Jumat, 03 Oktober 2014

CERITA ROMANCE : YOUR NAME



YOUR NAME?
PART 3
BY MIZUSHI HANA


Aouthor POV
Karla berlari memasuki rumah sakit setelah mobil taksi yang di tumpanginya berhenti. Wajahnya di penuhi raut kekhawatiran. Jantungnya semakin berdegup cepat. Dia menghiraukan larangan untuk tidak berlari di lorong rumah sakit. Yang ada di pikirannya adalah keadaan dua orang yang di cintainya.
Langkahnya semakin cepat saat sosok tercintanya berdiri di depan salah satu kamar rawat bersama dua orang lainnya. “Dika”, panggilnya begitu sampai.
Dika berbalik. Langsung saja sepasang suami-istri itu berpelukan melepas kekhawatiran, namun Karla masih belum tenang. Dia melepas pelukannya. “Dimana Kiara?”
Laki-laki itu tersenyum lembut. “Dia baik-baik saja, ada di dalam”. Sontak tangannya menahan tubuh istrinya katika wanita itu akan memasuki ruangan yang di maksud. “Suasana hatinya sedang buruk, lebih baik kita tunggu saja”
Meski begitu Karla masih belum tenang sebelum malihat keadaan adiknya baik-baik saja secara langsung. Kalau dia baik-baik saja seharusnya tidak berada di dalam dan membuatnya khawatir.
“Memang siapa yang di rawat?”
Sontak Dika menatap temannya yang menundukkan kepala sedih.
Tangisan Kiara masih terus berlanjut sejak tadi. Kepalanya tertunduk penuh penyesalan.tangannya menggenggam lembut tangan pucat laki-laki yang terbaring di ranjang. Mulutnya terus berguman. Dengan kata yang sama dengan rasa penyesalan yang sangat mendalam di hatinya.
Sejak laki-laki itu di bawa di rumah sakit tangisan Kiara tidak bisa berhenti bahkan saat operasi pengambilan peluru yang bersarang di bahu kiri laki-laki itu. Kiara semakin merasa bersalah katika Rangga, kakak laki-laki itu tiba di rumah sakit. Dia tidak berhenti meminta maaf pada teman kakak iparnya itu.
Dan sekrang tangisan Kiara tulus. Dia menyalahkan dirinya yang membuat laki-laki itu terluka. Hatinya perih melihat laki-laki itu mengorbankan diri menyelamatkannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Kiara membenci laki-laki dia menangisi laki-laki yang bukan siapa-siapa baginya.
***
Perlahan tapi pasti kelopak mata itu terbuka lemah. Setelah tiga hari lamanya mata itu mulai terbuka dan menelusuri sekitarnya. Suasana putih yang sangat khas dengan bau obat-obatan yang begitu menyengat. Rei sadar dia berada di rumah sakit mengingat kejadian yang membuatnya harus ke tempat itu.
Dia mencoba bergerak, sedikit sakit memang. Namun tangannya tertahan. Matanya menangkap sosok gadis yang sudah dia selamatkan. Gadis itu tertidur di samping ranjang. Sangat jelas bekas aliran air mata di wajahnya. Di terlihat lelah.
Senyumnya merekah. Gadis itu ada di sampingnya saat dia membuka mata. Di luar dari perkiraannya. Dia mengubah posisinya menjadi duduk dengan menahan rasa sakit di bahu kirinya. Gerakannya pelan agar gadis itu tidak menyadarinya. Tapi sepertinya percuma. Mata gadis itu terbuka dan begitu terkejut melihatnya. Tak lama matanya berkaca-kaca dan menumpahkan airnya.
Gadis itu menunduk. Air matanya membasahi telapak tangannya yang di pegang gadis itu lembut.
“Maaf . . Maaf . . Maafkan aku . . Maaf”. Guman Kiara penuh penyesalan.
Dalam hati Rei tersenyum. Gadis itu menangisinya dan mengkhawatirkannya. Ada rasa hangat menyelubungi hatinya.
Tangan lemahnya menyentuh pipi Kiara yang basah lalu mengangkatnya. Matanya menatap mata Kiara yang berair. Sangat dalam. Wajahnya mendekat, mengecup bibir Kiara lembut yang terasa asin karena air mata. Ciuman itu tidak lama. Rei kembali menatap mata gadis itu yang melebar.
Kemudian dia tersenyum. “Tidak perlu meminta maaf. Aku senang bisa melindungimu. Maafkan aku sudah membatmu khawatir”
Kiara kembali menangis. Dia di maafkan dan Rei menyatakan perasaannya. Dia merasa senang. Sangat senang. Mungkin dia sudah jatuh hati pada Rei tanpa sadar. Dan Rei, laki-laki itu memang sudah jatuh hati pada Kiara saat pertama kali bertemu. Love at first sight memang benar adanya.
Untuk ke sekian kalinya aku menghela nafas. Sungguh, menunggu itu menyebalkan. Rasa bosan sudah menyelingkupiku sejak lima menit lalu. Mataku berkeliling. Tanda-tanda kemunculan ‘si menyebalkan’ itu belum ada. Satu menit lagi dia tidak datang aku akan pergi dari  taman ini.
Kembali aku menghela nafas sabar. Tiba-tiba mataku tertutup tangan seseorang. Parfum aftersave menguar begitu saja. Dengan sedikit tersenyum ku pukul kepalanya yang berada di belakangku.
Tangannya terlepas. Sekarang aku bisa melihatnya yang mengusap kepalanya sambil menatapku tajam. Aku tidak takut seperti pertama melihatnya, malahan aku tersenyum geli.
“Kau harus merubah sikap kasarmu kalau ingin menjadi istriku”. Ucapnya kesal.
Tentu saja aku sudah terbiasa memukulnya, entah kenapa itu menjadi hobiku sekarang setelah Mbak Karla mengandung calon keponakanku dan aku tidak tega mengganggu acara romantis kakak-kakakku itu.
Aku beranjak dari dudukku. “Salah sendiri kau terlambat, aku sudah bosan menunggu terus”
“Cuma lima menit”, bantahnya.
“Lima tahun bagiku’. Sudah menjadi motto hidupku kalau aku tidak suka menunggu meski satu menit. Satu menit saja sudah bosan.
Aku berbalik meninggalkannya. Tak lama dia sudah berada di sampingku. Dengan cepat tangannya menggenggam tanganku. Entah sudah berada kali dia melakukannya. Empat bulan sudah kami saling menjalin hubungan yang tidak jelas setelah acara penyandraan gedung kantor Mas Dika. Entah kami pacaran atau tidak. Tiba-tiba hubungan kami sudah seperti ini. Dan siapa lagi yang membuatnya aneh kalau bukan dia.
Mengingat kejadian waktu itu aku belum mendapat jawaban darinya. Aku lupa ingin menanyakannya lagi. Dasar penyakit pelupa merepotkan. “Kau ini siapa? Maksudku kenapa waktu itu kau ada di kantor Mas Dika, membawa pistol lagi”
Di tersenyum jahil lalu menyentil keras dahiku. Sontak aku memegang dahiku karena perih dan sakit. “Rahasia”
Aish. Dasar menyebalkan. Dia tidak berubah. Ku pukul sekali lagi kepalanya sedikit melompat. Maklum dia tetap tinggi dan aku susah sekali tumbuhnya.
“Kenapa kau memukulku? Tanganmu itu seperti batu”. Ocehnya kesal.
“Kau sendiri menyentilku. Kau pikir tidak sakit”. Ucapku tidak mau kalah.
Kami kembali saling mengejek. Saling menyentil dan memukul. Tapi perasaan kami tidak berubah, tetap berhubung. Dia tetap menyebalkan dan akan seperti itu seterusnya dia yang ku kenal. Karena aku menyukainya.

Flashback
Baru saja Rei tiba di rumah setelah menyelesaikan tugas dari dosen yang sangat menyukai bakatnya merancang bangunan. Dia sampai heran dengan dosen itu tidak ada bosannya memberi tugas untuknya dan rasanya semakin hari tugas itu semakin sulit dan rumit. Membuatnya harus berfikir keras untuk menyelesaikannya.
Rangga dengan terburu-buru menhampirinya, membuatnya mengerutkan kening. “Kantor Dika di jadikan sandra dengan buronan yang sudah lama kalian cari”. Ucapnya khawatir. Tentu saja, Dika adalah sahabat karibnya dan juga termasuk rekan bisnisnya. Laki-laki itu sudah banyak membantunya.
Rei menghela nafas. Tubuhnya cukup lelah hari ini, dia ingin istirahat. Dia berjalan melewati Rangga. “Kau saja yang pergi atau suruh tim yang lain, aku lelah”
Kasus penyandraan memang divisinya dan dia sudah lama di tugaskan untuk menangkap salah satu buronan atas perintah atasannya secara langsung meski itu bukan divisinya. Tapi tim lain masih ada dan timnya bisa bergabung dengan tim Rangga. Dia benar-benar lelah saat ini, dia ingin tidur. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan kakaknya.
“Kiara ada di sana. Dika baru saja menelfonku, dia ada di rungannya”
Kiara. Tentu saja gadis yang sudah merobohkan dinding es nya saat pertama kali bertemu. Sejak saat itu dia tau hatinya sudah di ambil paksa oleh gadis itu. Dan sekarang gadis itu berada dalam bahaya. Sendiri. Bagaimana jika ada penjahat yang menemukannya dan melukainya.
Tanpa berbalik dia berucap. “Aku akan berangkat sepuluh menit lagi. Aku akan menyelamatkan Kiara sendiri”
Rangga menatap kepergian Rei menaiki tangga. Dia tersenyum menatap adiknya yang berubah sikap saat menyangkut adik ipar sahabatnya itu. Akhirnya tembok es itu hancur di tangan Kiara entah sejak kapan. Dia tau Rei tertarik dengan gadis kecil itu mengingat tatapan Rei pada gadis itu saat berkunjung ke rumahnya beberapa waktu lalu. Dan kata-katanya mengatakan jika hanya dia yang boleh menyelamatkan Kiara. Jadi adiknya itu ingin menjadi pahlawan gadis di sukainya.
Dia menghela nafas lega. Mungkin dia dan Dika akan besanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar