YOUR NAME?
PART 3
BY MIZUSHI HANA
Aouthor POV
Karla berlari memasuki
rumah sakit setelah mobil taksi yang di tumpanginya berhenti. Wajahnya di
penuhi raut kekhawatiran. Jantungnya semakin berdegup cepat. Dia menghiraukan
larangan untuk tidak berlari di lorong rumah sakit. Yang ada di pikirannya
adalah keadaan dua orang yang di cintainya.
Langkahnya semakin
cepat saat sosok tercintanya berdiri di depan salah satu kamar rawat bersama
dua orang lainnya. “Dika”, panggilnya begitu sampai.
Dika berbalik. Langsung
saja sepasang suami-istri itu berpelukan melepas kekhawatiran, namun Karla
masih belum tenang. Dia melepas pelukannya. “Dimana Kiara?”
Laki-laki itu tersenyum
lembut. “Dia baik-baik saja, ada di dalam”. Sontak tangannya menahan tubuh
istrinya katika wanita itu akan memasuki ruangan yang di maksud. “Suasana
hatinya sedang buruk, lebih baik kita tunggu saja”
Meski begitu Karla
masih belum tenang sebelum malihat keadaan adiknya baik-baik saja secara
langsung. Kalau dia baik-baik saja seharusnya tidak berada di dalam dan
membuatnya khawatir.
“Memang siapa yang di
rawat?”
Sontak Dika menatap
temannya yang menundukkan kepala sedih.
Tangisan Kiara masih
terus berlanjut sejak tadi. Kepalanya tertunduk penuh penyesalan.tangannya
menggenggam lembut tangan pucat laki-laki yang terbaring di ranjang. Mulutnya
terus berguman. Dengan kata yang sama dengan rasa penyesalan yang sangat
mendalam di hatinya.
Sejak laki-laki itu di
bawa di rumah sakit tangisan Kiara tidak bisa berhenti bahkan saat operasi
pengambilan peluru yang bersarang di bahu kiri laki-laki itu. Kiara semakin
merasa bersalah katika Rangga, kakak laki-laki itu tiba di rumah sakit. Dia
tidak berhenti meminta maaf pada teman kakak iparnya itu.
Dan sekrang tangisan
Kiara tulus. Dia menyalahkan dirinya yang membuat laki-laki itu terluka.
Hatinya perih melihat laki-laki itu mengorbankan diri menyelamatkannya. Untuk
pertama kalinya setelah sekian lama Kiara membenci laki-laki dia menangisi
laki-laki yang bukan siapa-siapa baginya.
***
Perlahan tapi pasti
kelopak mata itu terbuka lemah. Setelah tiga hari lamanya mata itu mulai
terbuka dan menelusuri sekitarnya. Suasana putih yang sangat khas dengan bau
obat-obatan yang begitu menyengat. Rei sadar dia berada di rumah sakit
mengingat kejadian yang membuatnya harus ke tempat itu.
Dia mencoba bergerak,
sedikit sakit memang. Namun tangannya tertahan. Matanya menangkap sosok gadis
yang sudah dia selamatkan. Gadis itu tertidur di samping ranjang. Sangat jelas
bekas aliran air mata di wajahnya. Di terlihat lelah.
Senyumnya merekah.
Gadis itu ada di sampingnya saat dia membuka mata. Di luar dari perkiraannya.
Dia mengubah posisinya menjadi duduk dengan menahan rasa sakit di bahu kirinya.
Gerakannya pelan agar gadis itu tidak menyadarinya. Tapi sepertinya percuma.
Mata gadis itu terbuka dan begitu terkejut melihatnya. Tak lama matanya
berkaca-kaca dan menumpahkan airnya.
Gadis itu menunduk. Air
matanya membasahi telapak tangannya yang di pegang gadis itu lembut.
“Maaf . . Maaf . .
Maafkan aku . . Maaf”. Guman Kiara penuh penyesalan.
Dalam hati Rei
tersenyum. Gadis itu menangisinya dan mengkhawatirkannya. Ada rasa hangat
menyelubungi hatinya.
Tangan lemahnya
menyentuh pipi Kiara yang basah lalu mengangkatnya. Matanya menatap mata Kiara
yang berair. Sangat dalam. Wajahnya mendekat, mengecup bibir Kiara lembut yang
terasa asin karena air mata. Ciuman itu tidak lama. Rei kembali menatap mata
gadis itu yang melebar.
Kemudian dia tersenyum.
“Tidak perlu meminta maaf. Aku senang bisa melindungimu. Maafkan aku sudah
membatmu khawatir”
Kiara
kembali menangis. Dia di maafkan dan Rei menyatakan perasaannya. Dia merasa
senang. Sangat senang. Mungkin dia sudah jatuh hati pada Rei tanpa sadar. Dan
Rei, laki-laki itu memang sudah jatuh hati pada Kiara saat pertama kali
bertemu. Love at first sight memang
benar adanya.
Untuk ke sekian kalinya
aku menghela nafas. Sungguh, menunggu itu menyebalkan. Rasa bosan sudah
menyelingkupiku sejak lima menit lalu. Mataku berkeliling. Tanda-tanda
kemunculan ‘si menyebalkan’ itu belum ada. Satu menit lagi dia tidak datang aku
akan pergi dari taman ini.
