendengar suara tembakan dan baru kali ini aku merasa takut yang sangat. Aku tidak bisa membayangkan jika nanti aku akan mati dengan tembakan itu. Tidak boleh.
“Memangnya ada apa? Suara tembakan itu . . .”. bahkan tubuhku bergetar mengingat tembakan itu. Suara teriakan dan gaduh bahkan terdengar dari kantor ini. Suara sirine juga terdengar dari luar.
“Sepertinya ada yang menjadikan gedung ini sebagai sandra”
Hah? Oke, sekarang aku bisa merasakan bagaimana menjadi sandra. Dan ini seperti di film-film, sayangnya ini kenyataan bukan panggung sandiwara.
Hampir saja aku berteriak jika saja tidak segera ku tutup mulutku. Bagaimana mungkin ada sebuah pistol di tangan Mas Dika? Aku berjalan mundur melihat pistol itu. Darimana Mas Dika mendapatkannya?
“Kamu tetap di sini. Mas lihat keadaan aman atau tidak. Kalau aman kita cari jalan keluarnya sama-sama”. Belum sempat dia mencapai pintu ku pegang tangannya.
“Nggak, aku ikut Mas Dika aja”
“Kamu harus tetap di sini. Kamu tanggung jawab Mas. Kalau ada sesuatu yang terjadi sama kamu Mas nggak akan maafin diri Mas sendiri”
Oh, Tuhan. Ini mengharukan sekaligus menegangkan. “Mas Dika”
Dia menunduk mengecup dahiku sayang. Aku tau meskipun dia bukan kakak kandungku tapi dia menyayangiku seperti adiknya sendiri. “Kamu hati-hati. Kalau ada apa-apa telfon Mas”
Dia menghilang dari balik pintu.
Sudah satu jam aku berada di ruangan ini. Menunggu, entah apa yang akan datang nanti. Aku mengkhawatirkan Mas Dika. Pikiran-pikiran  negatif mulai berdatangan. Mas Dika belum juga datang. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya.
Ku gelengkan kepalaku. Tidak. Aku yakin Mas Dika baik-baik saja. Mas Dika pasti mencari jalan keluar dari gedung ini. Tapi bagimana kalau penjahat yang datang kemari. Aku juga harus membuat pertahanan.
Pandanganku berkeliling mencari sesuatu yang bisa ku gunakan untuk berlindung. Mataku menangkap tongkat golf. Bisa, kah? Tidak ada yang lain. Kalau di rumah aku punya katana hadiah ulang tahunku tahun lalu. Ini dalam keadaan genting dan aku bukan di rumah.
Tap . . . Tap . . . Tap . . .
Suara langkah kemari. Ke ruangan ini!!! Segera ku ambil tongkat golf itu lalu berdiri di samping pintu. Oh, benarkah aku harus berhadapan dengan penjahat? Dia memakai pistol sedangkan aku hanya tongkat golf. Perlu tambahan, aku juga perempuan, tidak bisa berkelahi.
Langkah itu semakin mendekat. Tanganku yang memegang tongkat golf sudah berkeringat, sedikit goyangan saja akan jatuh. Oh, Tuhan kenop pintu itu bergerak. Kakiku sudah terasa lemas. Aku harus bagaimana?
Dunia sudah kiamat saat perlahan pintu itu terbuka. Seorang laki-laki berpakaian hitam datang dari pintu itu. Tanganku masih memegang erat tongkat golf siap untuk memukulnya.
Jantungku terasa ingin lepas saat dia berbalik mengacungkan pistolnya padaku. Pistolnya mengarah padaku!!!
“Kau”
Aku terkesiap. Dia bukan penjahat. Dia laki-laki menyebalkan itu. Kenapa dia ada di sini?
Dia menurunkan pistolnya. “Aku bertemu kakakkmu, dia bilang kau ada di sini jadi aku kemari”
Tubuhku terhempas begitu saja. Tongkat golf yang ku pegang terlepas. Bahkan aku tidak bisa merasakan udara saat ini. Mas Dika baik-baik saja. Aku sudah berfikir yang bukan-bukan. Syukurlah.
“Kita harsu pergi dari sini, penjahat-penjahat itu berniat memeriksa gedung ini”. Sontak aku menatapnya.
Ada hal yang ganjil disini. Kenapa dia ada di sini? Pakaiannya juga, seperti agen-agen khusus di film. “Kenapa kau ada disini?”
Dia mengalihkan pandangannya. Selalu seperti itu. Tapi kali ini dia harus menjawabnya. Ku cengkram tangannya agar tidak lari.
“Kenapa kau bisa ada di sini? Kau tidak bekerja di sini dan juga aku tidak melihatmu di gedung ini tadi”. Akan ku kejar jawaban darinya. Aku hanya tidak mau di penuhi rasa penasaran.
Dia menunduk menatapku tajam. Tubuhku mengigil. “Bukan urusanmu”
Tubuhku kaku mendengarnya. Sangat mengintimidasi. Ini lebih menakutkan dari menanti penjahat datang. Aku tidak menyangka dia mempunyai aura yang sangat menekan seperti ini. Tanganku yang mencengkramnya melemas begitu saja. Tatapannya masih tajam dan dingin.
Tapi belum sempat lenganku terlepas giliran dia yang memgang tanganku. Gengamannya lembut namun begitu melindungi. Tatapannya berubah datar meski ada sedikit kesan dinginnya. Wajahnya tidak bisa di tebak. Lagi pula aku bukan orang yang bisa membaca wajah seseorang.
“Ayo pergi dari sini”. Dia sedikit menarikku. Aku hanya mengikuti langkah panjangnya. Aku masih terkejut dengan tatapan tajamnya. Aku hanya tidak percaya saja.
Langkah lain terdengar dari arah berlawanan. Tida orang membawa senjata menatap kami. “Shit”, ucapnya menarikku memasuki ruangan.
Ruangan karyawan menjadi tempat persembunyian kami. Tapi tiga orang membawa senjata itu masih tetap mengejar kami. Aku dan dia bersembunyi di balik meja paling pojok.
Suara tembakan tak beraturan terdengar keras. Aku membungkuk memegang kepalaku. Dia ikut membungkuk seperti ku.
“Lebih baik kalian keluar kelinci kecil kalau tidak ingin mati disini”. Teriak salah satu penjahat itu.
Yang benar saja. Penjahat itu gial atau apa. Mana mungkin aku keluar dan menyerahkan diri. Yang ada aku langsung mati di tempat. Kenapa hari liburku berantakan seprti ini? Kalau saja aku tidak kesini mungkin aku bisa tenang. Dan juga dasar kakak ipar merepotkan. Dia sebenarnya kemana?!
“Kau tunggu di sini”. Aku menoleh. Dia mau meninggalkanku? Dia sama menyebalkannya seperti Mas Dika.
“Lalu kau mau apa?”
Dia pergi. Dia sama sekali tidak menghiraukanku. Suara tembakan  kembali terdengar. Ya, Tuhan. Ini tinggal menunggu jatuh saja dari seutas tali. Tentu saja aku takut. Hey, ini menyangkut nyawa.
Tapi aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus pergi dan kalau bisa mencari bantuan untuk membantunya. Meski dia sedikit meyakinkan tapi tetap saja kemungkinan kalah ada. Dia sendirian melawan tiga orang penjahat. Itu namanya curang.
Dengan takut aku merangkak pelan-pelan layaknya seorang bayi. Dengan waspada tentunya. Suara tembakan masih terdengar. Aku yakin ruangan karyawan ini pasti sangat berantakan. Entah rugi berapa, aku tidak perduli. Yang penting harus melarikan diri dulu.
Akhirnya setelah cukup lelah berputar sambil merangkak, pintu keluar terlihat menganga lebar. Tentu saja aku tidak bisa menyembunyikan senyumku dalam keadaan menegangkan ini.
Tanpa sadar aku berdiri dan berlari menuju pintu itu.
“KIARA!!!!”. Suara yang sangat ku kenal membuatku menoleh.
Satu penjahat tersisa mengarahkan pistolnya padaku. Tak lama suara tembakan terdengar disusul suara tembakan kedua.
Bumi seakan berhenti berputar. Semua kejadian itu terjadi sangat cepat. Penjahat itu tumbang dengan luka tembakan di dada kanannya. Tapi lebih dari itu sosok didepanku ikut tumbang. Dia, laki-laki menyebalkan itu tergeletak dengan mata tertutup.
Seketika dadaku sesak. Mataku mulai panas. Bahkan aku tidak bisa merasakan suara jantungku sendiri. Semua seakan mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar