Jumat, 03 Oktober 2014

CERITA ROMANCE : YOUR NAME



YOUR NAME?
PART 1
BY MIZUSHI HANA


Walaupun masih pagi banyak orang yang sudah berkeliaran di jalan. Ku lihat orang-orang yang berlalu lalang dari kaca mobil kakakku. Sejak berangkat kuhiraukan sepasang suami-istri muda itu yang berbicara denganku entah tentang apa. Di bilang muda karena mereka menikah lima bulan lalu. Akhirnya kakakku berlabuh juga setelah umurnya beranjak dua puluh lima dengan pria yang dia cintai tentunya.
Kami menuju kampus baruku yang dulunya kakakku lulus di sana. Awalnya aku tidak menyangka akan masuk ke kampus yang sama dengan kakakku. Untung kakakku sudah lulus jadi tidak ada kejadian dimana kakak dan adik berada di kampus yang sama.
Dan kenapa kami bukan aku. Sebenarnya aku sudah meminta untuk pergi sendiri tapi mereka tetap saja ingin mengantarku. Berhubung orang tuaku pergi keluar kota aku menjadi tanggung jawab mereka.
Gedung besar dengan gerbang yang besar pula sudah terlihat. Setelah sampai dan berhenti di dekat gerbang tanpa komando aku turun dari mobil. Banyak mahasiswa yang memasuki kampus itu. Pastinya kampus ini begitu terkenal di kota ini melihat banyak mahasiswa yang masuk.
Kakakku ikut keluar dari mobil. “Ayo”. Ajaknya membuat dahiku berkerut.
“Kemana?”
Dia memutar matanya bosan. “Ngantar kamu”
Langsung saja ku cengkram tangannya agar tidak bergerak. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri”. Hello, umurku delapan belas tahun dan aku tidak butuh seorang nany. “Dah . .”
Dengan cepat aku berlari menghiraukan panggilannya. Alih-alih jika dia menyusul. Ku pegang erat ranselku berlari menuju gedung fakultasku. Selama ospek seminggu aku sudah menghafal letak gedung fakultasku, jadi aku tidak akan tersesat di jalan seperti dulu-dulu.
Langkahku pelan memasuki lorong yang cukup ramai. Ada yang sedang bercanda, menggosip, bahkan terburu-buru memasuki kelas. Jadwalku hari ini sudah ku hafalkan dan ruangan dimana aku mengambil kelas.
Kelasku tidak begitu ramai dan tidak terlalu sepi mungkin karena jam kuliah belum dimulai masih ada yang di luar. Seperti saat SMA menunggu guru datang ke kelas dengan duduk-duduk di depan kelas.
Pendanganku mengarah pada seseorang yang melambai padaku. Aku tersenyum lalu menghampirinya. Duduk di sampingnya yang belum terisi. “Pagi”, sapaku.
“Pagi”, balas April. Teman pertamaku begitu tau kami mengambil beberapa kelas yang sama.
Setelah itu waktu berjalan cepat dan dosen pengajar masuk ke dalam kelas memberi materi.
April mehampiriku ketika buku terakhir ku masukkan ke dalam tas. “Mau ke kantin?”
Sejenak aku menimbang. Aku jadi teringat kantin SMA yang selalu ramai saat istirahat dan ini memang waktunya untuk istirahat. Belum pernah berkunjung ke kantin kampus ini. Jadi apa salahnya melihat sebentar.
“Oke”
Kami hanya bisa mematung. Kantin cukup penuh dan hampir semua bangku sudah terisi. Sepertinya sama saja. Ku tatap April yang sama terpakunya. “Jadi?”
Dia menoleh lalu tersenyum miris.
Sudah ku duga. “Kita cari tempat duduk saja. Aku membawa roti isi dan air”
Dia tersenyum. “Sepertinya menyenangkan”
April memang gadis yang mudah untuk di ajak kompromi. Terkadang aku iri dengannya. Kenapa? Dia cantik, baik, lembut, dan sangat friendly. Dari ceritanya dia hanya tinggal dengan Ibunya yang berwirausaha membuka toko roti dan toko bunga. Ayahnya sudah meninggal saat dia masih kecil jadi sudah lama Ibunya menjadi single parent. Tapi ada satu hal sifat terburuknya. Dia tidak suka apapun yang menjadi miliknya di rebut, terlebih makanan. Dia akan marah dan merebut makanan itu lagi.
Masih ingat saat seorang senior mengerjainya dengan mengambil roti buatan Ibunya dan dia menjadi marah lalu merebut kembali rotinya. Untung saja senior itu baik dan mengembalikan rotinya. Bahkan bukannya marah karena April memarahi senior itu, senior itu malah tertawa keras.
Kami duduk di bangku bawah pohon. Roti isi buatan kakaku akhirnya tandas di tangan April. Sepertinya gadis lucu ini seorang maniak roti. Suara berisik mengganggu telingaku dan aku menoleh.
Tiga orang laki-laki berjalan melewati lorong. Dari jarakku, aku bisa melihat wajah orang-orang itu meski dari dari samping. Tapi yang lebih menarik adalah semua perempuan melihat mereka bagaikan melihat artis korea.
Tatapan memuja, terpesona, malu, tertera di wajah mereka sambil menatap tiga laki-laki itu. Baru kali ini aku melihat tiga laki-laki itu. Sepertinya senior mengingat aku tidak melihat mereka saat ospek.
Aku berpaling, melihat April yang juga menatap tiga laki-laki itu dengan terpesona. Sampai mereka menghilang di balik tembok wajah April masih berseri-seri. Aku menyeringai.
“Hei’, ku senggol bahunya pelan membuatnya sadar. “Kau menyukai mereka, ya?”. Godaku.
Pipinya seakin memerah.
Aku tertawa geli. “Jadi siapa mereka sampai-sampai mengalihkan duniamu?”
April menoleh cepat. Rona merah di wajahnya hilang. Dia menatapku terkejut. “Kau tidak tau mereka?”
Tentu saja aku tidak tau, aku mahasiswa baru. Dan perlu di catat, aku sering lupa dengan seseorang yang baru ku kenal. Ku gelengkan kepalakku jujur.
“Sungguh?”. Tanya April sungguh-sungguh.
Dahiku berkerut. “Memang mereka siapa?”. Jangan salahkan aku yang susah mengingat seseorang. Itu dari lahir. Mungkin saja aku sempat mengenal mereka dan sekarang lupa.
April terlihat aneh. Dia menghela nafas. “Mereka adalah idol kampus ini. Calon Arsitek, Dokter, dan Pengacara jenius. Salah satu dari mereka anggota club basket terkenal di kota ini”. April mengucapkannya penuh tekad dan mata yang berbinar-binar, membuatku takut.
Ceritanya masih belum selesai. “Mereka berasal dari keluarga kaya. Mereka semua tampan, banyak perempuan yang mengagumi mereka. Mereka juga jenius. Semester lima tahun ini”
“Dan kau salah satu fansnya”, selaku cepat.
Wajahnya cemberut lalu kembali melanjutkan ceritanya tentang tiga laki-laki idol itu yang menjadi angin lalu di telingaku. What ever. Aku tidak perduli dengan mereka. Bagiku tidak penting memikirkan laki-laki yang tidak pernah memikirkan kita.
Langkahku cukup cepat setelah mata kuliah terakhir ku selesai. Satu ruangan yang memenuhi otakku. Perpustakaan. Sejak ospek aku harus menahan diri untuk tidak memegang salah satu buku di perpustakaan karena saat itu kami hanya berkunjung sebentar.
Sejak melihat bagian dalam perpustakaan aku tidak bisa tidur untuk menunggu saat dimana aku bisa mampir ke sana. Sangat mengagumkan. Tempatnya luas dan klasik. Banyak buku yang ada di sana, bahkan buku-buku lama di sana masih terawat. Dan aku sangat suka buku sejarah yang sudah lama.
Satu lagi yang membuatku terkesan. Di sana tersedia tempat duduk di tiap-tiap titik. Kalau kita duduk di lorong pun tidak ada yang melarang, tempatnya juga dingin. Asalkan tidak mengotori tidak akan di usir.
Begitulah kata seniorku saat ospek.
Menuju perpustakaan berarti melewati gedung olahraga. Pintunya memang terbuka tapi ada suara aneh dari dalam sana. Langkahku memelan, penasaran dengan suara itu. Dan setelah sampai di depan pintu suara itu menjadi jelas. Suara bola yang membentur lantai.
Jelas. Telingaku tidak mungkin salah. Suasana terlihat sepi membuatku merinding. Jam masih pukul setengah dua. Mana ada hantu siang-siang seperti ini.
Rasa penasaranku memuncak. Ku beranikan diriku memasuki gedung meski ada sedikit rasa takut.
Perkiraanku benar. Seseorang memainkan bola basket di sana. Sendirian. Dia berlari lalu melempar bolanya dari garis luar. Three point dan hasilnya masuk.
“Tidak perlu bersembunyi”. Ucapnya tanpa berbalik.
Tubuhku tersentak mendengarnya. Yah, memang jika di lihat dari arah pandangnya aku terlihat bersembunyi. Tapi aku tidak bersembunyi, lagi pula untuk apa?
Dia berbalik lalu menatapku. “Aku rasa ini tempat umum, tidak perlu melihatku dari jauh”
Hah. Sombong. Aku hanya lewat dan melihat saja. Tunggu. Dia kalau tidak salah, salah satu dari tiga laki-laki di lorong tadi. YA!! Dia salah satu dari mereka. Kenapa dia bisa ada di sini? Gedung fakultasnya kan jauh dari sini. Tapi, hey, aku bisa mengingatnya, daya ingatku meningkat.
“Kurasa jam kuliah sudah selesai sejak tadi”. Ucapku mencoba berkomunikasi.
Dia berjalan kearah bolanya yang ada di samping ring. “Dan kurasa tempat ini bisa di gunakan kapan saja”. Ucapnya tanpa menatap, lagi.
Jadi dapat di simpulkan jika laki-laki itu sangat menyebalkan dan dingin. Oh, oke, what ever. Lagi pula aku tidak mengenal salah satu idol itu.
“Oke, terserah kau saja”. Langkahku berbalik beranjak meninggalkannya.
“Kau pulang sendirian?”. Bisa ku dengan suaranya lantang. Tidak ada suara pantulan bola.
Dahiku berkerut. “Apa pedulimu?”. Tapi pada akhirnya, “ada yang menjemputku”. Aku menjawabnya.
Aneh. Jawaban itu meluncur begitu saja tanpa ku pikirkan dulu.
Setelahnya suara pantulan bola terdengar mengawali langkahku keluar dari gedung olahraga.
“Maaf telat”
Ku lepas earphone yang ku pakai setelah melihatnya datang. Mas Dika, suami kakakku datang dengan kebiasaannya. Selalu terlambat. Salah sendiri siapa yang berlagak ingin mengantarku tadi. Tapi pada akhirnya akulah yang di rugikan karena boros waktu hanya untuk menunggunya datang.
Aku duduk di bangku depan lalu dia menjalankan mobilnya. “Kamu mau ikut ke rumah teman Mas atau pulang?”
“Mbak Karla?”
Dia masih fokus menyetir. “Katanya lembur, nanti malam pulang”
Selalu seperti itu. Kalau tidak sibuk ya kencan sama Mas Dika. Sejak menikah dia jarang denganku, tapi tak apalah memang sudah resiko jika sudah menikah. Lagi pula terkadang Mas Dika yang menemaniku kalau Mbak Karla sibuk.
“Ikut aja, lagian di rumah sepi”. Aku tinggal bersama mereka sejak awal ospek. Selain menghemat uang kos aku sudah menjadi pengganggu paten mereka. Jangan salah paham, maksudnya aku suka mengganggu suasana romantis mereka. Entah kenapa tapi rasanya menyenangkan.
Namun ada kalanya juga aku membiarkan mereka dengan berada di kamar atau keluar rumah. Dan juga tidak perlu memasak sendiri. Terlebih kemampuan memasakku hanya membuat nasi goreng.
Aku menungu Mas Dika di mobil sambil membaca buku yang ku pinjam dari perpustakaan. Sudah hampir setengah jam mp3 di ponselku berbunyi. Belum ada batang hidung Mas Dika keluar dari rumah itu.
Jika di lihat-lihat rumah itu terlihat besar dan minimalis. Bagian depan di cat putih dan abu-abu. Tamannya cukup luas di penuhi tanaman hias di tengah-tengahnya. Pintu rumah  itu berwarna hitam, tadi Mas Dika masuk lewat pintu itu. Perutku suah lapar dan harus menunggu berapa lama lagi.
Dengan kesal aku keluar dari mobil berjalan menghampiri pintu rumah itu. Ku pencet bel di samping pintu. Tak lama pintu terbuka. Seorang laki-laki tinggi muncul membuka pintu. Dia terlihat terkejut melihatku. Kenapa?
“Kau yang tadi”, ucapnya setelah menghilangkan ekspresi terkejutnya.
Dia bila ‘yang tadi’ berarti kami pernah bertemu. Rasanya aku pernah melihatnya. Ah!! Aku ingat sekarang. Dia laki-laki menyebalkan di gedung olahraga tadi. Kenapa daya ingatku menurun?
Jadi ini rumahnya. Tapi cepat sekali dia pulangnya. Kalau tidak salah tadi dia masih bermain saat aku meninggalkannya. Atau karena aku terlalu lama menunggu Mas Dika tadi?
“Kiara”. Mendengar namaku di panggil kepalaku menoleh, langsung saja rasa kesal menyerbuku. “Kenapa kamu di sini?”. Mas Dika datang bersama laki-laki tinggi lainnya. Oke, rasanya aku menjadi orang kerdil di antara orang-orang tinggi ini.
Dasar. Katanya hanya sebentar. Tidak tau apa aku sudah lapar. “Ayo pulang”. Ucapku tanpa menjawab pertanyaannya. Mana mungkin aku bilang kalau aku masuk karena lapar dan meminta Mas Dika cepat pulang. Harga diri, guys.
“Iya-iya”. Mas Dika berpamitan dengan temannya.
Oh, jangan lupa laki-laki menyebalkan dan dingin tadi. Sejak tadi dia menatapku seperti sedang menganalisis. Akupun membalas tatapannya tapi dengan tambahan rasa tidak suka. Hello, dia punya kesan menyebalkan saat pertama kali bertemu.
Perkiraanku benar. Dia tinggal di rumah ini dan adik dari teman Mas Dika. Sampai sekarang aku belum tau namanya. Tapi walaupun tau aku tidak perduli. Namanya mungkin akan lupa setelah aku tau. Hah. Sifat pelupa menyebalkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar