YOUR NAME?
PART 1
BY MIZUSHI HANA
Walaupun masih pagi
banyak orang yang sudah berkeliaran di jalan. Ku lihat orang-orang yang berlalu
lalang dari kaca mobil kakakku. Sejak berangkat kuhiraukan sepasang suami-istri
muda itu yang berbicara denganku entah tentang apa. Di bilang muda karena
mereka menikah lima bulan lalu. Akhirnya kakakku berlabuh juga setelah umurnya
beranjak dua puluh lima dengan pria yang dia cintai tentunya.
Kami menuju kampus
baruku yang dulunya kakakku lulus di sana. Awalnya aku tidak menyangka akan
masuk ke kampus yang sama dengan kakakku. Untung kakakku sudah lulus jadi tidak
ada kejadian dimana kakak dan adik berada di kampus yang sama.
Dan kenapa kami bukan
aku. Sebenarnya aku sudah meminta untuk pergi sendiri tapi mereka tetap saja
ingin mengantarku. Berhubung orang tuaku pergi keluar kota aku menjadi tanggung
jawab mereka.
Gedung besar dengan
gerbang yang besar pula sudah terlihat. Setelah sampai dan berhenti di dekat
gerbang tanpa komando aku turun dari mobil. Banyak mahasiswa yang memasuki
kampus itu. Pastinya kampus ini begitu terkenal di kota ini melihat banyak
mahasiswa yang masuk.
Kakakku ikut keluar
dari mobil. “Ayo”. Ajaknya membuat dahiku berkerut.
“Kemana?”
Dia memutar matanya
bosan. “Ngantar kamu”
Langsung saja ku
cengkram tangannya agar tidak bergerak. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri”. Hello, umurku delapan belas tahun dan
aku tidak butuh seorang nany. “Dah .
.”
Dengan cepat aku
berlari menghiraukan panggilannya. Alih-alih jika dia menyusul. Ku pegang erat
ranselku berlari menuju gedung fakultasku. Selama ospek seminggu aku sudah
menghafal letak gedung fakultasku, jadi aku tidak akan tersesat di jalan
seperti dulu-dulu.
Langkahku pelan memasuki
lorong yang cukup ramai. Ada yang sedang bercanda, menggosip, bahkan
terburu-buru memasuki kelas. Jadwalku hari ini sudah ku hafalkan dan ruangan
dimana aku mengambil kelas.
Kelasku tidak begitu
ramai dan tidak terlalu sepi mungkin karena jam kuliah belum dimulai masih ada
yang di luar. Seperti saat SMA menunggu guru datang ke kelas dengan duduk-duduk
di depan kelas.
Pendanganku mengarah
pada seseorang yang melambai padaku. Aku tersenyum lalu menghampirinya. Duduk
di sampingnya yang belum terisi. “Pagi”, sapaku.
“Pagi”, balas April.
Teman pertamaku begitu tau kami mengambil beberapa kelas yang sama.
Setelah itu waktu
berjalan cepat dan dosen pengajar masuk ke dalam kelas memberi materi.
April mehampiriku
ketika buku terakhir ku masukkan ke dalam tas. “Mau ke kantin?”
Sejenak aku menimbang.
Aku jadi teringat kantin SMA yang selalu ramai saat istirahat dan ini memang
waktunya untuk istirahat. Belum pernah berkunjung ke kantin kampus ini. Jadi
apa salahnya melihat sebentar.
“Oke”
Kami hanya bisa mematung.
Kantin cukup penuh dan hampir semua bangku sudah terisi. Sepertinya sama saja.
Ku tatap April yang sama terpakunya. “Jadi?”
Dia menoleh lalu
tersenyum miris.
Sudah ku duga. “Kita
cari tempat duduk saja. Aku membawa roti isi dan air”
Dia tersenyum. “Sepertinya
menyenangkan”
April memang gadis yang
mudah untuk di ajak kompromi. Terkadang aku iri dengannya. Kenapa? Dia cantik,
baik, lembut, dan sangat friendly.
Dari ceritanya dia hanya tinggal dengan Ibunya yang berwirausaha membuka toko
roti dan toko bunga. Ayahnya sudah meninggal saat dia masih kecil jadi sudah
lama Ibunya menjadi single parent.
Tapi ada satu hal sifat terburuknya. Dia tidak suka apapun yang menjadi
miliknya di rebut, terlebih makanan. Dia akan marah dan merebut makanan itu
lagi.
Masih ingat saat
seorang senior mengerjainya dengan mengambil roti buatan Ibunya dan dia menjadi
marah lalu merebut kembali rotinya. Untung saja senior itu baik dan
mengembalikan rotinya. Bahkan bukannya marah karena April memarahi senior itu,
senior itu malah tertawa keras.
Kami duduk di bangku
bawah pohon. Roti isi buatan kakaku akhirnya tandas di tangan April. Sepertinya
gadis lucu ini seorang maniak roti. Suara berisik mengganggu telingaku dan aku
menoleh.
Tiga orang laki-laki
berjalan melewati lorong. Dari jarakku, aku bisa melihat wajah orang-orang itu
meski dari dari samping. Tapi yang lebih menarik adalah semua perempuan melihat
mereka bagaikan melihat artis korea.
Tatapan memuja,
terpesona, malu, tertera di wajah mereka sambil menatap tiga laki-laki itu.
Baru kali ini aku melihat tiga laki-laki itu. Sepertinya senior mengingat aku
tidak melihat mereka saat ospek.
Aku berpaling, melihat
April yang juga menatap tiga laki-laki itu dengan terpesona. Sampai mereka
menghilang di balik tembok wajah April masih berseri-seri. Aku menyeringai.
“Hei’, ku senggol
bahunya pelan membuatnya sadar. “Kau menyukai mereka, ya?”. Godaku.
Pipinya seakin memerah.
Aku tertawa geli. “Jadi
siapa mereka sampai-sampai mengalihkan duniamu?”
April menoleh cepat.
Rona merah di wajahnya hilang. Dia menatapku terkejut. “Kau tidak tau mereka?”
Tentu saja aku tidak tau,
aku mahasiswa baru. Dan perlu di catat, aku sering lupa dengan seseorang yang
baru ku kenal. Ku gelengkan kepalakku jujur.
“Sungguh?”. Tanya April
sungguh-sungguh.
Dahiku berkerut.
“Memang mereka siapa?”. Jangan salahkan aku yang susah mengingat seseorang. Itu
dari lahir. Mungkin saja aku sempat mengenal mereka dan sekarang lupa.
April terlihat aneh.
Dia menghela nafas. “Mereka adalah idol kampus ini. Calon Arsitek, Dokter, dan
Pengacara jenius. Salah satu dari mereka anggota club basket terkenal di kota
ini”. April mengucapkannya penuh tekad dan mata yang berbinar-binar, membuatku
takut.
Ceritanya masih belum
selesai. “Mereka berasal dari keluarga kaya. Mereka semua tampan, banyak
perempuan yang mengagumi mereka. Mereka juga jenius. Semester lima tahun ini”
“Dan kau salah satu
fansnya”, selaku cepat.
Wajahnya cemberut lalu
kembali melanjutkan ceritanya tentang tiga laki-laki idol itu yang menjadi
angin lalu di telingaku. What ever.
Aku tidak perduli dengan mereka. Bagiku tidak penting memikirkan laki-laki yang
tidak pernah memikirkan kita.
Langkahku cukup cepat
setelah mata kuliah terakhir ku selesai. Satu ruangan yang memenuhi otakku.
Perpustakaan. Sejak ospek aku harus menahan diri untuk tidak memegang salah
satu buku di perpustakaan karena saat itu kami hanya berkunjung sebentar.
Sejak melihat bagian
dalam perpustakaan aku tidak bisa tidur untuk menunggu saat dimana aku bisa
mampir ke sana. Sangat mengagumkan. Tempatnya luas dan klasik. Banyak buku yang
ada di sana, bahkan buku-buku lama di sana masih terawat. Dan aku sangat suka
buku sejarah yang sudah lama.
Satu lagi yang
membuatku terkesan. Di sana tersedia tempat duduk di tiap-tiap titik. Kalau
kita duduk di lorong pun tidak ada yang melarang, tempatnya juga dingin.
Asalkan tidak mengotori tidak akan di usir.
Begitulah kata seniorku
saat ospek.
Menuju perpustakaan
berarti melewati gedung olahraga. Pintunya memang terbuka tapi ada suara aneh
dari dalam sana. Langkahku memelan, penasaran dengan suara itu. Dan setelah
sampai di depan pintu suara itu menjadi jelas. Suara bola yang membentur
lantai.
Jelas. Telingaku tidak
mungkin salah. Suasana terlihat sepi membuatku merinding. Jam masih pukul
setengah dua. Mana ada hantu siang-siang seperti ini.
Rasa penasaranku
memuncak. Ku beranikan diriku memasuki gedung meski ada sedikit rasa takut.
Perkiraanku benar.
Seseorang memainkan bola basket di sana. Sendirian. Dia berlari lalu melempar
bolanya dari garis luar. Three point
dan hasilnya masuk.
“Tidak perlu
bersembunyi”. Ucapnya tanpa berbalik.
Tubuhku tersentak
mendengarnya. Yah, memang jika di lihat dari arah pandangnya aku terlihat
bersembunyi. Tapi aku tidak bersembunyi, lagi pula untuk apa?
Dia berbalik lalu
menatapku. “Aku rasa ini tempat umum, tidak perlu melihatku dari jauh”
Hah. Sombong. Aku hanya
lewat dan melihat saja. Tunggu. Dia kalau tidak salah, salah satu dari tiga
laki-laki di lorong tadi. YA!! Dia salah satu dari mereka. Kenapa dia bisa ada
di sini? Gedung fakultasnya kan jauh dari sini. Tapi, hey, aku bisa mengingatnya,
daya ingatku meningkat.
“Kurasa jam kuliah
sudah selesai sejak tadi”. Ucapku mencoba berkomunikasi.
Dia berjalan kearah
bolanya yang ada di samping ring. “Dan kurasa tempat ini bisa di gunakan kapan
saja”. Ucapnya tanpa menatap, lagi.
Jadi dapat di simpulkan
jika laki-laki itu sangat menyebalkan dan dingin. Oh, oke, what ever. Lagi pula aku tidak mengenal salah satu idol itu.
“Oke, terserah kau
saja”. Langkahku berbalik beranjak meninggalkannya.
“Kau pulang
sendirian?”. Bisa ku dengan suaranya lantang. Tidak ada suara pantulan bola.
Dahiku berkerut. “Apa
pedulimu?”. Tapi pada akhirnya, “ada yang menjemputku”. Aku menjawabnya.
Aneh. Jawaban itu
meluncur begitu saja tanpa ku pikirkan dulu.
Setelahnya suara
pantulan bola terdengar mengawali langkahku keluar dari gedung olahraga.
“Maaf telat”
Ku lepas earphone yang ku pakai setelah
melihatnya datang. Mas Dika, suami kakakku datang dengan kebiasaannya. Selalu
terlambat. Salah sendiri siapa yang berlagak ingin mengantarku tadi. Tapi pada
akhirnya akulah yang di rugikan karena boros waktu hanya untuk menunggunya
datang.
Aku duduk di bangku
depan lalu dia menjalankan mobilnya. “Kamu mau ikut ke rumah teman Mas atau
pulang?”
“Mbak Karla?”
Dia masih fokus
menyetir. “Katanya lembur, nanti malam pulang”
Selalu seperti itu.
Kalau tidak sibuk ya kencan sama Mas Dika. Sejak menikah dia jarang denganku,
tapi tak apalah memang sudah resiko jika sudah menikah. Lagi pula terkadang Mas
Dika yang menemaniku kalau Mbak Karla sibuk.
“Ikut aja, lagian di
rumah sepi”. Aku tinggal bersama mereka sejak awal ospek. Selain menghemat uang
kos aku sudah menjadi pengganggu paten mereka. Jangan salah paham, maksudnya
aku suka mengganggu suasana romantis mereka. Entah kenapa tapi rasanya
menyenangkan.
Namun ada kalanya juga
aku membiarkan mereka dengan berada di kamar atau keluar rumah. Dan juga tidak
perlu memasak sendiri. Terlebih kemampuan memasakku hanya membuat nasi goreng.
Aku menungu Mas Dika di
mobil sambil membaca buku yang ku pinjam dari perpustakaan. Sudah hampir
setengah jam mp3 di ponselku
berbunyi. Belum ada batang hidung Mas Dika keluar dari rumah itu.
Jika di lihat-lihat
rumah itu terlihat besar dan minimalis. Bagian depan di cat putih dan abu-abu.
Tamannya cukup luas di penuhi tanaman hias di tengah-tengahnya. Pintu rumah itu berwarna hitam, tadi Mas Dika masuk lewat
pintu itu. Perutku suah lapar dan harus menunggu berapa lama lagi.
Dengan kesal aku keluar
dari mobil berjalan menghampiri pintu rumah itu. Ku pencet bel di samping
pintu. Tak lama pintu terbuka. Seorang laki-laki tinggi muncul membuka pintu.
Dia terlihat terkejut melihatku. Kenapa?
“Kau yang tadi”,
ucapnya setelah menghilangkan ekspresi terkejutnya.
Dia bila ‘yang tadi’
berarti kami pernah bertemu. Rasanya aku pernah melihatnya. Ah!! Aku ingat
sekarang. Dia laki-laki menyebalkan di gedung olahraga tadi. Kenapa daya
ingatku menurun?
Jadi ini rumahnya. Tapi
cepat sekali dia pulangnya. Kalau tidak salah tadi dia masih bermain saat aku
meninggalkannya. Atau karena aku terlalu lama menunggu Mas Dika tadi?
“Kiara”. Mendengar
namaku di panggil kepalaku menoleh, langsung saja rasa kesal menyerbuku.
“Kenapa kamu di sini?”. Mas Dika datang bersama laki-laki tinggi lainnya. Oke,
rasanya aku menjadi orang kerdil di antara orang-orang tinggi ini.
Dasar. Katanya hanya
sebentar. Tidak tau apa aku sudah lapar. “Ayo pulang”. Ucapku tanpa menjawab
pertanyaannya. Mana mungkin aku bilang kalau aku masuk karena lapar dan meminta
Mas Dika cepat pulang. Harga diri, guys.
“Iya-iya”. Mas Dika
berpamitan dengan temannya.
Oh, jangan lupa laki-laki
menyebalkan dan dingin tadi. Sejak tadi dia menatapku seperti sedang
menganalisis. Akupun membalas tatapannya tapi dengan tambahan rasa tidak suka. Hello, dia punya kesan menyebalkan saat pertama
kali bertemu.
Perkiraanku benar. Dia
tinggal di rumah ini dan adik dari teman Mas Dika. Sampai sekarang aku belum
tau namanya. Tapi walaupun tau aku tidak perduli. Namanya mungkin akan lupa
setelah aku tau. Hah. Sifat pelupa menyebalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar