Senin, 18 Agustus 2014

CERITA ROMANCE

Little Friend chap 1 : Pertemuan

Awalnya Ana tidak menyangka jika hal itu terjadi dalam hidupnya. Bahkan sejak pindah rumah dia tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi. Dan yang bisa dia lakukan hanyalah menurut dengan ucapan teman-teman lamanya.

Ibunya juga tidak keberatan akan mendapat kejutan tak terkira dari teman-temannya. Tapi apa boleh buat. Rasa rindu yang memuncak lantaran sepuluh tahun dia tidak bertemu teman-teman lamanya yang berada jauh di kota yang terkenal akan legenda sura dan baya itu.

Tanpa pikir panjang Ana setuju dengan ajakan temannya yang mengabarinya lewat telfon untuk mengadakan reuni. Esoknya mereka berangkat yang kebetulan saat itu liburan semester satu. Jadi tidak ada halangan bagi mereka untuk bepergian untuk beberapa hari.

Dan disinilah dia sekarang. Sebuah danau buatan di kawasan perumahan elit Surabaya untuk melakukab piknik bersama teman-teman masa kanak-kanaknya yang terasa asing baginya. Wajar saja, bertambahnya usia membuatnya mudah lupa. Atau bisa dikatakan dia memang mudah lupa walaupun hal tersebut dia tau beberapa menit sebelumnya.

Dia berjalan sendiri sementara teman-temannya saling bernostalgia karena sama-sama lama tak bertemu. Hari ini dia merasa seperti bukan dirinya yang ceria dan sangat mudah bergaul. Dia merasa tidak enak dengan teman-teman lamanya itu dengan satu alasan. Perbedaan anak kota dan anak desa.

Sejak pindah dia memang tinggal di desa yang cukup jauh dari perkotaan tapi itu membuatnya nyaman dan senang. Bahkan dia melupakan jati dirinya yang dulu adalah anak metropolitan. Tapi itu tak membuat dirinya merasa malu berada disana. Malahan dia bangga menjadi anak desa. Entah mengapa dia senang dengan julukan gadis desa yang di berikan teman-teman sekelasnya karena dia mengunci rambut panjangnya menjadi dua layaknya gadis desa yang ada di layar lebar.

Namun disisi lain sebuah pasang mata menatapnya dengan pandangan rindu yang tidak bisa di tahan. Nasir, jujur saja dia cukup terkejut dengan perubahan temannya sekaligus mantan tetangganya yang menjadi gadis cantik dan sopan. Entah dia tidak bisa mengungkapkannya. Yang jelas teman kecilnya itu telah berubah dari gadis kecil yang over  menjadi gadis desa yang lugu tapi terlihat ceria. Bahkan sekilas gadis itu sangat berbeda dengan kepribadiannya waktu kecil.

Dia menatap teman kecilnya itu dalam diam. Meski teman-temannya ramai untuk saling mengobrol Nasir sibuk mengawasi gadia desa itu. Entah apa yang di lihatnya di depan sana . Biar saja dia mendekati teman kecilnya itu dan mengajaknya berbicara panjang lebar karena rasa rindu yang membuncah. Tapi kediaman gadis itu sejak tiba di kawasan danau membuatnya mengurungkan niatnya itu.

Rasa rindunya tidak hisa di tahan lagi. Dari dulu dia memang sudah menyukai gadis itu. Meski masih kecil dia bisa merasakannya sampai sekarang. Rasa suka yang melebihi dari sekedar seorang teman atau tetangga. Ingin dia berjalan berdua memecahkan keheningan gadia itu jika dia tidak berhenti dan membuatnya ikut berhenti dengan kerutan di keningnya. Ada apa?, batinnya


***

Sudah lama dia tidak pernah ke danau elit itu. Udara yang terasa sejuk dan segar tetap sama meskipun lebih banyak bunga-bunga dan pohon-pohon yang tertanam. Dia sangat menikmati hal itu. Udara sejuk dengan pemandangan yang indah dengan air mancur replika icon negara Singapura membuatnya nyamab dan menutup matanya tanpa sadar.

Entah pendengarannya yang tajam atau karena dia terlalu tenggelam dengn kenyamanan itu. Sebuah alunan musik gitar yang sangat di kenalnya terdengar samar-samar. Tapi alunan musik itu terdengar jelas seakan ada orang yang memainkannya untuk menarik perhatiannya. Terlebih alunan giatr itu sangat tidak wajar bagi kebanyakan orang. Hanya orang yang benar-benar seperti dirinya -yang fanatik akan anime- yang tau alunan gitar itu.

Dia bisa mendengar dengan jelas alunan itu. Seakan alunan musik itu ada untuk menariknya ke asal suara. Dia berbalik mendapati teman-teman laki-lakinya yang menatap heran dirinya. Alunan musik itu bukan berasal dari mereka. Jauh dari mereka alunan musik itu masih terdengar. Dengan sedikit terburu-buru dia mengikuti alunan musik itu sebelum habis.


***

Entah apa yang di pikirkan gadis itu berbalik dengan pandangan yang tidak fokus. Kerutan di dahinya semakin menjadi melihat teman kecilnya itu berjalan ke arah mereka. Bukan, lebih tepatnya ingin melewati mereka.

Odi, teman masa kecil gadis itu yang dulunya sangat dekat menyenggol sikutnya saat gadis itu berjalan menuju mereka.

"Dia kenapa?"

Dia tidak bisa menjawab. Rasa penasaran juga merasuki dirinya. Tanpa sadar tangannya meraih lengan gadis itu ketika melewatinya.

Perhatian gadia itu teralihkan. Hanya sebentar setelah itu dengan sedikitpaksa dia melepas tangannya yang mencengkram lengan gadiss itu lalu kembali pergi entah kemana.

Sungguh, jauh di dalam hatinya dia merasa sakit yang tak tertahan kala gadis itu melepaskan tangannya. Seakan dia dicampakkan setelah bertahun-tahun bersama. Tapi sayangnya mereka hanya empat tahun dan itupun tidak bisa dikatakan dekat. Dan pastinya gadis itu tidak memperdulikannya seperti saat ini.

Entah roh apa yang merasuki dirinya untuk mengikuti gadis itu pergi kemana. Dia sangat penasaran apa yang membuat teman kecilnya itu berjalan tak tentu arah seperti sedang mencari yang tak bisa di lihatnya.

Bahkan setelah gadis itu berhenti, lagi, dia masih tidak tau apa yang membuat gadis itu pergi cukup jauh dari tempat piknik. Tapi pandangan gadia itu mengarah ke satu tempat. Dia mengikuti arah pandang itu.

Seorang laki-laki yang duduk di bangku tak jauh dari pohon pinggir danau sedang memainkan gitarnya. Apa permainan gitar itu yang membuatnya kesini?, pikirnya penasaran.

Tapi ada yang aneh dari reaksi yang si tunjukkan gadis itu. Terkejut sekaligus terpesona. Menyadari pandangan mengagumi gadis itu untuk laki-laki asing entah mengapa membuatnya cemburu.


***

Jujur saja dia tidak tau apa yang membuatnya sampai ke tempat itu dan bertemu laki-laki yang sangat tidak asing baginya. Entah itu rencana Tuhan atau memang takdir yang mempertemukan mereka secara tidak sengaja di tempat itu. Terlebih kejadian itu hampir sama saat dia bertemu laki-laki itu untuk pertama kalinya.

"Ana"

Panggilan itu membuatnya tersadar dan sontak dia berbalik. Salah satu teman kecilnya menatapnya heran. Mungkin bertanya-tanya apa yang dilakukannya di tempat itu. Kembali dia menatap laki-laki itu saat menyadari alunan gitarnya tidak lagi terdengar. Sepertinya kehadirannya membuat laki-laki itu sadar dan melihat apa yang terjadi.

"Em..Nasir tunggu sebentar"

Dia tidak tau apa yang harus di lakukannya tapi dia ingin menyapa laki-laki itu. Ana meninggalkan Nasir lalu berjalan dengan jantung berpacu ke laki-laki yang menatapnya dengan intens. Sungguh dia rindu tatapan yang membuat dadanya berdebar kencang itu.

Dengan canggung dia tersenyum saat dirasanya cukup dekat laki-laki itu. "Hai, masih ingat denganku?"

Rada kecewa menyelubunginya saat laki-laki itu diam tidak merespon. Seakan memberi jawaban jika dia tidak mengenal gadis di depannya. Tapi dia tidak menyerah. "Kita bertemu saat festifal jepang di UNAIR, kau ingat?"

Sejenak tampak raut terkejut dari wajah laki-laki itu lalu kembali ketatapan intensnya. "Maaf, aku sedikit lupa karena itu sudah lama"

Perasaan lega tak terkira menghinggapinya. Laki-laki itu mengingatnya meskipun dialah yang mengingatkan pada laki-laki itu.

Suasana hening itu benar-benar tak nyaman. Dan juga laki-laki itu hanya menatapnya intens dengan senyum yang cukup ketara di bibirnya membuatnya terus-terusan menunduk dan mengalihkan perhatiannya lantaran malu.

Tapi itu tak terjadi lama saat laki-laki itu membuka suara. "Jadi, kau kemari karena mendengar permainan gitarku, lagi?". Dia menekan kata 'lagi' membuat seakan kejadian seperti itu pernah terjadi dulu.

Gadia itu hanya tersenyum dan mengangguk membuat laki-laki itu berucap yang membuat Ana terdiam tak percaya.

"Sepertinya kita memang berjodoh"

Entah apa yang dia pikirkan hingga berucap seperti itu. Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa dia memikirkan efeknya pada gadis itu. Dan benar saja reaksi gadis itu sama seperti dulu.

Nasir menatap kesal laki-laki asing itu yang membuat Ana melupakan dan mengabaikannya. Jujur saja dia tidak suka kehadiran laki-laki yang tidak dikenalnya itu tapi sangat di kenal oleh Ana.

Dengan kesal dia hampiri mereka lalu menepuk pundak gadis itu hingga sedikit terlonjak. Entah apa yang dikatakan laki-laki itu sampai membuatnya diam mematung.

"Nasir", gadis itu menatapnya.

"Dia siapa?", tanyanya dengan sedikit tidak suka pada laki-laki itu.

Sekarang dia benar-benar bodoh telah melupakan temannya itu. Bisa-bisanya dia lupa padahal dia sudah membuatnya menunggu lama. Cepat-cepat dia menjawab sebelum membuat temannya itu bertambah kesal. Dari raut wajahnya sudah terlihat jika dia sedang tidak mood.

"Dia Rizal, temanku. Bisa dibilang kenalan tapi sudah jadi teman". Takut-takut dia menataptemannya itu memandang Rizal dengan pandangan menyelidik. Entah apa yang difikirkannya yang pasti dari pandangannya dia sedang menilai laki-laki itu.

Rizalpun menatap Nasir dengan sama-sama menilai. Tatapan mereka lama-lama berubah tajam. Dan Ana menyadarinya. Dia takut jika terjadi kesalah pahaman. Cepat-cepat dia mengalihkan perhatian mereka sebelum terjadi sesuatu.

"Nasir kamu duluan saja, nanti aku menyusul"

Seakan tidak rela di usir secara halus dia membantah, "tapi kamu tidak tau jalan, kalau tetsesat bagaimana?"

"Tenang saja, dari sini kelihatan kok"

Sebelum kembali membantah Rizal menyela cepat. "Biar nanti kuantar. Lagi pula aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Ini tempat umum dan dia terlalu berharga"

Matanya menatap tajam Rizal saat Ana mengangguk setuju secara tidak sadar dengan ucapan laki-laki itu. Dia merasa aneh dengan kata 'berharga' dari Rizal. Seakan ada makaud lain dari kata-katanya.

Dia menatap Ana yang menatapnya dengan tatapan memohon. Dia sudah merasa Ana tidak betah berada lama-lama dengan teman-teman yang lain dan itu membuatnya tidak tega. Meskipun demikian dia juga tidak rela Ana berada di dekat laki-laki itu meskipun sudah saling kenal.

Pada akhirnya dia mengalah, toh hanya sehari mereka bersama. Nanti malam dia bisa mengunjungi Ana tanpa halangan. Dia pergi sebelum berpesan untuk memghubunginya jika terjadi sesuatu pada Ana dan di jawab anggukan kecil.

***
Lagi-lagi rasa canggung menyelubungi mereka saat Nasir pergi atau lebih tepatnya hanya Ana yang mersa canggung. Dia berbalik lalu tersenyum kaku pada laki-laki itu. Ini suatu keberuntungan untuknya bisa bertemu laki-laki itu setelah sekian kalinya mereka tidak pernah bertemu lagi. Bahkan dia terus mencari informasi untuk bisa mendapatkan cara untuk menghubunginya. Tapi dia sadar, mereka hanya saling kenal dan tidak lebih. Hanya berawal dari suatu acara lalu terpisah. Tapi kali ini mereka bertemu lagi dengan cara yang hampir sama.
"Tadi pacar kamu?". Sengaja Rizal betanya seperti itu. Rasanya sedikit kesal melihat laki-laki yang bersama Ana itu tidak ingin melepaskannya.

"Bukan, cuma teman lama". Jawab Ana cepat. Dia tidak ingin mwmbuat Rizal berfikir jika dia sudah tidak sendiri. Ana juga tidak tau apakah laki-laki itu sudah memiliki pasangan saat ini. "Kami mengadakan reuni di dekat sini", lanjut Ana. Laki-laki itu mengangguk mengerti. "Kamu sendiri?"

Rizal tersenyum. "Liburan di rumah saudara"

"Oh". Jawab Ana singkat lalu berjalan ke laki-laki itu, duduk di sampingnya. Entah angin apa yang menyuruhnya untuk duduk di samping Rizal.

"Oh ya, pertemuan kita waktu itu sangat singkat. Ngomong-ngomong kamu sekolah di mana?"

Rasa canggung dan kaku di antara mereka mulai menghilang.

"Semarang". Jawabannya membuat dahi Ana berkerut. Dia tersenyun, "asalku memang Gresik tapi aku sekolah di Semarang"

"Emang di SMA mana?"

Kali ini dahi Rizal yang tertekuk. "Memang aku terlihat semuda itu?"

Ana tidak bisa menyembungikan rasa terkejutnya. Mungkin apa yang dia pikir berasama temannya itu salah memgora laki-laki itu seumur dengan mereka. Rizal terkekeh pelan melihat ekspresi Ana yang menurutnya lugu.

"Dua tahun lebih tua dari kamu"

Jadi dia kakak kelasku?, batin Ana. Sekarang dia merasa tidak enak hati dengan laki-laki itu. Wajah laki-laki itu telah menipunya dan temannya.

"Maaf, kak. Aku tidak bermaksud, aku tidak tau". Ana merutuki kebodohannya yang terlalu cepatmemgambil kesimpulan tanpa memgetahui yang sebenarnya.

Rizal tertawa pelan. Gadis di depannya benar-benar polos dan lucu. "Santai saja. Lagipula aku juga tidak keberatan, kita juga sama-sama tidak tau"

Meski berkata seperti itu wajah gadia itu masih meliputi ras bersalah. Risal menghela nafas, "aku tidak marah, sungguh"

Melihat senyum laki-laki itu membuatnya yakin akan ucapnnya. Pancaran mata di balik kata matanya terlihat meyakinkan. Akhirnya dia ikut tersenyum meakipun sedikit canggung mengingat laki-laki itu lebih tua darinya.

"Kamu sekarang kelas tiga,kan? Kedepannya bagaimana". Tanyanya sambil meletakkan gitarnya ke dalam tas gitar.

Ana tampak berfikir, " entah aku bingung. Mungkin aku akan ke Semarang"

"Kalau begitu berjuang". Ana menoleh, "mungkin kita akan bertemu lagi"

Ana baru sadar jika laki-laki itu kuliah di Semarang dan juga duatahun lebih tua darinya.yang dia lupakan dimana laki-lakiitu bersekolah. Dan sekarang sebuah kejutan baginya laki-laki itu kuliah di tempat yang ingin dia tuju. Meaki tidak tau di Univeraitas mana ada kemungkinan mereka akan berada dalam satu kota.

"Kamu ambil kejurusan apa?". Dia tetap menghormati laki-laki itu meali memanggilnya secara biasa. Toh, dia tidak marah dan bersikap santai.

Rizal tersenyum sejenak. "Dokter bedah"

Baru kali ini Ana bertemu dengan orang yang mengambil study dokter, terlebih ahli bedah. Dia sangat mengagumi orang yang belajar ilmi kedokteran, seperti Rizal. Pasti dia pintar, pikir Ana.

"Sebenarnya ingin masuk seni tapi aku hanya anak yang menurut pada orang tua", lanjutnya.

Entah mengapa dia merasa sedih mendengarnya. Seperti dirinya yang selalu menurut dengan ucapan orang tua. Dia tidak bisa membantah karena ingin membanggakan orang tuanya. Lagi pula sebagai anak dia merasa sudah terlalu merepotkan orang tuanya.

"Sepertinya kita sama". Ucapan itu membuat Ana sadar lalu memoleh, "terlihat dari wajah kamu"

Ana merengut, "apa aku memang mudah di tebak? Teman-temanku juga bilang seperti itu. Kalau ada les menyembunyikan perasaan aku ingin ikut les itu"

Sontak mereka tertawa dengan candaan Ana. Mereka terlihat terbuja dan tidak seperti baru kenal. Memang tidak baru kenal tapi mereka baru saling mengenal.

***

Nasir merasa gusar melihat Ana tertawa bersama laki-laki itu. Dia merasa kesal, khawatir dan cemburu. Cemburu? Ya, dia cemburu laki-laki itu bisa membuat Ana teryawa. Saat bersamanya gadis itu tidak pernah memperlihatkan tawa lucunya itu. Hanya tersenyum dan tidak banyak ekspresi yang dia perlihatkan.

Dia sudah bilang Ibu Ana tapi beliau bersikap santai asal anaknya baik-baik saja. Tapi dia tidak bisa baik-baik saja melihat mereka bersama. Sungguh dia tidak suka kebersamaan mereka.

Terlihat jelas bagaimana senyum lepas Ana dari tempatnya berdiri meskipun jauh. Hatinya trtada panas. Ingin dia menghampiri mereka dan menjauhkan Ana dari laki-laki itu. Tapi dia tau Ana akan menolak, gadis itu sangat keras kepala di balik sikap pendiamnya.

Dia harua mencari cara untuk menisahkan mereka secara halus. Dia tidak ingin Ana akan membencinya dan sepertinya Dewi Fortuna berpihak padanya.

Dina datang menghampirinya, "Ana mana? Tapi kayaknya sama kamu"

"Dia sedang jalan-jalan sebentar lagi kesini". Kilahnya.

Dina hanya mengangguk lalu kembali berbaur dengan teman-temannya. Setelah itu segera sia menghubungi Ana. Tak lama panggilannya terjawab. 

***

Dahinya berkerut mendapat nomor asin. Dengan hati-hati di jawabnya panggilan itu lalu tidak bersuara seperti kebiasaannya jika mendapat nomor asing.

'Ana'. Dia kenal suara ini.

"Nasir? Ada apa?"

Mendengar nama laki-laki lain percikan api cemburu mengenai hatinya.

"Iya, aku sebentar lagi kesana . . . . Tidak usah,aku bisa sendiri aku tau tau jalan . . . . . Iya, jangan khawatir. Sampai nanti"

Selesai memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket, kedua insan itu berpandangan. Seakan mengerti akan berpisah, lagi.

"Jadi mereka menyuruhmu kembali?". Kalimat Rizal mengungkapkan kalau Ana terpaksa kembali tanpa ada niat dari sirinya sendiri.

Ana mengangguk pasrah. Benar, dia tidak ingin berpisah dengan laki-laki itu. Tapi mau bagaiman lagi, keadaan mereka tidak mendukung.

"Mau ku antar?". Seakan ada semangat sebelum perpisahan mereka. Mata gadis itu terlihat bersinar. "Aku tadi kesini naik sepeda". Tunjuknya pada sebuah sepeda di bawah pohon tak jauh dari mereka.

Ingin antara tidak ingin terpatri di wajah Ana dan itu membuat Rizal mengerti, "aku tidak keberatan", lanjutnya.

"Aku tidak ingin merepotkan"

"Tak apa. Aku senang biaa mengantarmu dengan selamat lagi pula aku sudah janji dengan temanmu tadi". Rizal berjalan sambil menyampirkan tas gitarnya, mengambil sepeda lalu menaikinya. Dia memandang Ana, "ayo"

Ana mengalah. Dalam hati dia juga ingin tapi malu dan tidk ingin merepotkan. Sejenak dia menatap boncengan itu ragu tapi dia tetap menaikinya.

"Nanti jatuh kalau tidak pegangan", goda Rizal.

Semburat merah memghiasi pipi gadis itu, "tidak, cukup begini saja"

"Oke, jangan salahkan"

Rizal mulai mengayuh pedalnya dengan kencang membuat Ana terasentak berteriak dan reflek memeluk pinggang laki-laki itu. Sedangkan Rizal memang sengaja melakukannya dan tersenyum puas mendapat hasil yang di inginkannya.

Namum lama-lama sepeda itu berjalan pelan membuat mereka kembali mengobrol.

"Berapa lama kami di sini?"

Ana masih memeluk pinggang Rizal tidak terlalu kencang, " mungkin lusa pagi pulang. Kamu sendiri?"

"Masih ada satu minggu tapi aku ingin pulang lusa"

"Kenapa?"

"Karena lusa kamu meninggalkan Surabaya, lusa depan aku meninggalkan kota ini juga. Percuma kalau aku masih ada di sini tapi kau sudah pergi"

Untung saja laki-laki itu sibuk membonceng sehingga tidak bisa melihat rona merah di wajah Ana. Tapi tanpa menolehpun dia tau gadis itu merespon rayuannya. Dia bukan tipe laki-laki yang mengumbar rayuan tapi gadis itu sangat peka dengan rayuan sederhananya.

"Apa emailmu?"

"Eh?"

"Sebentar lagi berpisah jadi aku butuh email mu". 

Ana menengok. Benar, tempat pikniknya sudah terlihat. Bahkan dia bisa melihat ibunya sibuk membuat es.

"Hanabikara"

"Apa?"

"Tidak ada pengulangan. Kamukan calon dokter sudah pasti jenius, jadi seorang jenius seharusnya punya pendengaran yang hebat dan daya ingat yang kuat". Jelas Ana panjang lebar. Tentu saja itu hanya alasan untuk menggoda Rizal.

"Ayolah, aku belum siap mendengarkan"

"Calon dokter itu harus siap apapun keadaannya"

"Ayolah, ulangi sekali lagi"

Gadis itu tertawa kecil, menikmati godaannya pada laki-laki itu.

Seperti seorang pangeran yang menanti kedatangan putrinya, Nasir menunggu sepeda yang di naiki kedua insan itu dengan geram. Dia sudah menahan api cemburu yang sudah menyulut sejak melihat mereka berboncengan. Terlebih gadis itu menikmatinya. Tapi lain dari itu dia semakin cemburu saat tangan Ana memeluk pinggang laki-laki itu. Dia tau itu hanya sebuah bentuk untuk menjaga keselamatan meski begitu hal itu tidak bisa menghilangkan rasa cemburunya.

Kakinya berhenti mengayuh lalu mengerem agar sepeda berhenti. Ana melepas pegangannya lalu turun, menatap laki-laki itu seakan tidak rela mereka harus bepisah.

"Em....trima kasih tumpangannya"

"Sama-sama"

"Aku kesana, bye". Dengan kaku Ana berjalan menghampiri Nasir yang menunggunya. Tigalangkah Ana berjalan dia berbalik karena panggilan Rizal.

"Hanabikara, kau jenius kan?"

Ana tersenyum mendengarnya, "ya, kamu jenius"

"Mata ashita"

Ana terpaku mendengarnya. Dia tidak menyangka kalimat itu terucap dari mulut laki-laki itu lagi. Seakan de javu. Tapi dia segera sadar saat Rizal sudah memutar sepedanya.

"Mata ashita, nee", teriak Ana.

Tanpa Ana tau Rizal tersenyum senang mendengar balasan itu. Bahkan dulu saat mengucapkannya pada gadis itu tidak ada respon sama sekali. Tapi sekarang dia samgat puas dengan balasan itu. Sambil mengayuh sepedanya dia berguman email Ana, seperti mengahafalkannya.

Ana berbalik dengan senyum mengembang. Menghampiri Nasir dan membalas senyumnya. Rasanya hari itu dia sangat senang dan menanti-nanti ada email masuk di ponselnya.

Saking bahaginya dia tidak menyadari tatapan tak suka dengan senyuman itu. Bukannya tidak suka melihat keceriaan Ana dari sebelumnya tapi dia tidak suka senyum yang satu itu. Karena orang yang membuat Ana tersenyum seperti itu bukanlah dirinya. Dia benci pada orang yang sudah membuat Ana berbunga-bunga saat ini.





Gomenasai. Baru kali ini publis soalnya meain ketik ku lagi rusak jadi susah buat publisnya. Di tambah pulang sekolahyang mulai sore, jadi jarang" publis crita yang lain. Udah ada banyaj ff dan crita lainnya yang udah siap di ketik tapi cuma mr.keyboart nya belum ada. Jadi. Gomenasai. Gomenasai.
Crita ku yang lain pasti buruk seribu persen. Sory soalnya belum sempat do review. Tu juga di ketikin sma tmen, hehehe. So skali lagi. Gomenasai. Q harap yang baca crita q gk bsen"nya buat review. Aku tau ini masih abal" jdi. Mohon bantuannya


Oh ya catatan. Ini semua nama pemern aku ambil aslu dari nama temen" masa kecilku jadi yang ngrasa inget aku ya. Semua setting jelas ada asli di surabya ingin info lebh lanjut tanya akang google aja yah.


Oke. See you next time.......



Tidak ada komentar:

Posting Komentar