Kembali aku menghela
nafas sabar. Tiba-tiba mataku tertutup tangan seseorang. Parfum aftersave menguar begitu saja. Dengan
sedikit tersenyum ku pukul kepalanya yang berada di belakangku.
Tangannya terlepas.
Sekarang aku bisa melihatnya yang mengusap kepalanya sambil menatapku tajam.
Aku tidak takut seperti pertama melihatnya, malahan aku tersenyum geli.
“Kau harus merubah
sikap kasarmu kalau ingin menjadi istriku”. Ucapnya kesal.
Tentu saja aku sudah
terbiasa memukulnya, entah kenapa itu menjadi hobiku sekarang setelah Mbak
Karla mengandung calon keponakanku dan aku tidak tega mengganggu acara romantis
kakak-kakakku itu.
Aku beranjak dari
dudukku. “Salah sendiri kau terlambat, aku sudah bosan menunggu terus”
“Cuma lima menit”,
bantahnya.
“Lima tahun bagiku’. Sudah
menjadi motto hidupku kalau aku tidak suka menunggu meski satu menit. Satu
menit saja sudah bosan.
Aku berbalik
meninggalkannya. Tak lama dia sudah berada di sampingku. Dengan cepat tangannya
menggenggam tanganku. Entah sudah berada kali dia melakukannya. Empat bulan
sudah kami saling menjalin hubungan yang tidak jelas setelah acara penyandraan
gedung kantor Mas Dika. Entah kami pacaran atau tidak. Tiba-tiba hubungan kami
sudah seperti ini. Dan siapa lagi yang membuatnya aneh kalau bukan dia.
Mengingat kejadian
waktu itu aku belum mendapat jawaban darinya. Aku lupa ingin menanyakannya
lagi. Dasar penyakit pelupa merepotkan. “Kau ini siapa? Maksudku kenapa waktu
itu kau ada di kantor Mas Dika, membawa pistol lagi”
Di tersenyum jahil lalu
menyentil keras dahiku. Sontak aku memegang dahiku karena perih dan sakit.
“Rahasia”
Aish. Dasar
menyebalkan. Dia tidak berubah. Ku pukul sekali lagi kepalanya sedikit
melompat. Maklum dia tetap tinggi dan aku susah sekali tumbuhnya.
“Kenapa kau memukulku?
Tanganmu itu seperti batu”. Ocehnya kesal.
“Kau sendiri
menyentilku. Kau pikir tidak sakit”. Ucapku tidak mau kalah.
Kami kembali saling
mengejek. Saling menyentil dan memukul. Tapi perasaan kami tidak berubah, tetap
berhubung. Dia tetap menyebalkan dan akan seperti itu seterusnya dia yang ku
kenal. Karena aku menyukainya.
Flashback
Baru saja Rei tiba di
rumah setelah menyelesaikan tugas dari dosen yang sangat menyukai bakatnya
merancang bangunan. Dia sampai heran dengan dosen itu tidak ada bosannya
memberi tugas untuknya dan rasanya semakin hari tugas itu semakin sulit dan
rumit. Membuatnya harus berfikir keras untuk menyelesaikannya.
Rangga dengan
terburu-buru menhampirinya, membuatnya mengerutkan kening. “Kantor Dika di
jadikan sandra dengan buronan yang sudah lama kalian cari”. Ucapnya khawatir.
Tentu saja, Dika adalah sahabat karibnya dan juga termasuk rekan bisnisnya.
Laki-laki itu sudah banyak membantunya.
Rei menghela nafas.
Tubuhnya cukup lelah hari ini, dia ingin istirahat. Dia berjalan melewati
Rangga. “Kau saja yang pergi atau suruh tim yang lain, aku lelah”
Kasus penyandraan
memang divisinya dan dia sudah lama di tugaskan untuk menangkap salah satu
buronan atas perintah atasannya secara langsung meski itu bukan divisinya. Tapi
tim lain masih ada dan timnya bisa bergabung dengan tim Rangga. Dia benar-benar
lelah saat ini, dia ingin tidur. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar
ucapan kakaknya.
“Kiara ada di sana.
Dika baru saja menelfonku, dia ada di rungannya”
Kiara. Tentu saja gadis
yang sudah merobohkan dinding es nya saat pertama kali bertemu. Sejak saat itu
dia tau hatinya sudah di ambil paksa oleh gadis itu. Dan sekarang gadis itu
berada dalam bahaya. Sendiri. Bagaimana jika ada penjahat yang menemukannya dan
melukainya.
Tanpa berbalik dia
berucap. “Aku akan berangkat sepuluh menit lagi. Aku akan menyelamatkan Kiara
sendiri”
Rangga menatap
kepergian Rei menaiki tangga. Dia tersenyum menatap adiknya yang berubah sikap
saat menyangkut adik ipar sahabatnya itu. Akhirnya tembok es itu hancur di
tangan Kiara entah sejak kapan. Dia tau Rei tertarik dengan gadis kecil itu mengingat
tatapan Rei pada gadis itu saat berkunjung ke rumahnya beberapa waktu lalu. Dan
kata-katanya mengatakan jika hanya dia yang boleh menyelamatkan Kiara. Jadi
adiknya itu ingin menjadi pahlawan gadis di sukainya.
Dia menghela nafas
lega. Mungkin dia dan Dika akan besanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar